A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Kenapa Cacar Air Masih Relevan Dibahas?

Cacar air. Hampir setiap orang pernah mendengar nama penyakit ini, bahkan banyak yang pernah mengalaminya sendiri di masa kecil. Kita terbiasa menganggapnya sebagai penyakit anak yang biasa — gatal beberapa hari, lalu sembuh sendiri, dan selesai. Namun, pandangan itu tidak sepenuhnya benar.

Pada akhir Oktober 2024, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan surat edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan di Indonesia menyusul laporan wabah cacar air di sejumlah sekolah, salah satunya di SMPN 8 Tangerang Selatan dengan 73 siswa yang tertular setelah mengikuti ujian. Kejadian ini hanyalah satu dari sekian banyak insiden serupa yang tersebar di Cilegon, Situbondo, dan berbagai daerah lain di Indonesia. Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan penyakit ini, karena komplikasi serius — dari infeksi bakteri kulit hingga pneumonia — dapat terjadi bahkan pada anak yang tampak sehat.

Lalu, apa sebenarnya cacar air itu? Mengapa ia masih mewabah di negara yang sudah memiliki vaksinnya? Dan siapa saja yang benar-benar berisiko mengalami komplikasi serius? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan bukti ilmiah terkini.


Apa Itu Cacar Air?

Cacar air, dalam terminologi medis dikenal sebagai varisela (bahasa Latin: varicella) atau dalam bahasa Inggris chickenpox, adalah infeksi primer yang disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV) — sebuah virus dari keluarga Herpesviridae. Virus ini bersifat eksklusif menginfeksi manusia; tidak ada hewan lain yang menjadi inangnya di alam.

Berdasarkan artikel referensial yang diterbitkan di Nature Reviews Disease Primers, VZV menyebabkan dua penyakit yang berbeda dalam satu siklus hidup yang sama: infeksi primer menghasilkan varisela (cacar air), sementara reaktivasi virus yang berdiam laten di ganglia sensorik akan menyebabkan herpes zoster (shingles atau cacar ular). Ini artinya, siapa saja yang pernah terkena cacar air — atau divaksinasi — menyimpan virus VZV yang tertidur dalam sistem sarafnya, dan virus itu dapat bangkit kembali di kemudian hari (Gershon et al., 2016).


Epidemiologi: Gambaran Global dan di Indonesia

Secara global, sebelum era vaksinasi masif, VZV menyebabkan jutaan kasus setiap tahunnya. Di Amerika Serikat saja, sekitar 4 juta kasus varisela terjadi setiap tahun sebelum program vaksinasi dimulai pada 1995, disertai 100–150 kematian dan lebih dari 10.000 kasus rawat inap. Setelah vaksinasi universal diterapkan, jumlah kasus turun hingga 79% pada periode 2000–2010, dan 93% pada tahun 2012.

Di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Asia Tenggara, profil epidemiologi varisela memiliki kekhasan tersendiri. Negara-negara tropis dan subtropis cenderung memiliki insidensi varisela pada usia dewasa yang lebih tinggi dibandingkan negara beriklim sedang. Hal ini terjadi karena paparan terhadap VZV pada masa anak-anak di daerah tropis justru lebih rendah, sehingga lebih banyak individu yang mencapai usia dewasa dalam keadaan rentan (seronegatif). Sebuah tinjauan sistematik di kawasan Asia-Pasifik melaporkan insidensi varisela tahunan antara 100 hingga 2.530 per 100.000 penduduk.

Sementara itu, di Indonesia, data epidemiologi varisela yang komprehensif masih sangat terbatas. Tidak ada surveilans nasional yang memadai untuk penyakit ini. Namun demikian, dengan tingkat cakupan vaksinasi varisela yang masih rendah dan belum masuknya vaksin varisela ke dalam program imunisasi nasional wajib, dapat dipastikan bahwa cacar air masih menjadi masalah kesehatan yang nyata di masyarakat. Wabah yang berulang di sekolah-sekolah menjadi bukti nyatanya. Cacar air diprediksi sering muncul saat pergantian musim — dari musim panas ke musim hujan maupun sebaliknya — karena kondisi ini mempengaruhi daya tahan tubuh dan kepadatan aktivitas sosial.

Sebuah tinjauan sistematik mengenai beban penyakit herpes zoster di Asia Tenggara (termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam) mencatat bahwa data dari Indonesia masih sangat minim, dan hampir tidak ada studi yang melaporkan insidensi varisela di tingkat nasional di Indonesia (San Martin et al., 2023).


Bagaimana Cacar Air Menular?

VZV adalah salah satu virus paling menular yang dikenal dalam dunia medis. Penularannya terjadi melalui dua jalur utama:

Pertama, melalui udara (airborne transmission). Virus menyebar dalam partikel-partikel kecil (aerosol) yang dihasilkan ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Inilah yang membuat satu anak yang sakit di kelas bisa menularkan penyakit ke banyak teman sekelasnya dalam waktu singkat.

Kedua, melalui kontak langsung. Cairan dari vesikel (gelembung) di kulit penderita mengandung virus dalam konsentrasi tinggi. Menyentuh vesikel yang pecah, atau benda yang baru saja terkontaminasi cairan tersebut, dapat menularkan virus.

Yang perlu diwaspadai adalah periode penularan dimulai dua hari sebelum ruam muncul dan berlangsung hingga seluruh vesikel mengering menjadi keropeng. Artinya, seseorang sudah bisa menularkan penyakit bahkan sebelum tahu dirinya sakit. Masa inkubasi — waktu antara paparan virus hingga munculnya gejala — berlangsung antara 10 hingga 21 hari, umumnya 14–16 hari.


Perjalanan Penyakit: Dari Demam Hingga Ruam Bergelombang

Gejala cacar air berkembang melalui beberapa tahapan yang cukup khas:

Tahap prodromal. Pada anak-anak yang sehat, tahap ini sering tidak terasa atau sangat ringan — hanya berupa sedikit demam, lemas, dan hilang nafsu makan selama 1–2 hari. Pada orang dewasa, gejala prodromal umumnya lebih berat: demam tinggi, nyeri kepala, dan malaise (rasa tidak enak badan) yang lebih terasa.

Kemunculan ruam pertama. Ruam biasanya dimulai di wajah dan badan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh termasuk kulit kepala, lengan, dan kaki. Dalam 24 jam pertama, ruam tampak sebagai bercak merah datar (makula) yang cepat berubah menjadi tonjolan (papula), lalu berkembang menjadi gelembung berisi cairan jernih (vesikel) yang sangat gatal.

Pola “langit berbintang” (dewdrop on rose petal). Vesikel cacar air memiliki tampilan yang sangat khas: gelembung jernih di atas dasar kemerahan, menyerupai tetesan embun di atas kelopak mawar. Dalam bahasa Jawa, penderita menyebutnya “plentingan” — istilah yang dengan tepat menggambarkan tampilan gelembung berair tersebut.

Gelombang berulang. Ruam baru terus bermunculan selama 3–5 hari berikutnya secara bergelombang, sehingga dalam satu waktu tubuh penderita dapat menampilkan semua stadium: makula, papula, vesikel, dan keropeng sekaligus. Inilah ciri khas yang membedakan cacar air dari penyakit ruam lainnya. Seluruh proses dari awal ruam hingga keropeng terakhir mengering biasanya berlangsung 7–14 hari.

Ulkus mukosa. Tidak jarang vesikel juga muncul di mukosa mulut dan faring, menyebabkan nyeri menelan. Pada perempuan, vesikel dapat muncul di area genitalia.

Menurut Kemenkes RI, penderita cacar air sebaiknya tidak memecahkan vesikel secara sengaja, karena hal ini mempercepat pembentukan keropeng yang lebih dalam dan meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder serta bekas luka permanen.


Mengapa Orang Dewasa Harus Lebih Waspada?

Di sinilah mitos yang perlu diluruskan: cacar air bukan penyakit ringan yang hanya menyerang anak kecil. Pada orang dewasa yang baru pertama kali terinfeksi, penyakit ini dapat jauh lebih berat. Orang dewasa berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius, termasuk pneumonia varisela dan ensefalitis.

Studi retrospektif di Thailand yang melibatkan 260 pasien (200 anak-anak dan 60 dewasa) menemukan bahwa hampir semua orang dewasa (96,7%) mendapat terapi antivirus, dibandingkan hanya 31,5% anak-anak — mencerminkan betapa lebih beratnya penyakit ini pada orang dewasa secara klinis (Chokephaibulkit et al., 2023).


Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Komplikasi Serius?

Sebagian besar anak yang sehat akan sembuh dari cacar air tanpa masalah berarti. Namun, beberapa kelompok berisiko tinggi mengalami penyakit yang jauh lebih berat:

Individu dengan gangguan imunitas. Pasien yang menjalani kemoterapi, transplantasi organ, atau mengonsumsi obat-obatan imunosupresan jangka panjang (seperti kortikosteroid dosis tinggi) berisiko mengalami varisela diseminata — infeksi yang menyebar ke organ dalam seperti hati, paru-paru, dan otak. Pada kelompok ini, varisela bisa mengancam jiwa. Sebuah tinjauan tentang faktor risiko herpes zoster mencatat bahwa VZV terutama menyerang sel T, neuron, dan sel kulit, sehingga imunosupresi apa pun akan memperburuk jalannya penyakit (Oleszko et al., 2025).

Ibu hamil. Varisela dalam kehamilan membawa risiko ganda: komplikasi serius pada ibu (terutama pneumonia) dan risiko cacat bawaan pada janin (congenital varicella syndrome) jika infeksi terjadi di trimester pertama atau kedua. Jika seorang ibu terinfeksi menjelang persalinan (5 hari sebelum hingga 2 hari setelah melahirkan), bayinya berisiko mengalami varisela neonatal yang berat karena belum sempat menerima antibodi pelindung dari ibu. IDAI mengingatkan bahwa ibu hamil sebaiknya menghindari kontak dengan penderita cacar air.

Neonatus dan bayi muda. Bayi yang lahir dari ibu tanpa imunitas terhadap VZV tidak memiliki perlindungan antibodi maternal dan sangat rentan.

Remaja dan dewasa yang belum pernah terinfeksi. Seperti yang telah dijelaskan, infeksi pertama kali pada usia dewasa cenderung lebih berat.

Penderita penyakit kronis. Diabetes, penyakit kardiovaskular, dan penyakit pernapasan kronis meningkatkan risiko perjalanan penyakit yang lebih berat.


Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

Komplikasi varisela mencakup spektrum yang luas:

Infeksi bakteri sekunder adalah komplikasi tersering, khususnya oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes yang menginfeksi vesikel yang digaruk. Manifestasinya meliputi impetigo, selulitis, erisipelas, hingga fasciitis nekrotikans pada kasus berat. Dalam studi di Thailand, infeksi kulit dan jaringan lunak merupakan komplikasi terbanyak (47,7% dari semua komplikasi).

Pneumonia varisela adalah komplikasi serius yang lebih sering terjadi pada orang dewasa, terutama perokok dan ibu hamil. Gejalanya berupa sesak napas dan batuk yang memburuk, biasanya muncul 1–6 hari setelah timbulnya ruam.

Komplikasi neurologis mencakup serebelitis (peradangan otak kecil yang menyebabkan gangguan keseimbangan), ensefalitis, meningitis, dan mielitis. Serebelitis lebih sering terjadi pada anak-anak, biasanya bersifat jinak dan sembuh sendiri.

Herpes zoster di kemudian hari. Setelah varisela sembuh, VZV tidak benar-benar pergi. Virus berdiam secara laten di ganglia sensorik dan dapat reaktivasi bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun kemudian dalam bentuk herpes zoster — ruam nyeri yang mengikuti jalur saraf (dermatom). Komplikasi herpes zoster sendiri termasuk neuralgia postherpetik (nyeri yang menetap berbulan-bulan setelah ruam sembuh), herpes zoster oftalmikus (yang dapat mengancam penglihatan), dan bahkan stroke vaskulopati akibat VZV yang menginfeksi dinding pembuluh darah.


Diagnosis

Pada sebagian besar kasus, diagnosis cacar air dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan gambaran ruam yang khas dan riwayat kontak dengan penderita. Dokter tidak memerlukan pemeriksaan penunjang khusus untuk kasus tipikal pada anak yang sehat.

Namun, pada kasus yang meragukan — misalnya pada pasien dengan gangguan imunitas, atau ketika perlu membedakan varisela dari cacar monyet (monkeypox) atau infeksi lain — pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan. Pilihan terbaik saat ini adalah PCR (Polymerase Chain Reaction) dari cairan vesikel atau swab lesi, yang mampu mengidentifikasi DNA VZV dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Pemeriksaan serologi (antibodi IgM dan IgG terhadap VZV) juga tersedia dan berguna untuk menilai status imunitas seseorang.


Penanganan: Kapan Cukup di Rumah, Kapan Perlu ke Dokter?

Penanganan suportif di rumah cukup untuk sebagian besar anak yang sehat. Prinsip utamanya adalah:

Istirahat yang cukup dan konsumsi cairan yang memadai untuk mencegah dehidrasi. Demam dapat diatasi dengan paracetamol (acetaminophen). Hindari pemberian aspirin pada anak dan remaja, karena aspirin dikaitkan dengan risiko Reye syndrome — kondisi langka namun sangat berbahaya yang menyebabkan kerusakan hati dan otak.

Rasa gatal yang hebat dapat dikurangi dengan kompres dingin, mandi dengan air dingin (oatmeal bath — mandi dengan oatmeal koloid terbukti secara ilmiah meredakan gatal), antihistamin oral seperti cetirizine atau loratadine, dan lotion calamine. Potong kuku agar tidak melukai kulit saat menggaruk, dan pakaikan anak sarung tangan tipis saat tidur untuk mencegah garukan tidak sengaja.

Kulit harus tetap dijaga kebersihannya — mandi tetap boleh dan dianjurkan, dengan sabun lembut dan dikeringkan perlahan-lahan.

Terapi antivirus diindikasikan untuk kelompok berisiko tinggi. Berdasarkan berbagai panduan klinis dan kajian yang diterbitkan di jurnal Molecules, obat antivirus utama untuk infeksi VZV adalah (Andrei & Snoeck, 2021):

Acyclovir oral atau intravena adalah standar terapi yang sudah lama digunakan dan terbukti efektif. Valacyclovir — bentuk prodrug dari acyclovir dengan bioavailabilitas lebih baik — dianjurkan untuk orang dewasa dan remaja karena lebih mudah dikonsumsi (dosis lebih jarang). Famciclovir adalah alternatif lain yang juga tersedia.

Terapi antivirus paling efektif jika dimulai dalam 72 jam sejak munculnya ruam pertama. Pada pasien imunokompromi, acyclovir intravena mungkin diperlukan.

Antibiotik hanya diberikan jika terbukti ada infeksi bakteri sekunder — bukan sebagai pencegahan rutin. Dalam studi di Thailand, satu dari lima pasien varisela mendapat antibiotik, mencerminkan tingginya angka komplikasi infeksi kulit di wilayah tersebut (Chokephaibulkit et al., 2023).

Segera bawa ke dokter atau IGD jika penderita mengalami: sesak napas atau napas cepat; ruam yang sangat merah, hangat, dan nyeri (tanda infeksi bakteri); demam melebihi 39°C yang tidak turun dengan paracetamol; pusing, bingung, atau kejang; leher kaku; atau jika penderita adalah bayi, ibu hamil, atau orang dengan kondisi medis yang melemahkan imunitas.


Pencegahan: Vaksin adalah Jawabannya

Vaksin varisela pertama kali dikembangkan oleh Michiaki Takahashi pada tahun 1974, menggunakan VZV hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine). Sejak diperkenalkan secara luas, vaksin ini telah terbukti hampir mengeliminasi varisela sebagai penyakit endemis di negara-negara yang menerapkan vaksinasi universal (Gershon & Gershon, 2025).

Di Indonesia, vaksin varisela telah tersedia di fasilitas kesehatan swasta namun belum masuk dalam program imunisasi nasional wajib Kemenkes. Vaksin ini termasuk dalam jadwal imunisasi IDAI sebagai imunisasi yang direkomendasikan (recommended vaccine). Menurut jadwal imunisasi IDAI 2023:

Vaksin varisela diberikan sebanyak dua dosis: dosis pertama pada usia 12–18 bulan, dan dosis kedua dengan interval minimal 6 minggu hingga 3 bulan dari dosis pertama. Untuk anak yang lebih besar dan orang dewasa yang belum pernah divaksinasi atau belum pernah sakit cacar air, dua dosis vaksin diberikan dengan jarak minimal 28 hari. Saat ini juga tersedia vaksin kombinasi MMRV (measles-mumps-rubella-varicella) yang dapat digunakan sebagai dosis kedua.

Jika seseorang yang belum divaksinasi terpapar penderita cacar air, vaksin masih dapat diberikan sebagai profilaksis pascapajanan (post-exposure prophylaxis) dalam waktu kurang dari 5 hari setelah kontak — dan masih dapat mencegah penyakit atau meringankan gejalanya secara signifikan.

Bagi individu yang tidak dapat menerima vaksin hidup (seperti ibu hamil atau pasien imunokompromi berat), imunoglobulin varisela-zoster (Varicella Zoster Immunoglobulin/VZIG) dapat diberikan dalam 96 jam setelah pajanan sebagai perlindungan sementara.

Efektivitas vaksin: Satu dosis vaksin memberikan perlindungan sekitar 85% terhadap varisela apapun derajatnya, dan hampir 100% terhadap varisela berat. Dua dosis meningkatkan efektivitas secara substansial.

Tentang herpes zoster: Meskipun seseorang yang divaksinasi dapat mengembangkan varisela ringan, strain vaksin VZV ternyata jarang mengalami reaktivasi dibandingkan virus tipe liar. Ini berarti anak yang divaksinasi memiliki risiko lebih rendah terkena herpes zoster di kemudian hari — sebuah keuntungan jangka panjang yang sering tidak disadari orang tua.


Isolasi: Mencegah Penularan di Sekolah dan Rumah

Anak yang terkena cacar air harus diistirahatkan dari sekolah hingga seluruh vesikel mengering dan tidak ada lesi baru yang muncul. Ini biasanya membutuhkan waktu sekitar 5–7 hari sejak ruam pertama, namun bisa lebih lama. Jangan memaksakan anak masuk sekolah hanya karena demamnya sudah turun — selama masih ada vesikel yang belum mengering, ia masih menular.

Di rumah, anggota keluarga yang belum divaksinasi dan belum pernah terkena cacar air sebaiknya menghindari kontak langsung dengan penderita. Ibu hamil yang belum imun terhadap VZV harus benar-benar menjauhkan diri dari penderita. Cuci tangan dengan sabun secara rutin, dan hindari berbagi peralatan makan, handuk, atau pakaian dengan penderita.


Kesimpulan: Jangan Remehkan “Penyakit Anak” Ini

Cacar air mungkin tampak sepele karena begitu lazim. Namun, di balik ruam yang gatal dan tampilan yang familiar, tersimpan virus yang tidak pernah benar-benar pergi dari tubuh — dan yang bisa kembali puluhan tahun kemudian dalam wujud yang lebih menyakitkan. Pada kelompok rentan, cacar air bisa berakibat fatal.

Kabar baiknya: penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin yang aman dan efektif. Di Indonesia, dengan cakupan vaksinasi yang masih rendah, edukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi varisela adalah langkah paling mendasar yang perlu terus digaungkan — oleh tenaga kesehatan, orang tua, dan sekolah bersama-sama. Jangan tunggu wabah melanda sekolah anak Anda baru mulai bertindak.


Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala cacar air, terutama dengan kondisi berisiko tinggi, segera konsultasikan dengan dokter.


Referensi

Andrei, G., & Snoeck, R. (2021). Advances and perspectives in the management of varicella-zoster virus infections. Molecules, 26(4), 1132. https://doi.org/10.3390/molecules26041132

Chokephaibulkit, K., Samant, S., Chaisavaneeyakorn, S., Kamolratanakul, S., Limpadanai, S., Kebede, N., Stephens, J., Sukarom, I., & Pawaskar, M. (2023). Antimicrobial use for the management of varicella in Thailand: a retrospective observational study. Current Medical Research and Opinion, 39(6), 873–880. https://doi.org/10.1080/03007995.2023.2200123

Gershon, A. A., Breuer, J., Cohen, J. I., Cohrs, R. J., Gershon, M. D., Gilden, D., Grose, C., Hambleton, S., Kennedy, P. G. E., Oxman, M. N., Seward, J. F., & Yamanishi, K. (2016). Varicella zoster virus infection. Nature Reviews Disease Primers, 1, 15016. https://doi.org/10.1038/nrdp.2015.16

Gershon, A. A., & Gershon, M. D. (2025). A fresh look at varicella vaccination. Human Vaccines & Immunotherapeutics, 21(1), 2488099. https://doi.org/10.1080/21645515.2025.2488099

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2023). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun rekomendasi IDAI 2023. IDAI. https://www.idai.or.id/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Mengenal cacar air. Yankes Kemenkes. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1428/mengenal-cacar-air

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, Oktober 30). Agar cacar air tak mewabah. Indonesia.go.id. https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8742/agar-cacar-air-tak-mewabah

Oleszko, M., Zapolnik, P., Kmiecik, W., & Czajka, H. (2025). Herpes zoster: Risk factors for occurrence, complications, and recurrence with a focus on immunocompromised patients. Diseases, 13(3), 71. https://doi.org/10.3390/diseases13030071

San Martin, P., Aunhachoke, K., Batac, M. C. F., Lodrono-Lim, K., Kwanthitinan, C., Santoso, D., Fonseka, T., Nguyen, M., & Guzman-Holst, A. (2023). Systematic literature review of herpes zoster disease burden in Southeast Asia. Infectious Diseases and Therapy, 12(6), 1553–1578. https://doi.org/10.1007/s40121-023-00822-0

Satgas Imunisasi IDAI. (2024, November 21). Satgas imunisasi IDAI ingatkan warga jangan menyepelekan cacar air. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/4481865/satgas-imunisasi-idai-ingatkan-warga-jangan-menyepelekan-cacar-air

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar