Bayangkan seseorang yang sudah lanjut usia, sehat secara mental, tiba-tiba melihat sekumpulan anak-anak bermain di sudut ruangan — padahal ruangan itu kosong. Atau seorang pasien glaukoma yang menyaksikan pola bunga berwarna-warni mengambang di langit-langit tepat sebelum tidur. Ketika orang-orang ini mengatakan kepada keluarganya bahwa mereka “melihat sesuatu yang tidak ada,” respons pertama yang sering muncul adalah kekhawatiran: “Apakah ini tanda kegilaan? Apakah beliau sudah pikun?”
Padahal, pengalaman tersebut bisa jadi merupakan manifestasi dari suatu kondisi yang jauh lebih sederhana secara psikiatri, tetapi sangat kompleks secara neurologis: Charles Bonnet Syndrome (CBS), atau Sindrom Charles Bonnet.
Siapakah Charles Bonnet?
Charles Bonnet adalah seorang naturalis dan filsuf asal Swiss yang hidup pada abad ke-18 (1720–1793). Pada tahun 1760, ia mendokumentasikan pengalaman kakeknya sendiri, Charles Lullin, yang mengalami penurunan penglihatan akibat katarak namun mulai melihat bayangan-bayangan yang sangat vivid — burung-burung, pria berpakaian jubah, dan pemandangan yang kompleks — tanpa disertai gangguan mental apa pun. Lullin sepenuhnya menyadari bahwa penglihatan itu tidak nyata.
Lebih dari dua abad kemudian, nama Bonnet diabadikan sebagai sindrom yang kini diakui secara global sebagai kondisi medis tersendiri.
Apa Itu Sindrom Charles Bonnet?
Charles Bonnet Syndrome (CBS) adalah kondisi di mana seseorang yang mengalami penurunan fungsi penglihatan — baik karena gangguan mata maupun jalur saraf visual — mengalami halusinasi visual yang kompleks, meskipun tidak disertai gangguan jiwa, penyalahgunaan zat, atau kondisi neurologis yang menjelaskan halusinasi tersebut.
Halusinasi dalam CBS bersifat khas: pasien biasanya sadar penuh bahwa apa yang mereka “lihat” tidak benar-benar ada. Kesadaran ini disebut sebagai insight — dan inilah yang membedakan CBS dari psikosis atau demensia.
Halusinasi yang dialami sangat beragam. Berdasarkan kompleksitasnya, halusinasi CBS dibagi menjadi dua jenis utama: simple (sederhana), yang mencakup pola garis, kilatan cahaya, dan kisi-kisi geometri; serta complex (kompleks), yang berupa gambar wajah, manusia, hewan, atau bahkan pemandangan utuh. Penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis ini terjadi dengan frekuensi yang hampir sama pada pasien low vision (Christoph et al., 2024). Secara khusus, citra hewan adalah yang paling sering dilaporkan.

Seberapa Umum Kondisi Ini?
CBS jauh lebih sering terjadi daripada yang selama ini disadari oleh masyarakat awam maupun tenaga medis. Sayangnya, kondisi ini secara konsisten mengalami underdiagnosis (gagal terdiagnosis) karena pasien sering kali menyembunyikan gejalanya — mereka takut dicap “gila” oleh keluarga atau dokternya sendiri.
Berdasarkan artikel-artikel yang diindeks di PubMed:
Pada populasi pasien dengan low vision (tajam penglihatan ≥0,5 logMAR), prevalensi CBS mencapai 26% (Christoph et al., 2024). Studi pada pasien glaukoma menunjukkan angka yang lebih bervariasi: sekitar 7,1% pada glaukoma sudut terbuka di Swedia (Peters et al., 2022), dan 11,5% di pusat perawatan tersier di India (Banker et al., 2025). Pada populasi veteran militer Inggris yang mengalami gangguan penglihatan, CBS ditemukan pada 11,2% dari total 4.109 catatan medis yang dianalisis (Jones et al., 2025).
Degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration/AMD) merupakan penyebab paling sering, diikuti oleh glaukoma, retinopati diabetik, dan neuropati optik. Namun CBS dapat muncul pada kondisi apa pun yang menyebabkan penurunan input visual ke otak — dari katarak berat hingga kebutaan kortikal.
Mengapa Otak Bisa “Menciptakan” Gambar yang Tidak Ada?
Penjelasan mekanistik terkuat untuk CBS adalah hipotesis deaferentasi (deafferentation hypothesis). Ketika mata mengalami kerusakan, sinyal visual yang biasanya mengalir dari retina ke korteks visual otak menjadi berkurang drastis. Otak, yang secara alami selalu “aktif” dan berupaya memproses informasi visual, tidak tinggal diam. Korteks visual yang kekurangan input mulai menunjukkan aktivitas spontan — pada dasarnya, otak “mengisi kekosongan” tersebut dengan menciptakan gambar sendiri.
Sebuah penelitian neuroimaging dan elektrofisiologi terbaru yang diterbitkan di Journal of Neurology (daSilva Morgan et al., 2025) memberikan bukti konvergen yang mendukung hipotesis ini. Menggunakan functional MRI, EEG, dan transcranial magnetic stimulation (TMS), para peneliti menemukan bahwa pasien CBS menunjukkan penurunan aktivasi korteks visual saat diberi stimulus visual nyata — namun justru menunjukkan peningkatan eksitabilitas korteks (cortical hyperexcitability) yang bermakna, yang berkorelasi dengan keparahan halusinasi.
Dengan kata lain, korteks visual pada pasien CBS seperti “terlalu sensitif” justru karena kekurangan rangsangan normal — dan sensitivitas berlebih inilah yang memunculkan halusinasi. Para peneliti juga mencatat pergeseran ritme otak ke frekuensi lebih rendah (peningkatan theta power oksipital), suatu tanda cortical slowing yang khas pada kondisi ini.
Dalam kerangka yang lebih luas, Collerton et al. (2023) dalam ulasan komprehensif di Neuroscience & Biobehavioral Reviews merumuskan Visual Hallucination Framework yang mengintegrasikan delapan model yang telah dipublikasikan sejak tahun 2000 — termasuk model deaferentasi, active inference, dan thalamocortical dysrhythmia — untuk menjelaskan bagaimana berbagai sistem kognitif dan sensoris saling berinteraksi dalam memunculkan halusinasi visual.
Siapa yang Berisiko?
Faktor risiko utama CBS adalah adanya gangguan penglihatan yang signifikan. Namun, bukan hanya tajam penglihatan (visual acuity) yang penting — kehilangan lapang pandang yang berat pun dapat memicu CBS bahkan ketika tajam penglihatan relatif terjaga. Peters et al. (2022) menunjukkan bahwa pada pasien glaukoma, CBS lebih berkorelasi dengan indeks lapang pandang (visual field index) daripada tajam penglihatan semata.
Faktor risiko lain yang sering disebutkan dalam literatur meliputi:
Usia lanjut, yang menjadikan lansia sebagai kelompok yang paling rentan karena mereka lebih sering mengalami penyakit mata degeneratif. Isolasi sosial dan kesepian tampaknya memperburuk gejala, karena kurangnya stimulasi dari lingkungan luar memperkuat mekanisme kompensasi otak. Gangguan tidur dan kondisi pencahayaan tertentu (halusinasi sering muncul siang hari dalam kondisi terang, atau saat transisi antara terang dan gelap). Jenis kelamin perempuan telah dilaporkan lebih rentan dalam beberapa studi, meskipun studi lain menemukan tidak ada perbedaan signifikan antara pria dan wanita.
Bagaimana Gejalanya dan Kapan Halusinasi Ini Muncul?
Halusinasi pada CBS memiliki beberapa karakteristik khas yang membedakannya dari halusinasi pada psikosis atau penyakit neurodegeneratif:
Halusinasi CBS hanya terjadi saat mata terbuka. Tidak ada laporan halusinasi CBS pada kondisi mata tertutup. Halusinasi umumnya berdurasi singkat — mayoritas berlangsung hanya beberapa detik, meskipun bisa berlangsung hingga beberapa menit dalam kasus tertentu. Gambar yang muncul tidak mengikuti gerakan mata (tidak bergerak seiring gerakan bola mata). Pasien memiliki kesadaran penuh bahwa gambar tersebut tidak nyata (fully retained insight) — inilah pembeda paling penting dari kondisi psikiatri. Konten halusinasi tidak menakutkan dalam banyak kasus, meskipun sebagian pasien tetap merasa terganggu secara emosional.
Christoph et al. (2024) mencatat bahwa kesadaran penuh tentang ketidaknyataan gambar sering kali tidak datang segera — beberapa pasien awalnya bingung apakah apa yang mereka lihat itu nyata atau tidak, baru kemudian menyadari bahwa itu adalah halusinasi.
Dampak Psikologis dan Kualitas Hidup
Meskipun halusinasi CBS “jinak” secara psikiatri, dampaknya terhadap kualitas hidup tidak boleh diremehkan. Penelitian Jones et al. (2025) pada veteran militer Inggris menemukan bahwa halusinasi yang dirasakan “mengganggu” (bothersome) berkorelasi dengan durasi CBS lebih dari tiga tahun dan frekuensi halusinasi setidaknya seminggu sekali.
Yang lebih mengkhawatirkan, kurang dari separuh pasien dalam penelitian tersebut (44,3%) pernah menceritakan gejala ini kepada dokter mereka. Alasan utamanya adalah rasa malu dan ketakutan bahwa mereka akan dianggap “gila.”
Pada pasien AMD, kondisi ini sering berdampingan dengan depresi. Lamri et al. (2022) menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga pasien AMD mengalami afek depresif yang tidak terdiagnosis — suatu beban psikologis yang bisa diperburuk oleh kehadiran CBS yang tidak terjelaskan dan tidak ditangani.
Tantangan Diagnosis: Kondisi yang Terus Luput dari Perhatian
Salah satu masalah terbesar CBS bukan pada kompleksitas diagnosisnya — melainkan pada rendahnya kesadaran, baik dari pasien maupun dari para klinisi.
Sebuah survei terhadap 322 dokter spesialis mata yang dipublikasikan tahun 2025 di International Ophthalmology (Ucan Gunduz et al., 2025) mengungkap gambaran yang mengkhawatirkan: meskipun 63,9% dokter mengaku “mengenal” CBS, hanya 21% yang mampu menjawab dengan benar keempat pertanyaan tentang definisi, tingkat penglihatan yang bisa menyebabkan CBS, jenis halusinasi yang terlibat, dan penyakit mata yang berhubungan. Lebih jauh lagi, hanya 16,1% yang secara rutin menanyakan gejala CBS kepada pasien dengan low vision, dan 66% tidak pernah menjumpai kasus CBS dalam satu tahun terakhir.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: pasien tidak melaporkan karena takut dicap gila, dokter tidak bertanya karena kurang familiar dengan kondisi ini, dan CBS pun terus-menerus luput dari diagnosis.
Diagnosis CBS: Menyingkirkan yang Lain
Tidak ada tes laboratorium atau pencitraan yang spesifik untuk CBS. Diagnosis bersifat klinis dan ditegakkan berdasarkan tiga komponen utama:
Pertama, adanya halusinasi visual yang berulang (baik sederhana maupun kompleks). Kedua, gangguan penglihatan yang signifikan sebagai kondisi yang mendasari. Ketiga, tidak adanya penyakit psikiatri, gangguan kognitif berat, atau kondisi neurologi lain yang dapat menjelaskan halusinasi tersebut.
Diagnosis banding yang perlu dipertimbangkan meliputi demensia dengan badan Lewy (dementia with Lewy bodies), di mana halusinasi visual merupakan gejala inti; psikosis organik akibat obat-obatan atau kondisi metabolik; epilepsi oksipital; dan migrain dengan aura visual.
Anamnesis yang terstruktur dan cermat — termasuk pertanyaan eksplisit tentang halusinasi visual kepada setiap pasien dengan low vision — adalah kunci untuk menegakkan diagnosis secara dini.
Penanganan: Edukasi Sebagai Terapi Pertama
Tidak ada terapi farmakologis yang secara konsisten terbukti efektif dan aman untuk CBS. Pendekatan utama bersifat non-farmakologis, dengan landasan terpenting adalah edukasi pasien dan keluarga.
Penjelasan bahwa halusinasi ini bukan tanda kegilaan, bukan awal demensia, dan bukan pertanda spiritual tertentu — merupakan intervensi yang paling bermakna bagi sebagian besar pasien. Banyak pasien yang merasa lega luar biasa hanya dengan mengetahui bahwa kondisi yang mereka alami mempunyai nama dan penjelasan medis.
Strategi manajemen non-farmakologis yang direkomendasikan mencakup:
Distraksi aktif — mengalihkan perhatian ke stimulasi sensoris lain (berbicara, menyentuh objek fisik, memindahkan pandangan) terbukti efektif. Dalam penelitian Jones et al. (2025), 64,9% pasien yang mencoba strategi pengalihan perhatian menemukan cara ini membantu mengurangi durasi atau intensitas halusinasi. Optimalisasi pencahayaan lingkungan, karena beberapa pasien menemukan bahwa halusinasi berkurang dalam kondisi pencahayaan yang optimal. Stimulasi kognitif dan sosial untuk mengurangi isolasi. Penanganan penyakit mata yang mendasari — meskipun tidak selalu menghilangkan CBS secara langsung, perbaikan fungsi penglihatan melalui operasi katarak atau terapi anti-VEGF pada AMD dapat mengurangi frekuensi halusinasi.
Doeller et al. (2021) melakukan penelitian acak terkontrol yang membandingkan konsultasi dengan dokter mata saja versus penambahan evaluasi psikiater pada pasien CBS dengan AMD. Hasilnya menarik: tidak ada perbedaan signifikan dalam kualitas hidup antara kedua kelompok — artinya, penjelasan dan konsultasi yang baik dari dokter mata saja sudah memberikan manfaat yang setara dengan tambahan intervensi psikiater pada sebagian besar kasus CBS tanpa komplikasi.
Jika halusinasi sangat mengganggu dan tidak merespons pendekatan non-farmakologis, beberapa obat pernah dicoba dalam laporan kasus dan studi kecil, termasuk acetylcholinesterase inhibitor (seperti donepezil), antikonvulsan, dan antipsychotic dosis rendah — namun buktinya masih terbatas dan penggunaannya harus ditimbang secara hati-hati terhadap risiko efek samping, terutama pada lansia.
CBS di Tengah Populasi yang Menua
Dengan meningkatnya angka harapan hidup di Indonesia — serta prevalensi penyakit mata degeneratif seperti AMD, glaukoma, dan retinopati diabetik — CBS berpotensi menjadi masalah kesehatan yang semakin relevan di negeri ini. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa proporsi penduduk lansia di Indonesia terus meningkat, dan gangguan penglihatan tetap menjadi salah satu beban kesehatan yang signifikan di kalangan penduduk usia 45 tahun ke atas.
Dalam konteks pelayanan kesehatan primer di Indonesia, dokter umum di puskesmas atau klinik pratama berperan penting sebagai pintu pertama yang mungkin mendengar keluhan “melihat bayangan” dari pasien atau keluarganya. Kemampuan untuk mengenali CBS — dan tidak serta merta merujuk ke psikiater atau menganggap pasien mengalami gangguan jiwa — dapat mencegah kecemasan yang tidak perlu dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anda atau Anggota Keluarga Mengalami Ini?
Jika Anda atau anggota keluarga yang memiliki gangguan penglihatan tiba-tiba mulai melihat gambar, wajah, hewan, atau pola yang tidak nyata, langkah-langkah berikut dianjurkan:
Jangan panik dan jangan menyembunyikan gejala. Ceritakan dengan jelas kepada dokter, lengkap dengan deskripsi seperti apa halusinasi tersebut, kapan muncul, berapa lama, dan apakah Anda menyadari bahwa itu tidak nyata. Minta dokter untuk mempertimbangkan CBS sebagai salah satu kemungkinan diagnosis, terutama jika Anda diketahui memiliki kondisi mata seperti AMD, glaukoma, atau degenerasi retina. Lakukan pemeriksaan mata menyeluruh untuk mengevaluasi derajat gangguan penglihatan. Jika diagnosis CBS dikonfirmasi, mintalah penjelasan lengkap kepada dokter tentang kondisi ini dan bagaimana mengelolanya.
Penutup: Memberi Nama pada yang Tidak Terlihat
CBS mengajarkan kita sesuatu yang mendalam tentang cara kerja otak manusia: bahwa persepsi bukan sekadar cerminan realitas, melainkan konstruksi aktif yang terus-menerus dibentuk oleh otak kita. Ketika “jendela” menuju dunia luar — yaitu mata — mulai menutup, otak tidak berhenti bekerja. Ia tetap menciptakan gambar, mengisi kekosongan dengan imajinasi yang tidak ia sadari sendiri sebagai imajinasi.
Bagi pasien CBS, mengetahui bahwa kondisi mereka memiliki nama dan penjelasan ilmiah bukan sekadar informasi akademis. Ini adalah kelegaan, sebuah pembebasan dari rasa malu dan ketakutan yang selama ini membungkam mereka. Dan bagi para klinisi, mengetahui CBS berarti memiliki satu alat lagi untuk memberikan perawatan yang manusiawi dan berbasis bukti kepada pasien-pasien kita yang paling rentan.
Daftar Referensi
Banker, A., Patel, D., Patel, M., Patel, H., Gupta, U., Bhagat, P., & Gosai, J. (2025). Prevalence and clinical characteristics of Charles Bonnet syndrome in patients with glaucoma. International Ophthalmology, 45(1), 356. https://doi.org/10.1007/s10792-025-03729-6
Christoph, S. E. G., Boden, K. T., Pütz, A., Januschowski, K., Siegel, R., Seitz, B., Szurman, P., & Schulz, A. (2024). Epidemiology and phenomenology of the Charles Bonnet syndrome in low-vision patients. International Ophthalmology, 44(1), 375. https://doi.org/10.1007/s10792-024-03298-0
Collerton, D., Barnes, J., Diederich, N. J., Dudley, R., Ffytche, D., Friston, K., Goetz, C. G., Goldman, J. G., Jardri, R., Kulisevsky, J., Lewis, S. J. G., Nara, S., O’Callaghan, C., Onofrj, M., Pagonabarraga, J., Parr, T., Shine, J. M., Stebbins, G., Taylor, J.-P., Tsuda, I., & Weil, R. S. (2023). Understanding visual hallucinations: A new synthesis. Neuroscience and Biobehavioral Reviews, 150, 105208. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2023.105208
daSilva Morgan, K., Collerton, D., Firbank, M. J., Schumacher, J., Ffytche, D. H., & Taylor, J.-P. (2025). Visual cortical activity in Charles Bonnet syndrome: testing the deafferentation hypothesis. Journal of Neurology, 272(3), 199. https://doi.org/10.1007/s00415-024-12741-2
Doeller, B., Kratochwil, M., Sifari, L., Hirnschall, N., & Findl, O. (2021). Benefit of psychiatric evaluation on anxiety in patients with Charles Bonnet syndrome. BMJ Open Ophthalmology, 6(1), e000463. https://doi.org/10.1136/bmjophth-2020-000463
Jones, L., Lee, M., Ditzel-Finn, L., Heinze, N., Dave, S., Tang, E. S. Y., Potts, J., Moosajee, M., & Gomes, R. S. M. (2025). Charles Bonnet syndrome among visually impaired military veterans: Findings from a UK screening and survey study. BMJ Open Ophthalmology, 10(1). https://doi.org/10.1136/bmjophth-2024-001781
Lamri, A. T., Frère, A., & Postelmans, L. (2022). Value of systematic screening for depressive symptoms and Charles-Bonnet syndrome in AMD patients. Journal Français d’Ophtalmologie, 45(9), 1069–1078. https://doi.org/10.1016/j.jfo.2021.12.013
Peters, D., Molander, S., Lomo, T., & Singh, A. (2022). Charles Bonnet Syndrome in patients with open-angle glaucoma: Prevalence and correlation to visual field loss. Ophthalmology. Glaucoma, 5(3), 337–344. https://doi.org/10.1016/j.ogla.2021.10.010
Taylor, D. J., Enoch, J., Jones, L., Higgins, B., Binns, A., & Crabb, D. P. (2025). An overview of quality of life and visual outcomes in AMD. Progress in Brain Research, 292, 203–229. https://doi.org/10.1016/bs.pbr.2025.03.007
Ucan Gunduz, G., Yalcinbayir, O., & Gelisken, O. (2025). Awareness of Charles Bonnet syndrome among ophthalmologists: A survey study. International Ophthalmology, 45(1), 207. https://doi.org/10.1007/s10792-025-03575-6

Tinggalkan komentar