A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Kanker serviks, atau kanker leher rahim, adalah salah satu dari sedikit jenis kanker yang secara ilmiah sudah dipahami penyebabnya, sudah tersedia vaksinnya, dan dapat dideteksi sebelum benar-benar menjadi kanker. Namun, kenyataannya, pada tahun 2022, diperkirakan terdapat 662.301 kasus baru kanker serviks dan 348.874 kematian di seluruh dunia. Kanker ini bukan hanya angka. Di baliknya ada ibu, istri, anak perempuan, dan kolega yang seharusnya bisa diselamatkan.

Di Indonesia, situasinya tidak jauh berbeda. Berdasarkan laporan GLOBOCAN 2020, terdapat lebih dari 36.000 kasus baru dan lebih dari 21.000 kematian per tahun akibat kanker serviks. Ironisnya, sekitar 70% kasus kanker serviks di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium akhir, di mana pengobatan menjadi kurang efektif.


Apa Itu Kanker Serviks?

Serviks adalah bagian bawah rahim yang berbentuk silindris, menghubungkan rongga rahim dengan vagina. Kanker serviks terjadi ketika sel-sel di area ini mengalami pertumbuhan yang tidak terkendali akibat perubahan genetik yang perlahan-lahan berkembang selama bertahun-tahun. Mayoritas kasus bermula dari zona transformasi, yaitu area pertemuan antara sel epitel berlapis (squamous epithelium) dan sel epitel kolumnar (columnar epithelium), yang secara teknis disebut squamocolumnar junction. Zona ini sangat rentan terhadap infeksi virus yang menjadi penyebab utama kanker serviks.

Secara histologis, dua jenis kanker serviks yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa (squamous cell carcinoma), yang mencakup sekitar 70% kasus, dan adenokarsinoma, yang proporsinya semakin meningkat dalam dua dekade terakhir. Sebagian kecil lainnya merupakan campuran keduanya, disebut karsinoma adenoskuamosa (adenosquamous carcinoma).


Epidemiologi: Beban Global yang Tidak Merata

Secara global, kanker serviks merupakan penyebab keempat morbiditas dan mortalitas akibat kanker pada perempuan di seluruh dunia. Angka ini cukup mengejutkan mengingat kanker serviks adalah kanker yang dapat dicegah dan disembuhkan jika ditangani sejak dini.

Yang lebih memprihatinkan adalah kesenjangan yang sangat mencolok antara negara maju dan negara berkembang. Angka kejadian kanker serviks tiga kali lebih tinggi di negara-negara dengan Human Development Index (HDI) rendah dibandingkan negara-negara dengan HDI sangat tinggi, sementara angka kematiannya bahkan enam kali lebih tinggi. Ini mencerminkan kesenjangan dalam akses terhadap vaksinasi HPV, program skrining, dan layanan pengobatan.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang persisten, dan kombinasi HPV tipe 16 dan 18 menyebabkan sekitar 71% kasus kanker serviks di seluruh dunia. Faktor risiko lain yang berkontribusi meliputi merokok, infeksi HIV, debut seksual yang terlalu dini, penggunaan kontrasepsi hormonal oral jangka panjang, dan jumlah pasangan seksual yang banyak.

Proyeksi ke depan tidak menggembirakan. Jika angka kejadian tahun 2022 tidak berubah, beban global kanker serviks diperkirakan akan meningkat 14,8% dalam jumlah kasus dan 17,8% dalam jumlah kematian pada tahun 2030.

Untuk Indonesia, kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker yang paling banyak menyerang perempuan, dengan jumlah 36.633 kasus atau 9,2% dari total kasus kanker. Angka ini menempatkan Indonesia dalam kelompok negara dengan beban kanker serviks yang masih sangat tinggi.


Virus HPV: Akar Masalah yang Perlu Dipahami

Human Papillomavirus (HPV) adalah virus DNA kecil yang menginfeksi sel epitel kulit dan selaput lendir. Saat ini diketahui lebih dari 200 jenis HPV, namun hanya sebagian yang bersifat onkogenik (pemicu kanker). HPV tipe 16 dan 18 adalah yang paling berbahaya dan paling banyak dikaitkan dengan kanker serviks.

Infeksi HPV ditularkan melalui kontak seksual, termasuk kontak kulit-ke-kulit di area genital, bukan hanya melalui penetrasi. Ini berarti seseorang dapat terinfeksi HPV bahkan tanpa pernah berhubungan seksual secara penuh. Sebagian besar infeksi HPV (sekitar 80-90%) akan sembuh sendiri dalam waktu 1-2 tahun karena sistem imun tubuh berhasil membersihkannya. Masalah timbul ketika infeksi tidak bersih dan menjadi persisten, artinya virus terus berada di sel serviks dan secara perlahan mengubah sifat genetik sel tersebut.

Proses perubahan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker invasif tidaklah terjadi dalam semalam. Diperlukan waktu 10-15 tahun atau lebih, melewati tahapan yang disebut cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau lesi prakanker. Inilah jendela emas untuk intervensi: jika lesi prakanker ditemukan dan ditangani, kanker dapat dicegah sepenuhnya.


Faktor Risiko: Siapa yang Paling Rentan?

Pemahaman tentang faktor risiko penting untuk mengidentifikasi kelompok yang perlu diprioritaskan dalam program skrining dan edukasi. Berikut beberapa faktor risiko utama kanker serviks:

Aktivitas seksual dini dan banyak pasangan seksual meningkatkan kemungkinan terpapar HPV. Merokok tidak hanya meningkatkan risiko kanker serviks, tetapi juga menekan kemampuan sistem imun lokal serviks untuk membersihkan infeksi HPV. Infeksi HIV dan kondisi imunosupresi lainnya membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi HPV. Riwayat penyakit menular seksual lain, seperti klamidia, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko. Paritas tinggi (banyak melahirkan) serta kondisi sosial ekonomi rendah yang membatasi akses terhadap layanan kesehatan juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.


Gejala: Sering Terlambat Dikenali

Inilah yang membuat kanker serviks begitu berbahaya: pada stadium awal, kanker ini hampir tidak menimbulkan gejala sama sekali. Lesi prakanker sepenuhnya asimtomatik. Itulah mengapa skrining rutin menjadi satu-satunya cara untuk mendeteksinya.

Ketika gejala mulai muncul, umumnya sudah menandakan kanker telah berkembang ke tahap lebih lanjut. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain pendarahan vagina yang tidak normal, khususnya pendarahan setelah berhubungan seksual (contact bleeding), pendarahan di luar siklus menstruasi, atau pendarahan setelah menopause. Keputihan yang berbau tidak sedap dan bercampur darah juga merupakan tanda peringatan. Pada stadium lanjut, nyeri panggul atau punggung bawah, gangguan buang air kecil, atau pembengkakan tungkai dapat terjadi akibat penekanan tumor pada organ-organ sekitarnya.

Fakta bahwa sebagian besar perempuan Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut merupakan cerminan dari rendahnya cakupan skrining dan keterlambatan mencari pertolongan medis.


Diagnosis: Dari Skrining hingga Konfirmasi

Diagnosis kanker serviks melewati beberapa tahapan, dari deteksi awal hingga konfirmasi histopatologis.

Tes Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi sel serviks yang telah digunakan selama puluhan tahun. Sel-sel dari permukaan serviks diambil menggunakan spatula atau sikat kecil, kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat apakah ada sel yang abnormal. Tes ini efektif tetapi memiliki keterbatasan dalam hal sensitivitas.

Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) adalah metode skrining yang lebih sederhana dan murah, sangat sesuai untuk layanan primer (primary care) seperti puskesmas. Area serviks yang dioleskan asam asetat 3-5% akan menunjukkan bercak putih (acetowhite) jika ada sel abnormal. Meskipun sensitivitasnya lebih rendah dibandingkan tes DNA HPV, metode ini sangat cocok untuk kondisi sumber daya terbatas.

Tes DNA HPV adalah metode skrining generasi terbaru yang mendeteksi langsung keberadaan DNA virus HPV berisiko tinggi dalam sel serviks. Indonesia kini sedang bertransisi ke metode DNA HPV untuk skrining, memanfaatkan alat RT-PCR dari respons COVID-19 serta mesin GeneXpert yang sudah tersebar di berbagai fasilitas kesehatan. Metode ini jauh lebih sensitif dibandingkan Pap smear konvensional dan dapat dilakukan dengan pengambilan sampel secara mandiri oleh perempuan itu sendiri (self-sampling), sebuah terobosan yang mengurangi hambatan psikologis terhadap skrining.

Jika skrining menunjukkan hasil abnormal, langkah selanjutnya adalah kolposkopi, yaitu pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar khusus, yang memungkinkan dokter mengidentifikasi area mencurigakan untuk dilakukan biopsi. Hasil biopsi yang dianalisis secara histopatologi adalah baku emas (gold standard) untuk menegakkan diagnosis definitif.


Stadium: Menentukan Arah Pengobatan

Penentuan stadium (staging) kanker serviks mengikuti sistem FIGO (International Federation of Gynecology and Obstetrics), yang diperbarui pada tahun 2018 dengan memasukkan temuan pencitraan dan patologi untuk melengkapi pemeriksaan klinis. Sistem FIGO 2018 memungkinkan penggunaan pencitraan seperti MRI dan CT scan untuk menentukan perluasan tumor secara lebih akurat.

Secara ringkas, stadium FIGO pada kanker serviks terbagi sebagai berikut. Stadium I berarti kanker masih terbatas pada serviks; Stadium II menandakan perluasan ke vagina dua pertiga atas atau parametrium (jaringan di sekitar serviks) namun belum mencapai dinding panggul; Stadium III mencakup perluasan hingga dinding panggul, sepertiga bawah vagina, atau disertai gangguan fungsi ginjal; sementara Stadium IV adalah kanker yang telah menginvasi kandung kemih, rektum, atau telah bermetastasis ke organ jauh.

Secara umum, semakin dini stadium saat diagnosis, semakin baik prognosis pasien.


Pengobatan: Dari Operasi hingga Imunoterapi

Pilihan pengobatan kanker serviks ditentukan oleh stadium penyakit, usia pasien, kondisi kesehatan umum, dan keinginan pasien untuk mempertahankan kesuburan.

Pada stadium dini (Stadium IA hingga IB1), operasi adalah pilihan utama. Konisasi (pengangkatan sebagian kerucut jaringan serviks) atau histerektomi sederhana dapat dilakukan, tergantung pada kedalaman invasi. Untuk kasus yang memenuhi syarat, sentinel lymph node biopsy dapat menggantikan diseksi kelenjar getah bening penuh. Radiasi eksternal dan brakiterapi (brachytherapy) juga merupakan alternatif yang efektif untuk stadium dini.

Pada stadium lanjut lokal (locally advanced cervical cancer/LACC), yang didefinisikan sebagai stadium IB3 hingga IVA berdasarkan FIGO 2018, standar baku pengobatan adalah kemoradioterapi konkuren yaitu kemoterapi (umumnya cisplatin) yang diberikan bersamaan dengan radioterapi. Angka kelangsungan hidup 5 tahun bebas penyakit untuk LACC adalah 68%, sementara angka kelangsungan hidup 5 tahun keseluruhan adalah 74%.

Namun, perkembangan terbaru dalam pengobatan onkologi menghadirkan kabar baik. Imunoterapi kini masuk sebagai komponen penting dalam tata laksana kanker serviks. Uji coba KEYNOTE-A18 menunjukkan bahwa penambahan pembrolizumab pada kemoradioterapi standar meningkatkan kelangsungan hidup bebas penyakit, dan pada Januari 2024, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menyetujui kombinasi ini untuk pasien kanker serviks stadium III-IVA. Ini merupakan tonggak penting dalam pengobatan kanker serviks stadium lanjut.

Untuk kanker yang berulang atau telah bermetastasis jauh, kombinasi kemoterapi (berbasis platinum) dengan bevacizumab (obat anti-angiogenesis) ditambah imunoterapi seperti pembrolizumab telah menunjukkan peningkatan angka kelangsungan hidup dibandingkan kemoterapi saja.


Pencegahan: Investasi Terbaik dalam Mengatasi Kanker Serviks

Kanker serviks adalah satu dari sedikit kanker yang dapat dicegah melalui kombinasi vaksinasi dan skrining. WHO merumuskan strategi eliminasi kanker serviks global dengan target yang dikenal sebagai 90-70-90:

  1. 90% anak perempuan di bawah usia 15 tahun mendapatkan vaksinasi HPV lengkap.
  2. 70% perempuan menjalani skrining kanker serviks setidaknya dua kali seumur hidup menggunakan metode berbasis HPV DNA.
  3. 90% perempuan yang terdiagnosis lesi prakanker atau kanker serviks mendapatkan pengobatan yang tepat.

Target ambisius ini diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030 dan secara bertahap menurunkan angka kejadian kanker serviks hingga kurang dari empat kasus per 100.000 perempuan per tahun.

Vaksin HPV adalah pilar pertama dan paling penting dalam pencegahan primer. Vaksin ini bekerja dengan cara membentuk antibodi spesifik terhadap HPV sebelum seseorang terpapar virus, sehingga paling efektif diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Saat ini tersedia beberapa jenis vaksin HPV, termasuk vaksin bivalen (melindungi dari HPV 16 dan 18), tetravalen (HPV 6, 11, 16, 18), dan novavalen (HPV 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, 58) yang menawarkan cakupan perlindungan paling luas.

WHO merekomendasikan vaksin HPV diberikan pada anak perempuan usia 9-14 tahun dengan satu atau dua dosis. Untuk remaja usia 15 tahun ke atas dan perempuan dewasa, diperlukan dua hingga tiga dosis tergantung pada usia dan jadwal vaksinasi.


Indonesia Bergerak: Program Nasional Eliminasi Kanker Serviks

Indonesia telah menunjukkan komitmen yang nyata dalam upaya eliminasi kanker serviks. Perjalanan program vaksinasi HPV di Indonesia dimulai sebagai pilot project di DKI Jakarta pada tahun 2016, kemudian diperluas ke 120 kabupaten/kota pada 2022, dan secara resmi dicanangkan sebagai program nasional pada Agustus 2023.

Program ini diintegrasikan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), menyasar siswi kelas 5 SD untuk dosis pertama dan kelas 6 SD untuk dosis kedua. Kemenkes melaporkan bahwa cakupan vaksinasi HPV dosis pertama telah mencapai 95% secara nasional. Pencapaian ini patut diapresiasi mengingat betapa luasnya wilayah Indonesia dan beragamnya tantangan geografis yang dihadapi.

Lebih jauh, mulai tahun 2025, merujuk pada kebijakan terbaru WHO (Strategic Advisory Group of Experts on Immunization/SAGE) serta komitmen Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/2176/2023 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030, pemberian imunisasi HPV diubah dari dua dosis menjadi satu dosis. Kebijakan dosis tunggal ini bertujuan mempercepat cakupan di seluruh wilayah Indonesia, seiring dengan bukti ilmiah bahwa satu dosis pun memberikan perlindungan yang memadai pada kelompok usia tersasar.

Di sisi skrining, Indonesia sedang bertransisi dari metode IVA dan Pap smear konvensional menuju metode DNA HPV yang lebih sensitif, termasuk opsi pengambilan sampel mandiri yang lebih terjangkau dan mengurangi hambatan psikologis perempuan untuk memeriksakan diri. Pemerintah juga memiliki target skrining melalui program di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dalam kerangka JKN/BPJS Kesehatan.

WHO bekerja sama dengan pemerintah Indonesia mendukung ekspansi layanan imunisasi HPV, dan untuk periode 2023-2030, Rencana Aksi Nasional berfokus pada percepatan eliminasi kanker leher rahim. Indonesia bahkan menjadi tuan rumah Forum Global ke-2 Eliminasi Kanker Serviks di Bali pada Juni 2025, menunjukkan peran aktifnya dalam agenda global kesehatan perempuan.


Yang Masih Perlu Diperjuangkan

Meski progress Indonesia cukup signifikan, tantangan yang tersisa tidak bisa diremehkan. Tujuh puluh persen kasus yang terdeteksi pada stadium lanjut mencerminkan rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan akses skrining di daerah terpencil, stigma yang masih melekat pada penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi, serta keterlambatan rujukan ke fasilitas yang lebih tinggi.

Kesenjangan antara kebijakan di atas kertas dan implementasi di lapangan adalah tantangan nyata. Fasilitas brakiterapi yang dibutuhkan untuk pengobatan stadium lanjut masih terpusat di kota-kota besar. Ketersediaan imunoterapi seperti pembrolizumab masih belum merata dan belum masuk dalam skema pembiayaan JKN untuk indikasi kanker serviks. Tenaga kesehatan yang terlatih untuk melakukan kolposkopi dan skrining DNA HPV juga masih perlu terus diperkuat.


Penutup: Kanker yang Tidak Seharusnya Terjadi

Kanker serviks disebut sebagai satu-satunya kanker yang secara teoritis dapat dieliminasi dari muka bumi. Kombinasi vaksinasi HPV, skrining berbasis HPV DNA, dan pengobatan yang tepat menjadikan kanker serviks penyakit yang seharusnya bisa dihentikan. Namun, perjalanan menuju eliminasi membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan di atas kertas: dibutuhkan kesadaran masyarakat, akses layanan yang merata, dan keberanian perempuan untuk memeriksakankan diri secara rutin.

Kepada setiap perempuan yang membaca ini: jika Anda belum pernah menjalani skrining kanker serviks, inilah saatnya. Jika Anda memiliki anak perempuan yang berusia sekolah dasar, pastikan ia mendapatkan vaksin HPV dalam program BIAS. Dan jika Anda merasakan gejala-gejala yang disebutkan di atas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Kanker serviks bukan takdir yang harus diterima. Ia adalah penyakit yang bisa dicegah, bisa dideteksi dini, dan bisa disembuhkan.


Referensi

Bhatla, N., & Singer, A. (2025). Cancer of the cervix uteri: 2025 update. International Journal of Gynecology & Obstetrics. https://doi.org/10.1002/ijgo.70277

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2025, Juni). Forum Global Ke-2 Eliminasi Kanker Serviks: Komitmen nyata menuju eliminasi kanker serviks. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/forum-global-ke-2-eliminasi-kanker-serviks-komitmen-nyata-menuju-eliminasi-kanker-serviks/

Duska, L. R. (2024). Top advances of the year: Cervical cancer. Cancer, 130(9). https://doi.org/10.1002/cncr.35334

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/2176/2023 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030. Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. (2023, Agustus 9). Pencanangan nasional perluasan imunisasi Human Papillomavirus (HPV). WHO Indonesia. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/09-08-2023-national-launch-of-human-papillomavirus-(hpv)-immunization-expansion

Li, Z., Liu, P., Yin, A., Zhang, B., Xu, J., Chen, Z., Zhang, Z., Zhang, Y., Wang, S., Tang, L., Kong, B., & Song, K. (2025). Global landscape of cervical cancer incidence and mortality in 2022 and predictions to 2030: The urgent need to address inequalities in cervical cancer. International Journal of Cancer, 157(2), 288–297. https://doi.org/10.1002/ijc.35369

Lorente-Sanz, A., Fuentes-Gutiérrez, C., Ferrer-Ferrer, E., Llanos-Gómez, C., Colina-Barranco, J., & Herráez-Baranda, C. (2024). SEOM-GEICO Clinical Guidelines on cervical cancer (2023). Clinical and Translational Oncology. https://doi.org/10.1007/s12094-023-03270-x

Lucchini, E., Marangoni, L., Lombardi, D., & De Giorgi, U. (2024). New frontiers in locally advanced cervical cancer treatment. Frontiers in Oncology, 14, 1397005. https://doi.org/10.3389/fonc.2024.1397005

Sung, H., Siegel, R. L., Laversanne, M., Soerjomataram, I., Jemal, A., & Ferlay, J. (2022). Global estimates of incidence and mortality of cervical cancer in 2020: A baseline analysis of the WHO Global Cervical Cancer Elimination Initiative. The Lancet Global Health, 10(11), e1601–e1614. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(22)00424-6

World Health Organization & UNFPA Indonesia. (2024, November 15). WHO, UNFPA mengapresiasi upaya Indonesia mengeliminasi kanker serviks, mendorong strategi vaksin terpadu, dan memperkuat skrining. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/15-11-2024-who–unfpa-commend-indonesia-s-efforts-to-eliminate-cervical-cancer–urge-streamlined-vaccine-strategy-and-enhanced-screening

Wu, J., Jin, Q., Zhang, Y., Ji, Y., Li, J., Liu, X., Duan, H., Feng, Z., Liu, Y., Zhang, Y., Lyu, Z., Yang, L., & Huang, Y. (2025). Global burden of cervical cancer: Current estimates, temporal trend and future projections based on the GLOBOCAN 2022. Journal of the National Cancer Center, 5(3), 322–329. https://doi.org/10.1016/j.jncc.2024.11.006

Zhao, M., Zhang, B., Chen, Y., Feng, Y., Wang, X., & Wei, X. (2025). Cervical cancer burden and attributable risk factors across different age and regions from 1990 to 2021 and future burden prediction: Results from the Global Burden of Disease Study 2021. Frontiers in Oncology, 15, 1543826. https://doi.org/10.3389/fonc.2025.1543826

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar