A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Nyeri pada lutut adalah salah satu keluhan yang sering dialami oleh orang-orang yang berusia lanjut. Nyeri ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Lalu, apa saja penyebab nyeri pada lutut saat usia tua?

Penyebab nyeri pada lutut saat usia tua bisa bermacam-macam, tergantung dari kondisi kesehatan, gaya hidup, dan faktor risiko lainnya. Berikut adalah beberapa penyebab umum nyeri pada lutut saat usia tua:

  • Osteoartritis: Osteoartritis adalah kondisi yang terjadi ketika tulang rawan yang melapisi ujung tulang di sendi mengalami kerusakan atau penipisan. Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan dan pelumas untuk mengurangi gesekan antara tulang. Jika tulang rawan rusak, tulang akan bergesekan satu sama lain dan menimbulkan rasa sakit, bengkak, dan kaku. Osteoartritis adalah penyebab nyeri pada lutut yang paling umum pada orang tua, terutama yang memiliki riwayat cedera lutut, kelebihan berat badan, atau aktivitas fisik yang berlebihan.
  • Rheumatoid arthritis: Rheumatoid arthritis adalah kondisi autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi. Peradangan ini bisa merusak tulang rawan dan tulang di sendi, serta menyebabkan nyeri, bengkak, kemerahan, dan kaku. Rheumatoid arthritis bisa menyerang sendi mana saja di tubuh, termasuk lutut. Penyakit ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria, dan biasanya muncul pada usia 40-60 tahun.
  • Gout: Gout adalah kondisi yang terjadi ketika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi. Asam urat adalah zat sisa metabolisme purin yang berasal dari makanan atau tubuh sendiri. Jika asam urat tidak bisa dikeluarkan dengan baik oleh ginjal, asam urat akan menumpuk dan membentuk kristal-kristal tajam di sendi. Kristal-kristal ini bisa menyebabkan nyeri hebat, bengkak, kemerahan, dan panas di sendi yang terkena. Gout sering menyerang sendi jempol kaki, tetapi juga bisa menyerang lutut.
  • Cedera: Cedera pada lutut bisa terjadi akibat jatuh, benturan, olahraga, atau kecelakaan. Cedera ini bisa melibatkan ligamen (jaringan ikat yang menghubungkan tulang di sendi), meniskus (bantalan tulang rawan di antara tulang paha dan tulang kering), atau tendon (jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang). Cedera pada lutut bisa menyebabkan nyeri, bengkak, memar, dan kesulitan bergerak.
  • Penyakit lain: Selain penyebab-penyebab di atas, nyeri pada lutut saat usia tua juga bisa disebabkan oleh penyakit lain yang mempengaruhi sendi atau tulang, seperti infeksi, tumor, osteoporosis, atau penyakit Paget.

Nyeri pada lutut saat usia tua bukanlah hal yang sepele dan bisa menandakan adanya masalah serius pada sendi atau tulang. Oleh karena itu, jika Anda mengalami nyeri pada lutut yang berlangsung lama atau tidak kunjung membaik dengan istirahat dan obat-obatan ringan, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca