Pendahuluan
Nyeri leher adalah keluhan yang terasa biasa-biasa saja — sampai ia tidak bisa diabaikan lagi. Jutaan orang di seluruh dunia bangun setiap pagi dengan leher yang kaku, sensasi kesemutan yang menjalar ke lengan, atau rasa nyeri tumpul yang bertahan sepanjang hari. Di balik sebagian besar keluhan ini, ada satu kondisi degeneratif yang kerap tidak terdiagnosis dengan tepat: cervical spondylosis, atau spondylosis servikalis.
Cervical spondylosis adalah kondisi degeneratif kronis yang memengaruhi tulang belakang leher, mencakup perubahan pada cakram intervertebral, sendi faset, sendi unkovertebral, dan ligamen di regio servikal. Kondisi ini merupakan penyebab utama kompresi sumsum tulang belakang dan akar saraf di leher secara progresif, dan termasuk dalam kelompok yang lebih luas yang dikenal sebagai degenerative cervical myelopathy (DCM). Meskipun menjadi salah satu kondisi muskuloskeletal paling umum di kelompok usia dewasa dan lansia, cervical spondylosis masih sering dianggap sekadar “penyakit tua biasa” yang tidak memerlukan perhatian serius — padahal tanpa tata laksana yang tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan neurologis permanen.
Artikel ini menyajikan tinjauan komprehensif mengenai cervical spondylosis: dari patofisiologi, epidemiologi, manifestasi klinis, hingga pendekatan diagnosis dan tata laksana berbasis bukti terkini.
Anatomi Dasar: Mengapa Leher Rentan?
Tulang belakang leher (columna vertebralis cervicalis) terdiri dari tujuh ruas vertebra (C1–C7) yang menopang kepala dan memungkinkan rentang gerak yang luar biasa: fleksi, ekstensi, rotasi, dan fleksi lateral. Di antara setiap dua vertebra terdapat cakram intervertebral (discus intervertebralis), sebuah bantalan fibrokartilago dengan inti bergelatin di bagian tengah (nucleus pulposus) yang dikelilingi cincin fibrosa (annulus fibrosus).
Mobilitas tinggi tulang belakang leher, ditambah dengan beban mekanis yang terus-menerus akibat menopang kepala — yang beratnya berkisar antara 4 hingga 6 kilogram — menjadikan regio ini sangat rentan terhadap degenerasi. Segmen C5–C6 dan C6–C7 menanggung tekanan mekanis terbesar dan menjadi lokasi yang paling sering terkena perubahan degeneratif.

Definisi dan Spektrum Klinis
Cervical spondylosis secara harfiah berarti degenerasi sendi tulang belakang leher. Istilah ini mencakup serangkaian perubahan struktural akibat penuaan dan keausan yang meliputi:
Dehidrasi dan penipisan cakram intervertebral; pembentukan osteophyte (taji tulang) di tepi badan vertebra; penyempitan ruang diskus; hipertrofi ligamen, terutama ligamentum flavum; serta degenerasi sendi faset dan sendi unkovertebral (Luschka).
Secara klinis, cervical spondylosis dapat bermanifestasi dalam tiga sindrom utama yang perlu dibedakan: (1) nyeri aksial leher tanpa gejala neurologis, (2) radiculopathy servikalis akibat kompresi akar saraf, dan (3) myelopathy servikalis akibat kompresi sumsum tulang belakang. Ketiga sindrom ini dapat muncul secara terpisah maupun bersamaan dalam berbagai derajat keparahan.
Epidemiologi: Seberapa Umum Kondisi Ini?
Cervical spondylosis merupakan kondisi degeneratif tulang belakang leher yang paling sering dijumpai. Data studi epidemiologis secara konsisten menunjukkan bahwa perubahan radiografis akibat spondylosis sudah ditemukan pada sekitar 25% individu di bawah usia 40 tahun, 50% di atas usia 40 tahun, dan hingga 85% pada mereka yang berusia di atas 60 tahun — meskipun sebagian besar tetap asimtomatik. Perubahan radiografis ini umumnya bersifat progresif seiring bertambahnya usia, namun mayoritas individu yang terdampak tidak mengalami gejala klinis yang bermakna.
Nyeri leher sebagai manifestasi utama cervical spondylosis merupakan keluhan muskuloskeletal yang menempati posisi kedua paling sering setelah nyeri punggung bawah secara global. Nyeri leher memiliki angka prevalensi terstandarisasi usia sebesar 27,0 per 1.000 populasi pada tahun 2019, dengan berbagai faktor psikologis dan biologis yang berkontribusi pada inisiasi dan progresinya.
Sebuah studi berbasis komunitas di Tiongkok yang melibatkan 3.859 orang dewasa menemukan prevalensi cervical spondylosis simtomatik sebesar 13,76%, dengan variasi bermakna di antara populasi urban, suburban, dan rural (13,07%, 15,97%, dan 12,25%). Sementara itu, prevalensi cervical spondylosis meningkat seiring usia, paling banyak dijumpai pada kelompok usia 50–59 tahun, dan masalah degeneratif cenderung muncul lebih awal pada laki-laki dibandingkan perempuan.
Dari sudut pandang beban penyakit (disease burden), kondisi ini memberikan dampak ekonomi dan sosial yang substansial melalui penurunan produktivitas kerja, tingginya biaya perawatan kesehatan, serta disabilitas jangka panjang yang ditimbulkan oleh komplikasinya, terutama myelopathy.
Patofisiologi: Bagaimana Degenerasi Berlangsung?
Proses degeneratif pada cervical spondylosis dimulai dari cakram intervertebral dan berkembang secara bertahap dalam sebuah kaskade yang saling memengaruhi.
Degenerasi cakram intervertebral menjadi titik awal. Seiring bertambahnya usia, nucleus pulposus kehilangan kandungan proteoglikan dan air secara progresif, sehingga kemampuan cakram untuk menyerap beban berkurang. Cakram menjadi lebih pipih, kurang elastis, dan rentan mengalami herniasi. Penurunan tinggi cakram ini kemudian mengalihkan distribusi beban mekanis ke sendi faset dan sendi unkovertebral di sekitarnya.
Pembentukan osteophyte merupakan respons tubuh terhadap perubahan distribusi beban ini. Taji tulang terbentuk di tepi badan vertebra dan sendi-sendi kecil sebagai upaya stabilisasi, namun paradoksnya dapat mempersempit kanalis spinalis dan foramina intervertebralis, menyebabkan kompresi struktur neural.
Perubahan ligamen turut memperparah kondisi ini. Ligamentum flavum mengalami hipertrofi dan dapat melipat ke dalam (buckling) saat ekstensi leher, sedangkan ligamen longitudinal posterior dapat mengalami osifikasi (ossification of the posterior longitudinal ligament, OPLL) pada kasus tertentu.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan otot-otot paraspinal di sekitar leher juga berperan penting. Studi oleh Li dkk. menemukan bahwa fatty infiltration (infiltrasi lemak) pada otot-otot ekstensor dalam leher, terutama multifidus, berkorelasi positif dengan derajat keparahan degenerasi cakram dan gangguan keselarasan sagital tulang belakang leher. Semakin berat infiltrasi lemak, semakin buruk keseimbangan sagital yang terukur. Temuan ini memperluas pemahaman bahwa cervical spondylosis bukan semata proses tulang dan cakram, melainkan melibatkan kelemahan struktural otot secara keseluruhan.
Pada tahap lanjut, ketika kompresi telah mengenai sumsum tulang belakang, terjadi mekanisme cedera ganda: kompresi mekanis langsung dan gangguan vaskular yang memengaruhi perfusi sumsum tulang belakang, yang bersama-sama mencetuskan myelopathy servikalis degeneratif (DCM).
Faktor Risiko
Sejumlah faktor meningkatkan kerentanan seseorang terhadap cervical spondylosis dan progresinya:
Usia adalah faktor risiko utama yang tidak dapat dimodifikasi. Degenerasi cakram adalah proses fisiologis yang universal seiring bertambahnya usia, meskipun kecepatan dan keparahannya bervariasi.
Jenis kelamin: Laki-laki cenderung mengalami perubahan degeneratif lebih awal dibandingkan perempuan, meskipun perbedaan ini mengecil pada usia lanjut.
Faktor pekerjaan dan aktivitas: Paparan kerja terhadap fleksi leher yang berkepanjangan, aktivitas lengan ke atas yang berulang, dan beban mekanis berat pada ekstremitas atas berkaitan dengan angka cervical spondylosis yang memerlukan pembedahan yang lebih tinggi, terutama pada pekerja konstruksi dan buruh kasar. Era digital juga menghadirkan risiko baru: penggunaan perangkat digital dalam posisi kepala menunduk yang berkepanjangan (forward head posture) telah diidentifikasi sebagai faktor risiko yang semakin relevan.
Merokok dan obesitas: Randomisasi Mendel (Mendelian randomization) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih rendah berkaitan dengan risiko cervical spondylosis yang lebih tinggi, terutama melalui peningkatan prevalensi merokok dan obesitas. Merokok mengganggu nutrisi avaskular cakram melalui penurunan perfusi kapiler, sedangkan obesitas meningkatkan beban mekanis pada tulang belakang.
Riwayat cedera leher: Trauma pada leher sebelumnya, termasuk whiplash, dapat mempercepat proses degeneratif.
Faktor genetik: Riwayat keluarga dengan kondisi serupa dan predisposisi genetik tertentu terhadap metabolisme kolagen cakram intervertebral berperan dalam kecepatan degenerasi.
Manifestasi Klinis
Spektrum klinis cervical spondylosis sangat luas, dari tidak bergejala sama sekali hingga disabilitas neurologis berat.
1. Nyeri Leher Aksial (Axial Neck Pain)
Manifestasi paling umum adalah nyeri leher yang bersifat mekanis: memburuk dengan gerakan dan membaik dengan istirahat. Nyeri dapat menjalar ke daerah oksiput, bahu, skapula, hingga antara tulang belikat. Kekakuan leher (stiffness) sering menyertai nyeri, disertai berkurangnya rentang gerak servikalis. Meski nyeri predominan di regio servikalis, ia dapat menjalar ke area yang luas dan secara khas diperburuk oleh gerakan leher.
2. Radiculopathy Servikalis (Cervical Radiculopathy)
Radiculopathy terjadi ketika taji tulang atau herniasi cakram menekan akar saraf servikalis di foramina intervertebralis. Gejala khasnya adalah nyeri yang menjalar dari leher ke lengan sesuai dermatomal (radiating pain), disertai parestesia (kesemutan, kebas), dan kelemahan otot pada kelompok otot yang dipersarafi akar saraf yang terlibat. Segmen C6 (nyeri menjalar ke ibu jari dan telunjuk) dan C7 (menjalar ke jari tengah) paling sering terkena.
3. Myelopathy Servikalis (Cervical Spondylotic Myelopathy/CSM)
Myelopathy merupakan komplikasi paling serius, terjadi akibat kompresi sumsum tulang belakang. Manifestasinya meliputi gangguan gaya berjalan (gaya jalan tidak stabil atau “gloyor”), kelemahan dan kekakuan pada ekstremitas (terutama tungkai), penurunan ketangkasan tangan (hand clumsiness), serta pada kasus berat dapat terjadi disfungsi kandung kemih dan usus.
Penelitian oleh Chauhan dkk. yang mensurvei ahli bedah tulang belakang di Australasia menemukan bahwa gaya berjalan yang tidak stabil (gait clumsiness), hand clumsiness, dan berkurangnya ketangkasan tangan merupakan gejala yang paling sering digunakan sebagai dasar diagnosis DCM, sementara hiperrefleksia dan tanda ankle clonus menjadi temuan klinis yang paling umum diidentifikasi pada pemeriksaan fisik.
Kondisi ini dapat berkembang secara lambat dan tersembunyi, sehingga diagnosis sering terlambat. Pada kasus lanjut, penderita dapat menjadi bergantung pada alat bantu jalan atau kursi roda.
Pendekatan Diagnosis
Diagnosis cervical spondylosis bersifat klinis, ditegakkan melalui integrasi anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik neurologi yang terstruktur, dan modalitas pencitraan.
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis harus menggali karakteristik nyeri (aksial vs radikuler vs mielopatik), faktor pemberat, dan gejala neurologi. Pemeriksaan fisik mencakup evaluasi rentang gerak servikalis, uji provokasi seperti Spurling test (untuk radiculopathy) dan Lhermitte sign (untuk myelopathy), serta pemeriksaan refleks tendon dalam dan kekuatan motorik.
Pencitraan
Foto polos (plain X-ray) servikalis dalam empat proyeksi (AP, lateral, oblique, fleksi-ekstensi) merupakan modalitas awal yang terjangkau untuk mendeteksi penyempitan ruang diskus, pembentukan taji tulang, dan perubahan keselarasan. Radiogram servikalis konvensional tetap merupakan pemeriksaan pencitraan dasar yang hemat biaya untuk mendeteksi degenerasi diskus dini dan sangat andal dalam menilai proses degeneratif tulang belakang leher.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan modalitas pilihan utama untuk evaluasi cervical spondylosis yang lebih komprehensif. Tinjauan oleh Hesni dkk. menegaskan bahwa MRI merupakan modalitas pencitraan pilihan yang memberikan informasi detail mengenai kompresi sumsum tulang belakang, akar saraf, dan perubahan sinyal intramedular yang penting sebagai prediktor pemulihan neurologis. MRI dapat memvisualisasikan herniasi cakram, penyempitan kanalis spinalis dan foramen, serta perubahan sinyal T2 pada sumsum tulang belakang yang mengindikasikan cedera.
CT-scan (computed tomography) memberikan informasi superior mengenai perubahan tulang, termasuk pembentukan taji tulang dan OPLL, dan sering digunakan sebagai komplementer MRI.
Perkembangan terkini menunjukkan potensi kecerdasan buatan dalam diagnosis. Tachi dkk. mengembangkan algoritma deep learning berbasis convolutional neural network (CNN) yang mampu membedakan cervical spondylotic myelopathy dan radiculopathy dari foto polos servikalis, dengan akurasi yang menjanjikan (AUC 0,96 dan akurasi 90% pada validasi eksternal), berpotensi membantu tenaga non-spesialis dalam mengidentifikasi pasien yang memerlukan evaluasi lanjutan oleh spesialis tulang belakang.
Untuk mendeteksi myelopathy dini, teknologi Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS) muncul sebagai alat diagnostik baru. Penelitian Ramachandran dkk. menunjukkan bahwa rasio metabolit spesifik sel glial — seperti Cho/NAA, Cr/NAA, dan MIn/NAA — dapat menjadi biomarker molekuler yang andal untuk mengidentifikasi myelopathy servikalis degeneratif dini bahkan sebelum perubahan struktural yang nyata terlihat pada MRI konvensional.
Diagnosis Banding
Cervical spondylosis harus dibedakan dari sejumlah kondisi yang memiliki presentasi serupa, termasuk sindrom terowongan karpal (carpal tunnel syndrome/CTS), penyakit arteri koroner (nyeri dada/bahu yang mirip radiculopathy), artritis reumatoid yang melibatkan sendi atlantoaksial, tumor tulang belakang, dan fibromyalgia. Tinjauan komprehensif oleh Hara dan Yoshii (2025) menegaskan bahwa tidak ada satu pun gejala klinis, tes fisik, atau pencitraan yang secara unik dapat diandalkan untuk membedakan cervical spondylosis dari CTS, sehingga diperlukan pendekatan evaluasi multidimensi yang menyeluruh.
Tata Laksana
Pengelolaan cervical spondylosis bergantung pada sindrom klinis yang dominan, derajat keparahan, dan kondisi pasien secara keseluruhan. Pendekatan umum adalah konservatif terlebih dahulu, dengan pembedahan dipertimbangkan pada kasus yang tidak memberikan respons atau pada komplikasi neurologis yang serius.
Tata Laksana Konservatif
Sebagian besar penderita nyeri leher aksial tanpa komplikasi neurologis dapat dikelola secara konservatif dengan baik. Pendekatan ini mencakup:
Edukasi dan modifikasi aktivitas: Pasien perlu memahami kondisinya, menghindari postur yang memperburuk gejala, serta melakukan modifikasi ergonomis di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari.
Latihan fisik dan fisioterapi: Latihan penguatan otot leher dan punggung atas, latihan proprioseptif, serta program stabilisasi servikalis merupakan komponen inti rehabilitasi. Tinjauan oleh Chen dkk. (2023) mengulas perkembangan teknik fisioterapi terkini, termasuk Sling Exercise Training (SET), manipulasi fascia, teknik energi otot (Muscle Energy Technique/MET), dan fasilitasi neuromuskular proprioseptif (Proprioceptive Neuromuscular Facilitation/PNF), yang semuanya menunjukkan manfaat dalam rehabilitasi cervical spondylosis.
Farmakologi: Analgesik seperti parasetamol, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), pelemas otot, dan pada kasus tertentu kortikosteroid oral jangka pendek dapat membantu mengendalikan nyeri dan inflamasi. Injeksi kortikosteroid epidural atau foraminalis dapat dipertimbangkan pada radiculopathy yang refrakter terhadap terapi oral.
Traksi servikalis mekanis: Meski masih diperdebatkan efektivitasnya, traksi servikalis dapat membantu dengan cara melebarkan foramina intervertebralis dan mengurangi tekanan pada struktur neural.
Penggunaan collar servikalis: Terutama berguna pada fase akut untuk imobilisasi dan pengurangan nyeri, namun tidak dianjurkan jangka panjang karena dapat menyebabkan atrofi otot leher.
Modalitas fisioterapi lainnya: Akupunktur, TENS (transcutaneous electrical nerve stimulation), ultrasound terapeutik, dan terapi panas/dingin dapat menjadi terapi adjuvan. Sebuah studi oleh Lin dkk. (2025) membandingkan Fu’s Subcutaneous Needling (FSN) yang dikombinasikan dengan akupunktur kinematik dengan elektroakupunktur pada cervical spondylotic radiculopathy, dan menemukan bahwa kelompok yang mendapatkan FSN menunjukkan perbaikan bermakna yang lebih baik pada skor nyeri (VAS), disabilitas leher (NPQ, NDI), serta kualitas hidup (SF-36) dibandingkan kelompok elektroakupunktur.
Tata Laksana Bedah
Intervensi bedah diindikasikan pada: (1) myelopathy servikalis dengan tanda-tanda progresi neurologis, (2) radiculopathy berat yang tidak responsif terhadap terapi konservatif selama minimal 6–12 minggu, dan (3) kasus dengan defisit neurologis yang mengancam. Survei oleh Levy dkk. terhadap anggota Cervical Spine Research Society menunjukkan adanya konsensus luas bahwa intervensi bedah diindikasikan untuk pasien dewasa dengan myelopathy ringan disertai myelomalacia (perubahan sinyal intramedular) dan radiculopathy berat, sementara observasi serial masih menjadi pilihan yang dapat diterima untuk kompresi korda asimtomatik tanpa myelomalacia.
Pilihan prosedur bedah meliputi:
Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF): Prosedur standar yang paling umum dilakukan melalui pendekatan anterior. Cakram yang mengalami herniasi diangkat dan vertebra difusikan menggunakan cage dan plat. Penelitian Lee dkk. (2025) membandingkan pendekatan anterior versus posterior pada DCM dengan stenosis foraminal multilevel, dan menemukan bahwa kedua pendekatan menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna dan serupa untuk gejala myelopathy maupun radikular, meskipun insiden patologi segmen yang berdekatan secara radiografis lebih tinggi pada kelompok anterior.
Cervical Disc Arthroplasty (CDA): Alternatif untuk ACDF pada kasus tertentu yang mempertahankan mobilitas segmen yang dioperasi. Chang dkk. (2024) melaporkan hasil CDA empat segmen yang menjanjikan pada pasien-pasien terseleksi dengan herniasi multilevel dan spondylosis ringan, dengan perbaikan klinis pada semua pasien serta kecenderungan peningkatan rentang gerak pasca operasi, meski komplikasi heterotopic ossification ditemukan pada sekitar 81,5% kasus dalam jangka panjang.
Laminoplasty atau laminectomy melalui pendekatan posterior: Digunakan terutama pada kasus kompresi multilevel atau ketika anatomi tidak memungkinkan pendekatan anterior.
Data dari registri bedah tulang belakang Norwegia yang melibatkan 905 pasien menunjukkan bahwa pembedahan untuk DCM berkaitan dengan perbaikan bermakna secara klinis pada seluruh ukuran patient-reported outcome, termasuk indeks disabilitas leher (NDI), skor myelopathy, kualitas hidup (EQ-5D), serta skala nyeri leher dan lengan, dengan sekitar 44,6% pasien melaporkan pemulihan lengkap atau perbaikan bermakna satu tahun pasca operasi.
Prognosis dan Perjalanan Penyakit
Prognosis cervical spondylosis sangat bervariasi. Sebagian besar pasien dengan nyeri leher aksial dan radiculopathy mengalami perbaikan dengan tata laksana konservatif. Namun, myelopathy servikalis bersifat progresif secara alami dan memburuk pada sebagian penderita tanpa intervensi.
Faktor-faktor yang memengaruhi prognosis yang lebih buruk meliputi: keparahan gejala awal yang tinggi, lama gejala yang sudah berlangsung lama sebelum tata laksana, adanya perubahan sinyal T2 pada MRI sumsum tulang belakang (myelomalacia), usia yang lebih tua, dan komorbiditas seperti diabetes melitus.
Setidaknya 10% penderita nyeri leher mengalami kronisitas, dan angka ini lebih tinggi pada populasi tertentu. Disabilitas berat akibat myelopathy lanjut — termasuk ketergantungan pada kursi roda dan inkontinensia — dapat dihindari jika intervensi dilakukan tepat waktu.
Pencegahan dan Gaya Hidup
Meskipun degenerasi tulang belakang adalah proses alami penuaan, sejumlah langkah dapat memperlambat progresinya dan mengurangi gejala:
Mempertahankan postur leher yang baik, terutama saat menggunakan perangkat digital dan bekerja di depan komputer; melakukan peregangan dan penguatan otot leher secara rutin; menghindari posisi kepala menunduk (forward head posture) yang berkepanjangan; berhenti merokok; mengelola berat badan; serta menerapkan prinsip ergonomi di tempat kerja.
Di era hidup digital yang semakin dominan, kesadaran akan postur tubuh saat menggunakan smartphone dan laptop perlu ditingkatkan sejak usia muda — karena degenerasi yang terjadi di usia 50-an sering kali bermula dari kebiasaan buruk di usia 20-an dan 30-an.
Kesimpulan
Cervical spondylosis adalah kondisi degeneratif yang sangat umum namun sering diremehkan. Ia menempati spektrum yang luas, dari perubahan radiografis tanpa gejala hingga myelopathy yang dapat menyebabkan disabilitas permanen. Pemahaman yang baik mengenai patofisiologinya, kemampuan untuk membedakan sindrom klinisnya, serta pendekatan diagnosis yang tepat — dengan MRI sebagai modalitas pilihan — merupakan kunci untuk memberikan tata laksana yang optimal.
Tata laksana konservatif yang terstruktur, termasuk latihan fisik berbasis bukti dan modifikasi gaya hidup, menjadi fondasi pengelolaan sebagian besar kasus. Namun, kewaspadaan terhadap tanda-tanda myelopathy dan kemampuan untuk menentukan saat yang tepat untuk merujuk ke spesialis bedah tulang belakang adalah kompetensi klinis yang tidak boleh diabaikan. Dengan kemajuan modalitas pencitraan, termasuk potensi artificial intelligence dan MRS, deteksi dini akan semakin dapat diandalkan di masa depan.
Daftar Referensi
Beyan, A., Mulu, A., Mamushet, Y., & Ayele, B. (2025). Prevalence of cervical spondylosis and associated factors among symptomatic adult patients at a tertiary hospital in Ethiopia 2023. Journal of Back and Musculoskeletal Rehabilitation. https://doi.org/10.1177/10538127251388060
Chang, H.-K., Chang, C.-C., Tu, T.-H., Kuo, Y.-H., Wu, C.-L., Yeh, M.-Y., Kuo, C.-H., Ko, C.-C., Fay, L.-Y., Huang, W.-C., & Wu, J.-C. (2024). Four-level cervical disc arthroplasty. International Journal of Spine Surgery, 18(5), 514–520. https://doi.org/10.14444/8603
Chen, Q., Wang, Z., & Zhang, S. (2023). Exploring the latest advancements in physical therapy techniques for treating cervical spondylosis patients: A narrative review. Biomolecules & Biomedicine, 23(5), 752–759. https://doi.org/10.17305/bb.2023.9049
Gulati, S., Vangen-Lønne, V., Nygaard, Ø. P., Gulati, A. M., Hammer, T. A., Johansen, T. O., Peul, W. C., Salvesen, Ø. O., & Solberg, T. K. (2021). Surgery for degenerative cervical myelopathy: A nationwide registry-based observational study with patient-reported outcomes. Neurosurgery, 89(4), 704–711. https://doi.org/10.1093/neuros/nyab259
Hara, Y., & Yoshii, Y. (2025). Diagnostic dilemmas in carpal tunnel syndrome and cervical spine disorders: A comprehensive review. Diagnostics (Basel), 15(2). https://doi.org/10.3390/diagnostics15020122
Hesni, S., Baxter, D., & Saifuddin, A. (2023). The imaging of cervical spondylotic myeloradiculopathy. Skeletal Radiology, 52(12), 2341–2365. https://doi.org/10.1007/s00256-023-04329-0
Kuo, D. T., & Tadi, P. (2025). Cervical spondylosis. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551557/
Lee, S. H., Sulieman, A., Lee, J. C., & Riew, K. D. (2025). Comparison between anterior and posterior decompression for degenerative cervical myelopathy with multilevel foraminal stenosis. Clinical Spine Surgery. https://doi.org/10.1097/BSD.0000000000002000
Levy, H. A., Pinter, Z. W., Kazarian, E. R., Sodha, S., Rhee, J. M., Fehlings, M. G., Freedman, B. A., Nassr, A. N., Karamian, B. A., Sebastian, A. S., & Currier, B. (2024). Contemporary practice patterns in the treatment of cervical stenosis and central cord syndrome: A survey of the Cervical Spine Research Society. Clinical Spine Surgery, 38(2), E61–E68. https://doi.org/10.1097/BSD.0000000000001663
Li, Z., Zhang, Y., Lin, Y., Fan, C., Yang, Y., Sun, Y., Wu, Z., & Liang, Z. (2025). The role of paraspinal muscle degeneration in cervical spondylosis. European Spine Journal, 34(3), 1187–1197. https://doi.org/10.1007/s00586-025-08648-9
Li, Z., Liang, Q., Li, H., Lin, X., Meng, J., Yang, D., Li, C., Liang, Y., Yang, Y., Lin, Y., & Liang, Z. (2023). Fatty infiltration of the cervical multifidus musculature and its clinical correlation to cervical spondylosis. BMC Musculoskeletal Disorders, 24(1), 613. https://doi.org/10.1186/s12891-023-06595-4
Lin, Y., Hong, W., Sui, L., Jiang, Q., Jiang, G., Yan, W., Xu, N., & Zhang, R. (2025). Fu’s subcutaneous needling combined with kinematic acupuncture versus electroacupuncture in the treatment of cervical spondylotic radiculopathy: A randomized controlled trial. Journal of Pain Research, 18, 1191–1204. https://doi.org/10.2147/JPR.S498728
Ramachandran, K., Thippeswamy, P. B., Shetty, A. P., Kanna, R. M., & Rajasekaran, S. (2025). Deciphering the role of glial cell-specific metabolites as biomarkers in early cervical myelopathy: Insights from in vivo MRS study. The Spine Journal, 26(2), 423–433. https://doi.org/10.1016/j.spinee.2025.05.031
Tachi, H., Kokabu, T., Suzuki, H., Ishikawa, Y., Yabu, A., Yanagihashi, Y., Hyakumachi, T., Shimizu, T., Endo, T., Ohnishi, T., Ukeba, D., Sudo, H., Yamada, K., & Iwasaki, N. (2025). Prediction of cervical spondylotic myelopathy from a plain radiograph using deep learning with convolutional neural networks. European Spine Journal, 34(9), 3786–3797. https://doi.org/10.1007/s00586-025-08908-8
Wáng, Y.-X., & Wáng, J.-Q. (2018). The prevalence and associated factors of symptomatic cervical spondylosis in Chinese adults: A community-based cross-sectional study. BMC Musculoskeletal Disorders, 19, 325. https://doi.org/10.1186/s12891-018-2234-0
Artikel ini disusun berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini yang diperoleh dari PubMed dan sumber-sumber ilmiah terakreditasi lainnya. Artikel ini ditujukan sebagai edukasi kesehatan bagi pembaca umum dan tenaga kesehatan, bukan sebagai pengganti konsultasi medis. Jika Anda mengalami keluhan nyeri leher, terutama yang disertai gejala neurologis seperti kesemutan pada lengan, kelemahan, atau gangguan berjalan, segera konsultasikan dengan dokter.

Tinggalkan komentar