A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jika Anda baru bergabung dengan manajemen sebuah rumah sakit dan diminta memahami sistem akreditasi yang berlaku, kemungkinan besar Anda akan langsung disambut oleh serangkaian akronim yang tampak mirip namun berbeda maknanya: STARKES, KARS, LAFKI, LARS, JCI, ISQua. Masing-masing disebut dalam konteks berbeda, kadang tampak saling menggantikan, kadang tampak berjenjang. Dan tidak ada panduan singkat yang menjelaskan hubungan di antara semuanya tanpa jargon yang berlebihan.

Artikel ini adalah upaya untuk mengisi kekosongan itu — sebuah peta navigasi ekosistem akreditasi rumah sakit Indonesia yang ditulis dalam bahasa yang bisa dipahami oleh direktur, manajer, maupun staf klinis yang ingin memahami gambaran besarnya sebelum menyelami detailnya.

ISQua: Lembaga yang Mengakreditasi Para Lembaga Akreditasi

Titik paling atas dalam hierarki ini adalah The International Society for Quality in Health Care (ISQua) — sebuah organisasi internasional nirlaba yang berperan sebagai “akreditator para akreditator.” ISQua tidak mengakreditasi rumah sakit secara langsung. Ia mengakreditasi lembaga-lembaga akreditasi itu sendiri, memastikan bahwa standar dan proses yang digunakan oleh lembaga akreditasi suatu negara memenuhi prinsip-prinsip internasional yang sahih. ISQua memiliki standar tentang bagaimana mengembangkan, menulis, dan menerapkan standar akreditasi, dan menjalankan International Accreditation Programme (IAP) untuk sertifikasi atau akreditasi standar-standar tersebut.

Mengapa ini penting untuk rumah sakit Indonesia? Karena pengakuan ISQua terhadap sebuah lembaga akreditasi adalah sinyal bahwa standar dan proses lembaga tersebut setara dengan benchmark internasional. Ini yang menentukan apakah akreditasi dari suatu lembaga akan diakui oleh asuransi kesehatan internasional dan ekosistem medical tourism global. Dulu KARS memakai standar yang disusun sendiri dan belum menjadi anggota ISQua, sehingga rumah sakit Indonesia kurang mendapat kepercayaan dari asuransi asing. Inilah yang mendorong KARS untuk memperoleh sertifikasi ISQua — sebuah langkah strategis yang mengubah posisi KARS dari lembaga nasional menjadi lembaga yang diakui secara internasional.

KARS dan STARKES: Tulang Punggung Sistem Nasional

KARS — Komisi Akreditasi Rumah Sakit — adalah lembaga akreditasi paling tua dan paling dikenal di Indonesia, berdiri sejak akreditasi rumah sakit dimulai pada 1995. Ia adalah lembaga independen yang ditetapkan pemerintah untuk menjalankan fungsi akreditasi, dan hingga 2021 adalah satu-satunya pemain di lapangan ini. Kini KARS telah memperoleh tiga sertifikasi dari ISQua: untuk kelembagaan, program pelatihan surveyor, dan standar akreditasinya.

STARKES — Standar Akreditasi Rumah Sakit — adalah nama standar akreditasi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022. Ia merupakan penyempurnaan dari SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit) yang sebelumnya dikembangkan oleh KARS, dengan penyesuaian terhadap regulasi terbaru, termasuk UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023. STARKES bukan nama lembaga — ia adalah nama standarnya. Dan sejak diberlakukan, semua enam lembaga independen penyelenggara akreditasi di Indonesia wajib menggunakan standar ini sebagai dasar penilaian.

Hubungan antara KARS dan STARKES bisa dianalogikan seperti hubungan antara Badan Standarisasi dan lembaga inspeksi yang menerapkan standar tersebut: Kemenkes menetapkan standar (STARKES), lembaga-lembaga seperti KARS menerapkannya dalam proses survei.

Enam Lembaga, Satu Standar: Apa yang Membedakannya?

Sejak 2021, Indonesia memiliki enam lembaga independen penyelenggara akreditasi rumah sakit yang diakui Kemenkes: KARS, LAFKI, LARS-DHP, LARS, LAM-KPRS, dan LARSI. Semua menggunakan standar STARKES yang sama. Pimpinan rumah sakit bebas memilih lembaga mana pun, dan tidak boleh dipaksa memilih lembaga tertentu.

Jika standarnya sama, apa yang membedakan keenam lembaga ini? Secara regulatif, perbedaannya terletak pada pengalaman, rekam jejak, jumlah dan kompetensi surveyor, pendampingan yang ditawarkan, serta biaya tambahan di luar tarif survei yang telah distandardisasi Kemenkes. KARS memiliki keunggulan pengalaman terpanjang dan rekam jejak terluas, serta pengakuan ISQua yang paling lengkap. Namun lembaga lain menawarkan alternatif yang sah dan dalam beberapa kasus mungkin lebih responsif atau fleksibel dalam proses pendampingan pra-survei.

Dari perspektif manajemen, memilih lembaga akreditasi bukan hanya soal tarif — ia juga tentang kualitas pendampingan yang ditawarkan sebelum survei, konsistensi dan kompetensi surveyor yang diturunkan, serta kejelasan komunikasi selama proses berjalan.

JCI: Bukan Kompetitor, Melainkan Lapisan Tambahan

Joint Commission International (JCI) adalah divisi internasional dari The Joint Commission Amerika Serikat, dan merupakan salah satu lembaga akreditasi kesehatan paling prestisius di dunia. Lebih dari 1.000 organisasi kesehatan di lebih dari 70 negara telah memperoleh Gold Seal of Approval dari JCI (JCI, 2025).

Di Indonesia, JCI bukan pengganti atau kompetitor KARS — ia adalah lapisan tambahan untuk rumah sakit yang ingin menjangkau pasar internasional. Rumah sakit yang ingin melayani pasien BPJS Kesehatan wajib terakreditasi KARS, sementara JCI biasanya diambil oleh rumah sakit tipe A atau B yang ingin menyasar pasien internasional untuk medical tourism atau membuktikan kualitas premium.

Ada satu pelajaran penting dari pengalaman lapangan yang layak disampaikan: lulus JCI tidak otomatis berarti lulus KARS, dan sebaliknya. Ada kasus rumah sakit yang lulus akreditasi JCI tetapi ketika mengajukan akreditasi KARS, tidak lulus. Ini bukan karena salah satunya lebih rendah standarnya, melainkan karena keduanya memiliki penekanan dan pendekatan yang berbeda dalam beberapa area tertentu. JCI dikenal sangat detail dalam prosedur klinis dan tidak memberikan toleransi untuk celah sekecil apa pun dalam keselamatan pasien, sementara standar nasional memiliki kontekstualisasi yang menyesuaikan kondisi sistem kesehatan Indonesia.

Pertanyaan Strategis yang Perlu Dijawab Manajemen

Memahami ekosistem ini bukan sekadar latihan akademis — ia memiliki implikasi strategis yang nyata bagi setiap rumah sakit. Ada beberapa pertanyaan panduan yang berguna untuk manajemen dalam memosisikan pilihan akreditasi mereka.

Pertanyaan pertama: apa tujuan utama akreditasi ini? Jika tujuannya adalah memenuhi kewajiban regulasi dan kerja sama dengan BPJS Kesehatan, STARKES melalui salah satu dari enam lembaga nasional adalah jawabannya. Jika tujuannya mencakup penguatan daya saing internasional atau akses ke segmen asuransi asing, JCI atau KARS Internasional perlu dipertimbangkan.

Pertanyaan kedua: seberapa siap organisasi untuk mempertahankan standar yang lebih tinggi? JCI dikenal lebih demanding dalam implementasi harian — bukan hanya dalam persiapan survei. Memilih JCI tanpa kesiapan budaya dan sistem yang memadai bisa menjadi tekanan yang kontraproduktif.

Pertanyaan ketiga: apakah lembaga akreditasi yang dipilih memberikan nilai lebih dari sekadar sertifikat? Lembaga yang baik bukan hanya menilai — ia juga membantu rumah sakit belajar. Kualitas umpan balik, kejelasan rekomendasi perbaikan, dan kaliber surveyor yang diturunkan adalah indikator nilai yang perlu dievaluasi di luar sekadar harga.

Sebuah Ekosistem yang Terus Berkembang

Ekosistem akreditasi rumah sakit Indonesia sedang dalam fase transformasi yang bermakna. Dari sistem satu lembaga menuju sistem multi-lembaga kompetitif. Dari standar nasional yang berdiri sendiri menuju standar yang terintegrasi dengan benchmark internasional. Dari pendekatan survei periodik menuju model yang semakin mendorong continuous readiness.

Perubahan-perubahan ini membawa peluang yang nyata: rumah sakit kini memiliki lebih banyak pilihan, lebih banyak referensi untuk belajar, dan lebih banyak tekanan kompetitif yang — jika direspons dengan benar — bisa menjadi pendorong perbaikan mutu yang bermakna.

Namun peluang itu hanya akan terealisasi jika ekosistem ini dipahami dengan benar oleh mereka yang mengelola rumah sakit — bukan sebagai labirin akronim yang membingungkan, melainkan sebagai sistem yang dirancang dengan logika yang jelas untuk sebuah tujuan yang tidak berubah: layanan kesehatan yang lebih aman dan lebih bermutu bagi setiap pasien yang menaruh kepercayaannya di tangan kita.


Referensi

Irfianti, I., Utarini, A., & Djasri, H. (2011). Evaluasi akreditasi rumah sakit di Indonesia oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS): Persepsi RS dan standar ISQua [Tesis S2]. Universitas Gadjah Mada. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/158031

Joint Commission International. (2025). Hospital accreditation program. https://www.jointcommission.org/en/accreditation/hospital

KARS. (2022). Tips memilih lembaga akreditasi RS terbaik. https://kars.or.id/2022/06/03/tips-memilih-lembaga-akreditasi-rs-terbaik/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Kemenkes RI.

Mumford, V., et al. (2023). Hospital accreditation: An umbrella review. PMC — PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9950788/

rawat.id. (2025). Apa perbedaan JCI dan KARS? Mengenal lembaga akreditasi rumah sakit. https://www.rawat.id/blog/detail/perbedaan-kars-dan-jci

Sutoto. (2021). Upaya KARS menjadi lembaga akreditasi internasional. Health Policy and Management UGM. https://hpm.fk.ugm.ac.id/2021/01/26/bincang-pagi-bersama-dr-dr-sutoto-alumni-topik-upaya-kars-menjadi-lembaga-akreditasi-internasional/

Wardhani, V., et al. (2019). Hospitals accreditation status in Indonesia: Associated with hospital characteristics, market competition intensity, and hospital performance? BMC Health Services Research, 19(1), 364. https://doi.org/10.1186/s12913-019-4187-x

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar