Setiap kali sebuah rumah sakit berhasil meraih atau memperbarui akreditasinya, ada perayaan kecil yang terasa layak — foto bersama, ucapan selamat dari direksi, pengumuman di papan informasi. Yang tidak terlihat dalam foto itu adalah kondisi orang-orang yang berdiri di balik pencapaian tersebut: koordinator akreditasi yang sudah tidak pulang tepat waktu selama tiga bulan, kepala unit yang tidur lebih sedikit dari biasanya karena dokumen harus selesai malam ini, perawat yang mengerjakan dua pekerjaan sekaligus — merawat pasien dan melengkapi checklist — dengan anggaran waktu yang tidak berubah.
Burnout akibat proses akreditasi adalah biaya yang nyata, berdampak langsung pada kualitas layanan, namun hampir tidak pernah muncul dalam laporan mana pun. Ia tidak ada di baris anggaran, tidak ada di notulensi rapat direksi, dan tidak ada di laporan capaian akreditasi. Ia hanya ada di dalam diri orang-orangnya — dan itu membuatnya sangat mudah diabaikan.
Burnout Bukan Kelemahan Individu, Melainkan Respons terhadap Sistem
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk meletakkan burnout di tempat yang tepat secara konseptual. Burnout bukan sekadar “kelelahan biasa” atau tanda bahwa seseorang tidak cukup kuat menghadapi tekanan pekerjaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11) sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi — perasaan sinis dan jarak dari pekerjaan — serta berkurangnya rasa pencapaian profesional (PubMed, 2026).
Ini adalah sindrom yang lahir dari kondisi sistem, bukan dari karakter individu. Dan kondisi sistem yang diciptakan oleh siklus persiapan akreditasi — terutama yang bersifat episodik dan panik — adalah kondisi yang sangat kondusif untuk melahirkan burnout.
Apa yang Penelitian Temukan tentang Akreditasi dan Burnout
Hingga beberapa tahun terakhir, penelitian tentang dampak akreditasi terhadap kesejahteraan staf sangat jarang. Mayoritas studi tentang akreditasi berfokus pada dampaknya terhadap mutu layanan, keselamatan pasien, atau kinerja organisasi — hampir tidak ada yang meneliti apa yang terjadi pada orang-orangnya.
Salah satu studi yang mengisi kekosongan ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan di tiga rumah sakit publik dan jaringan pusat layanan kesehatan primer di Uni Emirat Arab, yang melibatkan 27 wawancara mendalam dan empat focus group dengan dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya. Temuan utamanya sangat jelas: persiapan akreditasi berkorelasi dengan meningkatnya risiko psikososial. Tenaga kesehatan menghadapi peningkatan tuntutan kerja selama proses tersebut, termasuk jam kerja yang bertambah, tempo kerja yang meningkat, tekanan waktu yang dirasakan, dan informasi yang bertentangan. Tuntutan-tuntutan ini dirasakan mempengaruhi tidak hanya kesehatan mereka, tetapi juga keluarga mereka dan perawatan pasien.
Studi longitudinal lain dengan desain cross-lagged panel yang mengikuti 121 tenaga kesehatan di rumah sakit publik mengonfirmasi hubungan kausal ini: tuntutan pekerjaan selama proses akreditasi memiliki efek langsung terhadap burnout, sementara sumber daya pekerjaan seperti dukungan sosial memprediksi keterlibatan kerja. Artinya, ketika proses akreditasi menambah beban tanpa disertai penambahan sumber daya atau dukungan yang memadai, staf yang paling terlibat dalam persiapan adalah yang paling rentan mengalami burnout.
Dan ini bukan masalah yang bisa diabaikan. Sebuah meta-analisis yang memeriksa hubungan antara burnout profesional dan kualitas serta keselamatan layanan kesehatan menemukan hubungan yang konsisten dan bermakna: ketika tenaga kesehatan mengalami kelelahan, mereka menarik energi emosional dari pekerjaan, yang mengarah ke depersonalisasi — dan kondisi ini juga dapat membuat tenaga kesehatan menghabiskan lebih sedikit waktu bersama pasien, serta lebih banyak bersikap direktif daripada kolaboratif dan berpusat pada pasien.
Dengan kata lain, burnout yang dipicu oleh persiapan akreditasi pada akhirnya berdampak pada kualitas yang sama yang ingin dijamin oleh akreditasi tersebut. Ini adalah ironi yang menyakitkan — dan ironi yang tidak terlihat dalam laporan hasil survei mana pun.
Tiga Kelompok yang Paling Rentan
Dalam ekosistem rumah sakit, ada tiga kelompok yang menanggung beban terberat dari siklus akreditasi dan karenanya paling rentan terhadap burnout.
Kelompok pertama adalah koordinator dan manajer mutu. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di persimpangan antara standar akreditasi, operasional klinis, dan ekspektasi direksi. Selama persiapan akreditasi, mereka menjadi pusat semua permintaan: memastikan dokumen lengkap, mensosialisasikan standar, mendampingi simulasi, mengoordinasikan antar unit, dan melaporkan kemajuan kepada pimpinan. Tanggung jawab mereka meluas ke semua arah sementara otoritas mereka sering tidak sebanding. Setelah survei selesai, penghargaan yang mereka terima sering kali tidak sebanding dengan kontribusi yang telah mereka berikan.
Kelompok kedua adalah kepala unit klinis. Mereka adalah manajer lini pertama yang harus memastikan standar dijalankan di unitnya sambil tetap bertanggung jawab atas operasional pelayanan harian. Selama persiapan akreditasi, mereka berada di antara dua tekanan yang tidak bisa dikurangi: pasien terus datang dan harus dilayani, sementara tuntutan dokumentasi dan kepatuhan standar terus meningkat. Separuh dari responden dalam satu studi menyoroti bahwa meskipun unit mereka sudah kekurangan staf, proses akreditasi membutuhkan staf tambahan untuk menangani jumlah dokumen yang besar.
Kelompok ketiga adalah staf klinis lini pertama — perawat, dokter jaga, dan tenaga kesehatan lain yang harus menjalankan prosedur standar akreditasi sambil merawat pasien dengan beban yang tidak berkurang. Mereka adalah yang paling sedikit dilibatkan dalam perencanaan akreditasi, paling sedikit mendapat penjelasan tentang mengapa standar itu penting, dan paling sering hanya menerima instruksi tentang apa yang harus dilakukan berbeda mulai besok.
Burnout yang Tidak Terdeteksi karena Sistemnya Tidak Mendeteksinya
Salah satu alasan mengapa burnout akreditasi begitu sering tidak terdeteksi dan tidak ditangani adalah karena sistem pelaporan mutu rumah sakit tidak dirancang untuk mendeteksinya. Indikator mutu yang dipantau adalah tentang proses klinis dan luaran pasien — bukan tentang kondisi psikologis staf yang menjalankan proses-proses tersebut. Survei budaya keselamatan yang disyaratkan STARKES memiliki domain tentang iklim keselamatan, tetapi tidak secara spesifik mengukur dampak siklus akreditasi terhadap kesejahteraan staf.
Di lingkungan kesehatan yang kekurangan sumber daya, kondisi stres yang konstan sering kali sudah dianggap biasa. Petugas kesehatan mungkin mengadopsi pola pikir “terus saja bertahan”, menginternalisasi kelelahan sebagai bagian normal dari pekerjaan. Dan ketika pemimpin organisasi juga menganggap kelelahan sebagai “respons normal terhadap hari yang berat”, sinyal burnout tidak pernah direspons sebagai masalah sistemik yang perlu diselesaikan.
Biaya yang Tidak Pernah Dihitung
Ada biaya finansial yang dapat diestimasi dari burnout — meskipun estimasinya sering tidak dilakukan di Indonesia. Di tingkat global, penelitian dari National Academy of Medicine memperkirakan burnout di kalangan tenaga kesehatan berkontribusi pada miliaran dolar kerugian melalui turnover staf, absensi, dan penurunan produktivitas. Biaya mengganti satu perawat terdaftar saja diperkirakan mencapai puluhan ribu dolar dalam konteks Amerika Serikat (Alertify, 2025) — dan meskipun angkanya berbeda di Indonesia, logika biayanya sama.
Namun ada biaya yang lebih sulit dihitung namun lebih penting: biaya terhadap kualitas layanan yang diberikan oleh staf yang kelelahan. Studi meta-analisis menemukan bahwa burnout di kalangan tenaga kesehatan secara konsisten berkorelasi dengan peningkatan angka kesalahan medis, infeksi healthcare-associated, dan memburuknya rasio mortalitas pasien di unit intensif (Salyers et al., 2017). Ini bukan statistik abstrak — ia adalah konsekuensi nyata terhadap pasien yang dirawat oleh staf yang sistem kerjanya tidak melindungi kesejahteraan mereka.
Apa yang Perlu Berubah
Mengakui burnout akreditasi sebagai masalah sistemik yang sah adalah langkah pertama yang paling penting. Ia bukan tanda lemahnya individu, bukan harga yang tak terhindarkan dari komitmen terhadap mutu, dan bukan hal yang cukup diselesaikan dengan sesi motivasi atau team building pasca-survei.
Yang diperlukan adalah perubahan pendekatan dalam bagaimana akreditasi direncanakan dan dikelola: distribusi beban yang lebih merata sepanjang siklus tiga tahun, bukan penumpukan intensif tiga bulan; pelibatan staf lini pertama dalam proses perencanaan — bukan hanya dalam pelaksanaan; pengakuan formal terhadap kontribusi tim akreditasi; dan mekanisme pemulihan yang direncanakan setelah survei selesai.
Yang paling mendasar adalah kesadaran bahwa mutu layanan kesehatan tidak bisa dipisahkan dari mutu kondisi kerja orang-orang yang memberikannya. Sertifikat akreditasi yang diraih di atas punggung orang-orang yang kelelahan adalah sertifikat yang membangun di atas fondasi yang rapuh — dan fondasi yang rapuh tidak bisa menopang mutu yang berkelanjutan.
Referensi
Alertify. (2025). Nurse burnout and noise: The hidden connection costing hospitals millions. https://www.alertify.io/nurse-burnout-and-noise-the-hidden-connection-costing-hospitals-millions/
Al-Touby, S. S., & Siddiqui, Z. M. (2023). Psychosocial safety climate moderates the effect of demands of hospital accreditation on healthcare professionals: A longitudinal study. PMC — PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10012736/
Haj-Ali, W., et al. (2020). What impact does accreditation have on workplaces? A qualitative study to explore the perceptions of healthcare professionals about the process of accreditation. Frontiers in Psychology. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7365862/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.
National Academy of Medicine. (2025). Burnout among health care professionals: A call to explore and address this underrecognized threat to safe, high-quality care. https://nam.edu/perspectives/burnout-among-health-care-professionals
PubMed. (2026). Burnout in healthcare professionals. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41773402/
Salyers, M. P., et al. (2017). The relationship between professional burnout and quality and safety in healthcare: A meta-analysis. Journal of General Internal Medicine, 32(4), 475–482. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5377877/
World Health Organization. (2019). Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. WHO.

Tinggalkan komentar