Di sebuah kampung di Fakfak, Papua Barat, seorang anak berusia delapan tahun didapati memiliki benjolan menonjol menyerupai buah rasberi di tungkainya. Warga sekitar sempat menganggapnya sekadar bisul atau infeksi kulit biasa. Namun setelah tim investigasi dari dinas kesehatan turun ke lapangan, hasil tes cepat menunjukkan reaktif terhadap Treponema—dan dalam dua minggu setelah menerima satu dosis azitromisin, luka khas itu benar-benar sembuh (World Health Organization [WHO] Indonesia, 2023). Kasus semacam ini adalah pengingat bahwa frambusia—penyakit kuno yang sudah dikenal ribuan tahun sebelum Masehi—masih menjejakkan diri di sejumlah kantong wilayah Indonesia timur, meski sebagian besar masyarakat kini nyaris tidak pernah mendengar namanya.

Bakteri Sepupu Sifilis yang Tidak Menular Lewat Hubungan Seksual

Frambusia adalah infeksi kulit kronis yang disebabkan bakteri spiral Treponema pallidum subspesies pertenue. Secara genetik, bakteri ini berkerabat dekat dengan bakteri penyebab sifilis, namun berbeda dari sifilis, frambusia sama sekali tidak ditularkan melalui hubungan seksual (World Health Organization, Regional Office for South-East Asia [WHO SEARO], 2026).

Hampir seluruh kasus frambusia terjadi pada anak di bawah 15 tahun, dengan puncak insidensi pada usia 6–10 tahun. Penyakit ini terutama menyerang kulit, dan bila dibiarkan tanpa pengobatan dapat merambat ke tulang rawan dan tulang. Kabar baiknya, frambusia dapat disembuhkan hanya dengan satu dosis azitromisin oral, dan pengobatan pada tahap dini dapat mencegah kecacatan jangka panjang.

Penularannya terjadi melalui kontak kulit-ke-kulit dengan orang yang memiliki lesi frambusia aktif, masuk lewat luka atau lecet kecil di kulit. Bakteri ini hanya menginfeksi manusia—tidak ada reservoir hewan. Masa inkubasinya berkisar 9–90 hari, rata-rata 21 hari, dengan kemiskinan, sanitasi air yang buruk, dan higiene personal yang rendah menjadi faktor yang memudahkan penyebarannya.

Tiga Babak Perjalanan Penyakit

Perjalanan klinis frambusia terbagi dalam tiga tahap. Frambusia primer dimulai sebagai papiloma—benjolan yang tumbuh keluar dengan permukaan berbenjol atau menyerupai kutil—di titik masuk bakteri, dikenal sebagai “mother yaw” atau induk frambusia. Tanpa pengobatan, papiloma ini dapat berulkus dengan dasar merah dan tepi meninggi, kadang menyerupai buah rasberi atau kembang kol.

Frambusia sekunder muncul beberapa minggu hingga bulan setelah lesi primer, ditandai kemunculan lesi baru serupa yang disebut “daughter yaws” atau anak frambusia, terjadi ketika bakteri menyebar lewat darah dan getah bening. Pada tahap ini, pasien dapat mengalami penebalan kulit telapak tangan dan kaki, bahkan nyeri serta bengkak pada tulang panjang dan jari (dactylitis).

Frambusia tersier, yang kini jarang terlihat berkat pengobatan efektif, dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal pada sebagian kecil pasien, menyebabkan kerusakan wajah dan deformitas tulang bila benar-benar terjadi.

Diagnosis: Ketika Uji Cepat Tak Bisa Membedakan Frambusia dari Sifilis

Diagnosis terutama didasarkan pada gambaran klinis lesi kulit, didukung uji serologis. Di lapangan, konfirmasi dilakukan menggunakan tes cepat Dual Path Platform (DPP® Syphilis Screen and Confirm Assay)—tes yang sama juga digunakan untuk sifilis, sehingga sayangnya tidak dapat membedakan keduanya. Karena itu, interpretasi hasil pada orang dewasa yang tinggal di wilayah endemik frambusia perlu penilaian klinis yang cermat.

Tes DPP membaca dua garis: garis pertama mendeteksi antibodi terhadap Treponema (menunjukkan infeksi aktif atau masa lalu), sementara garis kedua mendeteksi biomarker yang dilepaskan saat sel tubuh rusak akibat Treponema, mengindikasikan kemungkinan infeksi aktif. Kombinasi kedua garis ini membantu membedakan kasus aktif yang butuh pengobatan dan berpotensi menular, dari infeksi lama atau sudah diobati yang tidak lagi menular. Kewaspadaan diagnostik ini penting karena sekitar 40% ulkus yang secara klinis dikira frambusia ternyata disebabkan bakteri lain, terutama Haemophilus ducreyi (WHO SEARO, 2026).

Satu Dosis, Sembuh Total

Tata laksana frambusia tergolong sederhana dan sangat efektif: azitromisin oral dosis tunggal 30 mg/kg (maksimal 2.000 mg untuk berat badan ≥50 kg), atau benzatin penisilin injeksi intramuskular (1,2 juta unit untuk dewasa, 600.000 unit untuk anak, diulang setelah dua minggu) bagi yang tidak dapat menerima azitromisin. Bagi pasien dengan alergi terhadap penisilin dan azitromisin, doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama tujuh hari menjadi alternatif. Yang penting, anggota rumah tangga dan kontak erat pasien juga perlu diobati meskipun tanpa gejala, karena strategi ini menjadi kunci memutus rantai penularan di tingkat komunitas.

Strategi Eradikasi: Dari Total Community Treatment hingga Total Targeted Treatment

Karena tidak ada vaksin untuk frambusia, strategi eradikasi WHO berfokus pada deteksi dan pengobatan dini. Pendekatan pertama, total community treatment (TCT), memberikan azitromisin dosis tunggal kepada seluruh penduduk di wilayah endemik frambusia tanpa memandang status gejala. Setelah kampanye awal ini, setiap kasus baru beserta kontaknya—termasuk anggota keluarga, teman dekat, teman sekolah, dan teman bermain—menerima pengobatan melalui pendekatan yang disebut total targeted treatment (TTT).

Frambusia di Indonesia: Antara Kemajuan dan Kantong yang Masih Tersisa

Indonesia diyakini memiliki jumlah kasus frambusia tertinggi di Asia Tenggara, dengan 185 kasus dilaporkan pada 2021 dan prevalensi berdasarkan pemeriksaan serologis di berbagai wilayah berkisar 20–120 per 100.000 penduduk usia 1–15 tahun (Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2024). Penyakit ini diatur secara khusus melalui Permenkes Nomor 8 Tahun 2017 tentang Eradikasi Frambusia (Ojs Perdoski, 2024).

Kabar baiknya, tren jangka panjang menunjukkan penurunan signifikan. Pada 2021, sertifikasi eradikasi frambusia telah diberikan kepada 55 kabupaten/kota, dengan total kasus yang dilaporkan tahun itu sebanyak 185 kasus, sebagian besar berasal dari Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (Kementerian Kesehatan RI, t.t.). Pada 2024, angka kasus baru bahkan turun menjadi 69 kasus, dengan sebaran serupa terkonsentrasi di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Tengah (Antara News, 2024). Sejumlah kabupaten/kota di luar Jawa dan Sumatra, seperti Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Jakarta Barat, Kota Bengkulu, Salatiga, Kendal, Blitar, dan Madiun, bahkan telah menerima sertifikat bebas frambusia, disusul Provinsi Sulawesi Selatan yang meraih status serupa di tingkat provinsi (Kementerian Kesehatan RI, t.t.-b).

Pada Agustus 2024, Kemenkes bersama WHO dan mitra utama memulai kajian ranah nasional pertama di kawasan Asia Tenggara yang menanggulangi frambusia bersamaan dengan kusta dan filariasis limfatik—menandai babak akhir dari upaya eliminasi ketiga penyakit kulit tropis terabaikan ini secara terintegrasi (WHO Indonesia, 2024). Dukungan teknis WHO juga menyasar penguatan sistem investigasi kasus di lapangan, seperti yang terjadi di Kabupaten Gunung Kidul dan Fakfak, di mana pengenalan teknologi PCR untuk mengonfirmasi frambusia lewat deteksi DNA pada lesi kulit turut direncanakan guna memantau resistensi azitromisin (WHO Indonesia, 2023).

Namun tantangan tetap ada. Sebuah studi edukasi kesehatan di sebuah sekolah dasar menemukan bahwa murid-murid belum pernah menerima edukasi kesehatan tentang frambusia dan sama sekali tidak mengenal penyakit ini (Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2024)—sebuah gambaran kecil namun mencerminkan tantangan lebih besar: rendahnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit yang secara statistik memang semakin langka, tetapi belum sepenuhnya hilang, terutama di kantong-kantong endemik Indonesia timur yang secara geografis sulit dijangkau layanan kesehatan rutin.

Ulkus Buruli: Sepupu yang Jarang Terdengar

Buku pegangan WHO SEARO turut menyertakan kotak informasi tentang ulkus Buruli, penyakit kulit tropis terabaikan lain yang disebabkan Mycobacterium ulcerans—bakteri penghasil toksin mycolactone yang merusak kulit dan jaringan lunak. Penyakit ini biasanya dimulai sebagai pembengkakan atau nodul tanpa nyeri, umumnya di anggota gerak, dan dapat berkembang menjadi ulkus besar dengan tepi bergaung serta kehilangan kulit yang signifikan bila dibiarkan. Minimnya rasa nyeri meski lesinya parah sering kali menunda diagnosis. Ulkus Buruli paling banyak dilaporkan di Afrika Barat dan Tengah, meski kasus juga pernah teridentifikasi di Australia, Amerika Selatan, dan Jepang, dengan cara penularan pasti yang masih belum sepenuhnya dipahami (WHO SEARO, 2026).

Mengapa Tenaga Kesehatan Lini Depan Tetap Perlu Waspada

Frambusia mengajarkan pelajaran penting tentang penyakit yang “hampir hilang”: justru pada tahap mendekati eliminasi, setiap kasus yang tersisa menjadi jauh lebih krusial untuk ditemukan dan diobati tuntas, karena satu kasus yang terlewat berpotensi memicu penularan baru di komunitas yang sudah lama dianggap bebas frambusia. Bagi tenaga kesehatan di Indonesia timur khususnya, mengenali benjolan menyerupai rasberi pada anak-anak bukan sekadar soal diagnosis dermatologis, melainkan bagian dari upaya besar menutup babak terakhir sejarah panjang penyakit kuno ini di bumi Nusantara.


Referensi

Antara News. (2024, 6 Maret). Indonesia fokus eliminasi lima dari 11 penyakit tropis terabaikan. https://www.antaranews.com/berita/3998433/indonesia-fokus-eliminasi-lima-dari-11-penyakit-tropis-terabaikan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (t.t.). Sejumlah penyakit tropis ini harus diwaspadai. https://kemkes.go.id/id/sejumlah-penyakit-tropis-ini-harus-diwaspadai

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (t.t.-b). 9 wilayah berhasil capai eradikasi frambusia dan eliminasi kusta. https://kemkes.go.id/id/9-wilayah-berhasil-capai-eradikasi-frambusia-dan-eliminasi-kusta

Ojs Perdoski. (2024). Perkembangan terkini manifestasi klinis frambusia. Media Dermato-Venereologica Indonesiana. https://ojs.perdoski.id/index.php/mdvi/article/view/338

Universitas Muhammadiyah Purwokerto. (2024). Upaya pencegahan frambusia dengan edukasi eliminasi frambusia pada anak dan keluarga. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 8(2).

World Health Organization, Regional Office for South-East Asia. (2026). Integrated approach to management of skin-related neglected tropical diseases and common skin conditions: A practical handbook for health-care workers. WHO. ISBN 978-92-9280-002-4.

World Health Organization Indonesia. (2023, 2 Mei). Memperkuat sistem surveilans penyakit tropis terabaikan: Dukungan WHO untuk investigasi kasus frambusia di Gunung Kidul dan Fakfak. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/02-05-2023-strengthening-the-ntd-surveillance-system–who-support-for-yaws-case-investigation-in-gunung-kidul-and-fak-fak-districts

World Health Organization Indonesia. (2024, 10 Oktober). Indonesia launches final push to eliminate lymphatic filariasis, leprosy and yaws. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/10-10-2024-indonesia-launches-final-push-to-eliminate-lymphatic-filariasis–leprosy-and-yaws

Catatan transparansi: Angka kasus frambusia Indonesia yang dikutip berasal dari kombinasi siaran pers Kemenkes RI dan WHO Indonesia periode 2021–2024; belum ditemukan data resmi kasus frambusia untuk 2025–2026 pada saat artikel ini disusun. Prevalensi serologis 20–120 per 100.000 anak berasal dari kajian regional non-jurnal peer-review bereputasi tinggi dan sebaiknya diverifikasi silang dengan data Dinkes provinsi setempat sebelum dikutip untuk keperluan klinis atau kebijakan.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] Perhatikan kata “frambusia” pada dua baris tengah. Tes treponema tidak membedakan sifilis dari frambusia, sehingga di wilayah endemik frambusia interpretasi memerlukan penilaian klinis yang cermat. Topik ini dibahas di artikel Bukan Sekadar Bisul: Mengurai Frambusia. […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca