A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pukul dua dini hari. Seorang ibu baru menggendong bayinya yang baru berusia enam minggu sambil mondar-mandir di lorong rumah. Bayi itu sudah kenyang, popoknya bersih, tubuhnya tidak demam — namun tangisannya tidak berhenti, bahkan semakin keras. Kedua kaki kecil itu terangkat ke atas perut, tangan mengepal rapat, wajah memerah seperti tomat. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikannya. Kondisi seperti ini dialami oleh jutaan keluarga di seluruh dunia setiap malam, dan para dokter menyebutnya dengan satu istilah: kolik infantil.

Apa Sebenarnya Kolik Infantil?

Kolik infantil bukan sekadar bayi rewel atau manja. Kolik infantil adalah gangguan fungsional gastrointestinal yang umum terjadi pada bayi dalam beberapa bulan pertama kehidupan mereka, dengan gejala utama berupa periode menangis, rewel, atau iritabilitas yang berulang dan berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas, serta tidak dapat dicegah atau diredakan oleh pengasuh.

Secara klinis, diagnosis kolik mengacu pada Kriteria Roma IV yang ditetapkan pada 2016. Kriteria ini mencakup: bayi berusia kurang dari 5 bulan saat gejala dimulai dan berhenti; periode menangis, rewel, atau iritabilitas yang berulang dan dilaporkan oleh pengasuh, terjadi tanpa penyebab yang jelas, dan tidak dapat diredakan; serta tidak ada bukti gagal tumbuh, demam, atau penyakit pada bayi.

Dalam praktik klinis sehari-hari di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kondisi ini sebagai “sindrom 4 bulan” karena umumnya terjadi pada bayi berusia 2 minggu hingga 4 bulan. Kolik infantil terjadi pada 5–25% bayi, terutama pada 4 bulan pertama kehidupan. Bayi dengan kolik umumnya tetap tumbuh dengan baik dan berat badannya naik sesuai usianya.

Mengapa Bayi Bisa Mengalami Kolik?

Pertanyaan ini telah membingungkan para ilmuwan selama lebih dari setengah abad. Meskipun patofisiologinya belum sepenuhnya dipahami, terapi yang tersedia umumnya menargetkan gejala gastrointestinal. Namun, riset-riset terkini mulai membuka cakrawala pemahaman yang lebih luas.

Ketidakseimbangan Mikrobioma Usus

Salah satu temuan paling menarik dalam satu dekade terakhir adalah peran microbiome atau ekosistem mikroba usus. Penelitian komposisi dan variabilitas fungsional microbiome usus pada anak dengan kolik infantil menemukan adanya perbedaan signifikan dibandingkan bayi sehat, yang mengarah pada kondisi dysbiosis. Dengan kata lain, bayi dengan kolik memiliki “komunitas bakteri usus” yang tidak seimbang — kadar bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus lebih rendah, sementara bakteri patogen lebih dominan.

Sumbu Otak-Usus yang Belum Matang

Wawasan baru tentang peran sumbu otak-usus (brain-gut axis) dan microbiome dalam patofisiologi gangguan fungsional gastrointestinal mulai membuka peluang pemahaman yang lebih baik dan strategi terapeutik yang lebih terarah. Sistem saraf enterik bayi — yang sering disebut sebagai “otak kedua” di dalam usus — masih dalam proses pematangan, sehingga rentan terhadap gangguan regulasi.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Sebuah studi besar berbasis populasi nasional dari Taiwan yang dipublikasikan tahun 2026 memberikan gambaran komprehensif tentang faktor risiko kolik. Kolik infantil secara signifikan berkaitan dengan penggunaan antibiotik pada periode neonatal, persalinan sesar, penyakit atopik pada ibu, gangguan depresi mayor pada ibu, dan sindrom iritabel usus pada ibu. Temuan ini menegaskan bahwa kolik bukan sekadar “masalah perut bayi”, melainkan kondisi yang dipengaruhi oleh kesehatan ibu sejak masa kehamilan.

Faktor Lain yang Berkontribusi

Sejumlah faktor lain yang diduga memicu kolik infantil meliputi sistem pencernaan yang masih berkembang, overstimulasi sensorik, temperamen bayi yang lebih sensitif, kesulitan bersendawa setelah menyusu, serta paparan asap rokok — baik selama kehamilan maupun setelah bayi lahir. Intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi juga perlu dipertimbangkan, khususnya jika kolik disertai gejala lain seperti regurgitasi berlebihan atau tanda-tanda alergi.

Kolik Bukan Sekadar “Fase yang Akan Lewat”

Banyak yang menganggap kolik sebagai kondisi ringan yang akan sembuh sendiri. Namun, penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa kolik mungkin merupakan sinyal awal kerentanan biologis yang perlu diperhatikan.

Sekitar 1 dari 4 bayi mengalami tangisan berkepanjangan atau kolik selama tiga bulan pertama kehidupan. Sebagian besar studi menunjukkan adanya hubungan antara kolik infantil dan munculnya gangguan fungsional gastrointestinal bertahun-tahun kemudian, kemungkinan besar terkait dengan faktor etiopatogenetik yang sama seperti lingkungan, diet, dismotilitas usus, dan hipersensitivitas viseral.

Lebih mengkhawatirkan lagi, anak-anak dengan riwayat kolik menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi untuk gangguan interaksi otak-usus, termasuk konstipasi, diare, sindrom iritabel usus, dan gangguan nyeri abdomen fungsional lainnya. Selain itu, ditemukan peningkatan risiko attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dengan hazard ratio 3,15, serta penyakit atopik.

Tampaknya juga terdapat hubungan antara kolik infantil dan munculnya sakit kepala tipe migrain di kemudian hari.

Dampak pada Orang Tua

Kolik bukan hanya berdampak pada bayi. Stresor eksternal seperti konflik keluarga, tekanan finansial, dan kurangnya dukungan sosial dapat memperburuk kolik sekaligus meningkatkan risiko gangguan psikologis di kemudian hari. Tingginya stres dalam rumah tangga dapat memengaruhi persepsi bayi terhadap sinyal emosional, yang berujung pada peningkatan tangisan dan penderitaan. Tidak sedikit ibu yang mengalami depresi pascapersalinan akibat tidak mampu menenangkan tangisan bayinya yang berkepanjangan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Hingga saat ini, tidak ada satu terapi tunggal yang terbukti efektif untuk semua kasus kolik. Penanganan bersifat multifaset dan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing bayi.

Pendekatan Non-Farmakologis

Langkah pertama adalah menenangkan diri sendiri sebagai orang tua. Bayi sangat peka terhadap kecemasan pengasuhnya. Beberapa langkah praktis yang bisa dicoba meliputi menggendong dan mengayun bayi dengan lembut, skin-to-skin contact, bedong dengan kain lembut, suara “shushing” yang menenangkan, serta memastikan bayi bersendawa dengan baik setelah menyusu.

Perawatan kolik infantil meliputi pola pengasuhan dengan interaksi yang baik, memberikan pola makan yang teratur, serta memberikan pelukan dan kenyamanan saat bayi menangis.

Peran Probiotik: Bukti Terkuat Sejauh Ini

Di antara berbagai pendekatan farmakologis dan suplementasi, probiotik Lactobacillus reuteri terbukti mengurangi durasi menangis dan rewel pada bayi yang disusui dengan kolik, meskipun penggunaannya pada bayi yang diberi susu formula masih belum jelas manfaatnya.

Kelompok probiotik rata-rata menunjukkan waktu menangis dan/atau rewel yang lebih singkat dibandingkan kelompok plasebo pada semua titik waktu pemantauan. Selain mengurangi tangisan bayi, pemberian L. reuteri DSM 17938 juga dikaitkan dengan perbaikan kesehatan mental ibu, dinilai menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale.

Suplementasi Laktase: Bukti Masih Terbatas

Bagi bayi yang diduga mengalami defisiensi laktase sebagai komponen koliknya, dari enam uji klinis terkontrol acak yang melibatkan 394 pasien, tiga di antaranya melaporkan waktu menangis yang lebih singkat secara signifikan pada kelompok laktase dibandingkan plasebo, sementara tiga lainnya tidak menemukan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Dengan kata lain, buktinya masih inkonsisten dan penggunaannya perlu dipertimbangkan kasus per kasus.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika bayi masih menunjukkan gejala kolik setelah usia 4 bulan, jika bayi demam, terus-menerus menolak makan atau minum, mengalami muntah berlebihan, buang air kecil terlalu sedikit, buang air besar berdarah, atau menunjukkan perubahan perilaku seperti lesu atau berkurangnya daya tanggap. Sekitar 5% kolik infantil disebabkan oleh gangguan organik yang membutuhkan penanganan medis spesifik, bukan sekadar observasi.

Perspektif yang Perlu Diubah

Kolik infantil sering kali diremehkan sebagai “fase normal” bayi. Namun, akumulasi bukti ilmiah menunjukkan bahwa kondisi ini adalah pintu masuk untuk memahami kesehatan jangka panjang anak. Penelitian mendatang tentang kolik infantil perlu berfokus pada peran microbiome dalam patofisiologi dan kemungkinan pengobatannya, pengembangan metode objektif untuk mengukur keparahan kolik, serta penetapan strategi penanganan berbasis bukti yang lebih kuat.

Bagi orang tua yang saat ini sedang berjuang menemani bayi mereka yang kolik — ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian, dan tangisan tengah malam itu bukan bukti kegagalan Anda sebagai orang tua. Namun juga jangan abaikan: perhatian dini, dukungan yang tepat, dan konsultasi medis yang proaktif adalah investasi terbaik untuk kesehatan si kecil di masa depan.


Referensi

Indrio, F., Dargenio, V. N., Francavilla, R., Szajewska, H., & Vandenplas, Y. (2023). Infantile colic and long-term outcomes in childhood: A narrative synthesis of the evidence. Nutrients, 15(3), 615. https://doi.org/10.3390/nu15030615

Kozhakhmetov, S., Meiirmanova, Z., Mukhanbetzhanov, N., Jarmukhanov, Z., Vinogradova, E., Mureyev, S., … & Kushugulova, A. (2023). Compositional and functional variability of the gut microbiome in children with infantile colic. Scientific Reports, 13, 9388. https://doi.org/10.1038/s41598-023-36641-z

Kozłowska-Jalowska, A., Stróżyk, A., Horvath, A., & Szajewska, H. (2024). Evaluating the impact of lactase supplementation on infant colic: Study protocol for a systematic review of randomized controlled trials. JPGN Reports, 5(1), e12024. https://doi.org/10.1002/jpr3.12024

Liao, F. M., Chen, Y. T., Shen, S. P., Jung, C. R., Chen, A. C., Wu, S. F., … & Lin, H. C. (2026). Risk factors and long-term outcomes of infantile colic: A nationwide population-based study. Scientific Reports, 16, 3024. https://doi.org/10.1038/s41598-025-34646-4

Nau, A. L., Andreolla Beber, A. P., & Coral, G. P. (2024). Lactase for infantile colic: A systematic review of randomized clinical trials. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, 79(1), 89–97. https://doi.org/10.1002/jpn3.12231

Sung, V., D’Amico, F., Cabana, M. D., Chau, K., Koren, G., Savino, F., … & Tancredi, D. (2018). Lactobacillus reuteri to treat infant colic: A meta-analysis. Pediatrics, 141(1), e20171811. https://doi.org/10.1542/peds.2017-1811

Vandenplas, Y., Benninga, M., Broekaert, I., Falconer, J., Gottrand, F., Guarino, A., … & Tabbers, M. (2022). Functional gastro-intestinal disorder algorithms focus on early recognition, parental reassurance, and nutritional strategies. Acta Paediatrica, 111(9), 1787–1800. https://doi.org/10.1111/apa.16375

Zeevenhooven, J., Browne, P. D., L’Hoir, M. P., de Weerth, C., & Benninga, M. A. (2017). Infant colic: Mechanisms and management. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 15(8), 479–496. https://doi.org/10.1038/s41575-017-0081-7

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2015). Kolik pada bayi (Bagian 1). https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-1


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan masyarakat. Konsultasikan kondisi bayi Anda dengan dokter atau dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar