A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pada tahun 2016, Indonesia memiliki 1.227 rumah sakit yang telah terakreditasi. Semua rumah sakit itu secara resmi telah dinilai memenuhi standar keselamatan dan mutu pelayanan. Namun dalam tahun yang sama, hanya 668 insiden keselamatan pasien yang dilaporkan secara nasional. Sebagai perbandingan, Taiwan — yang mendirikan sistem pelaporan keselamatan pasiennya pada periode yang hampir bersamaan dengan Indonesia — menerima lebih dari 50.000 laporan insiden pada tahun yang sama (Unair News, 2020).

Ada dua cara membaca angka ini. Pertama: rumah sakit Indonesia jauh lebih aman dari Taiwan sehingga insidennya sangat sedikit. Kedua: insiden tetap terjadi, tetapi sebagian besar tidak dilaporkan. Berdasarkan seluruh bukti yang tersedia, penjelasan kedua jauh lebih mendekati kebenaran — dan di sinilah paradoks terbesar akreditasi rumah sakit mulai terlihat dengan jelas.

Sertifikat Bukan Perisai

Penting untuk segera menegaskan: artikel ini bukan argumen melawan akreditasi. Akreditasi adalah mekanisme yang bernilai dan perlu. Namun ada perbedaan mendasar antara apa yang dijanjikan oleh sertifikat akreditasi dan apa yang dijamin olehnya — dan kebingungan antara keduanya bisa berbahaya.

Sertifikat akreditasi menyatakan bahwa pada saat survei dilakukan, rumah sakit tersebut dinilai telah memenuhi standar yang ditetapkan. Ia tidak menyatakan bahwa rumah sakit tersebut bebas dari risiko insiden, tidak mengalami kesalahan medis, atau bahwa setiap prosedur yang dilakukan sesuai standar setiap saat. Ini bukan kelemahan akreditasi sebagai sistem — ini adalah sifat dasar dari setiap mekanisme penilaian periodik terhadap sistem yang beroperasi secara dinamis dan kompleks.

Sejumlah tinjauan sistematis telah mengkonfirmasi ambivalensi ini. Sebuah umbrella review yang merangkum hasil-hasil tinjauan yang ada menemukan bahwa meskipun ada hubungan positif yang disarankan antara akreditasi dengan manajemen organisasi dan indikator mutu, kekhawatiran tetap ada bahwa hubungan ini tidak bersifat kausal — atau tidak bertahan dalam jangka panjang. Para peneliti juga mencatat bahwa kegagalan keselamatan tetap terjadi di rumah sakit terakreditasi, dan sejauh mana akreditasi benar-benar mempengaruhi kinerja klinis dan organisasional masih belum dipahami dengan baik (Mumford et al., 2023).

Sentinel Event: Ketika Insiden Serius Terjadi di Tempat yang “Sudah Memenuhi Standar”

Sentinel event adalah istilah teknis dalam dunia akreditasi untuk kejadian tidak terduga yang mengakibatkan kematian, cedera berat permanen, atau cedera serius pada pasien — yang tidak berkaitan dengan perjalanan alami penyakitnya. Contohnya mencakup operasi pada sisi atau pasien yang salah, benda asing yang tertinggal dalam tubuh pasca operasi, dan kesalahan pemberian obat yang mematikan.

Yang perlu dipahami adalah: sentinel event tidak hanya terjadi di rumah sakit yang tidak terakreditasi. The Joint Commission — lembaga akreditasi rumah sakit paling berpengaruh di dunia — secara eksplisit menyatakan bahwa pelaporan sentinel event oleh rumah sakit terakreditasinya bersifat sukarela, dan bahwa data yang masuk hanya mewakili sebagian kecil dari kejadian yang sesungguhnya terjadi (The Joint Commission, 2025). Artinya, sistem akreditasi yang paling mapan di dunia pun mengakui secara terbuka bahwa sentinel event adalah realita yang tidak dapat sepenuhnya dieliminasi oleh kepatuhan terhadap standar.

Mengapa? Karena akar penyebab sentinel event tidak selalu berupa pelanggaran standar. Data The Joint Commission tahun 2024 menyebut kelelahan tugas, distraksi, dan lemahnya supervisi sebagai akar penyebab yang paling sering ditemukan (frlawpa.com, 2025). Ketiga hal ini adalah masalah kondisi kerja dan budaya — bukan masalah kelengkapan dokumen atau nilai survei.

Melaporkan vs. Menyembunyikan: Paradoks yang Menipu

Salah satu temuan yang paling sering mengejutkan manajemen rumah sakit adalah ini: rumah sakit terakreditasi yang memiliki budaya keselamatan yang lebih baik justru cenderung melaporkan lebih banyak insiden — bukan lebih sedikit. Ini bukan karena mereka lebih tidak aman, melainkan karena stafnya merasa lebih aman untuk melapor tanpa takut dihukum.

Sebuah studi multisenter di Brasil menemukan bahwa rumah sakit yang tidak terakreditasi justru cenderung melaporkan lebih sedikit adverse event — dan ini diinterpretasikan bukan sebagai bukti keamanan yang lebih tinggi, melainkan sebagai tanda underreporting dan hilangnya kesempatan belajar dari insiden (Travassos et al., 2025). Temuan ini dipertegas oleh studi lain yang membandingkan rumah sakit terakreditasi dan tidak terakreditasi di Brasil: rumah sakit terakreditasi memiliki skor lebih tinggi pada keterbukaan komunikasi, frekuensi pelaporan kejadian, dan persepsi keselamatan secara keseluruhan — dan akreditasi dikaitkan dengan berkurangnya kemungkinan underreporting (Al-Surimi et al., sebagaimana dikutip dalam Meridian, 2025).

Dengan demikian, paradoks yang sesungguhnya bukan “akreditasi lulus, insiden tetap terjadi” — melainkan “angka insiden yang rendah belum tentu berarti insiden jarang terjadi.” Angka laporan yang rendah bisa berarti budaya pelaporan yang lemah: staf yang takut melapor, mekanisme pelaporan yang tidak ramah pengguna, atau kepercayaan bahwa laporan tidak akan menghasilkan perbaikan apa pun.

Situasi Indonesia sangat mencerminkan dinamika ini. Temuan penelitian dari Universitas Airlangga mengidentifikasi hambatan praktis dan budaya yang signifikan dalam pelaporan insiden di rumah sakit umum Indonesia, termasuk ketakutan terhadap konsekuensi disipliner dan ketidakpercayaan bahwa pelaporan akan membawa perubahan nyata (Unair News, 2020).

Apa yang Sebenarnya Menentukan Keselamatan Pasien?

Jika akreditasi bukan jaminan keselamatan, lalu apa yang benar-benar bermakna? Literatur ilmiah secara konsisten menunjuk ke dua hal yang jauh melampaui kepatuhan terhadap standar formal.

Yang pertama adalah budaya keselamatan yang otentik — bukan budaya yang dideklarasikan dalam poster dan dokumen kebijakan, melainkan yang terwujud dalam perilaku nyata: apakah staf junior merasa aman melaporkan kesalahan tanpa takut dihukum? Apakah dokter senior mau menerima koreksi dari perawat yang lebih junior? Apakah insiden direspons dengan investigasi sistem, bukan dengan mencari kambing hitam individu?

Yang kedua adalah penerapan prinsip-prinsip high reliability organization (HRO) — konsep yang berasal dari studi tentang industri dengan risiko tinggi namun tingkat kegagalan yang rendah secara luar biasa, seperti penerbangan sipil dan pembangkit tenaga nuklir. Organisasi dengan keandalan tinggi tidak mengandalkan tidak adanya kesalahan; mereka mengandalkan kemampuan untuk mendeteksi, mencegah eskalasi, dan belajar dari sinyal-sinyal lemah sebelum berkembang menjadi bencana. Rumah sakit yang memiliki budaya keselamatan yang kuat dan menerapkan prinsip HRO secara konsisten terbukti mengalami tingkat adverse event yang lebih rendah — dan akreditasi bisa menjadi salah satu pendorong ke arah sana, asalkan tidak diperlakukan sebagai tujuan akhir (PMC, 2025).

Sertifikat sebagai Titik Awal, Bukan Titik Akhir

Cara paling tepat untuk memaknai sertifikat akreditasi adalah sebagai konfirmasi bahwa rumah sakit telah membangun fondasi sistem yang memadai untuk beroperasi dengan aman — bukan sebagai konfirmasi bahwa rumah sakit tersebut tidak akan pernah mengalami insiden lagi. Fondasi itu perlu terus dirawat, diperkuat, dan dikembangkan setiap hari.

Yang lebih penting dari mempertahankan nilai survei adalah membangun sistem di mana setiap insiden — sekecil apa pun — dipandang sebagai informasi berharga, bukan sebagai skandal yang perlu disembunyikan. Di mana setiap anggota staf, dari petugas kebersihan hingga dokter spesialis, memiliki pemahaman dan rasa tanggung jawab yang nyata terhadap keselamatan pasien. Di mana “budaya tidak menghukum” bukan slogan di papan pengumuman, melainkan pengalaman yang benar-benar dirasakan staf lini pertama.

Keselamatan pasien bukan kondisi yang dicapai sekali lalu dipertahankan dengan sertifikat. Ia adalah proses aktif yang memerlukan kewaspadaan tanpa henti — justru karena sistem kesehatan adalah salah satu lingkungan yang paling kompleks, paling dinamis, dan paling rentan terhadap kegagalan yang pernah diciptakan manusia.


Referensi

frlawpa.com. (2025). Sentinel events: How hospitals can reduce preventable harm. https://www.frlawpa.com/sentinel-events-how-hospitals-can-reduce-preventable-harm

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.

Mumford, V., et al. (2023). Hospital accreditation: An umbrella review. PMC — PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9950788/

Suryanto, Plummer, V., & Copnell, B. (2020). Hambatan praktis dan budaya pelaporan insiden keselamatan pasien rumah sakit umum di Indonesia. Unair News. https://news.unair.ac.id/2020/04/07/hambatan-praktis-dan-budaya-pelaporan-insiden-keselamatan-pasien-rumah-sakit-umum-di-indonesia/

The Joint Commission. (2025). Sentinel event policy and procedures. https://www.jointcommission.org/en-us/knowledge-library/support-center/standards-interpretation/sentinel-event-policy-and-procedures

Travassos, C., et al. (2025). Association between hospital accreditation and healthcare providers’ perceptions of patient safety culture: A longitudinal study in a healthcare network in Brazil. PMC — PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12135554/

Urrútia, G., et al. (2021). Effect of accreditation on patient safety culture: Insights from a Brazilian multicenter cross-sectional study. Global Journal on Quality and Safety in Healthcare, 8(3). https://meridian.allenpress.com/innovationsjournals-JQSH/article/8/3/102/506998

World Health Organization. (2021). Global patient safety action plan 2021–2030: Towards eliminating avoidable harm in health care. WHO.

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar