Ringkasan singkat: Laporan status kanker global terbaru WHO memaparkan gambaran yang mengejutkan: satu dari lima orang di dunia akan didiagnosis kanker sepanjang hidupnya, dan hampir seluruh populasi bumi—92%—akan merasakan dampaknya, entah sebagai pasien atau anggota keluarga yang merawat. Namun peluang bertahan hidup ternyata jauh lebih ditentukan oleh di mana seseorang tinggal dibanding jenis atau stadium kankernya sendiri.
Bayangkan dua perempuan didiagnosis kanker payudara pada hari yang sama, dengan stadium yang persis sama. Yang satu tinggal di Jepang, yang satu di negara berpenghasilan rendah di Afrika. Lima tahun kemudian, peluang yang pertama untuk masih hidup lebih dari 85%. Peluang yang kedua? Bisa jatuh di bawah 45%. Bukan biologi tumornya yang berbeda—melainkan sistem kesehatan yang menampung mereka.
Inilah pesan inti dari Global Status Report on Cancer 2026: The Future We Choose Together, laporan komprehensif yang baru dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC). Sebagai pembaruan dari laporan pertama WHO tahun 2020, dokumen setebal 280 halaman ini memotret bagaimana dunia bergerak—atau gagal bergerak—dalam mengendalikan penyakit yang kini menjadi penyebab utama kematian dini di banyak negara, bahkan melampaui penyakit jantung pada kelompok usia 30–69 tahun (WHO, 2026).
Beban yang Membesar, Ketimpangan yang Melebar
Pada tahun 2024, tercatat 20,6 juta kasus kanker baru di seluruh dunia—9,9 juta pada laki-laki dan 9,6 juta pada perempuan (WHO, 2026). Angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 35 juta kasus per tahun pada 2050. Beban ekonomi kumulatif kanker antara tahun 2020 hingga 2050 diperkirakan setara dengan pajak tahunan sekitar 0,55% dari produk domestik bruto global.
Kanker menjadi penyebab utama kematian dini di 41 negara, penyebab kedua di 37 negara, dan penyebab ketiga di 47 negara lainnya pada tahun 2021. Hanya 12 negara yang berada di jalur untuk mencapai target penurunan kematian dini akibat kanker sebesar sepertiga pada 2030, sementara 48 negara justru mengalami peningkatan angka kematian dini akibat beban kanker yang terus bertambah. Target ini merujuk pada Sustainable Development Goal (SDG) 3.4, yang menargetkan penurunan sepertiga kematian dini akibat penyakit tidak menular—termasuk kanker—pada 2030.
Dampak kanker jauh melampaui angka statistik pasien itu sendiri. Ketika dampak diagnosis kanker terhadap anggota keluarga terdekat turut dihitung, sekitar 92% populasi dunia akan terdampak kanker setidaknya sekali seumur hidup mereka. Survei global WHO tentang pengalaman hidup penyintas kanker mengungkap sisi manusiawi dari angka-angka ini: lebih dari separuh responden melaporkan gangguan kesehatan mental akibat kanker, sedikitnya 45% mengalami kesulitan finansial, dan hampir semua caregiver atau pendamping pasien melaporkan tekanan berupa layanan tanpa upah, kesedihan berkepanjangan, hingga isolasi sosial. Sekitar separuh pasien dan keluarganya kini mengalami pengeluaran kesehatan yang bersifat katastropik—biaya yang begitu besar hingga mengancam stabilitas finansial rumah tangga.
Kesenjangan yang Terjadi di Setiap Tahap Perjalanan Kanker
Laporan ini menyusun status implementasi pengendalian kanker global ke dalam beberapa domain, dan hasilnya menunjukkan pola yang konsisten: kesenjangan besar antara kebijakan yang dibuat dan layanan yang benar-benar sampai ke masyarakat.
Pencegahan. Pengendalian tembakau menjadi salah satu kisah sukses relatif. Implementasi kebijakan pengendalian tembakau di bawah kerangka WHO Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) berkontribusi pada penurunan prevalensi penggunaan tembakau sebesar 27% sejak 2010, meski penerapan paket kebijakan MPOWER masih belum lengkap di banyak negara. Sebaliknya, obesitas dan kurangnya aktivitas fisik justru memburuk—hampir tidak ada negara yang berhasil membalikkan tren kenaikan obesitas.
Vaksinasi dan deteksi dini kanker serviks. Ini adalah salah satu area dengan kemajuan paling nyata sekaligus kesenjangan paling mencolok. Sebanyak 85% negara telah mengintegrasikan vaksinasi human papillomavirus (HPV) ke dalam program imunisasi nasional mereka, namun cakupan dosis pertama vaksin HPV pada anak perempuan baru mencapai 31% secara global—jauh dari target 90% pada 2030, meski meningkat pesat dari 17% pada 2019. Ironisnya, Kawasan Asia Tenggara (SEARO)—tempat Indonesia berada—justru mencatat sebagian besar capaian tertinggi untuk indikator lain: 91% negara di Kawasan Asia Tenggara memiliki cakupan skrining kanker serviks yang tinggi menurut salah satu indikator yang diukur, jauh di atas rata-rata kawasan lain—sebuah anomali positif yang layak digali lebih jauh, meski cakupan vaksinasi HPV pada anak perempuan di kawasan ini tercatat baru 56% menurut data terbaru.
Akses pengobatan. Hanya 28% negara yang memasukkan paket minimal manajemen kanker ke dalam paket manfaat jaminan kesehatan universal mereka, yang berarti sebagian besar populasi dunia masih belum memiliki akses ke layanan kanker dasar. Bahkan ketika pengobatan tersedia, biaya kantong pribadi yang tinggi menyebabkan kesulitan finansial berat dan berkontribusi pada hingga 90% pasien yang tidak mampu menyelesaikan pengobatan secara tepat di sejumlah wilayah. Untuk obat kemoterapi dan terapi target, kesenjangannya lebih tajam lagi: ketersediaan obat kanker di rumah sakit hanya berkisar 9–54% di negara berpenghasilan rendah, dibanding 68–94% di negara berpenghasilan tinggi.
Perawatan paliatif. Ini barangkali angka paling menyayat dari seluruh laporan: dari sekitar 73 juta orang yang membutuhkan perawatan paliatif setiap tahun, hanya 14% yang benar-benar menerimanya. Kesenjangan antarkawasan pun tajam—layanan paliatif terkonsentrasi di Amerika dan Eropa, sementara Afrika hanya memiliki sebagian kecil kapasitas yang dibutuhkan.
Bagaimana Posisi Indonesia?
Laporan ini turut menyoroti langkah Indonesia dalam eliminasi kanker serviks. Melalui Komitmen Nasional Eliminasi Kanker Serviks, Indonesia menargetkan perluasan skrining dan tata laksana kanker serviks hingga mencakup 75% perempuan usia 30–69 tahun pada 2030, disertai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan perluasan layanan diagnostik (WHO, 2026). Langkah ini sejalan dengan apresiasi WHO dan UNFPA terhadap upaya Indonesia mempercepat strategi vaksinasi dan skrining kanker serviks (WHO, 2024).
Dari sisi pembiayaan, laporan ini juga menempatkan Indonesia di antara negara berpenghasilan menengah-bawah dengan belanja obat kanker per kapita yang masih rendah dibanding negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, atau Malaysia—sebuah gambaran yang konsisten dengan tantangan pembiayaan kesehatan yang lebih luas dalam sistem BPJS Kesehatan, khususnya untuk penyakit katastropik seperti kanker.
Tujuh Rekomendasi untuk Masa Depan Bersama
Sebagai penutup, laporan ini tidak berhenti pada diagnosis masalah. WHO merumuskan tujuh rekomendasi yang dikelompokkan dalam tiga pergeseran paradigma (WHO, 2026):
- Kapabilitas yang lebih baik — menjadikan rencana pengendalian kanker nasional (national cancer control plans/NCCP) sebagai katalis aksi strategis dalam kerangka jaminan kesehatan universal, serta memperkuat kapasitas sistem kesehatan untuk layanan kanker yang terintegrasi.
- Perlindungan yang lebih baik — melibatkan penyintas dan pendamping pasien dalam setiap pengambilan keputusan terkait kanker, serta memperkuat promosi kesehatan berbasis komunitas dan perlindungan sosial.
- Nilai yang lebih baik — menyelaraskan data kanker global secara transparan, menyatukan agenda kanker berbasis kesetaraan, dan mengarahkan riset serta inovasi agar sejalan dengan kebutuhan layanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Mengapa Ini Penting bagi Kita di Indonesia
Bagi tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas layanan di Indonesia, laporan ini adalah pengingat bahwa pengendalian kanker bukan sekadar soal ketersediaan teknologi kedokteran mutakhir. Ia soal sistem: registrasi kanker yang andal untuk perencanaan, jalur rujukan yang jelas dari deteksi dini ke tata laksana, ketersediaan obat esensial di fasilitas primer hingga rujukan, dan—yang sering terlupakan—dukungan psikososial serta paliatif yang menjangkau pasien sejak awal, bukan hanya di ujung perjalanan penyakit.
Ketimpangan yang digambarkan laporan ini bukan sekadar isu global yang jauh. Ia hidup dalam kesenjangan antara fasilitas kesehatan di kota besar dan di daerah, antara pasien dengan jaminan kesehatan yang memadai dan yang tidak, antara mereka yang terdeteksi di stadium dini dan yang datang saat sudah terlambat. The future we choose together—masa depan yang kita pilih bersama—dimulai dari keputusan-keputusan kecil di tingkat fasilitas dan kebijakan lokal, jauh sebelum ia menjadi statistik global berikutnya.
Daftar Pustaka (APA)
World Health Organization. (2026). Global status report on cancer 2026: The future we choose together. World Health Organization. https://iris.who.int
World Health Organization. (2024, November 15). WHO, UNFPA commend Indonesia’s efforts to eliminate cervical cancer, urge streamlined vaccine strategy and enhanced screening. https://www.who.int/indonesia/news/detail/15-11-2024-who–unfpa-commend-indonesia-s-efforts-to-eliminate-cervical-cancer–urge-streamlined-vaccine-strategy-and-enhanced-screening

Tinggalkan komentar