A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sepsis, Kedaruratan Global yang Terus Menuntut Respons Terbaik

Sepsis bukan sekadar infeksi berat. Ia adalah kegagalan organ yang mengancam jiwa, dipicu oleh respons tubuh yang tidak terkendali terhadap infeksi. Secara global, sepsis dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi, tercatat sekitar 11 juta kematian terkait sepsis pada tahun 2017 atau mencakup hampir 20% dari seluruh kematian secara global. Di Indonesia, kondisi ini tidak kalah memprihatinkan. Sebuah penelitian observasional retrospektif di empat rumah sakit besar di Indonesia selama tahun 2013–2016 mencatat 14.076 pasien sepsis, dan dari jumlah tersebut, sebanyak 58,3% di antaranya meninggal dunia, sementara pasien yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU) mencatat angka fatalitas hingga 69%.

Angka-angka ini menempatkan sepsis sebagai salah satu prioritas klinis tertinggi—dan itulah mengapa pembaruan pedoman tata laksana sepsis selalu menjadi peristiwa penting dalam dunia kedokteran kritis.

Pada 23 Maret 2026, Surviving Sepsis Campaign (SSC) menerbitkan pembaruan pedoman internasional terbaru—sebuah langkah yang telah dinantikan selama lima tahun sejak edisi 2021. SSC merupakan inisiatif bersama antara Society of Critical Care Medicine (SCCM) dan European Society of Intensive Care Medicine (ESICM), yang dipimpin oleh para ahli multiprofesional internasional dan berkomitmen untuk mengurangi angka kematian serta morbiditas akibat sepsis dan syok septik.


Dua Dokumen, Satu Tujuan: Pedoman untuk Dewasa dan Anak

Berbeda dengan siklus sebelumnya, SSC 2026 menerbitkan dua dokumen pedoman sekaligus: satu untuk pasien dewasa dan satu khusus untuk pasien anak. Kedua pedoman ini dikembangkan oleh panel internasional yang melibatkan lebih dari 130 pakar dari seluruh benua, termasuk perwakilan pasien dan keluarga. Keduanya dilengkapi dengan fitur-fitur praktis: infografis ringkas untuk penggunaan di tempat tidur pasien, tabel ringkasan rekomendasi baru dan yang direvisi, serta penjelasan lebih jelas tentang bagaimana bukti ilmiah diterjemahkan ke dalam rekomendasi kuat (strong) versus kondisional (conditional).


Pedoman Dewasa: 129 Pernyataan, 46 di Antaranya Benar-Benar Baru

Pedoman dewasa SSC 2026 memperbarui rekomendasi dari pedoman SSC 2021 dan memuat 129 pernyataan, dengan 46 di antaranya merupakan pernyataan baru yang sebelumnya belum dibahas. Panel penyusun terdiri dari 69 orang dengan keberagaman geografis yang luas, mewakili 23 negara, dan 38% di antaranya saat ini atau pernah berpraktik di negara berpenghasilan rendah atau menengah— sebuah representasi yang penting mengingat sebagian besar kematian akibat sepsis terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Pedoman ini mencakup 129 pernyataan yang meliputi skrining dan manajemen awal (16 pernyataan), infeksi (25), manajemen hemodinamik (23), dukungan pernapasan (14), terapi ajuvan untuk sepsis (8), tata laksana suportif tambahan (13), tujuan perawatan (8), transisi perawatan (16), dan luaran jangka panjang (6). Sebagian besar pernyataan (81 dari 129, atau 63%) berupa rekomendasi kondisional, 17 merupakan rekomendasi kuat, 19 merupakan pernyataan good practice, dan 11 merupakan pernyataan dengan bukti yang tidak mencukupi untuk direkomendasikan.


Inovasi Metodologi: Kategorisasi Sepsis yang Lebih Terstruktur

Salah satu perubahan mendasar dalam SSC 2026 adalah diperkenalkannya terminologi standar untuk mengkategorikan derajat kepastian diagnosis sepsis. Pedoman ini mengembangkan bahasa standar untuk sepsis definite (pasti), probable (probable), possible (mungkin), dan unlikely (tidak mungkin), yang digunakan secara konsisten di seluruh dokumen SSC dan dijelaskan lebih rinci dalam tabel pedoman. Pendekatan ini memungkinkan klinisi membuat keputusan terapi yang lebih bernuansa, terutama terkait kapan antibiotik harus diberikan.


Skrining: NEWS dan MEWS Unggul dari qSOFA

Terkait alat skrining sepsis, terdapat perubahan penting. Untuk pasien sakit kritis yang sudah berada di rumah sakit, SSC 2026 merekomendasikan penggunaan NEWS, NEWS2, MEWS, atau SIRS sebagai alat tunggal untuk skrining sepsis, mengunggulkan sistem skor ini dibanding qSOFA (rekomendasi kuat). Sebelumnya, qSOFA sempat mendapat perhatian luas sebagai alat skrining sederhana di luar ICU, namun bukti terkini menunjukkan sensitivitasnya tidak cukup optimal untuk peran tersebut.

Di luar rumah sakit, untuk pasien sakit kritis yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit via ambulans atau penerbangan medis, SSC menyarankan penggunaan alat skrining sepsis standar dibandingkan tidak menggunakannya sama sekali (rekomendasi kondisional).


Antibiotik: Timing Lebih Bernuansa, Strategi Lebih Cerdas

Pertanyaan “kapan antibiotik harus diberikan” mendapat jawaban yang lebih terperinci dalam SSC 2026. Dibandingkan pendekatan sebelumnya yang berfokus pada one-size-fits-all dalam satu jam, pedoman ini memperkenalkan pendekatan berbasis probabilitas klinis.

Untuk orang dewasa dengan syok septik yang pasti, probable, atau possible, SSC merekomendasikan pemberian terapi antimikroba segera, idealnya dalam 1 jam sejak dikenalinya kondisi tersebut (rekomendasi kuat). Demikian pula untuk sepsis probable atau definite tanpa syok. Namun untuk sepsis possible tanpa syok, SSC menyarankan periode investigasi cepat yang dibatasi waktu, dan jika kekhawatiran terhadap infeksi berlanjut, antibiotik diberikan dalam 3 jam sejak pertama kali sepsis dicurigai (rekomendasi kondisional).

Yang menarik, untuk pasien dengan kemungkinan infeksi yang rendah dan tanpa syok, SSC justru menyarankan untuk menunda terapi antimikroba sambil terus memantau pasien secara ketat. Ini merupakan sinyal kuat bahwa stewardship antimikroba kini menjadi komponen integral—bukan sekadar tambahan—dalam tata laksana sepsis. Pedoman SSC 2026 secara eksplisit menyatakan bahwa penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab, strategi diagnostik yang tepat, dan de-escalation terapi antimikroba merupakan prinsip-prinsip yang diintegrasikan ke dalam seluruh rekomendasi.


Resusitasi Hemodinamik: Pendekatan yang Lebih Individual

Target tekanan arteri rata-rata (mean arterial pressure/MAP): SSC 2026 mempertahankan target MAP 65 mmHg sebagai rekomendasi kuat untuk pasien syok septik dewasa. Namun ada nuansa baru: untuk orang dewasa dengan syok septik berusia 65 tahun ke atas, SSC menyarankan kisaran MAP awal 60–65 mmHg dibandingkan target yang lebih tinggi (rekomendasi kondisional)— mencerminkan bukti terbaru yang menunjukkan tidak adanya manfaat dari target MAP yang lebih tinggi pada populasi lansia.

Vasopressor perifer: Salah satu rekomendasi baru yang berimplikasi praktis di layanan dengan sumber daya terbatas adalah terkait rute pemberian vasopressor. Pada orang dewasa dengan syok septik, SSC menyarankan memulai vasopressor melalui akses vena perifer untuk memulihkan MAP, daripada menunda inisiasi hingga akses vena sentral tersedia (rekomendasi kondisional). Ini penting karena pemasangan akses sentral membutuhkan waktu dan keahlian teknis tertentu—yang tidak selalu tersedia segera di IGD atau fasilitas dengan keterbatasan sumber daya.

Kristaloid sebagai pilihan utama: SSC 2026 merekomendasikan penggunaan kristaloid sebagai cairan lini pertama untuk resusitasi (bukti moderat). Untuk orang dewasa dengan hipoperfusi akibat sepsis atau syok septik, SSC menyarankan pemberian setidaknya 30 mL/kg cairan kristaloid intravena dalam 3 jam pertama, dengan mempertimbangkan karakteristik dan konteks pasien secara individual (rekomendasi kondisional).


Pemantauan: Fleksibel antara Invasif dan Noninvasif

Untuk orang dewasa dengan syok septik, SSC menyarankan penggunaan pemantauan tekanan darah invasif atau noninvasif—memberikan fleksibilitas berdasarkan kondisi klinis. Pemantauan invasif dianjurkan pada pasien yang membutuhkan vasopressor dosis menengah hingga tinggi, escalasi vasopressor, atau memiliki pembacaan tekanan darah noninvasif yang tidak konsisten.


Masuk ICU Dalam 6 Jam

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik yang memerlukan perawatan ICU, SSC menyarankan pasien dirawat di ICU dalam 6 jam sejak keputusan rawat dibuat (rekomendasi kondisional, bukti rendah). Rekomendasi ini relevan dalam konteks Indonesia, di mana keterbatasan kapasitas ICU di rumah sakit tipe C dan D menjadi tantangan nyata.


Pedoman Anak: 61 Pernyataan dengan 20 Topik Baru

Untuk pasien anak, pedoman SSC 2026 merupakan pembaruan dari versi 2020. Pedoman anak 2026 memuat 61 pernyataan yang mencakup pengenalan dan tata laksana infeksi (18 pernyataan), hemodinamik dan resusitasi (18), ventilasi (3), terapi ajuvan, metabolik, dan imunomodulasi (19), serta tindak lanjut jangka panjang (3 pernyataan).

Pedoman ini memuat 20 pernyataan yang menjawab pertanyaan baru yang tidak tercakup dalam pedoman 2020. Dari aspek metodologi, panel terdiri dari 68 pakar internasional yang merepresentasikan 13 organisasi internasional dari berbagai disiplin, termasuk kedokteran kritis dan intensif, kedokteran darurat, anestesiologi, neonatologi, penyakit infeksi, dan psikologi—melibatkan dokter, perawat, hingga apoteker.

Untuk anak dengan sepsis atau syok septik probable: SSC merekomendasikan pemberian terapi antimikroba sesegera mungkin, idealnya dalam 1 jam sejak dikenali syok septik. Untuk anak dengan sepsis probable tanpa syok, SSC menyarankan investigasi cepat dengan waktu terbatas; jika kekhawatiran tetap ada, antibiotik diberikan dalam 3 jam sejak pertama kali sepsis dicurigai.

Dalam hal penggunaan prokalsitonin, untuk anak dengan sepsis atau syok septik yang mendapatkan terapi antimikroba, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan prokalsitonin secara rutin untuk memandu de-escalation terapi jika program antimicrobial stewardship yang efektif sudah tersedia (bukti moderat).


Program Peningkatan Mutu dan “Code Sepsis”

Aspek sistem dan implementasi mendapat penekanan lebih besar dalam SSC 2026. Untuk rumah sakit dan sistem layanan kesehatan, SSC merekomendasikan penggunaan program peningkatan kinerja untuk sepsis, yang mencakup skrining sepsis pada pasien sakit akut berisiko tinggi, prosedur operasional standar untuk terapi, dan strategi perbaikan mutu sepsis (bukti moderat hingga sangat rendah).

SSC juga menyarankan penggunaan protokol “code sepsis” atau “sepsis huddle”—yang melibatkan diskusi multidisipliner di samping tempat tidur untuk mempercepat diagnosis dan terapi sepsis setelah skrining positif—dibandingkan tidak menggunakan protokol semacam itu. Di Indonesia, rekomendasi ini sejalan dengan standar akreditasi KARS/Starkes yang mewajibkan rumah sakit memiliki sistem pengenalan dan respons sepsis yang terstruktur.


Perawatan Pasca-Sepsis: Perhatian yang Kini Lebih Formal

Untuk pertama kalinya, aspek jangka panjang pasca-sepsis mendapat proporsi yang lebih substansial. SSC 2026 merekomendasikan agar klinisi memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai rawatan di rumah sakit, diagnosis, terapi, serta gangguan umum pasca-sepsis, baik dalam ringkasan tertulis maupun verbal saat pasien dipulangkan. Untuk pasien yang mengalami gangguan baru, rencana pemulangan harus mencakup tindak lanjut dengan klinisi yang mampu mendukung dan menangani sekuele jangka panjang.


Konteks Indonesia: Tantangan dan Peluang

Penerapan pedoman SSC di Indonesia menghadapi tantangan struktural tersendiri. Keterbatasan kapasitas ICU, distribusi laboratorium yang tidak merata, dan tingginya prevalensi patogen resisten antimikroba menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Beban ekonomi penanganan sepsis di Indonesia diperkirakan mencapai USD 130 juta per 100.000 pasien, dengan biaya tertinggi pada penggunaan obat dan resusitasi kegawatdaruratan. Dalam sistem pembiayaan JKN, sepsis dan infeksi fokal yang terkait tidak dikodekan bersama, sehingga berpotensi menimbulkan penganggaran yang kurang (underbudgeting).

Di sisi lain, penekanan SSC 2026 pada adaptasi terhadap sumber daya terbatas merupakan sinyal positif. Rekomendasi yang dikembangkan oleh panel dengan representasi dari seluruh benua ini dirancang untuk mendukung perawatan optimal di seluruh dunia, sekaligus mempertimbangkan adaptasi untuk penanganan pasien di lingkungan dengan sumber daya terbatas.

Bagi klinisi IGD dan dokter umum di fasilitas kesehatan primer dan sekunder, beberapa poin operasional paling relevan dari SSC 2026 meliputi: (1) gunakan NEWS atau MEWS—bukan qSOFA—untuk skrining sepsis; (2) stratifikasi antibiotik berdasarkan derajat kepastian diagnosis; (3) vasopressor perifer dapat dimulai sebelum akses sentral tersedia; dan (4) dokumentasi dan edukasi pasca-sepsis adalah bagian dari standar perawatan—bukan optional.


Penutup

Pedoman SSC 2026 bukan sekadar pembaruan teknis. Ia merepresentasikan pemahaman yang semakin matang bahwa sepsis adalah entitas klinis yang kompleks, memerlukan respons yang bertahap dan proporsional—bukan seragam dan panik. Dengan 46 pernyataan baru untuk dewasa dan 20 topik baru untuk anak, dokumen ini memberikan panduan yang lebih kaya sekaligus lebih realistis untuk diterapkan di berbagai tatanan layanan kesehatan, termasuk di Indonesia.

Langkah berikutnya yang mendesak adalah menerjemahkan pedoman ini ke dalam praktik nyata: dari pembaruan clinical pathway di IGD, revisi protokol ICU, hingga integrasi dengan program antimicrobial stewardship yang sudah berjalan di rumah sakit. Karena pada akhirnya, pedoman terbaik adalah yang benar-benar digunakan.


Daftar Referensi

Prescott, H. C., Antonelli, M., Alhazzani, W., Møller, M. H., Alshamsi, F., Azevedo, L. C. P., … Coopersmith, C. M. (2026). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2026. Critical Care Medicine, advance online publication. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000007075

Prescott, H. C., Antonelli, M., Alhazzani, W., Møller, M. H., & colleagues. (2026). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2026. Intensive Care Medicine. https://doi.org/10.1007/s00134-026-08361-1

Weiss, S. L., & colleagues. (2026). Surviving Sepsis Campaign International Guidelines for the Management of Sepsis and Septic Shock in Children 2026. Pediatric Critical Care Medicine, advance online publication. https://doi.org/10.1097/PCC.0000000000003927

Purba, A. K. R., Setiawan, D., Bathoorn, E., Postma, M. J., Dik, J.-W. H., & Friedrich, A. W. (2020). Prevention of bloodstream infections by catheter-related infections among sepsis patients in Indonesia: A cost burden analysis. International Journal of Infectious Diseases, 96, 421–428. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2020.04.052

Wicaksono, A., & Adisasmita, A. (2022). Frekuensi dan mortalitas pasien sepsis dan syok septik di ICU rumah sakit swasta tipe B, di Tangerang Selatan. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 6(1). https://doi.org/10.7454/epidkes.v6i1.6031

Singer, M., Deutschman, C. S., Seymour, C. W., Shankar-Hari, M., Annane, D., Bauer, M., … Angus, D. C. (2016). The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA, 315(8), 801–810. https://doi.org/10.1001/jama.2016.0287

Rudd, K. E., Johnson, S. C., Agesa, K. M., Shackelford, K. A., Tsoi, D., Kievlan, D. R., … Naghavi, M. (2020). Global, regional, and national sepsis incidence and mortality, 1990–2017: Analysis for the Global Burden of Disease Study. The Lancet, 395(10219), 200–211. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)32989-7

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar