Di sebuah rumah di Denpasar, seorang ibu mulai terbangun tengah malam hanya untuk memastikan anaknya masih bernapas. Putranya yang berusia lima tahun mendengkur keras, tidurnya gelisah, mulutnya selalu terbuka, dan pagi harinya ia rewel serta sulit berkonsentrasi. Di Makassar, Surabaya, atau Sragen, cerita serupa sering terdengar di ruang praktik dokter. Salah satu penyebab yang paling sering ditemukan adalah adenoid yang membesar.
Apa Itu Adenoid?
Adenoid adalah jaringan limfoid (bagian dari sistem kekebalan tubuh) yang terletak di atap tenggorokan bagian belakang, tepat di belakang rongga hidung. Letaknya tidak terlihat dari mulut, berbeda dengan amandel (tonsil) yang tampak di kiri dan kanan tenggorokan. Adenoid berperan menangkap kuman yang masuk lewat hidung pada tahun-tahun awal kehidupan. Ukurannya biasanya terus bertambah hingga usia sekitar 3 sampai 7 tahun, lalu mengecil secara alami menjelang remaja.
Dua istilah sering muncul bersamaan. Hipertrofi adenoid berarti adenoid yang membesar, sedangkan adenoiditis berarti adenoid yang mengalami peradangan atau infeksi. Keduanya saling berkaitan dan sering terjadi pada anak yang sama, sehingga dibahas bersama dalam tulisan ini.
Mengapa Adenoid Bisa Membesar?
Pembesaran adenoid pada anak sebagian besar merupakan respons terhadap rangsangan berulang. Beberapa pemicu yang umum adalah infeksi saluran napas atas yang berulang, alergi (rinitis alergi), paparan asap rokok, polusi udara, serta refluks asam lambung. Anak yang sering berada di tempat penitipan atau sekolah dengan banyak teman cenderung lebih sering terpapar infeksi sehingga adenoidnya lebih sering terangsang. Pada orang dewasa, pembesaran adenoid yang baru muncul jarang terjadi dan perlu dicari penyebab lain, termasuk massa di daerah nasofaring.
Gejala yang Perlu Dikenali Orang Tua
Ketika adenoid membesar, ruang udara di belakang hidung menyempit. Gejala klasiknya adalah bernapas lewat mulut, suara terdengar sengau seperti hidung tersumbat (hyponasal), dan mendengkur saat tidur. Sumbatan cenderung memburuk ketika anak berbaring. Gejala lain yang dapat menyertai adalah hidung meler atau tersumbat berkepanjangan, bau mulut, sulit makan karena napas terputus saat mengunyah, serta mudah lelah dan sulit berkonsentrasi di sekolah.
Pembesaran yang berat dapat menimbulkan henti napas saat tidur (obstructive sleep apnea), yaitu napas berhenti sebentar berulang kali sepanjang malam. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan kognitif, perilaku, dan pertumbuhan anak. Adenoid yang menutup muara saluran Eustachius juga dapat menyebabkan cairan menumpuk di telinga tengah sehingga anak sering sakit telinga atau pendengarannya berkurang.

Gejala Tambahan pada Adenoiditis
Bila adenoid terinfeksi, anak biasanya demam, hidung berlendir kental atau lendir menetes ke belakang tenggorokan (post-nasal drip), batuk terutama malam hari, dan nyeri telinga. Infeksi yang berulang atau menetap dapat berkaitan dengan sinusitis kronik dan otitis media berulang.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?
Diagnosis dimulai dari riwayat gejala dan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan hidung, telinga, dan tenggorokan. Karena adenoid tidak terlihat langsung dari mulut, dokter dapat memakai beberapa cara untuk menilai ukurannya:
| Pemeriksaan | Kegunaan | Catatan |
|---|---|---|
| Anamnesis dan kuesioner gejala | Menilai beratnya sumbatan hidung, dengkur, dan gangguan tidur | Dibantu penilaian orang tua |
| Rontgen leher posisi samping | Memperkirakan rasio adenoid terhadap ruang nasofaring | Murah dan mudah, tetapi hanya gambaran dua dimensi |
| Nasoendoskopi serat optik | Melihat langsung adenoid dan sumbatan koana | Dianggap baku emas; butuh kerja sama anak dan alat khusus |
| Studi tidur (polisomnografi) | Memastikan henti napas saat tidur dan derajatnya | Dipertimbangkan bila dicurigai apnea tidur |
Dokter juga perlu menyingkirkan penyebab sumbatan hidung lain, seperti rinitis alergi, polip hidung, atau penyimpangan sekat hidung. Pada anak yang hanya menunjukkan gejala satu sisi hidung atau disertai perdarahan, evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menyingkirkan massa lain.
Pilihan Penanganan
Tidak semua adenoid yang membesar perlu dioperasi. Pada gejala ringan, dokter biasanya mengamati dahulu sambil mengatasi faktor pemicu, seperti mengobati alergi, menjauhkan anak dari asap rokok, dan menjaga kebersihan hidung. Adenoid cenderung mengecil seiring bertambahnya usia anak.
Obat semprot hidung kortikosteroid. Tinjauan Cochrane terhadap enam uji acak terkontrol dengan 394 anak menemukan bahwa sebagian besar studi menunjukkan perbaikan sumbatan hidung dan pengecilan adenoid. Namun penulisnya menilai bukti yang ada masih terbatas untuk memberi rekomendasi pasti, dan manfaat jangka panjangnya belum jelas.1 Obat ini umumnya ditoleransi baik, dengan efek samping yang dilaporkan antara lain mimisan dan iritasi hidung. Penggunaannya perlu atas anjuran dokter.
Antibiotik. Hanya bermanfaat bila ada infeksi bakteri yang jelas. Infeksi saluran napas atas pada anak umumnya disebabkan virus sehingga antibiotik tidak diperlukan; penggunaan yang tidak tepat justru mendorong resistansi kuman.2
Adenoidektomi. Pengangkatan adenoid lewat operasi singkat dengan pembiusan umum dipertimbangkan bila ada henti napas saat tidur atau sumbatan napas yang bermakna, otitis media dengan cairan yang menetap, atau sinusitis kronik yang tidak membaik dengan terapi. Pedoman klinis tonsilektomi pada anak dari American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery (AAO-HNS) juga membahas pertimbangan operasi pada anak dengan gangguan bernapas saat tidur, termasuk penilaian risiko sebelum tindakan.3 Operasi tetap memiliki risiko seperti perdarahan dan risiko pembiusan, sehingga keputusannya ditimbang bersama dokter THT.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Bawa anak ke dokter bila ia mendengkur hampir setiap malam, tampak berhenti bernapas sejenak saat tidur, sangat gelisah saat tidur, mengantuk berlebihan di siang hari, prestasi atau perilakunya berubah, pendengarannya tampak berkurang, atau infeksi telinga dan hidung terus berulang. Segera ke fasilitas kesehatan bila anak tampak sulit bernapas, bibir membiru, atau demam tinggi disertai nyeri hebat.
Yang Bisa Dilakukan di Rumah
Hindari asap rokok di dalam rumah, bersihkan debu tempat tidur secara rutin, bilas hidung dengan larutan garam fisiologis sesuai petunjuk, pastikan anak cukup minum, dan catat pola dengkurnya, bahkan merekam video singkat saat tidur dapat membantu dokter menilai. Imunisasi lengkap dan kebiasaan cuci tangan juga membantu mengurangi infeksi saluran napas yang memicu pembesaran adenoid.
Penutup
Dengkur pada anak tidak selalu “tanda tidur nyenyak”. Bila terjadi hampir setiap malam dan disertai napas lewat mulut atau gangguan konsentrasi, adenoid yang membesar patut dicurigai. Banyak kasus ringan membaik dengan penanganan pemicu dan pengamatan, sedangkan kasus berat memiliki pilihan terapi yang aman bila diputuskan bersama dokter.
Referensi
- Zhang L, Mendoza-Sassi RA, César JA, Chadha NK. Intranasal corticosteroids for nasal airway obstruction in children with moderate to severe adenoidal hypertrophy. Cochrane Database Syst Rev. 2008;(3):CD006286.
- Pedoman perilaku kunci pengobatan antibiotik pada infeksi saluran pernapasan atas: ulasan di legawa.com.
- Mitchell RB, Archer SM, Ishman SL, et al. Clinical Practice Guideline: Tonsillectomy in Children (Update). Otolaryngol Head Neck Surg. 2019;160(1_suppl):S1-S42.





Tinggalkan Balasan