Orang-orang di Stronsay tidak menyebut namanya tanpa menyelipkan doa sesudahnya. Aku pernah menganggap itu takhayul pulau kecil, kebiasaan orang yang terlalu lama memandang laut. Sekarang aku menyebut doa itu setiap kali menuang air ke ambang pintu, dan tanganku tidak pernah lagi berhenti gemetar.

Namaku Maren Flett. Tahun itu usiaku empat puluh satu, dan suamiku, Ayre, sudah dua musim terbaring di tanah gereja dengan paru-paru yang penuh garam. Tinggal aku, anakku Tomas yang berumur sembilan tahun, seekor kuda betina tua bernama Bess, dan sebidang pantai berbatu di sisi timur pulau tempat kami membakar rumput laut.

Pekerjaan itu baru dikenal di Orkney sejak zaman kakekku. Tuan tanah membeli abu rumput laut dengan harga yang tak pernah kami pahami, dan para pemungut sewa datang tiap Martinmas membawa buku catatan yang tak pernah kami lihat isinya. Kami memotong tangle di surut terendah, menjemurnya di batu, lalu menumpuknya dalam lubang berlapis tanah liat dan membakarnya sampai menjadi bubur abu yang mengeras seperti batu hitam. Asapnya tebal, kuning, dan berbau seperti sesuatu yang mati di dasar parit. Asap itu menempel pada rambut, pada pakaian, pada roti yang kami makan. Kata orang tua-tua, asap itu juga menempel pada hal lain.

“Jangan bakar sesudah ekuinoks,” kata Ibu Ayre dulu, ketika ia masih hidup dan masih mau bicara denganku. “Mither o’ the Sea hanya menahannya selama musim panas. Kalau daun mulai menguning, ia lepas.”

Aku mengangguk waktu itu, sebagaimana orang mengangguk pada nasihat yang tidak sanggup ia bayar.

Tahun itu sewa naik. Musim panas basah dan tangle yang kami kumpulkan tak mau kering. Pada hari-hari pertama Oktober, ketika angin sudah berganti arah dan langit membawa warna timah, aku masih berdiri di tepi lubang pembakaran dengan garpu kayu di tangan, mengaduk bubur abu yang menggelegak, berkata pada diriku sendiri bahwa satu minggu tak akan mengubah apa pun.

Bess yang pertama tahu.

Pagi ketiga sesudah pembakaran terakhir, aku menemukannya berdiri diam di sudut kandang dengan kepala menunduk. Matanya tertutup selaput putih, dan dari lubang hidungnya meleleh sesuatu yang lengket dan berbau manis, seperti buah yang terlalu matang. Ia tak mau makan. Ia tak mau minum. Ketika kuusap lehernya, kulitnya terasa panas dan licin, dan bulu-bulunya rontok menempel di telapak tanganku dalam gumpalan-gumpalan kecil.

Tetangga kami, Old Isbister, datang menjenguk menjelang siang. Ia berdiri lama di ambang kandang tanpa masuk, menatap Bess, lalu menatapku.

“Kau membakar sesudah ekuinoks.”

“Sewa,” kataku.

Ia tidak menjawab. Ia hanya meludah ke tanah, menggumamkan sesuatu yang kukenali sebagai doa, dan pulang dengan langkah yang lebih cepat daripada langkah orang setua dia.

Bess mati pada malam kelima. Aku dan Tomas menguburnya di belakang rumah, di tanah yang terlalu keras untuk digali, dan sepanjang malam itu aku mendengar ringkik dari arah pantai. Bukan ringkik kuda yang sedang berlari atau memanggil. Itu bunyi seekor hewan yang sedang menertawakan sesuatu.

Aku tidak menceritakannya pada Tomas. Namun anak itu duduk di tempat tidurnya dengan mata terbuka lebar, dan ketika kutanya apa yang ia dengar, ia menjawab pelan, “Bess kembali, Mam. Tapi kakinya bunyi aneh.”

“Bunyi bagaimana?”

“Seperti sesuatu yang basah. Seperti kaki tanpa kulit.”

Aku menyuruhnya tidur. Aku duduk di kursi dekat perapian sampai fajar, memegang pisau pemotong tangle yang tak ada gunanya, dan sebelum cahaya pertama masuk lewat celah daun jendela, bau manis itu sudah merembes dari bawah pintu.

Pada hari kedua sesudah Bess mati, aku memberanikan diri mengetuk pintu Old Isbister. Ia membukanya hanya sejengkal, cukup untuk memperlihatkan satu matanya yang berair dan bau tembakau tua yang menyelinap keluar.

“Kau mau tahu bagaimana ayahku menghentikan pembakaran di pulau ini?” katanya sebelum aku sempat bicara. “Dia tak menghentikannya. Tak ada yang menghentikannya. Tahun pertama mereka menyalakan lubang-lubang itu di pantai, kuda-kuda di Stronsay mati satu demi satu. Para tetua berkata itu karena asap, karena kami mengusik sesuatu di bawah air. Mereka tak salah. Tapi tuan tanah tak menerima sewa dalam bentuk doa.”

“Lalu bagaimana mereka bertahan?”

“Dengan patuh pada musim.” Ia menatapku tanpa berkedip. “Kau bakar di bulan panas, saat Mither menahan tali kekangnya. Kau berhenti ketika daun mulai menguning. Kau cuci tanganmu di air tawar sebelum menyentuh anak-anakmu. Itu saja. Tak ada mantra, Maren. Hanya sopan santun terhadap sesuatu yang lebih tua dari kita.”

“Dan kalau aku sudah terlambat?”

Old Isbister memandang melewati bahuku, ke arah pantai yang tak kelihatan dari ambang pintunya. Lalu ia berkata, sangat pelan, “Maka kau punya air, dan kau punya waktu sampai air itu habis.”

Pintu tertutup sebelum aku bisa bertanya apa maksudnya.

Hari-hari sesudahnya berjalan seperti mimpi yang dikerjakan orang sakit. Domba Old Isbister mulai batuk. Dua sapi di peternakan Rendall roboh di padang dan tak bisa bangun, dan para lelaki yang datang untuk menyembelihnya menolak menyentuh dagingnya. Tanaman gandum hitam yang sudah dipotong dan ditumpuk menghitam dari dalam, seakan sesuatu telah menghembus ke sana. Orang-orang berhenti menyapaku di jalan. Mereka tidak menuduh. Orang Orkney tidak pernah menuduh. Mereka hanya menyeberang ke sisi jalan yang lain dan menunduk, dan di belakang punggungku mereka menyebut nama itu dengan doa pendek di ujungnya.

Aku mendengar nama itu sendiri untuk pertama kalinya dari mulut seorang pendeta kecil yang singgah dari pulau lain. Ia berbicara seolah-olah sedang menyebut penyakit, dengan nada orang berpendidikan yang tak ingin kelihatan percaya. Nuckelavee. Setengah kuda, setengah manusia, katanya, dengan kulit yang terkelupas dan darah hitam mengalir di antara otot yang berdenyut. Makhluk laut yang tak pernah naik ke darat ketika hujan. Makhluk yang tak sanggup melintasi air tawar. Yang napasnya melayukan padang dan menyakiti ternak, dan yang di hari-hari musim dingin, ketika Mither o’ the Sea melemah, berjalan menyusuri pantai mencari siapa pun yang telah membuatnya marah.

“Hanya dongeng,” tutup pendeta itu, sambil tersenyum, lalu menepuk bahu Tomas dan memberinya sepotong permen gula. Tomas menyimpan permen itu di saku dan tidak pernah memakannya.

Karena sejak malam Bess dikubur, anakku berubah.

Ia tak lagi bermain di halaman. Ia duduk berjam-jam di jendela yang menghadap pantai, dan jika kutanya apa yang ia lihat, ia hanya menjawab, “Penunggang.” Aku memandang keluar dan hanya menemukan garis pasang yang abu-abu, batu-batu licin, dan kabut yang bergeser perlahan seperti sesuatu yang bernapas. Namun Tomas bersikeras, dan pada hari ketujuh ia menambahkan satu kalimat yang membuat darahku berhenti mengalir.

“Dia seperti Pa, Mam. Dari jauh.”

Aku ingat bagaimana Ayre biasa pulang dari ladang di akhir hari, dengan bahu yang sedikit miring ke kiri karena bekas patah tulang, berjalan menuntun kuda di tepi laut. Siluetnya yang selalu kutunggu. Aku berdiri di belakang Tomas dan memandang keluar sekali lagi, dan kali ini, di ujung pasang yang paling jauh, di tempat kabut menipis, aku melihatnya.

Seorang lelaki di atas kuda. Diam. Menghadap ke rumah kami.

Bahunya miring ke kiri.

Mungkin aku akan berlari ke pantai kalau saja angin tidak berubah pada saat itu. Angin berhembus dari laut ke arah daratan, membawa bau yang kukenali dari kandang Bess, manis dan lengket, dan di bawahnya ada bau yang lain, bau besi dan garam dan daging yang terbuka di bawah matahari. Aku menarik Tomas dari jendela dan menutup daun jendelanya dengan kayu penahan, dan sepanjang malam itu kami duduk di lantai, berpelukan, tak berbicara. Dari balik dinding terdengar bunyi basah itu. Langkah. Pelan. Mengitari rumah.

Aku bukan perempuan yang gemar berdoa. Namun malam itu aku mengucapkan semua doa yang diajarkan ibuku, dan ketika doa-doa itu habis, aku mengulanginya dari awal.

Menjelang fajar bunyi itu berhenti. Aku membuka pintu sedikit dan melihat ke tanah. Di lumpur halaman ada jejak, bukan tapak kuda yang rapi, melainkan lubang-lubang yang dalam dan tidak beraturan, disusul garis panjang yang diseret, seperti sesuatu yang berjalan dengan terlalu banyak anggota badan. Jejak itu mengitari rumah tiga kali dan berhenti tepat di ambang pintu, di tempat sebuah ember air hujan kebetulan kutinggalkan semalaman.

Ember itu pecah. Bukan jatuh. Pecah, seolah dihantam dari dalam.

Itulah petunjuk pertama. Air. Aku mulai mengingat semua yang dikatakan orang. Makhluk itu tak melintasi air tawar. Ia tak datang ketika hujan. Aku menyeret Tomas ke parit di belakang rumah, aliran kecil yang turun dari bukit dan bermuara di pasir sebelum laut, dan di sana, dengan tangan gemetar, aku membangun sesuatu dari batu dan tanah liat. Tidak seperti benteng. Lebih seperti tempat berlindung. Aku mengalihkan aliran itu agar mengitari rumah, sebuah lingkaran dangkal yang berair, selebar lengan dan sedalam jengkal.

Pekerjaan itu memakan seluruh hariku. Menjelang senja, tanganku berdarah dan punggungku terasa seperti ditusuk. Namun parit itu mengalir. Air tawar, jernih, dingin, berputar mengitari rumah kami seperti ular yang menggigit ekornya sendiri.

Malam itu bunyi basah itu datang lagi.

Kali ini aku mengintip lewat celah kayu. Kabut sudah menebal sampai sebatas lutut, dan di dalamnya ia berdiri di seberang parit. Dari dekat, aku akhirnya mengerti mengapa orang-orang tak mau menggambarkannya.

Ia memang kuda, atau pernah. Namun tak ada kulit yang membungkus tubuhnya. Otot-ototnya terbuka, merah tua dan kehitaman, berkilat basah di bawah cahaya bulan sabit, dan di antara serat-serat itu aku melihat sesuatu berdenyut dengan irama yang salah, terlalu lambat untuk makhluk yang masih hidup. Kakinya berakhir dalam sirip-sirip pipih seperti sirip ikan. Matanya satu, besar, merah menyala seperti bara yang ditiup, dan matanya tertuju pada rumahku.

Dari punggungnya tumbuh seorang lelaki.

Aku tak menemukan kata lain. Tubuh bagian atas manusia, tanpa kulit seperti yang di bawahnya, menyatu dengan leher kuda tanpa jahitan, tanpa batas. Lengannya panjang, terlalu panjang, menjuntai sampai menyentuh tanah. Kepalanya miring ke kiri.

Dan wajahnya, wajah yang tak punya kulit untuk membentuk ekspresi, masih bisa tersenyum. Itu yang terburuk. Aku tak tahu bagaimana, sebab tak ada bibir, namun aku tahu ia sedang tersenyum.

Ia mengangkat satu tangan yang panjang itu dan menunjuk, bukan padaku, melainkan ke arah jendela kecil tempat Tomas tidur.

Aku berteriak. Aku tak ingat apa yang kuteriakkan. Mungkin nama Ayre. Mungkin doa. Makhluk itu tak bergerak, tak melangkah mendekat, dan ketika kabut bergulung, ia hanya mundur satu langkah, dua langkah, dan berdiri lagi di tepi parit, memandang air yang mengitari rumah kami dengan kesabaran yang mengerikan. Kesabaran yang bukan milik binatang. Kesabaran orang yang tahu bahwa musim kemarau akan datang.

Aku tak tidur malam itu, atau malam-malam sesudahnya. Setiap fajar aku keluar dan memeriksa parit, memperbaiki tepi yang runtuh, membuang daun dan kerikil yang menyumbat. Setiap senja aku menuang seember air tawar di ambang pintu, sambil menyebut nama itu dan menyelipkan doa sesudahnya. Orang-orang di desa berhenti menjual makanan padaku. Old Isbister meninggalkan sekeranjang roti di tepi jalan setapak, jauh dari pintuku, tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Dan Tomas semakin pendiam.

Pada hari kesembilan sejak jejak pertama itu, aku menemukan anakku berdiri di ambang pintu dengan kaki telanjang tepat di tepi lingkaran air. Ia menatap keluar, ke arah pantai, dengan wajah yang tenang, terlalu tenang, wajah seorang anak yang sedang mendengarkan lagu pengantar tidur.

“Tomas.”

Ia tidak menoleh.

“Tomas, masuk.”

“Dia bilang Pa kedinginan,” kata Tomas.

Dadaku membeku. “Siapa bilang?”

“Penunggang. Dia bilang Pa ada di laut, Mam, dan Pa kedinginan karena Mam tidak menaruh batu di atas kuburnya.” Ia berkedip pelan. “Dia bilang kalau aku menyeberang sebentar saja, dia bisa mengantarku bertemu Pa.”

Aku menariknya masuk dan menutup pintu dengan seluruh tubuhku. Tomas menangis tanpa suara, dan aku memeluknya sambil mengerti, akhirnya, sesuatu yang sejak awal telah kusadari dan menolak kuakui. Makhluk itu tak sekadar lapar. Ia tahu. Ia mengenal kami. Ia mendengar ratapan yang tak pernah kuucapkan dengan keras, tentang Ayre yang meninggal dengan paru-paru penuh garam karena aku yang menyuruhnya turun ke tangle di surut terendah di hari yang berangin, supaya kami dapat membayar sewa lebih cepat. Ia mengenal rasa bersalah itu seperti seorang penagih mengenal utang.

Itulah sebabnya ia menyerupai suamiku dari kejauhan. Bukan karena ia ingin menipu. Ia hanya menaruh di depan mataku apa yang paling kuinginkan, dan membiarkanku datang sendiri.

Malam itu aku duduk di lantai di samping tempat tidur Tomas dan mengucapkan sesuatu yang belum pernah kuucapkan pada siapa pun. Pada dinding. Pada gelap. Pada laut yang kudengar menggaruk batu di kejauhan.

“Aku yang menyuruhnya,” kataku. “Aku yang menyuruh Ayre. Bukan kau. Bukan laut. Aku.”

Tak ada jawaban. Namun di luar, bunyi basah itu berhenti, dan untuk pertama kalinya sejak Bess mati, aku mendengar keheningan yang tulus. Aku tertidur di lantai dengan kepala bersandar di sisi tempat tidur, dan ketika terbangun, matahari sudah tinggi dan hujan turun.

Hujan. Hujan pertama sejak berminggu-minggu. Aku keluar ke halaman dengan kaki telanjang dan wajah menengadah, membiarkan air dingin itu membasuh bau manis dari rambutku. Parit penuh. Jejak di lumpur sudah hanyut. Di pantai tak ada siapa pun.

Kupikir semuanya sudah berakhir.

Musim dingin berjalan lambat dan sepi. Kami hidup dari ikan asin dan gandum yang Old Isbister tinggalkan di tepi jalan. Tomas kembali makan, kembali bicara, kembali tertawa pada hal-hal kecil. Aku menaruh batu besar di atas kuburan Ayre dengan tanganku sendiri, dan tak ada yang membantu, dan tak ada yang menolak. Ketika es pertama terbentuk di pinggir parit, aku mulai berani percaya bahwa pengakuan malam itu telah mencuci sesuatu.

Di tengah musim dingin itu aku sempat mencoba satu hal bodoh. Pada suatu malam tanpa bulan, ketika angin menderu dan air laut menerjang sampai ke karang paling atas, aku mengambil sebuah garpu besi, dan dengan Tomas tertidur di rumah, aku berjalan sendirian ke batas pasir. Aku berpikir, mungkin, dengan konyol, bahwa makhluk itu sama seperti binatang apa pun, dan bahwa besi adalah besi.

Ia sudah menunggu di sana. Tidak lebih dekat dari biasanya, tidak lebih jauh. Aku berdiri dengan garpu terangkat dan lutut gemetar, dan kami saling memandang melintasi lebar pasir yang basah.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tak pernah kuduga. Ia menundukkan kepala manusianya, sedikit saja, seperti orang yang mengangguk kepada kenalan lama di jalan. Sebuah salam. Sebuah pengakuan. Dari tubuhnya yang terbuka, uap putih naik ke udara malam, dan aku mencium bau tangle yang terbakar, asap yang dulu kunyalakan sendiri, yang kini seakan keluar dari dalam dagingnya.

Aku menjatuhkan garpu itu. Aku pulang tanpa menoleh. Dan sejak malam itu aku mengerti bahwa ia tak pernah datang untuk menghancurkanku, sebab itu pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja. Ia datang untuk menagih. Dan penagih yang paling sabar adalah penagih yang tahu bahwa utangmu tak akan pernah lunas.

Pada awal Mei, Tomas bertanya apakah ia boleh bermain di pantai.

Aku menatapnya lama. Hari itu cerah, laut tenang, dan Mither o’ the Sea, kata orang, sudah mulai membentangkan kekuatannya lagi. Aku mengizinkannya dengan satu syarat, bahwa ia tak boleh melewati garis pasir yang kuberi tanda dengan batu putih, dan ia harus pulang sebelum bayangan batu itu menyentuh sumur.

Ia pulang tepat waktu, setiap hari, sepanjang bulan itu dan bulan sesudahnya. Dan setiap kali, ada satu hal kecil yang tak sempat kuperhatikan, sampai suatu sore di akhir Juni.

Ia berjalan pulang dengan bahu yang miring ke kiri.

Aku berdiri di ambang pintu, menyaksikan anakku mendekat dengan langkah ringan, bersiul pelan. Aku bertanya apakah ada sesuatu yang ia lihat hari ini.

“Tidak ada, Mam,” katanya. “Cuma Penunggang.”

Tubuhku mendingin. “Dia di pantai?”

“Dia selalu di pantai. Tapi dia tidak apa-apa, Mam. Dia cuma berdiri. Dia lebih sabar dari Old Isbister.” Tomas tersenyum, senyum anak yang sedang berbagi rahasia kecil. “Dia bilang tak usah buru-buru. Dia bilang musim panas akan panjang tahun ini. Dia bilang sungai-sungai akan kering.”

Aku menoleh ke arah parit di belakang rumah.

Alirannya sudah menipis. Tidak banyak, sebatas yang bisa dilihat hanya oleh orang yang memeriksanya setiap pagi. Garis lumpur basah di kedua tepinya sudah melebar. Batu-batu di dasarnya mulai tampak.

Malam itu aku keluar dengan ember dan menuang air dari sumur ke dalam parit, bolak-balik sampai tanganku mati rasa. Pagi harinya airnya sudah turun lagi. Siang harinya, sudah turun lebih jauh.

Dan di ujung pasang, di tempat kabut menipis, sesosok bayangan di atas kuda yang bahunya miring ke kiri berdiri menghadap rumah kami, tidak bergerak, tidak tergesa, menunggu.

Sebab ia tahu apa yang telah diketahui semua orang tua di pulau ini, dan yang terlambat kupelajari. Mither o’ the Sea menahannya hanya selama musim panas. Namun musim panas selalu berakhir, dan air tawar, pada akhirnya, selalu habis lebih dulu.

Aku masih menuang air di ambang pintu setiap senja. Aku masih menyebut namanya, dan doa itu, dan nama suamiku.

Malam tadi, untuk pertama kalinya, Tomas tidak mau masuk ke rumah. Ia berdiri di tepi parit yang hampir kering, kakinya hanya sejengkal dari lumpur, dan melambaikan tangan pada sesuatu di kejauhan.

Dan sesuatu di kejauhan itu, aku bersumpah, balas melambai.


Catatan dari Penjaga Tengah Malam

Asal inspirasi: Nuckelavee adalah iblis laut dalam folklor Kepulauan Orkney, Skotlandia, yang dicatat antara lain oleh folklorwan Walter Traill Dennison pada abad ke-19. Rupanya penunggang manusia yang menyatu dengan kuda tanpa kulit; ia tak tahan air tawar, tak muncul saat hujan, dan konon ditahan oleh Mither o’ the Sea selama musim panas. Wabah ternak dan gagal panen dikaitkan dengannya, termasuk setelah industri pembakaran rumput laut (kelp) berkembang di Stronsay pada 1722. Tokoh, keluarga, dan peristiwa dalam cerita ini sepenuhnya rekaan.

Pepatah/adat setempat: orang Orkney konon tak berani menyebut namanya tanpa segera mengucap doa. Adat itu saya pakai sebagai jangkar cerita.

Gaya: kengerian senyap ala Shirley Jackson dan Poe, horor yang tumbuh dari rasa bersalah dan utang, bukan kejutan.

Estimasi waktu baca: sekitar 14 menit.

Peringatan konten: kematian anggota keluarga, rasa bersalah berat, ancaman terhadap anak, dan gambaran tubuh yang mengerikan.

Gambar unggulan dibuat dengan AI. Deskripsi scene: penunggang bersiluet berdiri di tepi laut berkabut di pantai Orkney saat senja.

Jejak Sumber

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca