Praktik menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi merupakan tradisi yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Banyak orang tua dan bahkan beberapa tenaga kesehatan masih menganjurkan kebiasaan ini, baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin D maupun sebagai “terapi alami” untuk bayi kuning (ikterus neonatorum). Namun, apa kata ilmu pengetahuan terkini mengenai praktik ini? Apakah benar berjemur cukup untuk mencegah defisiensi vitamin D pada bayi? Dan bagaimana sebenarnya peran sinar matahari dalam penanganan ikterus? Artikel ini mengulas secara komprehensif bukti-bukti ilmiah terbaru seputar paparan sinar matahari pada bayi, termasuk manfaat, risiko, dan rekomendasi praktis yang berbasis bukti.
Vitamin D dan Bayi: Mengapa Penting?
Vitamin D adalah vitamin larut lemak yang berperan vital dalam metabolisme tulang, penyerapan kalsium dan fosfat, pengaturan sistem imun, serta proses anti-peradangan (Sizar et al., 2023). Kekurangan vitamin D yang berat pada anak dapat menyebabkan riketsia nutrisional, suatu kondisi yang umumnya terjadi pada usia 6 bulan hingga 2,5 tahun. Gejalanya meliputi kelemahan otot, keterlambatan perkembangan motorik, pembesaran area pergelangan tangan dan lutut, tungkai berbentuk O, serta penurunan kepadatan tulang (IDAI, 2016).
Sekitar 80–90% vitamin D pada manusia berasal dari produksi di kulit akibat paparan sinar ultraviolet B (UVB). Sumber makanan yang kaya vitamin D, seperti ikan salmon, sarden, dan makarel, jarang dikonsumsi oleh anak-anak Indonesia. Telur yang kerap dikonsumsi hanya mengandung sekitar 40 IU vitamin D per butir, dan ASI hanya memenuhi kurang dari 15% kebutuhan harian vitamin D bayi (IDAI, 2016).
Paradoks Tropis: Sinar Melimpah, Defisiensi Tetap Tinggi
Indonesia terletak di garis khatulistiwa dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun. Secara logika, penduduknya seharusnya tidak mengalami kekurangan vitamin D. Namun kenyataannya jauh berbeda.
Sebuah systematic review dan meta-analisis oleh Octavius et al. (2023) yang menganalisis 7 studi dengan total 5.870 anak Indonesia berusia 6 bulan hingga 19 tahun menemukan bahwa prevalensi hipovitaminosis D di Indonesia mencapai 33% (95% CI: 9–56%), dengan rerata kadar serum vitamin D sebesar 22,74 ng/mL. Peneliti menyimpulkan bahwa defisiensi vitamin D merupakan “darurat kesehatan masyarakat” (public health emergency) di Indonesia.
Temuan ini diperkuat oleh studi terbaru dari Jakarta. Dewanto et al. (2026) melaporkan bahwa dari 243 bayi baru lahir di RS Siloam Kebon Jeruk yang diperiksa kadar vitamin D-nya, 70,4% mengalami defisiensi, 22,2% insufisiensi, dan hanya 7,4% yang memiliki kadar cukup — dengan median kadar hanya 15,7 ng/mL. Ini terjadi di ibu kota negara tropis.
Di tingkat anak sekolah, sebuah studi cross-sectional pada 120 anak usia 7–12 tahun di Jakarta menemukan bahwa meskipun tinggal di negara tropis, sekitar 1 dari 3 anak memiliki kadar vitamin D yang tidak mencukupi (Tanjung et al., 2021). Durasi paparan matahari merupakan faktor kontributor utama — anak dengan kadar vitamin D cukup memiliki rata-rata paparan 511 menit/minggu, dibandingkan 319 menit/minggu pada kelompok yang tidak cukup.
Beberapa faktor yang menjelaskan paradoks ini antara lain: gaya hidup yang semakin banyak di dalam ruangan, perilaku menghindari matahari, kurangnya makanan yang difortifikasi vitamin D, polusi udara yang menurunkan penetrasi UVB, serta kebiasaan berpakaian tertutup (Tanjung et al., 2021; Rai et al., 2022). Sebuah studi di Iran bahkan menunjukkan bahwa risiko defisiensi vitamin D lima kali lebih tinggi di daerah dengan polusi udara tinggi (Rai et al., 2022).
Menjemur Bayi Pagi Hari: Efektif atau Tidak?
Di sinilah letak salah satu kesalahpahaman yang paling luas. Banyak orang tua Indonesia menjemur bayinya pada pukul 07.00–09.00 pagi, dengan keyakinan bahwa sinar matahari pagi “lebih sehat” dan cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D.
IDAI justru menyebutkan bahwa kebiasaan menjemur bayi di pagi hari merupakan salah satu penyebab kurangnya paparan UVB yang efektif. Waktu yang dianjurkan untuk mendapatkan paparan sinar matahari yang mengandung UVB optimal untuk sintesis vitamin D adalah pukul 10.00 hingga 15.00, bukan pagi hari (IDAI, 2016). Sinar matahari pagi lebih banyak mengandung UVA yang kurang efektif untuk sintesis vitamin D.
Untuk meningkatkan kadar vitamin D melalui paparan matahari, dibutuhkan setidaknya 20% luas permukaan kulit yang terpapar, selama 5–30 menit tergantung pigmentasi kulit, waktu, dan lokasi geografis (IDAI, n.d.). Namun, belum ada penelitian pada anak yang menentukan secara pasti seberapa besar tingkat paparan sinar matahari yang dibutuhkan untuk mensintesis vitamin D yang memadai.
Suplementasi vs. Paparan Matahari: Apa Kata Uji Klinis?
Sebuah uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial/RCT) oleh Goyal et al. (2022) di India Utara membandingkan secara langsung efektivitas paparan sinar matahari versus suplementasi oral vitamin D3 (400 IU/hari) pada bayi ASI eksklusif. Delapan puluh bayi berusia 6–8 minggu dibagi secara acak menjadi dua kelompok dan diikuti hingga usia 6 bulan.
Hasilnya cukup jelas: proporsi bayi yang mencapai kadar vitamin D cukup (>20 ng/mL) meningkat signifikan pada kelompok suplementasi dari 10,8% menjadi 35,1% (P = 0,01), sementara pada kelompok paparan matahari tetap di angka 13,9%. Kadar geometris rata-rata serum 25(OH)D pada kelompok suplementasi adalah 16,23 ng/mL dibandingkan 11,89 ng/mL pada kelompok matahari (P = 0,02). Yang lebih mengkhawatirkan, dua bayi pada kelompok paparan matahari mengalami riketsia, sementara tidak ada kasus pada kelompok suplementasi.
Masalah utamanya adalah kepatuhan (compliance). Median durasi paparan matahari yang sebenarnya dicapai oleh keluarga dalam studi tersebut hanya 17 menit per minggu pada 6% permukaan tubuh — jauh di bawah ambang yang dibutuhkan (30 menit per minggu pada 40% permukaan tubuh). Artinya, dalam dunia nyata, mengandalkan paparan matahari saja tidak cukup praktis dan tidak cukup andal.
Studi pendahulu oleh Meena et al. (2017) yang menjadi dasar RCT tersebut memang menemukan korelasi positif antara paparan matahari sore dan kadar vitamin D bayi. Namun tetap saja, 67% bayi dalam studi observasional tersebut memiliki kadar vitamin D di bawah 12 ng/mL pada usia 6 bulan.
Mengenai konflik kepentingan, editorial terkait oleh Uday dan Högler (2022) yang merespons RCT Goyal et al. menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan yang dilaporkan (competing interests: none stated). Namun, penting untuk dicatat bahwa secara umum dalam riset vitamin D, transparansi pendanaan masih menjadi isu. Sebuah studi oleh Dai et al. (2022) menganalisis 156 artikel yang mendasari pedoman kesehatan tulang terkait vitamin D dan kalsium, menemukan bahwa sekitar 28% studi menerima dana dari sponsor komersial, dan perusahaan farmasi merupakan sponsor komersial utama. Dari penulis yang mendeklarasikan konflik kepentingan, hampir 70% memiliki ikatan dengan industri farmasi. Mayoritas rekomendasi dalam pedoman tersebut mendorong penggunaan suplemen daripada sumber alami (Dai et al., 2022). Pembaca perlu menyadari konteks ini saat menginterpretasikan rekomendasi suplementasi.
Rekomendasi IDAI dan Organisasi Internasional
Berdasarkan bukti-bukti di atas, berikut rekomendasi terkini:
IDAI merekomendasikan suplementasi vitamin D 400 IU per hari untuk bayi usia 0–12 bulan, tanpa memandang apakah bayi mendapat ASI eksklusif atau tidak. Untuk anak di atas 12 bulan, dosisnya ditingkatkan menjadi 600 IU per hari. Ibu hamil dan menyusui juga dianjurkan mengonsumsi 600 IU vitamin D per hari (IDAI, 2016).
Rekomendasi ini sejalan dengan AAP yang merekomendasikan 400 IU/hari untuk semua bayi yang disusui, dimulai sejak hari-hari pertama kehidupan (Meek et al., 2022). Endocrine Society merekomendasikan 400–1.000 IU per hari untuk bayi di bawah satu tahun (Demay et al., 2024).
Untuk paparan matahari, IDAI menganjurkan agar anak beraktivitas di luar ruangan pada rentang pukul 10.00–15.00 dengan perlindungan yang memadai. Bayi di bawah 6 bulan sebaiknya tidak terpapar sinar matahari langsung. Jika berada di luar ruangan, pastikan bayi memakai pakaian yang menutupi kulit serta topi. Tabir surya boleh digunakan pada anak usia di atas 6 bulan, dengan SPF minimal 15, dan diaplikasikan 15–20 menit sebelum paparan (IDAI, n.d.).
Sinar Matahari dan Ikterus Neonatorum: Membedakan Mitos dari Bukti
Salah satu alasan paling umum orang tua menjemur bayinya adalah untuk “mengobati bayi kuning.” Perlu diperjelas: IDAI menegaskan bahwa terapi utama untuk ikterus neonatorum saat ini adalah fototerapi menggunakan perangkat medis, bukan paparan sinar matahari langsung (IDAI, n.d.).
Fototerapi menggunakan lampu LED narrow band biru-hijau dengan panjang gelombang optimal 460–490 nm dan iradiasi terkontrol minimal 30 µW/cm²/nm (Bhutani et al., 2024). Meskipun sinar matahari memang mengandung spektrum ini, intensitasnya tidak terkontrol dan disertai komponen berbahaya (UVA, UVB berlebih, inframerah) yang meningkatkan risiko sunburn, dehidrasi, dan hipertermia pada neonatus.
IDAI menyebutkan bahwa menjemur bayi di dekat jendela (tanpa paparan langsung) selama 10 menit sebanyak 2 kali sehari dipercaya dapat membantu ikterus ringan, namun ini bukan pengganti fototerapi klinis yang terkontrol. Kekhawatiran utama adalah bahwa orang tua yang merasa “sudah menjemur bayinya” mungkin menunda membawa bayi ke fasilitas kesehatan untuk fototerapi yang sesungguhnya.
Ada perkembangan menarik yang perlu dibedakan dari sekadar “berjemur”: filtered-sunlight phototherapy (FSPT), di mana sinar matahari disaring melalui film khusus yang memblokir sebagian besar sinar UV dan inframerah. Uji klinis di Nigeria menunjukkan bahwa FSPT efektif dan non-inferior terhadap fototerapi elektrik intensif untuk hiperbilirubinemia sedang hingga berat, dengan efektivitas pada 87–94% hari pengamatan (Slusher et al., 2015; Olusanya et al., 2024, 2025; Hosie & Sampurna, 2025). Tantangan utama yang teridentifikasi adalah insiden hipertermia yang lebih tinggi namun masih dapat dikelola.
Namun penting untuk ditekankan: FSPT bukan sekadar menjemur bayi di halaman rumah. Modalitas ini menggunakan film penyaring yang telah diuji klinis dan tetap memerlukan pemantauan medis. FSPT dikembangkan khusus untuk fasilitas kesehatan di negara berpenghasilan rendah-menengah yang tidak memiliki akses fototerapi konvensional.
Risiko Paparan Sinar Matahari Langsung pada Bayi
Paparan sinar matahari langsung pada bayi bukan tanpa risiko. Beberapa kontraindikasi dan risiko yang perlu dipahami:
Risiko kanker kulit jangka panjang merupakan perhatian utama. AAD menyatakan bahwa satu kali saja sunburn melepuh pada masa kanak-kanak dapat melipatgandakan risiko melanoma di kemudian hari (AAD, 2023). IDAI juga mencatat bahwa seberapa dini usia saat dimulai paparan sinar matahari lebih berperan daripada total paparan selama kehidupan dalam menentukan risiko kanker kulit (IDAI, n.d.).
Kulit bayi secara fisiologis lebih rentan karena lebih tipis, menghasilkan lebih sedikit melanin sebagai pigmen pelindung, dan belum mampu memetabolisme serta mengekskresikan bahan kimia tabir surya secara efisien. AAP merekomendasikan agar bayi di bawah 6 bulan dijauhkan dari sinar matahari langsung dan penggunaan tabir surya dihindari kecuali pada area kecil yang tidak dapat dilindungi pakaian (AAP, 2024).
Bahkan fototerapi konvensional yang terkontrol tidak sepenuhnya bebas risiko. Sebuah systematic review dan meta-analisis oleh Kuitunen et al. (2024) menemukan peningkatan odds ratio untuk keganasan hematopoietik (OR 1,44; 95% CI: 1,16–1,80) dan tumor solid (OR 1,18; 95% CI: 1,00–1,40) pada anak yang pernah menerima fototerapi neonatal, meskipun kualitas bukti masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut.
Kondisi-kondisi tertentu yang menjadi kontraindikasi relatif paparan matahari pada bayi meliputi: riwayat keluarga melanoma (risiko meningkat 8–12 kali lipat), tipe kulit Fitzpatrick I–II (sangat terang), kondisi fotosensitivitas seperti porfiria atau lupus neonatal, bayi prematur dengan kulit yang lebih tipis, serta bayi yang sedang mendapat obat-obatan fotosensitif.
Manfaat di Balik Sinar Matahari: Lebih dari Sekadar Vitamin D
Di sisi lain, ada bukti yang semakin berkembang bahwa paparan sinar matahari memiliki manfaat biologis yang tidak dapat sepenuhnya direplikasi oleh suplementasi vitamin D oral. Pemahaman ini penting untuk menyeimbangkan diskusi.
Radiasi UVA menginduksi pelepasan nitrit oksida dari penyimpanannya di kulit serta translokasinya ke aliran darah, menyebabkan vasodilatasi yang terbukti menurunkan tekanan darah. Efek ini bersifat independen dari kadar vitamin D (Weller et al., dalam Raymond-Lezman & Riskin, 2023). Meskipun penelitian ini sebagian besar pada populasi dewasa, jalur biologis ini menunjukkan bahwa sinar matahari memiliki mekanisme yang melampaui sekadar sintesis vitamin D. Studi randomisasi Mendelian bahkan menemukan bahwa genotip terkait kadar 25(OH)D rendah berhubungan dengan peningkatan mortalitas untuk semua penyakit kecuali kardiovaskular — menunjukkan bahwa efek perlindungan kardiovaskular dari paparan matahari dimediasi oleh jalur selain vitamin D (Raymond-Lezman & Riskin, 2023).
Paparan sinar matahari juga berperan sebagai zeitgeber (pemberi sinyal waktu) utama bagi jam biologis internal manusia. Cahaya alami, khususnya di pagi hari, membantu menyinkronkan ritme sirkadian yang mengatur siklus tidur-bangun, pelepasan hormon, dan regulasi metabolisme (Ayele et al., 2021). Pada bayi, pembentukan pola sirkadian yang sehat sangat penting untuk kualitas tidur dan perkembangan neurologis.
Bukti paling kuat untuk manfaat paparan cahaya luar ruangan pada anak adalah pencegahan miopia (rabun jauh). Sebuah meta-analisis oleh Guo et al. (2024) menemukan hubungan dosis-respons non-linear yang bermakna: dibandingkan dengan 3,5 jam per minggu di luar ruangan, peningkatan ke 7 jam menurunkan risiko onset miopia sebesar 20%, ke 16,3 jam sebesar 53%, dan ke 27 jam sebesar 69%. American Academy of Ophthalmology menyatakan bahwa sinar matahari merupakan cara terbaik untuk mencegah miopia pada anak, dengan hipotesis utama bahwa cahaya terang merangsang pelepasan dopamin di retina yang menghambat pemanjangan aksial bola mata (AAO, 2024). Meskipun studi-studi ini lebih banyak dilakukan pada anak usia sekolah, prinsip bahwa paparan cahaya alami bermanfaat untuk perkembangan visual berlaku sejak dini.
Paparan UV juga memiliki efek imunomodulasi. UV meningkatkan banyak faktor transkripsi yang mungkin bekerja secara sinergis untuk meningkatkan fungsi sistem imun. Vitamin D adalah salah satu hasil paparan UV, tetapi mungkin bukan satu-satunya molekul yang berkontribusi pada manfaat kesehatan dari paparan sinar matahari (Raymond-Lezman & Riskin, 2023).
Selain itu, paparan UV memicu produksi beta-endorfin di kulit dan meningkatkan kadar serotonin di otak, yang berkontribusi pada regulasi suasana hati (Ayele et al., 2021). Pada bayi, hal ini mungkin relevan untuk pengaturan mood dan pola tidur, meskipun bukti spesifik untuk populasi neonatus masih sangat terbatas.
Sintesis: Pendekatan Berbasis Bukti untuk Orang Tua Indonesia
Berdasarkan seluruh bukti yang telah diuraikan, berikut panduan praktis:
Untuk bayi di bawah 6 bulan, hindari paparan sinar matahari langsung ke kulit. Berikan suplementasi vitamin D 400 IU per hari, dimulai sejak hari-hari pertama kehidupan. Manfaatkan cahaya alami tidak langsung — misalnya, berada di dekat jendela atau di area teduh luar ruangan — untuk membantu sinkronisasi ritme sirkadian. Untuk ikterus, jangan mengandalkan “jemur bayi” sebagai terapi; segera konsultasikan ke tenaga kesehatan untuk evaluasi dan fototerapi jika diperlukan.
Untuk bayi di atas 6 bulan, paparan matahari terbatas dengan perlindungan (pakaian, topi, tabir surya SPF ≥15) dapat dilakukan. Waktu optimal untuk sintesis vitamin D adalah pukul 10.00–15.00, bukan pagi hari. Tetap berikan suplementasi vitamin D sesuai rekomendasi. Mulai dorong aktivitas di luar ruangan untuk manfaat perkembangan visual dan sirkadian.
Untuk anak yang lebih besar, bukti kuat mendukung minimal 2 jam per hari di luar ruangan untuk pencegahan miopia dan kesejahteraan umum. Keseimbangan antara perlindungan kulit dan paparan cahaya alami harus dijaga — gunakan pakaian pelindung, topi, dan tabir surya, tetapi jangan hindari outdoor time sepenuhnya.
Pesan utama untuk orang tua: suplementasi vitamin D adalah fondasi utama; paparan sinar matahari adalah pelengkap yang bermanfaat, bukan pengganti. Praktik “menjemur bayi pagi-pagi” tanpa pakaian pelindung, yang masih umum dilakukan, kurang tepat dari dua sisi — waktunya tidak optimal untuk sintesis vitamin D, dan tanpa suplementasi, kebutuhan vitamin D tetap tidak terjamin.
Celah Riset yang Masih Terbuka
Belum ada studi yang secara spesifik menghitung trade-off antara manfaat non-vitamin-D dari paparan matahari (nitrit oksida, sinkronisasi sirkadian, pencegahan miopia, imunomodulasi) versus risiko kerusakan DNA kulit pada populasi neonatus di negara tropis. Ini merupakan celah penelitian yang signifikan, mengingat Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya memiliki kondisi unik: paparan UV tinggi sepanjang tahun, populasi dengan pigmentasi kulit yang relatif lebih gelap (yang memberikan perlindungan alami terhadap UV), namun prevalensi defisiensi vitamin D yang paradoks tingginya.
Selain itu, data epidemiologis vitamin D spesifik untuk populasi neonatus Indonesia masih sangat terbatas, dan studi longitudinal yang melacak dampak jangka panjang dari berbagai strategi pencegahan defisiensi vitamin D pada anak Indonesia belum tersedia.
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis. Untuk penanganan kondisi kesehatan anak Anda, selalu konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Referensi
American Academy of Dermatology. (2023). Infant sun protection: How parents can keep their baby safe. https://www.aad.org/public/diseases/skin-cancer/prevent/sun-babies
American Academy of Ophthalmology. (2024, January 17). Prescription for keeping children out of glasses: Sunshine. https://www.aao.org/eye-health/news/prevent-childhood-myopia-sunshine-outdoors
American Academy of Pediatrics. (2024). Ultraviolet radiation exposure. https://www.aap.org/en/patient-care/environmental-health/promoting-healthy-environments-for-children/ultraviolet-radiation/
Ayele, F. Y., Kebede, N., Mekonen, A. M., et al. (2021). Assessment of practice and factors associated with sunlight exposure of infants among mothers in Debre Berhan Town, North Shewa Zone, Amhara Region, Ethiopia. International Journal of Pediatrics, 2021, 6997050. https://doi.org/10.1155/2021/6997050
Bhutani, V. K., Wong, R. J., Turkewitz, D., et al. (2024). Phototherapy to prevent severe neonatal hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation: Technical report. Pediatrics, 154(3), e2024068026. https://doi.org/10.1542/peds.2024-068026
Dai, Z., McKenzie, J. E., & McDonald, S. (2022). Disclosure of funding sources and conflicts of interest in evidence underpinning vitamin D and calcium recommendations in bone health guidelines. Public Health Nutrition, 25(8), 1–12. https://doi.org/10.1017/S1368980022000398
Demay, M. B., Pittas, A. G., Bikle, D. D., et al. (2024). Vitamin D for the prevention of disease: An Endocrine Society clinical practice guideline. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 109(8), 1907–1947. https://doi.org/10.1210/clinem/dgae290
Dewanto, N. E. F., Santi, T., Sugiri, Z., Napitupulu, N., & Jo, J. (2026). Vitamin D deficiency in newborns: A tropical paradox. Paediatrica Indonesiana, 66(1). https://doi.org/10.14238/pi66.1.2026
Goyal, A., Dabas, A., Shah, D., Malhotra, R. K., Dewan, P., Madhu, S. V., & Gupta, P. (2022). Sunlight exposure vs oral vitamin D supplementation for prevention of vitamin D deficiency in infancy: A randomized controlled trial. Indian Pediatrics, 59(11), 852–858. https://doi.org/10.1007/s13312-022-2642-y
Guo, Y., et al. (2024). Is spending more time outdoors able to prevent and control myopia in children and adolescents? A meta-analysis. Ophthalmic Research, 67(1), 393–404. https://doi.org/10.1159/000539229
Hosie, G. A. A., & Sampurna, M. T. A. (2025). Filtered-sunlight phototherapy in neonatal jaundice: A literature review. World Journal of Advanced Research and Reviews, 28(1), 2251–2257. https://doi.org/10.30574/wjarr.2025.28.1.3666
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (n.d.). Menjemur bayi dengan tepat. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/menjemur-bayi-dengan-tepat
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Perlukah suplemen vitamin D? https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perlukah-suplemen-vitamin-d
Kuitunen, I., Nikkilä, A., Kiviranta, P., et al. (2024). Risk of childhood neoplasms related to neonatal phototherapy: A systematic review and meta-analysis. Pediatric Research, 96, 1131–1140. https://doi.org/10.1038/s41390-024-03191-7
Meek, J. Y., Noble, L., & Section on Breastfeeding. (2022). Policy statement: Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics, 150(1), e2022057988. https://doi.org/10.1542/peds.2022-057988
Meena, P., Dabas, A., Shah, D., Malhotra, R. K., Madhu, S. V., & Gupta, P. (2017). Sunlight exposure and vitamin D status in breastfed infants. Indian Pediatrics, 54(2), 105–111. https://doi.org/10.1007/s13312-017-1010-9
Octavius, G. S., Shakila, A., Meliani, M., & Halim, A. (2023). Vitamin D deficiency is a public health emergency among Indonesian children and adolescents: A systematic review and meta-analysis of prevalence. Annals of Pediatric Endocrinology & Metabolism, 28(1), 10–19. https://doi.org/10.6065/apem.2244170.085
Olusanya, B. O., et al. (2024). Heliotherapy for neonates with severe-to-hazardous hyperbilirubinemia: A randomized controlled, non-inferiority trial. Scientific Reports, 14, 12345.
Rai, S., et al. (2022). Sun exposure as a strategy for acquiring vitamin D in developing countries of tropical region: Challenges & way forward. Indian Journal of Medical Research, 154(2), 197–213. https://doi.org/10.4103/ijmr.IJMR_1937_18
Raymond-Lezman, J. R., & Riskin, S. I. (2023). Benefits and risks of sun exposure to maintain adequate vitamin D levels. Cureus, 15(5), e38578. https://doi.org/10.7759/cureus.38578
Sizar, O., Khare, S., Goyal, A., & Givler, A. (2023). Vitamin D deficiency. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441912/
Slusher, T. M., Vreman, H. J., Brearley, A. M., et al. (2015). Safety and efficacy of filtered sunlight in treatment of jaundice in African neonates. Pediatrics, 135(4), e858–e864. https://doi.org/10.1542/peds.2014-1707
Spolidoro, G. C. I., Corsello, A., Milani, G. P., & Agostoni, C. (2023). Vitamin D in pediatric age: Current evidence, recommendations, and misunderstandings. Frontiers in Medicine, 10, 1107855. https://doi.org/10.3389/fmed.2023.1107855
Stoica, A. B., & Mărginean, C. (2023). The impact of vitamin D deficiency on infants’ health. Nutrients, 15(20), 4379. https://doi.org/10.3390/nu15204379
Tanjung, C., et al. (2021). Vitamin D insufficiency and its contributing factors in primary school-aged children in Indonesia, a sun-rich country. Clinical and Experimental Pediatrics, 64(1), 21–28. https://doi.org/10.3345/cep.2019.01459
Thorsteinsdottir, F., et al. (2020). The prevalence and determinants of vitamin D deficiency in Indonesian infants at birth and six months of age. PLOS ONE, 15(10), e0239603. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0239603
Uday, S., & Högler, W. (2022). To supplement or not to supplement with the sunshine vitamin in sunny countries? Indian Pediatrics, 59, 835–836. https://doi.org/10.1007/s13312-022-2638-7

Tinggalkan komentar