A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Rumah sakit seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi seseorang yang sedang sakit. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Di balik gedung-gedung berwarna putih dan denyut kehidupan para tenaga medis yang sibuk bekerja, tersimpan berbagai risiko yang bisa mengancam keselamatan pasien itu sendiri. Bukan karena niat buruk, melainkan karena kompleksitas sistem kesehatan yang begitu renik dan rapuh.

Inilah yang disebut sebagai dimensi klinis dari manajemen risiko rumah sakit—sebuah upaya sistematis untuk mengenali, menganalisis, dan memitigasi berbagai potensi bahaya yang dapat mencederai pasien selama mereka menerima layanan kesehatan.

Skala Masalah yang Tidak Bisa Diabaikan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat dengan gamblang bahwa kejadian-kejadian yang berpotensi merugikan pasien secara tidak semestinya (adverse events) meliputi kesalahan pemberian obat, prosedur pembedahan yang tidak aman, infeksi terkait layanan kesehatan, kesalahan diagnosis, jatuh, luka tekan, kesalahan identifikasi pasien, transfusi darah yang tidak aman, serta venous thromboembolism.

Angka-angka yang melatarbelakanginya sungguh mengkhawatirkan. Sekitar 10–12% pasien yang dirawat inap di negara-negara berpenghasilan tinggi mengalami setidaknya satu bentuk kejadian adverse event setiap tahunnya. Sementara itu, kerugian bagi kesehatan pasien diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,7% per tahun, dengan biaya tidak langsung yang mencapai triliunan dolar AS setiap tahunnya.

Di Amerika Serikat, kesalahan medis bahkan disebut sebagai penyebab kematian ketiga terbanyak, dengan perkiraan lebih dari 200.000 kematian pasien per tahun akibat kesalahan yang sebetulnya dapat dicegah, dan sekitar 400.000 pasien rawat inap mengalami kerugian yang dapat dicegah setiap tahunnya.

Kesalahan Pemberian Obat: Bahaya yang Paling Sering Tak Terlihat

Di antara berbagai bentuk risiko klinis, kesalahan pemberian obat (medication errors) adalah yang paling sering terjadi dan paling mungkin tersembunyi dari perhatian kita. Lebih dari satu juta kali per tahun, pasien di rumah sakit Amerika Serikat menerima obat yang salah atau dosis yang keliru.

Masalah ini tidak hanya soal salah ambil obat. Ketidakakuratan dalam pencatatan dan pengetahuan tentang daftar obat seorang pasien dapat menyebabkan kesalahan rekonsiliasi obat (medication reconciliation errors), yang bisa terjadi saat masuk rumah sakit maupun saat pasien dipulangkan—berujung pada penghilangan, duplikasi, atau interaksi obat yang berbahaya, serta meningkatkan risiko readmission.

Institut Safe Medication Practices (ISMP) secara berkala menerbitkan best practices terbaru untuk menekan angka ini. Dalam edisi 2024–2025, ISMP mengedepankan strategi pencegahan kesalahan obat di titik-titik transisi perawatan, yakni dengan memperoleh daftar obat pasien yang paling akurat sebelum dosis pertama diberikan, kecuali dalam kondisi darurat. Teknologi seperti barcode medication administration (BCMA) juga terus dikembangkan, meskipun tantangan implementasinya masih besar—dari 4.446 isu keselamatan obat berbasis teknologi yang dilaporkan pada 2019, 66% di antaranya berkaitan dengan masalah pemindaian barcode.

Pasien Jatuh: Kejadian Paling Sering di Rumah Sakit

Siapa yang menyangka bahwa jatuh termasuk ke dalam kategori insiden keselamatan pasien? Jatuh adalah kejadian adverse yang paling sering dilaporkan di rumah sakit, dengan angka kejadian 3 hingga 5 kasus per 1.000 hari-tempat tidur, dan lebih dari sepertiga dari kejadian itu mengakibatkan cedera yang nyata.

Risiko jatuh tidak merata di semua pasien. Data menunjukkan disparitas kejadian jatuh berdasarkan usia dan kondisi sensoris, di mana pasien usia lanjut dan mereka dengan gangguan sensoris termasuk kelompok paling rentan. Faktor-faktor yang berkontribusi pada jatuh dengan cedera meliputi masalah komunikasi, kinerja staf, manajemen tenaga kerja, serta faktor terkait peralatan.

Kabar baiknya, strategi pencegahan jatuh yang komprehensif—termasuk penilaian risiko yang disesuaikan dengan profil individu pasien, rencana perawatan yang mencakup edukasi pasien, adaptasi lingkungan, pelatihan staf, serta purposeful rounding—terbukti efektif menurunkan insiden jatuh secara bermakna.

Komplikasi Bedah: Risiko di Balik Ruang Operasi

Tindakan pembedahan membawa risiko tersendiri yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satu bentuk kesalahan paling fatal adalah wrong-site, wrong-procedure, wrong-person surgery—operasi yang dilakukan pada bagian tubuh, prosedur, atau pasien yang salah. Protokol Universal telah ditetapkan sebagai standar wajib, dengan pendekatan berlapis yang mencakup verifikasi identitas dan lokasi pembedahan, penandaan situs operasi pada tubuh pasien, serta time-out sebelum prosedur dimulai untuk memastikan tidak ada kesalahan.

Komplikasi bedah juga memiliki dimensi infeksi. Surgical site infection (SSI) atau infeksi daerah operasi adalah salah satu komplikasi pasca-bedah yang paling sering dilaporkan dan secara langsung terkait dengan meningkatnya angka morbiditas, lama rawat inap, serta biaya perawatan.

Kesalahan Diagnosis: Bahaya yang Tersembunyi dalam Klinisi

Kesalahan diagnosis (diagnostic errors) adalah salah satu kategori yang paling jarang dibicarakan, namun dampaknya amat serius. Kesalahan diagnosis terjadi pada 5–20% pertemuan antara dokter dan pasien. Telaah dari sisi klinisi mendapati bahwa kesalahan diagnosis yang merugikan ditemukan pada setidaknya 0,7% pasien rawat inap dewasa. Bahkan, disebutkan bahwa sebagian besar orang akan pernah mengalami kesalahan diagnosis setidaknya sekali dalam hidupnya.

Penyebabnya multifaktorial: beban kerja klinisi yang tinggi, keterbatasan akses pada pemeriksaan penunjang, ketidaklengkapan informasi klinis, kelelahan, hingga bias kognitif. Oleh karena itulah pendekatan sistemik—bukan hanya pendekatan individu—menjadi kunci untuk mengurangi angka kesalahan diagnosis.

Infeksi Terkait Layanan Kesehatan: Ancaman yang Bisa Dicegah

Healthcare-associated infections (HAIs), atau dalam terminologi Indonesia sering disebut sebagai Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (ILTPK), merupakan salah satu masalah terbesar dalam keselamatan pasien global. Analisis WHO menunjukkan bahwa rata-rata 7 dari 100 pasien di rumah sakit perawatan akut di negara berpenghasilan tinggi mengalami setidaknya satu HAI selama dirawat. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, angkanya dua kali lipat, yaitu 15 dari 100 pasien.

Situasinya diperparah oleh ancaman resistansi antimikroba. Jumlah global HAI yang disebabkan oleh patogen resistan antibiotik diperkirakan mencapai 136 juta kasus per tahun, dengan 119 juta di antaranya terjadi di negara berpenghasilan menengah. Angka kematian pasien yang terinfeksi patogen resistan dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang terinfeksi patogen yang masih sensitif terhadap antibiotik.

Laporan global WHO tentang infection prevention and control (IPC) tahun 2024 memberikan gambaran yang mengkhawatirkan terkait implementasi program pencegahan: hanya 39% negara yang telah sepenuhnya mengimplementasikan program IPC secara nasional, sementara 9% negara bahkan belum mengembangkan program atau rencana IPC sama sekali.

Padahal, solusi dasarnya telah lama diketahui. Kepatuhan terhadap pedoman kebersihan tangan dari WHO dan CDC adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi transmisi agen infeksi dari petugas kesehatan kepada pasien, sehingga menekan angka kejadian HAI.

Kerangka Keselamatan Pasien di Indonesia

Di Indonesia, respons terhadap tantangan keselamatan pasien telah dibangun secara bertahap. Landasan hukumnya termaktub dalam Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 43, yang mengamanatkan bahwa standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden, analisis, dan penetapan pemecahan masalah guna menurunkan angka Kejadian Tidak Diharapkan (KTD).

Kementerian Kesehatan bersama PERSI dan KKP-RS juga telah menetapkan Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit sejak Seminar Nasional PERSI pada Agustus 2005, kemudian diperkuat dengan Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 yang merumuskan Tujuh Langkah Keselamatan Pasien.

Namun, tantangan implementasi di lapangan masih nyata. Budaya pelaporan insiden yang belum optimal, ketakutan staf untuk melaporkan kesalahan, serta sistem pelaporan yang belum sepenuhnya ramah pengguna masih menjadi hambatan di banyak fasilitas kesehatan Indonesia.

Membangun Sistem, Bukan Menyalahkan Individu

Pendekatan modern terhadap keselamatan pasien tidak lagi bertumpu pada paradigma blame and shame—menyalahkan individu atas kesalahan yang terjadi. Sebaliknya, filosofi yang diadopsi secara luas adalah pendekatan sistemik: dengan mengidentifikasi kekurangan, kegagalan, dan faktor risiko yang berujung pada suatu kejadian merugikan, upaya koreksi dapat dikembangkan untuk mencegah kejadian serupa terulang. Mendorong semua pihak yang terlibat dalam layanan kesehatan untuk melaporkan kesalahan medis adalah bagian esensial dari proses ini.

Ini berarti bahwa rumah sakit perlu membangun safety culture—budaya keselamatan—di mana melaporkan insiden dipandang sebagai tindakan profesional yang bertanggung jawab, bukan sebagai pengakuan kesalahan yang berujung hukuman. Institusi yang mengadopsi budaya keselamatan pasien dan menerapkan intervensi korektif dapat menjadikan layanan kesehatan lebih aman bagi pasien maupun tenaga kesehatan itu sendiri.

Penutup: Keselamatan Adalah Investasi, Bukan Beban

Manajemen risiko klinis di rumah sakit bukan sekadar kewajiban regulasi atau kelengkapan akreditasi. Ini adalah komitmen moral yang melekat pada hakikat profesi kesehatan itu sendiri—primum, non nocere, pertama-tama jangan menyakiti.

Investasi dalam pengurangan kerugian pada pasien dapat menghasilkan penghematan finansial yang signifikan, dan yang lebih penting, luaran pasien yang lebih baik. Salah satu contoh return of investment yang baik adalah keterlibatan pasien (patient engagement), yang jika dilaksanakan dengan baik dapat mengurangi beban cedera hingga 15%.

Dalam ekosistem kesehatan yang terus berkembang—dengan teknologi yang semakin canggih, penyakit yang semakin kompleks, dan ekspektasi pasien yang semakin tinggi—tidak ada pilihan lain selain menjadikan keselamatan pasien sebagai fondasi utama dari setiap keputusan klinis dan manajerial di rumah sakit.


Daftar Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2026). HAIs: Reports and data. https://www.cdc.gov/healthcare-associated-infections/php/data/index.html

ECRI & Institute for Safe Medication Practices (ISMP). (2024). Three new best practices in the 2024–2025 targeted medication safety best practices for hospitals. https://home.ecri.org/blogs/ismp-alerts-and-articles-library/three-new-best-practices-in-the-2024-2025-targeted-medication-safety-best-practices-for-hospitals

ECRI Institute. (2024). Top 10 patient safety concerns 2024. HealthManagement.org. https://healthmanagement.org/c/hospital/news/top-10-patient-safety-concerns-2024

Kumah, A., et al. (2024). Improving patient safety: learning from reported hospital-acquired pressure ulcers. Global Journal of Quality and Safety in Healthcare, 7, 15–21. https://doi.org/10.36401/JQSH-23-25

Markwart, R., Saito, H., Harder, T., Tomczyk, S., Cassini, A., & Fleischmann-Struzek, C. (2020). Epidemiology and burden of sepsis acquired in hospitals and intensive care units: A systematic review and meta-analysis. Intensive Care Medicine, 46(8), 1536–1551. https://doi.org/10.1007/s00134-020-06106-2

Osei-Bonsu, E., et al. (2025). Poor quality care in healthcare settings: An overlooked epidemic. Frontiers in Public Health, 12, 1504172. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1504172

Panagioti, M., Khan, K., Keers, R. N., Abuzour, A., Phipps, D., & Kontopantelis, E. (2019). Prevalence, severity, and nature of preventable patient harm across medical care settings: Systematic review and meta-analysis. BMJ, 366, l4185. https://doi.org/10.1136/bmj.l4185

Performance Health Partners. (2024). Top patient safety concerns 2024. https://www.performancehealthus.com/blog/top-10-patient-safety-concerns-2024

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) & Institut Keselamatan Pasien Rumah Sakit (IKPRS). (2024). Workshop keselamatan pasien dan manajemen risiko di fasilitas pelayanan kesehatan. https://www.persi.or.id

Raoofi, S., Kan, F. P., Rafiei, S., Hosseinipalangi, Z., Mejareh, Z. N., & Khani, S. (2023). Global prevalence of nosocomial infection: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE, 18(1), e0274248. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0274248

Rodziewicz, T. L., Houseman, B., & Hipskind, J. E. (2024). Medical error reduction and prevention. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499956/

Slawomirski, L., & Klazinga, N. (2020). The economics of patient safety: From analysis to action. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). http://www.oecd.org/health/health-systems/Economics-of-Patient-Safety-October-2020.pdf

Tan, L., et al. (2025). Striving for zero traditional and non-traditional healthcare-associated infections (HAI): A target, vision, or philosophy. PMC. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12224139/

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

World Health Organization (WHO). (2023). Patient safety [Fact sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/patient-safety

World Health Organization (WHO). (2024). Global report on infection prevention and control 2024. https://www.who.int/publications/i/item/9789240103986

World Health Organization (WHO). (2024). Global patient safety report 2024. WHO Press.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar