A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan sebuah mesin penyaring yang bekerja tanpa henti, dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, selama puluhan tahun kehidupan Anda. Mesin itu adalah ginjal Anda. Namun, bagaimana jika mesin itu perlahan-lahan mulai kehilangan kemampuannya — dan Anda tidak menyadarinya sampai kerusakan sudah terlanjur parah?

Itulah yang terjadi pada penyakit ginjal kronik, atau dalam istilah medis disebut chronic kidney disease (CKD). Penyakit ini dikenal sebagai “pembunuh diam-diam” karena kerusakannya berjalan lambat, bertahap, dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas hingga fungsi ginjal turun secara signifikan. Di Indonesia, beban penyakit ini terus meningkat dan menjadi tantangan kesehatan publik yang serius.


Apa Itu Penyakit Ginjal Kronik?

Penyakit ginjal kronik didefinisikan sebagai penurunan fungsi ginjal yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan, ditandai dengan penurunan estimated glomerular filtration rate (eGFR) — yakni ukuran seberapa baik ginjal menyaring darah — di bawah 60 mL/menit/1,73 m², atau adanya tanda-tanda kerusakan struktural ginjal seperti proteinuria (protein dalam urine), meskipun eGFR masih normal.

Ginjal yang sehat memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar menyaring limbah. Organ ini juga mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, mengendalikan tekanan darah, memproduksi hormon eritropoietin untuk pembentukan sel darah merah, serta mengaktifkan vitamin D untuk kesehatan tulang. Ketika ginjal gagal menjalankan fungsi-fungsi ini, dampaknya dapat menjalar ke seluruh sistem tubuh.

Panduan klinis terkini dari Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) 2024 membagi CKD ke dalam lima stadium berdasarkan nilai eGFR, disertai kategori albuminuria (kadar albumin dalam urine) sebagai ukuran tingkat kerusakan ginjal. Stadium 1 menunjukkan fungsi ginjal yang masih normal atau meningkat (eGFR ≥ 90) namun sudah ada tanda kerusakan, sementara stadium 5 adalah gagal ginjal terminal yang membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis atau transplantasi ginjal.


Seberapa Besar Masalah Ini?

Secara global, CKD menyerang sekitar 9,1% dari total populasi dunia — artinya hampir satu dari sepuluh orang di bumi ini memiliki tingkat kerusakan ginjal tertentu. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, angka prevalensi CKD diperkirakan 15% lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju.

Di Indonesia, situasinya patut mendapat perhatian serius. Indonesia tercatat mengalami peningkatan prevalensi CKD tertinggi dalam satu dekade terakhir. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi CKD meningkat dari 0,2% pada tahun 2013 menjadi 0,3% pada tahun 2018. Namun, angka ini kemungkinan besar meremehkan prevalensi CKD yang sesungguhnya di populasi Indonesia.

Lebih mengkhawatirkan lagi, berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit ginjal dan diabetes melitus merupakan penyebab kematian ketiga terbesar di Indonesia. Jumlah pasien yang menjalani hemodialisis terus bertambah dari tahun ke tahun, menimbulkan beban besar bagi sistem kesehatan nasional dan keluarga pasien.


Siapa yang Paling Berisiko?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Beberapa kondisi medis dan gaya hidup meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan CKD secara bermakna.

Diabetes melitus adalah penyebab CKD paling umum di dunia. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang merusak pembuluh darah halus di dalam ginjal, mengganggu kemampuan penyaringan secara bertahap.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi menempati urutan kedua. Tekanan darah yang tidak terkendali merusak dinding pembuluh darah di ginjal, mengurangi aliran darah, dan mempercepat kerusakan jaringan ginjal.

Analisis data Riskesdas 2018 mengidentifikasi hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan hepatitis sebagai komorbiditas utama yang terkait dengan CKD di Indonesia, dengan hipertensi menjadi kondisi penyerta yang paling dominan, ditemukan pada 40,8% dari populasi yang diteliti.

Faktor risiko lainnya meliputi riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, usia di atas 60 tahun, obesitas, merokok, konsumsi obat-obatan yang bersifat nefrotoksik (merusak ginjal) secara berulang — termasuk obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen yang sering dikonsumsi tanpa resep dokter — serta infeksi ginjal berulang.


Mengapa Gejala Sering Tidak Disadari?

Inilah yang membuat CKD begitu berbahaya: CKD sering kali bersifat silent (diam-diam) dan pasien mungkin tidak merasakan gejala apapun pada stadium awal. Ginjal memiliki kapasitas cadangan yang luar biasa — bahkan dengan fungsi yang sudah berkurang setengahnya, seseorang bisa merasa baik-baik saja.

Gejala biasanya baru muncul ketika CKD sudah memasuki stadium lanjut. Keluhan yang mungkin dirasakan antara lain kelelahan kronis, bengkak (edema) pada kaki, pergelangan kaki, atau sekitar mata, sesak napas, mual dan kehilangan nafsu makan, sering buang air kecil terutama di malam hari, urine berbusa (tanda proteinuria), kulit gatal, serta tekanan darah yang sulit dikendalikan.


Bagaimana CKD Didiagnosis?

Deteksi dini adalah kunci. Pemeriksaan yang direkomendasikan untuk menilai fungsi ginjal meliputi dua tes sederhana yang mudah dikerjakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sekalipun:

Pertama, pemeriksaan kreatinin darah untuk menghitung nilai eGFR menggunakan persamaan yang telah tervalidasi. Panduan KDIGO 2024 merekomendasikan penggunaan persamaan eGFR yang telah divalidasi, bukan hanya mengandalkan kadar penanda filtrasi dalam darah semata.

Kedua, pemeriksaan rasio albumin-kreatinin urine (UACR) untuk mendeteksi albuminuria. Kehadiran albumin dalam urine adalah penanda kerusakan ginjal yang sensitif dan sering mendahului penurunan eGFR.

Kedua pemeriksaan ini harus dilakukan setidaknya dua kali dalam rentang tiga bulan untuk mengonfirmasi diagnosis CKD, guna menyingkirkan kemungkinan gangguan ginjal akut yang bersifat sementara.

Program skrining CKD yang komprehensif, menargetkan populasi berisiko tinggi termasuk mereka yang menderita diabetes, stroke, penyakit jantung, hepatitis, serta laki-laki, individu dengan gaya hidup kurang aktif, dan mereka dengan tingkat pendidikan rendah, sangat penting untuk deteksi dini CKD di Indonesia.


Penatalaksanaan: Memperlambat Kerusakan, Bukan Sekadar Mengobati

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat memulihkan fungsi ginjal yang sudah rusak secara permanen. Namun, banyak yang dapat dilakukan untuk memperlambat laju kerusakan, mengurangi komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Modifikasi Gaya Hidup

Langkah pertama dan paling fundamental adalah perubahan gaya hidup. Pengendalian tekanan darah ke target di bawah 120 mmHg sistolik pada pasien dengan proteinuria terbukti memperlambat progresi penyakit. Pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes, diet rendah garam, pengurangan konsumsi protein hewani berlebihan, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, dan aktivitas fisik yang teratur merupakan pilar-pilar non-farmakologis yang tidak boleh diabaikan.

Terapi Farmakologis Konvensional

Obat-obatan penghambat sistem renin-angiotensin-aldosteron, yakni golongan ACE inhibitor (seperti ramipril, lisinopril) atau ARB (angiotensin receptor blocker, seperti valsartan, irbesartan), sudah lama menjadi standar tata laksana CKD. Obat-obatan ini tidak hanya menurunkan tekanan darah, tetapi juga secara langsung melindungi ginjal dari kerusakan lebih lanjut dengan mengurangi tekanan di dalam glomerulus (unit penyaring ginjal) dan menekan albuminuria.

Era Baru: Terapi Pelindung Ginjal yang Revolusioner

Satu dekade terakhir menyaksikan lahirnya terapi-terapi baru yang mengubah wajah penatalaksanaan CKD secara fundamental.

Saat ini, dunia nefrologi tengah memasuki era yang belum pernah ada sebelumnya dengan hadirnya terapi-terapi baru, termasuk penghambat sodium-glucose cotransporter-2 (SGLT-2), agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1), dan antagonis reseptor mineralokortikoid nonsteroid, yang telah terbukti dalam berbagai uji klinis acak mampu mengurangi progresi CKD sekaligus morbiditas dan mortalitas kardiovaskular.

SGLT-2 inhibitor — seperti dapagliflozin dan empagliflozin — yang awalnya dikembangkan sebagai obat diabetes, ternyata memiliki efek perlindungan ginjal yang sangat kuat. SGLT-2 inhibitor terbukti dalam uji klinis acak mampu mengurangi risiko gagal ginjal sekitar 30 hingga 40%. Lebih menggembirakan lagi, efek perlindungan ini juga berlaku pada pasien CKD yang tidak menderita diabetes.

Finerenone, antagonis reseptor mineralokortikoid nonsteroidal generasi baru, memberikan manfaat tambahan pada pasien CKD dengan diabetes tipe 2 yang masih memiliki albuminuria meskipun sudah mendapat terapi standar.

Agonis reseptor GLP-1, seperti semaglutide dan dulaglutide, kini ditempatkan sebagai “pilar keempat” perlindungan ginjal dan jantung, bersama penghambat sistem renin-angiotensin, SGLT-2 inhibitor, dan finerenone. Data terkini menunjukkan bahwa golongan obat ini dapat mencegah timbulnya albuminuria dan memperlambat penurunan eGFR pada pasien diabetes tipe 2.

Panduan KDIGO merekomendasikan pendekatan bertahap: penghambat sistem renin-angiotensin dan SGLT-2 inhibitor sebagai terapi lini pertama, dengan GLP-1 reseptor agonis dan antagonis mineralokortikoid nonsteroid sebagai tambahan untuk perlindungan kardiorenal yang lebih kuat.

Terapi Pengganti Ginjal

Pada stadium 5 atau gagal ginjal terminal, terapi pengganti ginjal menjadi tak terelakkan. Pilihan yang tersedia meliputi hemodialisis (cuci darah melalui mesin), dialisis peritoneal (cuci darah menggunakan selaput perut), dan transplantasi ginjal — yang hingga kini merupakan terapi terbaik dari sisi kualitas hidup dan harapan hidup jangka panjang.


Pesan untuk Kita Semua

Penyakit ginjal kronik bukan hanya urusan orang lanjut usia atau mereka yang sudah memiliki penyakit penyerta. Siapa pun yang memiliki faktor risiko — diabetes, hipertensi, atau riwayat keluarga dengan penyakit ginjal — perlu proaktif memeriksakan fungsi ginjalnya secara berkala.

Dua pemeriksaan sederhana — kadar kreatinin darah untuk menghitung eGFR, dan rasio albumin-kreatinin dalam urine — sudah cukup untuk mendeteksi CKD sejak dini. Di era Jaminan Kesehatan Nasional, kedua pemeriksaan ini dapat diakses melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Ginjal yang sehat adalah investasi kesehatan seumur hidup. Jangan tunggu hingga ginjal “menyerah” sepenuhnya baru kita bertindak.


Daftar Referensi

Hustrini, N. M. (2023). Chronic kidney disease care in Indonesia: Challenges and opportunities. Acta Medica Indonesiana, 55(1), 1–3.

Hustrini, N. M., Susalit, E., & Rotmans, J. I. (2022). Prevalence and risk factors for chronic kidney disease in Indonesia: An analysis of the National Basic Health Survey 2018. Journal of Global Health, 12, 04074. https://doi.org/10.7189/jogh.12.04074

Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. (2024). KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease. Kidney International, 105(4S), S117–S314. https://doi.org/10.1016/j.kint.2023.10.016

Navaneethan, S. D., & Zoungas, S. (2024). Evaluation and management of chronic kidney disease: Synopsis of the Kidney Disease: Improving Global Outcomes 2024 clinical practice guideline. Annals of Internal Medicine, 177(6), 793–805. https://doi.org/10.7326/ANNALS-24-01926

National Kidney Foundation. (2024). New medications for type 2 diabetes and kidney disease: SGLT2 inhibitors, finerenone, and GLP-1 RA. https://www.kidney.org/news-stories/game-changing-medications-kidney-disease-and-type-2-diabetes

Piperidou, A., & Sarafidis, P. (2024). GLP-1 receptor agonists and diabetic kidney disease: A game changer in the field? International Journal of Molecular Sciences, 25(22), 12426. https://doi.org/10.3390/ijms252212426

Rossing, P., Caramori, M. L., Chan, J. C. N., Heerspink, H. J. L., Hurst, C., Khunti, K., Liew, A., Michos, E. D., Navaneethan, S. D., Olowu, W. A., Sadusky, T., Tandon, N., Tuttle, K. R., Wanner, C., Wilkens, K. G., Zoungas, S., de Boer, I. H., & Cherney, D. Z. I. (2023). KDIGO 2022 clinical practice guideline for diabetes management in chronic kidney disease. Kidney International, 102(5S), S1–S127.

Salihovic, S., Ariza-Vioque, L., Van der Meer, S. J., Hoorn, E. J., Bökenkamp, A., Massy, Z. A., & Ferro, C. J. (2025). KDIGO 2024 clinical practice guideline on evaluation and management of chronic kidney disease: A commentary from the European Renal Best Practice (ERBP). Nephrology Dialysis Transplantation, 40(2), 273–282. https://doi.org/10.1093/ndt/gfae209

Tomson, C. R. V., Cheung, A. K., Mann, J. F. E., Chang, T. I., Cushman, W. C., Furth, S. L., Hou, F. F., Ix, J. H., Knoll, G., Muntner, P., Pecoits-Filho, R., Sarnak, M., Tobe, S. W., Lytvyn, L., Craig, J. C., Tunnicliffe, D. J., Howell, M., Tonelli, M., Cheung, M., & Bakris, G. L. (2023). Executive summary of the KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease: Known knowns and known unknowns. Kidney International, 105(4), 684–701. https://doi.org/10.1016/j.kint.2023.10.016

Yusriadi, Y., Ernawati, Baeha, A. W. T., & Zulkifli, Z. (2023). Chronic kidney disease in Indonesia: Evidence from a national health survey. Osong Public Health and Research Perspectives, 14(2), 121–129.

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar