Menjelang magrib di sebuah apotek di Palembang, seorang ayah mengulurkan resep dokter untuk dua anaknya yang demam tinggi sejak dua hari lalu. Di luar, langit berwarna jingga keabu-abuan; asap kebakaran lahan sudah berhari-hari menggantung rendah di atas kota. Apoteker menggeleng sambil meminta maaf: oseltamivir yang tertulis di resep itu kosong. Apotek kedua, ketiga, dan keempat memberi jawaban yang sama. Sang ayah pulang membawa parasetamol dan satu pertanyaan yang mengganjal: apakah anak-anaknya akan baik-baik saja tanpa obat itu?
Adegan tersebut rekaan untuk keperluan edukasi, tetapi polanya nyata. Dalam beberapa hari terakhir, curahan pasien yang kesulitan mencari oseltamivir di apotek dan rumah sakit ramai di media sosial hingga Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ikut angkat bicara (IDN Times, 2026). Pemerintah meminta warga tidak panic buying; warga menjawab bahwa rak-rak memang sudah kosong. Siapa yang benar? Menurut saya, keduanya sebagian benar, dan di situlah persoalannya.

Membaca Angkanya dengan Tenang
Kementerian Kesehatan mencatat positivity rate influenza sebesar 56% pada minggu ke-38 tahun 2026: 148 dari 265 spesimen surveilans sentinel dinyatakan positif, dengan virus dominan influenza A(H1N1)pdm09 (Kementerian Kesehatan RI, 2026). Angka ini terdengar menakutkan, tetapi perlu dibaca dengan benar. Itu adalah proporsi hasil positif di antara spesimen pasien bergejala yang diperiksa di lokasi sentinel, bukan proporsi penduduk yang sedang sakit. Sebagai pembanding, akumulasi sepanjang 2026 hingga minggu ke-38 menunjukkan 1.527 spesimen positif dari 8.757 pemeriksaan (sekitar 17%), lebih rendah daripada 24% pada 2025 (Suleha, 2026).
Menurut Kemenkes, kenaikan pada September hingga akhir tahun mengikuti pola musiman yang berulang (CNN Indonesia, 2026). Kelompok usia 0–4 tahun menyumbang 42% kasus influenza yang terdeteksi pada minggu ke-36 (ANTARA, 2026), dan pada periode itu tidak tercatat kasus positif yang memerlukan perawatan ICU (Periskop.id, 2026). Adapun “super flu” H3N2 subclade K yang sempat ramai, istilah awam yang tidak dikenal dalam nomenklatur resmi, hanya ditemukan 22 kali pada 2026 dibandingkan 166 kali pada 2025, tanpa tambahan kasus baru sejak April (Suleha, 2026).
| Indikator | Angka | Sumber |
|---|---|---|
| Positivity rate sentinel, minggu ke-38 | 56% (148 dari 265 spesimen) | Kemenkes (2026) |
| Positivity rate kumulatif 2026 hingga minggu ke-38 | 17% (1.527 dari 8.757); pada 2025: 24% | Suleha (2026) |
| Subtipe dominan | A(H1N1)pdm09 | Kemenkes (2026) |
| Proporsi usia 0–4 tahun, minggu ke-36 | 42% | ANTARA (2026) |
| Temuan H3N2 subclade K | 22 (2026) dibandingkan 166 (2025) | Suleha (2026) |
| Distribusi oseltamivir oleh Kemenkes | 196 rumah sakit | Suleha (2026) |
Artinya, gelombang ini nyata, tetapi belum ada indikasi bahwa ia luar biasa. Itu tidak berarti kita boleh lengah: data surveilans hanya menangkap sebagian kasus, dan dinamika musim dapat berubah.
Kemarau Panjang, Asap, dan Saluran Napas yang Sudah Lelah
Flu tahun ini tiba di panggung yang sudah penuh. BMKG menyebut El Niño 2026 berada pada kategori kuat, dengan indeks Niño3.4 di atas +2 °C dan Indian Ocean Dipole fase positif, sehingga puncak kemarau pada Agustus–September berlangsung lebih kering daripada normal (Good News from Indonesia, 2026). El Niño diprakirakan bertahan hingga awal 2027 (iNews, 2026), dan September masih disebut fase kritis kebakaran hutan dan lahan (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [BMKG], 2026).
Dampaknya terasa di paru-paru warga. Per 27 Agustus 2026, Kemenkes mencatat kebakaran hutan dan lahan berdampak pada tujuh provinsi dengan sekitar 10,67 juta penduduk terdampak, sementara ISPU Kota Pontianak menyentuh 328, kategori berbahaya (Sindonews, 2026). Sepanjang Juli–Agustus, tercatat kumulatif 50.891 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota terdampak, termasuk 12.600 kasus pada balita; peningkatan ISPA bahkan tidak hanya terjadi di sekitar titik api (Riyandanu, 2026).
Perlu kehati-hatian di sini. ISPA adalah payung besar, bukan sinonim influenza, dan saya tidak menemukan data terbuka yang memisahkan seberapa besar lonjakan influenza berkaitan langsung dengan asap. Yang berikut ini adalah hipotesis saya, bukan temuan: asap membuat batuk, sesak, dan mata perih sulit dibedakan dari gejala flu; keluarga lebih cepat cemas; fasilitas kesehatan menerima lebih banyak kunjungan; dan kecemasan itu mencari pelampiasan pada satu hal yang tampak konkret, yakni sebutir kapsul antivirus. Bagi warga di luar zona asap pun, BMKG mengingatkan bahwa kadar PM2,5 umumnya lebih tinggi pada malam hingga pagi hari, sehingga waktu beraktivitas di luar ruang layak disesuaikan (Jannah, 2026).
Apa Kata Bukti tentang Oseltamivir
Oseltamivir bekerja dengan menghambat enzim neuraminidase pada virus influenza sehingga virus sulit menyebar dari sel ke sel. Ulasan Cochrane yang menelaah laporan studi klinis lengkap menemukan bahwa pada orang dewasa sehat, oseltamivir mempercepat meredanya gejala pertama sekitar 16,8 jam (dari rata-rata 7 hari menjadi 6,3 hari), tanpa efek bermakna terhadap angka rawat inap, dan dengan tambahan risiko mual serta muntah (Jefferson et al., 2014). Dalam konferensi pers Kemenkes, seorang ahli farmakologi memaparkan meta-analisis pada sekitar 2.500 anak rawat jalan dengan influenza tanpa komplikasi: durasi sakit hanya lebih pendek rata-rata 18 jam dibandingkan plasebo, dengan risiko muntah 1,6 kali lebih tinggi (Suleha, 2026).
Namun, menyimpulkan bahwa oseltamivir “tidak berguna” adalah salah kaprah. Pedoman klinis WHO tahun 2024 menetapkan rekomendasi berdasarkan derajat penyakit dan risiko perburukan: oseltamivir untuk influenza berat, dan baloxavir untuk pasien non-berat yang berisiko tinggi berkembang menjadi berat, idealnya dalam 48 jam sejak gejala (World Health Organization, 2024; Vandvik et al., 2026). CDC Amerika Serikat pun menempatkan oseltamivir sebagai pilihan utama bagi pasien rawat inap dan penyakit berat, dan pada saat pasokan menipis menyarankan agar antivirus diprioritaskan bagi pasien berisiko paling tinggi, sedangkan pasien sehat dengan influenza ringan dapat ditangani dengan perawatan suportif (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2022). Sejalan dengan itu, Kemenkes menegaskan bahwa antivirus diindikasikan bagi kasus berat yang membutuhkan oksigen serta kelompok rentan: balita di bawah 5 tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita komorbid, dan pasien dengan sistem imun lemah (Suleha, 2026).
Obat yang langka ibarat pelampung di kapal yang jumlahnya terbatas. Pertanyaannya bukan apakah pelampung itu berguna, melainkan siapa yang harus memakainya lebih dulu.
| Kelompok pasien | Posisi antivirus | Catatan |
|---|---|---|
| Rawat inap atau influenza berat (misalnya sesak dan butuh oksigen) | Prioritas tertinggi | Dimulai sesegera mungkin (CDC, 2022; Suleha, 2026) |
| Berisiko tinggi: balita, lansia, ibu hamil, komorbid, imun lemah | Dipertimbangkan dokter | Idealnya dalam 48 jam sejak gejala (Vandvik et al., 2026) |
| Sehat dengan gejala ringan | Umumnya tidak diperlukan | Istirahat dan cairan cukup; penyakit cenderung sembuh sendiri (Suleha, 2026) |
Wajar Panik, tetapi Menimbun Bukan Perlindungan
Kepanikan orang tua yang anaknya demam di tengah udara pekat sangat manusiawi. Meski begitu, memborong dan menyimpan oseltamivir “untuk berjaga-jaga” membawa tiga kerugian yang nyata:
- Merampas stok dari yang paling membutuhkan. Pasien rawat inap dan kelompok rentan bersaing dengan mereka yang hanya ingin punya cadangan di lemari.
- Efek samping tanpa manfaat yang jelas. Pada orang sehat dengan gejala ringan, manfaatnya kecil sementara risiko mual dan muntah tetap ada (Jefferson et al., 2014; Suleha, 2026).
- Risiko resistansi. Pemakaian tanpa indikasi medis dikhawatirkan membuat virus kurang sensitif terhadap antivirus, sehingga pilihan obat berkurang ketika wabah yang lebih berat datang (CNBC Indonesia, 2026; IDN Times, 2026).
Kemenkes sendiri meminta masyarakat tidak membeli atau menyimpan oseltamivir tanpa resep dokter (CNBC Indonesia, 2026).
Tetapi Ini Bukan Salah Warga Semata
Menyebut kelangkaan ini sebagai “ulah panic buying” terlalu menyederhanakan. Belum ada data terbuka yang menunjukkan seberapa besar porsi penimbunan dibandingkan keterlambatan pasokan. Yang ada justru sinyal sisi pasokan: dokter spesialis anak sudah melaporkan antivirus ini sulit ditemukan dalam liputan media tahun lalu (Hypeabis, 2025), dan Kemenkes mengakui pengadaan dilakukan paralel lewat produksi dalam negeri serta jalur impor khusus untuk mengatasi keterlambatan produsen lokal (Suleha, 2026). Dua pesan yang tampak bertentangan, “situasi terkendali” dan “obat kosong di apotek”, mudah menggerus kepercayaan; dan ketika kepercayaan turun, orang menyelamatkan dirinya sendiri lebih dulu.
Pola ini juga bukan khas Indonesia. Malaysia mengalami kekurangan obat flu pada Oktober 2025 setelah lonjakan permintaan akibat kenaikan kasus di kawasan (Free Malaysia Today, 2025), dan CDC pernah mengeluarkan imbauan khusus tentang prioritas oseltamivir saat ketersediaannya menurun (CDC, 2022). Pelajaran dari Meksiko pada pandemi H1N1 2009 patut dicatat: perkiraan kebutuhan antivirus semestinya berbasis kriteria distribusi dan peresepan yang jelas, bukan sekadar jumlah stok (Gutiérrez-Mendoza et al., 2012). Menurut saya, panic buying lebih tepat dibaca sebagai gejala; penyakitnya ada pada komunikasi risiko dan ketahanan rantai pasok.
Apa yang Bisa Dilakukan
Di tingkat keluarga
- Kenali tanda bahaya pada Gambar 1. Bila ada balita, lansia, ibu hamil, atau anggota keluarga dengan penyakit kronis yang mengalami gejala flu, segera konsultasi ke dokter, jangan menunggu memburuk.
- Jangan membeli, menyimpan, atau meminta resep antivirus “berjaga-jaga”. Kemenkes menegaskan obat ini diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter (Suleha, 2026).
- Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat: cuci tangan dengan sabun, etika batuk dan bersin, masker di keramaian atau saat sakit, serta vaksinasi influenza tahunan (Suleha, 2026).
- Di wilayah berasap, kurangi aktivitas luar ruang terutama pada malam hingga pagi hari saat PM2,5 cenderung lebih tinggi (Jannah, 2026).
Di tingkat layanan kesehatan dan kebijakan
- Menyampaikan kriteria prioritas peresepan dan informasi ketersediaan stok secara terbuka dan berkala, sehingga dokter, apoteker, dan pasien bekerja dengan acuan yang sama.
- Menyelaraskan pesan komunikasi: mengakui kelangkaan yang dialami warga sambil menjelaskan langkah perbaikan pasokan, alih-alih hanya menyatakan situasi terkendali.
- Menguatkan peran apoteker dan puskesmas dalam memilah kebutuhan berdasarkan resep dan indikasi, serta memantau pola resistansi seiring peningkatan penggunaan.
Butir-butir di tingkat kebijakan ini adalah pendapat saya berdasarkan pelajaran yang terdokumentasi, bukan kutipan dari kebijakan resmi tertentu.
Penutup: Tenang Bukan Berarti Abai
Kemenkes memperkirakan tren kasus dapat mulai menurun setelah melewati puncak musiman (BRTV, 2026), sementara El Niño dan risiko kabut asap diprakirakan masih menyertai kita hingga awal tahun depan. Dalam situasi seperti ini, sikap yang paling melindungi keluarga bukan memiliki sebanyak mungkin kapsul di rumah, melainkan tahu kapan cukup beristirahat, kapan harus menemui dokter, dan kapan harus bergegas ke IGD. Obat langka sebaiknya sampai lebih dulu ke tangan yang paling membutuhkannya. Bila anak Anda demam dan udara di luar pekat, tarik napas dulu, lalu periksa tanda bahayanya.
Catatan Transparansi
Artikel opini ini disusun pada 30 September 2026 berdasarkan rilis Kemenkes dan liputan media yang mengutip Kemenkes serta BMKG tertanggal 22 Juli hingga 29 September 2026; angka dapat berubah. Ilustrasi pembuka bersifat rekaan untuk edukasi. Angka positivity rate 56% (sentinel mingguan) dan 17% (kumulatif) adalah dua ukuran berbeda. Meta-analisis pada anak (sekitar 2.500 pasien, selisih 18 jam) disampaikan narasumber dalam konferensi pers dan dilaporkan media; studi primernya tidak disebutkan sehingga saya perlakukan sebagai kutipan sekunder. Ulasan Cochrane 2014 cukup lama dan menuai perdebatan; pedoman WHO 2024 dirujuk melalui ringkasan BMJ 2026 (daftar penulis dipersingkat karena hanya sebagian yang dapat diverifikasi), dan saya tidak menelaah teks penuh pedoman tersebut. Saya juga tidak menemukan pedoman tata laksana influenza nasional yang dapat dirujuk langsung untuk artikel ini; pembaca klinisi disarankan memeriksa panduan terbaru Kemenkes dan organisasi profesi. Hubungan langsung antara asap kebakaran dan influenza belum dibuktikan oleh data yang saya temukan; ISPA tidak sama dengan influenza. Klaim penimbunan berasal dari pernyataan pemerintah dan liputan media, bukan data stok. Daftar tanda bahaya pada Gambar 1 mengacu pada CDC, bukan dokumen Kemenkes. Tanggal terbit Hypeabis (2025) tidak dapat diverifikasi presisi. Gambar unggulan dibuat dengan kecerdasan buatan. Artikel ini bukan pengganti konsultasi medis.
Ringkasan
Kasus influenza meningkat mengikuti pola musiman, di tengah kemarau El Niño dan kabut asap yang membebani saluran napas. Oseltamivir memang langka, tetapi bukti menunjukkan obat ini paling bermanfaat bagi pasien berat dan kelompok berisiko. Memborongnya justru merugikan yang paling membutuhkan. Langkah paling berguna adalah mengenali tanda bahaya, bukan menimbun obat.
Daftar Pustaka
ANTARA. (2026, 24 September). Influenza A naik di Indonesia, kenali gejala dan cara mencegahnya. https://www.antaranews.com/berita/5756373/influenza-a-naik-di-indonesia-kenali-gejala-dan-cara-mencegahnya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2026, 7 September). Dampak El Niño masih perlu diwaspadai, BMKG perkuat dukungan pengendalian karhutla. https://www.bmkg.go.id/berita/dampak-el-nino-masih-perlu-diwaspadai-bmkg-perkuat-dukungan-pengendalian-karhutla
BRTV. (2026, 29 September). Kasus influenza naik pada September 2026, ini cara melindungi anak. https://brtv.co.id/kasus-influenza-naik-pada-september-2026-ini-cara-melindungi-anak/
Centers for Disease Control and Prevention. (2022, 15 Desember). Health Alert Network health advisory: Treatment of influenza with reduced availability of oseltamivir. https://stacks.cdc.gov/view/cdc/122761
Centers for Disease Control and Prevention. (2024, 26 Agustus). Signs and symptoms of flu. https://www.cdc.gov/flu/signs-symptoms/index.html
CNBC Indonesia. (2026, 29 September). Influenza A lagi naik, Kemenkes ingatkan jangan asal borong obat. https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260929084738-33-771641/influenza-a-lagi-naik-kemenkes-ingatkan-jangan-asal-borong-obat
CNN Indonesia. (2026, 29 September). Kemenkes ungkap influenza naik, ini cara cegah pada anak. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260929095221-255-1409357/kemenkes-ungkap-influenza-naik-ini-cara-cegah-pada-anak
Free Malaysia Today. (2025, 24 Oktober). More stock of flu med next month after surge in cases. https://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2025/10/24/more-stock-of-flu-med-next-month-after-surge-in-cases
Good News from Indonesia. (2026, 11 Agustus). Puncak kemarau 2026 diprediksi Agustus–September, saatnya bersiap hadapi cuaca kering. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/08/11/puncak-kemarau-2026-diprediksi-agustus-september-saatnya-bersiap-hadapi-cuaca-kering
Gutiérrez-Mendoza, L. M., Schwartz, B., Méndez de Lira, J. J., & Wirtz, V. J. (2012). Oseltamivir storage, distribution and dispensing following the 2009 H1N1 influenza outbreak in Mexico. Bulletin of the World Health Organization, 90(10), 782–787. https://doi.org/10.2471/BLT.11.101733
Hypeabis. (2025). Antivirus oseltamivir langka, penanganan virus influenza A andalkan vitamin & sistem imun. https://hypeabis.id/read/53714/antivirus-oseltamivir-langka-penangangan-virus-influenza-a-andalkan-vitamin-sistem-imun
IDN Times. (2026, 29 September). Oseltamivir untuk influenza A langka, Menkes: Tak sembarangan dipakai. https://www.idntimes.com/news/indonesia/oseltamivir-untuk-influenza-a-langka-menkes-tak-sembarangan-dipakai-00-481xk-xcbzhs
iNews. (2026, 11 September). El Nino bertahan hingga 2027, BMKG ungkap 7 wilayah paling rawan karhutla. https://www.rctiplus.com/news/detail/inews/5470492/el-nino-bertahan-hingga-2027–bmkg-ungkap-7-wilayah-paling-rawan-karhutla
Jannah, R. (2026, 22 Juli). BMKG ingatkan ancaman kualitas udara memburuk saat kemarau dan El Nino, masyarakat diminta waspada. NU Online. https://www.nu.or.id/nasional/bmkg-ingatkan-ancaman-kualitas-udara-memburuk-saat-kemarau-dan-el-nino-masyarakat-diminta-waspada-nI7de
Jefferson, T., Jones, M. A., Doshi, P., Del Mar, C. B., Hama, R., Thompson, M., Spencer, E. A., Onakpoya, I., Mahtani, K. R., Nunan, D., Howick, J., & Heneghan, C. J. (2014). Neuraminidase inhibitors for preventing and treating influenza in healthy adults and children. Cochrane Database of Systematic Reviews, (4), CD008965. https://doi.org/10.1002/14651858.CD008965.pub4
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 28 September). Kemenkes: Kasus influenza meningkat, tetapi masih dalam rentang kewaspadaan. https://www.kemkes.go.id/eng/kemenkes-kasus-influenza-meningkat-tetapi-masih-dalam-rentang-kewaspadaan
Periskop.id. (2026, 24 September). Kasus influenza naik, Kemenkes sebut masih terkendali, H1N1 dominan. https://periskop.id/kesehatan/20260924/kasus-influenza-naik-kemenkes-sebut-masih-terkendali-h1n1-dominan
Riyandanu, M. F. (2026, 1 September). Asap karhutla picu 50.891 kasus ISPA di 63 kabupaten/kota. Katadata. https://katadata.co.id/berita/nasional/6a96be066eef0/asap-karhutla-picu-50891-kasus-ispa-di-63-kabupatenkota
Sindonews. (2026, 29 Agustus). Karhutla picu 13.449 kasus ISPA, Kemenkes kerahkan ratusan tenaga kesehatan. https://www.rctiplus.com/news/detail/sindonews/5461738/karhutla-picu-13-449-kasus-ispa–kemenkes-kerahkan-ratusan-tenaga-kesehatan
Suleha, Y. (2026, 29 September). Jangan asal borong obat pas batuk pilek! Kemenkes: Oseltamivir cuma buat flu berat. Medcom.id. https://www.medcom.id/gaya/fitness-health/ybJdPoBK-jangan-asal-borong-obat-pas-batuk-pilek-kemenkes-oseltamivir-cuma-buat-flu-berat
Vandvik, P. O., Agarwal, A., Rylance, J., et al. (2026). Summary of WHO clinical practice guidelines for influenza. BMJ, 392, e087397. https://doi.org/10.1136/bmj-2025-087397
World Health Organization. (2024). Clinical practice guidelines for influenza. https://www.who.int/publications/i/item/9789240097759





Tinggalkan Balasan