A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayi yang tampak sehat, berat lahir cukup, dan menangis kuat saat dilahirkan kerap dianggap “lulus” semua pemeriksaan. Padahal, gangguan pendengaran bawaan termasuk kelainan kongenital yang paling sering luput dari mata telanjang. Di dunia, sekitar 1,57 miliar orang hidup dengan gangguan pendengaran, dan angka ini diproyeksikan menembus 2,5 miliar pada tahun 2050 — atau sekitar satu dari empat penduduk bumi (GBD 2019 Hearing Loss Collaborators, 2021; WHO, 2021a). Pada anak dan kelompok rentan, gangguan yang tidak terdeteksi dini dapat merampas perkembangan bahasa, prestasi belajar, kesehatan mental, hingga kualitas hidup di masa tua.

Artikel ini membahas mengapa skrining pendengaran menjadi intervensi kesehatan masyarakat yang sangat cost-effective, siapa saja yang wajib menjalaninya, dan bagaimana pelaksanaannya di Indonesia.

Mengapa Skrining Harus Sedini Mungkin

Periode kritis perkembangan pendengaran dan bicara berlangsung pada enam bulan pertama kehidupan dan berlanjut hingga usia dua tahun. Bayi dengan gangguan pendengaran bawaan yang diintervensi sebelum usia enam bulan memiliki kemampuan bahasa yang setara dengan anak berpendengaran normal pada usia tiga tahun, dibandingkan dengan mereka yang terlambat diintervensi (Ikatan Dokter Anak Indonesia [IDAI], 2017; Joint Committee on Infant Hearing [JCIH], 2019).

Masalahnya, sekitar 50% bayi dengan gangguan pendengaran lahir tanpa faktor risiko yang dikenali. Jika skrining hanya diberikan pada yang berisiko, banyak kasus akan terlewat. Karena itulah universal newborn hearing screening (UNHS) — skrining untuk semua bayi baru lahir — menjadi standar global yang direkomendasikan WHO dan JCIH (JCIH, 2019; WHO, 2024).

Prinsip “1–3–6” dan “1–2–3”

JCIH tahun 2019 menetapkan tonggak waktu yang kini menjadi acuan internasional:

  • Skrining pendengaran sebelum bayi berusia 1 bulan
  • Diagnosis audiologi lengkap sebelum usia 3 bulan
  • Intervensi dini (alat bantu dengar, terapi wicara, atau rujukan program early intervention) sebelum usia 6 bulan

Fasilitas yang sudah mencapai benchmark 1–3–6 dianjurkan mengejar target lebih ambisius, yaitu 1–2–3, dengan diagnosis selesai pada usia 2 bulan dan intervensi dimulai pada usia 3 bulan (JCIH, 2019; American Speech-Language-Hearing Association [ASHA], 2023).

Alat Skrining: OAE dan AABR

Dua alat utama yang direkomendasikan untuk bayi baru lahir adalah:

  1. Otoacoustic Emissions (OAE) — mengukur respons koklea (rumah siput) terhadap bunyi. Cepat, nyaman, dan dapat dikerjakan bayi tidur. Biasanya dilakukan pada usia 0–28 hari.
  2. Automated Auditory Brainstem Response (AABR) — mengukur respons saraf pendengaran hingga batang otak. Direkomendasikan pada bayi dengan faktor risiko, khususnya yang dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) lebih dari lima hari, karena bayi ini memiliki risiko Auditory Neuropathy/Dyssynchrony yang lebih tinggi dan tidak selalu terdeteksi oleh OAE saja (JCIH, 2019; IDAI, 2017).

Hasil skrining hanya menunjukkan “pass” atau “refer” (perlu rujukan). Ia tidak mengukur derajat ketulian atau membedakan jenisnya — untuk itu dibutuhkan pemeriksaan audiologi lanjutan seperti Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA), Auditory Steady State Response (ASSR), dan timpanometri.

Siapa Saja Kelompok Rentan?

1. Bayi dengan Faktor Risiko Tinggi

JCIH (2019) dan IDAI mencantumkan sejumlah kondisi yang meningkatkan risiko gangguan pendengaran, antara lain:

  • Riwayat keluarga dengan tuli permanen sejak kecil
  • Perawatan NICU ≥5 hari, penggunaan ventilator lama, atau asfiksia berat
  • Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar
  • Infeksi intrauterin (TORCH: toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpes, syphilis)
  • Penggunaan obat ototoksik, terutama aminoglikosida ≥5 hari
  • Berat lahir <1500 gram
  • Sindrom tertentu (misalnya Down syndrome, Waardenburg)
  • Kelainan kraniofasial

Bayi dengan faktor risiko memerlukan pemantauan pendengaran berkelanjutan meskipun lulus skrining awal, karena gangguan dapat muncul belakangan (late-onset hearing loss).

2. Anak Usia Prasekolah dan Sekolah

Sebagian gangguan pendengaran baru terdeteksi setelah usia sekolah — akibat otitis media berulang, cedera, paparan bising, atau penyebab genetik yang bermanifestasi lambat. American Academy of Audiology (2011) merekomendasikan skrining nada murni (pure tone) pada frekuensi 1000, 2000, dan 4000 Hz pada intensitas 20 dB HL untuk anak usia ≥3 tahun, dikombinasikan dengan timpanometri pada anak prasekolah dan SD kelas awal. Pada remaja, frekuensi 6000 dan 8000 Hz perlu ditambahkan untuk mendeteksi gangguan frekuensi tinggi akibat bising.

Tanda-tanda yang perlu dicurigai orang tua dan guru: terlambat bicara, tidak menoleh saat dipanggil, minta televisi dikeraskan, sering salah paham, atau prestasi akademik menurun tanpa sebab jelas.

3. Remaja dan Dewasa Muda Pengguna Personal Listening Device

WHO memperkirakan lebih dari satu miliar remaja dan dewasa muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat pemakaian earphone dan paparan bising rekreasional (WHO, 2021a). Sebuah studi pada mahasiswa di Indonesia melaporkan prevalensi gangguan pendengaran pada pengguna earphone mencapai 21,3%, terutama pada kelompok usia 18–25 tahun (Hendradewi dkk., 2023 dalam Japendi, 2025). Penggunaan di atas 85 desibel selama lebih dari delapan jam per hari meningkatkan risiko secara bermakna. Kampanye Make Listening Safe dari WHO menganjurkan batas 60/60: maksimal 60% volume selama 60 menit per hari.

4. Pekerja Terpapar Bising

Occupational noise-induced hearing loss (ONIHL) adalah penyakit akibat kerja paling umum di dunia (Chen dkk., 2020). Sebuah studi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menemukan prevalensi NIHL sebesar 47,9% berdasarkan audiometri pada pekerja yang terpapar kebisingan di atas ambang batas (Pawiono dkk., 2019). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 70 Tahun 2016 menetapkan Nilai Ambang Batas kebisingan di tempat kerja sebesar 85 dB untuk pajanan 8 jam per hari. Pemeriksaan audiometri berkala — minimal setahun sekali untuk pekerja di area bising — menjadi kewajiban program konservasi pendengaran.

5. Lansia dan Risiko Demensia

Gangguan pendengaran bukan sekadar masalah telinga pada usia lanjut. Laporan Lancet Commission on Dementia tahun 2024 mengidentifikasi gangguan pendengaran sebagai faktor risiko modifikasi terbesar untuk demensia pada usia paruh baya, menyumbang sekitar 7% dari total risiko populasi (Livingston dkk., 2024). Uji klinis ACHIEVE yang melibatkan 977 lansia menunjukkan bahwa intervensi pendengaran memperlambat penurunan kognitif sebesar 48% pada subkelompok berisiko tinggi dalam tiga tahun (Lin dkk., 2023).

WHO merekomendasikan skrining pendengaran rutin pada lansia, idealnya setiap 1–3 tahun, menggunakan audiometri nada murni atau kuesioner tervalidasi seperti Hearing Handicap Inventory for the Elderly (HHIE-S) sebagai penapis awal (WHO, 2021b).

Situasi dan Tantangan di Indonesia

Indonesia termasuk empat negara Asia Tenggara dengan prevalensi gangguan pendengaran tertinggi (4,6% menurut survei Multi Center Study WHO). Meski UNHS telah direkomendasikan IDAI dan Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia (PERHATI-KL), cakupannya masih terbatas pada rumah sakit tertentu. Kendala utama meliputi ketersediaan alat OAE/AABR, tenaga terlatih, sistem rujukan yang terfragmentasi, serta rendahnya kesadaran keluarga.

Kementerian Kesehatan RI mulai mengintegrasikan skrining pendengaran ke dalam paket skrining bayi baru lahir bersama congenital hypothyroidism dan skrining penglihatan untuk bayi prematur (Kemenkes, 2025). Pada tataran layanan primer, dokter umum dan bidan berperan penting dalam edukasi, deteksi awal tanda klinis, rujukan tepat waktu, serta pemantauan berkala anak-anak dengan faktor risiko.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Bagi orang tua, pastikan bayi menjalani skrining pendengaran sebelum pulang dari rumah sakit atau paling lambat pada usia 1 bulan, dan lanjutkan pemantauan tumbuh kembang bicara-bahasa. Bagi pengelola layanan kesehatan, integrasikan skrining pendengaran ke dalam alur pelayanan neonatal dan pemeriksaan kesehatan berkala pekerja. Bagi masyarakat umum, batasi paparan bising rekreasional, gunakan pelindung telinga saat diperlukan, dan periksakan pendengaran jika ada keluhan — termasuk pada anggota keluarga lansia.

Investasi sebesar USD 1,33 per kapita per tahun selama satu dekade untuk ekspansi skrining dan intervensi pendengaran diperkirakan menghasilkan keuntungan USD 16 untuk setiap USD 1 yang dikeluarkan, serta mencegah 130 juta Disability-Adjusted Life Years (DALY) secara global (WHO, 2021a). Sebuah angka yang seharusnya cukup keras untuk didengar oleh para pengambil kebijakan — dan oleh kita semua.


Daftar Referensi

American Academy of Audiology. (2011). Childhood hearing screening guidelines. American Academy of Audiology. https://www.audiology.org/practice-guideline/clinical-practice-guidelines-childhood-hearing-screening/

American Speech-Language-Hearing Association. (2023). Newborn hearing screening. ASHA Practice Portal. https://www.asha.org/practice-portal/professional-issues/newborn-hearing-screening/

Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Screening for hearing loss. U.S. Department of Health and Human Services. https://www.cdc.gov/hearing-loss-children/screening/

Chen, K. H., Su, S. B., & Chen, K. T. (2020). An overview of occupational noise-induced hearing loss among workers: Epidemiology, pathogenesis, and preventive measures. Environmental Health and Preventive Medicine, 25(1), 65. https://doi.org/10.1186/s12199-020-00906-0

GBD 2019 Hearing Loss Collaborators. (2021). Hearing loss prevalence and years lived with disability, 1990–2019: Findings from the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet, 397(10278), 996–1009. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00516-X

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2017). “Skrining” pada bayi baru lahir, yang perlu diketahui oleh orangtua. IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/

Joint Committee on Infant Hearing. (2019). Year 2019 position statement: Principles and guidelines for early hearing detection and intervention programs. Journal of Early Hearing Detection and Intervention, 4(2), 1–44. https://www.jcih.org/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Skrining bayi baru lahir. Ayosehat Kemkes. https://ayosehat.kemkes.go.id/skrining-bayi-baru-lahir

Lin, F. R., Pike, J. R., Albert, M. S., Arnold, M., Burgard, S., Chisolm, T., Couper, D., Deal, J. A., Goman, A. M., Glynn, N. W., Gmelin, T., Gravens-Mueller, L., Hayden, K. M., Huang, A. R., Knopman, D., Mitchell, C. M., Mosley, T., Pankow, J. S., Reed, N. S., … Coresh, J. (2023). Hearing intervention versus health education control to reduce cognitive decline in older adults with hearing loss in the USA (ACHIEVE): A multicentre, randomised controlled trial. The Lancet, 402(10404), 786–797. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)01406-X

Liu, Y., Huang, L., Chen, Y., & Wang, P. (2024). Global, regional, and national burden of hearing loss in children and adolescents, 1990–2021: A systematic analysis from the Global Burden of Disease Study 2021. BMC Public Health, 24, 2528. https://doi.org/10.1186/s12889-024-20010-0

Livingston, G., Huntley, J., Liu, K. Y., Costafreda, S. G., Selbæk, G., Alladi, S., Ames, D., Banerjee, S., Burns, A., Brayne, C., Fox, N. C., Ferri, C. P., Gitlin, L. N., Howard, R., Kales, H. C., Kivimäki, M., Larson, E. B., Nakasujja, N., Rockwood, K., … Mukadam, N. (2024). Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission. The Lancet, 404(10452), 572–628. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01296-0

Pawiono, Bakhtiar, A., & Soedjipto, H. D. (2019). The association of reactive oxygen species levels on noise induced hearing loss of high risk workers in Dr. Soetomo General Hospital Surabaya, Indonesia. Indian Journal of Otolaryngology and Head & Neck Surgery, 71(Suppl 2), 1148–1153. https://doi.org/10.1007/s12070-018-1345-0

World Health Organization. (2021a). World report on hearing. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240020481

World Health Organization. (2021b). Hearing screening: Considerations for implementation. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240032767

World Health Organization. (2024). Universal newborn screening: Implementation guidance. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789290211389

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar