Bayangkan Ibu Sumi, 74 tahun, tinggal di sebuah desa di Klaten. Kotak obatnya berisi tujuh jenis tablet untuk tekanan darah, gula darah, kolesterol, nyeri lutut, lambung, tidur, dan “vitamin”. Sebagian diresepkan dokter puskesmas, sebagian dokter spesialis di kota, sisanya dibeli sendiri di apotek. Tidak ada satu pun yang salah secara sendiri-sendiri, tetapi tak seorang pun pernah melihat seluruh daftarnya sekaligus. (Kasus ini hanya ilustrasi.)
Situasi seperti ini sangat umum di Indonesia, dari Banda Aceh sampai Denpasar. Semakin panjang usia, semakin banyak penyakit kronik yang menumpuk, dan semakin panjang pula daftar obatnya. Artikel ini membahas apa itu polifarmasi, mengapa ia berbahaya bagi lansia, dan bagaimana tinjauan obat yang baik dilakukan.
Latar Belakang: Mengapa Lansia Rentan
Lansia hampir selalu memiliki lebih dari satu penyakit (multimorbiditas). Pedoman tiap penyakit biasanya ditulis satu per satu, sehingga mengikuti semuanya sekaligus menghasilkan daftar obat yang panjang. Di sisi lain, tubuh lansia menangani obat secara berbeda: fungsi ginjal menurun, komposisi lemak dan air tubuh berubah, dan otak lebih peka terhadap obat penenang. Dosis yang aman pada usia 40 tahun bisa terlalu kuat pada usia 80 tahun.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan keselamatan obat sebagai tantangan global melalui program Medication Without Harm, dengan target menurunkan bahaya terkait obat yang sebenarnya dapat dicegah.1
Apa Itu Polifarmasi?
Polifarmasi umumnya diartikan sebagai penggunaan lima obat atau lebih secara bersamaan; penggunaan sepuluh obat atau lebih kerap disebut hiperpolifarmasi. Angka ini hanya patokan. Yang lebih penting adalah apakah setiap obat masih punya alasan yang jelas. Ada polifarmasi yang tepat (misalnya pasien pascaserangan jantung dengan beberapa obat yang memang terbukti menolong) dan ada yang bermasalah, yaitu obat tanpa indikasi jelas, duplikasi, atau obat yang risikonya sudah melebihi manfaatnya.
Bagaimana Polifarmasi Merugikan
Ada tiga jalur utama. Pertama, efek samping bertumpuk: beberapa obat yang masing-masing sedikit menurunkan tekanan darah atau membuat mengantuk dapat berujung pada pusing, jatuh, dan patah tulang. Kedua, interaksi obat, termasuk dengan jamu dan suplemen. Ketiga, kaskade peresepan: efek samping suatu obat disangka penyakit baru lalu diberi obat tambahan, bukannya obat penyebabnya ditinjau ulang. Selain itu, regimen yang rumit menurunkan kepatuhan, dan biaya obat membebani keluarga serta pembiayaan JKN.
Hubungan jumlah obat dengan peresepan bermasalah tampak jelas pada studi potong lintang di Turki terhadap 397 pasien geriatri rawat jalan: sekitar 58,7% menerima setidaknya satu obat yang berpotensi tidak tepat, dan setiap tambahan satu obat dikaitkan dengan kenaikan peluang 55% (OR 1,55; IK 95% 1,40–1,73).4
Alat Penilaian: Kriteria Beers dan STOPP/START
Dua perangkat yang paling sering dipakai untuk menyaring obat yang berpotensi tidak tepat (potentially inappropriate medication, PIM) adalah AGS Beers Criteria edisi 20232 dan STOPP/START versi 3.3 Keduanya bersifat panduan, bukan hukum: ia menandai obat yang perlu dipertimbangkan ulang, bukan yang otomatis harus dihentikan.
| Aspek | Kriteria Beers (AGS 2023) | STOPP/START v3 |
|---|---|---|
| Fokus | Obat yang sebaiknya dihindari atau dipakai hati-hati pada lansia | Dua arah: obat yang perlu dihentikan (STOPP) dan obat bermanfaat yang terlewat (START) |
| Cakupan | Luas, termasuk interaksi obat–penyakit dan penyesuaian ginjal | Lebih preskriptif pada dosis dan ambang fungsi ginjal |
| Asal | Amerika Serikat | Eropa |
| Catatan | Saling melengkapi, bukan saling menggantikan; keduanya belum terbukti dalam uji berdaya cukup menurunkan jatuh, rawat inap, atau kematian.5 | |
Satu tinjauan 2026 melaporkan bahwa STOPP/START versi 3 menemukan setidaknya satu PIM pada 73% pasien geriatri rawat jalan, dibandingkan 56% pada versi 2, terutama karena OAINS dan aspirin termasuk dalam kriteria baru.5 Perlu diingat pula bahwa sebagian obat dalam daftar Beers (dibuat untuk formularium AS) belum tentu beredar di Indonesia, sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan obat yang tersedia di Fornas.
Bukti: Apakah Mengurangi Obat Menolong?
Jawabannya: bisa mengurangi obat yang tidak tepat, tetapi manfaat klinis keras belum selalu terbukti. Tinjauan sistematik di layanan primer (17 uji acak) menemukan bahwa algoritma otomatis dan intervensi yang dipimpin apoteker konsisten menurunkan PIM, sementara tinjauan obat yang dilakukan dokter keluarga sendirian tidak menurunkannya; tidak ada efek bermakna pada kematian.6 Tinjauan sistematik lain (sembilan studi, 8.213 peserta) menilai tinjauan obat terstruktur pada pasien multimorbiditas: terjadi perubahan resep, peningkatan kepatuhan, dan penghematan biaya, namun sebagian besar studi tidak menunjukkan perbaikan fungsi, jatuh, atau rawat inap.7
Artinya, tujuan utama evaluasi obat adalah keamanan dan kesesuaian dengan tujuan hidup pasien, bukan sekadar mengejar angka “jumlah obat lebih sedikit”.
Penerapan Praktis bagi Keluarga dan Pasien
- Kumpulkan semua obat. Masukkan seluruh obat resep, obat bebas, jamu, dan suplemen ke satu kantong, lalu bawa saat kontrol (cara “brown bag review“).
- Satu daftar terkini. Tulis nama obat, dosis, jam minum, dan alasannya; perbarui setiap ada perubahan.
- Satu pintu koordinasi. Pilih satu dokter atau apotek sebagai pemegang daftar utama agar duplikasi cepat terlihat.
- Tanyakan lima hal pada setiap obat: Untuk apa? Sudah berapa lama? Apa efek sampingnya? Apakah masih diperlukan? Adakah pilihan nonobat?
- Jangan berhenti sendiri. Menghentikan obat tekanan darah, gula darah, jantung, atau obat penenang secara mendadak dapat berbahaya. Perubahan apa pun harus bersama dokter.
Dimensi Lansia: Frailty dan Preferensi Pasien
Bagi tenaga kesehatan, tinjauan obat sebaiknya dimulai dari pertanyaan “apa yang paling penting bagi pasien ini?”, bukan dari daftar obat. Lansia yang rapuh (frail) dengan harapan hidup terbatas mungkin lebih menghargai kemampuan berjalan dan berpikir jernih daripada target laboratorium yang ketat. Langkah yang lazim: (1) tetapkan tujuan perawatan bersama pasien dan keluarga; (2) petakan indikasi tiap obat; (3) tandai obat dengan risiko tinggi menggunakan Beers/STOPP; (4) hitung beban antikolinergik dan sedatif; (5) periksa fungsi ginjal untuk penyesuaian dosis; (6) prioritaskan satu perubahan pada satu waktu dengan pemantauan terjadwal dan kriteria memulai ulang. Bukti pada penghentian obat antihipertensi di fasilitas perawatan jangka panjang menunjukkan bahwa tekanan darah naik setelah penghentian dan efek pada kematian belum seragam antarstudi, sehingga pemantauan ketat tetap diperlukan.8 Pada demensia, obat psikotropik dan antikolinergik menuntut kehati-hatian khusus.9
Keterbatasan dan Kapan Harus Berhati-hati
Daftar kriteria tidak menggantikan penilaian klinis; obat yang “masuk daftar” kadang tetap tepat bagi pasien tertentu. Sebaliknya, underuse juga masalah: lansia yang seharusnya mendapat obat pelindung (misalnya pencegahan osteoporosis atau antikoagulan bila ada indikasi) bisa terlewat. Segera cari pertolongan medis bila setelah perubahan obat muncul gejala seperti jatuh berulang, bingung mendadak, pingsan, gula darah sangat rendah atau tinggi, atau sesak napas.
Pesan Kunci
Untuk pembaca umum: banyaknya obat bukan masalah bila tiap obat punya alasan jelas; bawa semua obat ke dokter, simpan satu daftar, dan jangan berhenti atau mengganti obat sendiri.
Untuk tenaga kesehatan: gunakan Beers dan STOPP/START sebagai penyaring, bukan penentu; libatkan apoteker; selaraskan dengan tujuan dan preferensi pasien; ubah satu obat setiap kali dan pantau.
Tanya Jawab (FAQ)
Apakah minum lima obat atau lebih pasti buruk?
Tidak. Yang dinilai adalah kesesuaian tiap obat dengan kondisi dan tujuan pasien, bukan jumlahnya semata.
Bolehkah mengurangi obat sendiri bila merasa sudah sehat?
Jangan. Beberapa obat dapat menimbulkan efek rebound atau kambuh bila dihentikan mendadak. Diskusikan dengan dokter.
Apakah jamu dan suplemen termasuk dihitung?
Ya. Jamu, vitamin, dan suplemen dapat berinteraksi dengan obat dan perlu disampaikan kepada dokter atau apoteker.
Siapa yang bisa membantu meninjau obat?
Dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam/geriatri, dan apoteker di puskesmas, rumah sakit, atau apotek.
Referensi
- World Health Organization. Medication Without Harm: Global Patient Safety Challenge on Medication Safety. Geneva: WHO; 2017. who.int
- 2023 American Geriatrics Society Beers Criteria Update Expert Panel. American Geriatrics Society 2023 updated AGS Beers Criteria for potentially inappropriate medication use in older adults. J Am Geriatr Soc. 2023;71(7):2052-81. doi:10.1111/jgs.18372
- O’Mahony D, Cherubini A, Guiteras AR, et al. STOPP/START criteria for potentially inappropriate prescribing in older people: version 3. Eur Geriatr Med. 2023;14(4):625-32. doi:10.1007/s41999-023-00777-y
- Akyon SH, Onur G, Selvi Öztorun H, Sılay K, Thürmann PA. Association between inappropriate medications and comprehensive geriatric assessment outcomes: a cross-sectional study using PRISCUS, STOPP, and Beers criteria. BMC Geriatr. 2026;26(1). doi:10.1186/s12877-026-08533-0
- Kukul Güven FM, Ucar AB, Inci O, et al. Rational use of analgesic agents in elderly patients: implications of the Beers Criteria and STOPP/START algorithms. Curr Pharm Des. 2026. doi:10.2174/0113816128513962260928173852
- Oliveira EM, Ferreira LC, Silva MC, Hattori WT. Optimizing medication use in older adults in primary care: a systematic review of the effectiveness of deprescribing interventions. Geriatr Gerontol Int. 2026;26(7):e70677. doi:10.1111/ggi.70677
- Lammila-Escalera E, Greenfield G, Aldakhil R, et al. Structured medication reviews for adults with multimorbidity and polypharmacy in primary care: a systematic review. BMJ Open. 2026;16(10):e117955. doi:10.1136/bmjopen-2026-117955
- Jiang G, Yang G, Liu Y, Han D. Planned antihypertensive deprescribing in long-term care residents: a systematic review of randomized evidence. Drugs Aging. 2026. doi:10.1007/s40266-026-01342-5
- Gou KJ, Chen Y, Sheng Z, Yu W, Wang L, Lü Y. Psychotropic polypharmacy in Alzheimer’s disease: a potentially inappropriate medication perspective in older adults. Curr Alzheimer Res. 2026. doi:10.2174/0115672050502495260812063626
Disclaimer: artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi dengan dokter atau apoteker. Jangan mengubah dosis, menghentikan, atau mengganti obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.





Tinggalkan Balasan