Malam keempat puluh sembilan sejak Nenek meninggal, tujuh orang duduk melingkar di ruang tatami terpanjang di rumah keluarga Sakaguchi, dan di tengah lingkaran itu ada seratus lilin yang belum dinyalakan.

Natsuki yang membawa lilin-lilin itu turun dari loteng. Ia menemukannya di dalam kotak paulownia yang tutupnya diikat tali kapas, di bawah tumpukan kimono musim dingin yang berbau kapur barus. Di tutup kotak ada tulisan tangan Nenek, tinta yang memudar jadi warna teh: hyakumonogatari, jangan dipakai sembarangan. Natsuki membaca tulisan itu dua kali, lalu membawa kotaknya turun juga, sebab ia sudah terlalu lama menjadi orang yang tidak berani memakai apa-apa.

“Permainan itu cuma karangan orang zaman dulu yang kurang hiburan,” kata Ren, suami Emi, satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak punya darah Sakaguchi. Ia menyilangkan kaki dengan canggung di atas zabuton. “Aku baca di mana ya. Ada pepatah itu. Yūrei no shōtai mitari, kareobana. Setelah dilihat betul-betul, wujud hantu itu cuma rumpun susuki yang layu.”

“Kamu duduk saja,” kata Paman Shuji, tanpa menoleh. “Dengar. Kalau kau beruntung, kau cuma akan bosan.”

Aturannya sederhana, dan justru karena sederhana ia terasa tua. Seratus lilin diletakkan di atas baki lakuer hitam yang lebar. Di ujung ruangan, shoji menuju lorong dibiarkan terbuka sedikit, selebar telapak tangan, supaya apa pun yang ingin masuk tidak perlu mengetuk. Setiap orang bercerita bergiliran, dan sehabis bercerita, ia mematikan satu lilin dengan tangannya sendiri, tanpa ditiup, cukup dijepit dengan ibu jari dan telunjuk. Ruangan akan makin gelap. Pada cerita keseratus, lilin terakhir dipadamkan, dan konon pada saat itu sesuatu yang selama ini hanya mendengarkan dari seberang bisa menyeberang.

Bibi Chizu menyalakan lilin-lilin itu satu per satu dengan sebatang dupa panjang. Butuh hampir setengah jam. Ketika selesai, ruangan itu seperti dasar sebuah kolam yang dipenuhi kunang-kunang yang tertidur, dan Natsuki merasa tenggorokannya mengerut. Bukan karena takut. Ia mengenali bau ruangan ini, bau lilin lebah yang hangat bercampur tatami tua dan sedikit lembap dari sungai di bawah rumah, dan ia mengenali bahwa bau itu belum berubah sejak ia berumur sembilan tahun.

Ia menghitung bantal duduk, kebiasaan lama seorang kakak. Ada delapan zabuton melingkari baki. Ia menghitung orang. Tujuh.

“Bibi, bantalnya kelebihan satu,” katanya.

“Kuletakkan delapan karena angka tujuh itu tidak enak,” jawab Chizu, dan tak ada yang bertanya mengapa delapan lebih enak. Bantal kedelapan berada di tepi lingkaran, paling dekat shoji yang terbuka, dan tak seorang pun mau duduk berdekatan dengannya. Mereka menggeser diri sedikit demi sedikit tanpa sadar, sampai bantal itu punya ruang kosong di kiri-kanannya, seperti pasien yang dijauhi di ruang tunggu.

Rumah itu berdiri di lereng lembah Kiso, tiga kilometer dari stasiun terdekat, dan Natsuki telah menempuh jalan menanjak itu sore tadi dengan koper kecil yang rodanya berderak di atas kerikil. Pohon-pohon sugi di kedua sisi jalan tegak rapat dan hitam. Tak ada burung. Tak ada angin. Hanya bunyi sungai jauh di bawah sana, yang di bulan Desember hampir tak bersuara lagi, seperti binatang besar yang menahan napas di bawah selimut es. Setiap kali ia pulang, rumah itu tampak lebih kecil, dan lorong kayunya lebih panjang, seakan jarak di dalamnya tumbuh sementara bangunannya menyusut.

Cerita-cerita awal adalah cerita yang gampang. Daigo, sepupu yang suka bicara, menceritakan tentang taksi yang mengangkut penumpang basah kuyup dan tak pernah turun. Emi bercerita soal boneka di toko barang bekas yang rambutnya bertambah panjang. Mereka tertawa di sela-selanya, tertawa kecil dan gugup, dan setiap kali selesai, sang pencerita menjepit satu lilin. Pssst. Asap tipis naik lurus, menggantung sejenak seperti benang, lalu hilang.

Sekitar cerita kelima belas, Natsuki mulai memperhatikan bunyinya. Lilin yang dipadamkan tidak hanya mendesis. Setelah desis itu ada jeda yang amat pendek, dan di dalam jeda itu, dari arah lorong, terdengar sesuatu yang kecil seperti tetesan jatuh di atas papan. Satu tetes. Setiap kali, satu tetes. Ia melirik Paman Shuji, dan lelaki tua itu sedang menatap baki dengan mata setengah terpejam, bibirnya bergerak tanpa suara, menghitung.

Giliran keempat belas jatuh kepada Paman Shuji, dan ia bercerita lebih lambat dari yang lain, seolah tiap kata harus ditimbang di telapak tangan.

“Dulu, di desa ini, ada seorang pedagang kain yang menolak ikut permainan ini,” katanya. “Dia bilang itu takhayul. Para tetangganya bermain tanpa dia, dan sampai cerita kesembilan puluh sembilan tak terjadi apa-apa. Pedagang itu mengintip dari balik shoji, mengejek mereka. Lalu orang terakhir bercerita, dan lilin dipadamkan, dan semua orang menunggu. Tak ada yang datang. Mereka tertawa, lega, dan pulang. Pedagang itu masuk ke rumahnya dan menutup pintu. Pagi harinya, istrinya menemukan semua kain di tokonya sudah terlipat rapi, setiap lipatan sama persis, dan di atas tumpukan paling atas ada sehelai kain yang belum pernah dilihatnya, basah, dan berbau tanah kuburan. Pedagang itu tidak pernah mengatakan apa yang ia lihat malam itu. Dia hanya, sampai mati, tidak pernah lagi menutup pintu rumahnya.”

Tak ada yang tertawa setelah itu. Paman Shuji menjepit lilinnya. Pssst. Jeda. Tetes.

Cerita keempat puluh, Ren memutuskan bahwa permainan itu lucu, dan menceritakan hal yang sama sekali tidak menakutkan: bagaimana ia pernah terkunci di toilet kereta api selama dua jam. Orang-orang tertawa lebih keras dari seharusnya. Di sela tawa itu, Natsuki mencium sesuatu, dan ia tahu persis apa yang ia cium sebelum otaknya sempat menamainya. Air sungai di bulan Juli. Lumut di batu yang licin. Dingin yang tidak berasal dari udara.

“Kalian cium itu?” tanyanya pelan.

“Sungai,” kata Tomoya, adik Emi, mengangkat bahu. “Rumah ini kan di atas sungai.”

Tetapi musim dingin sudah lama menutup sungai itu dengan lapisan es tipis, dan tidak seorang pun mengatakannya.

Di sekitar cerita kelima puluh, Natsuki mendengar sesuatu yang lain. Di atas langit-langit, di antara balok-balok tua, ada bunyi seperti jari-jari kecil mengetuk perlahan, sekali di sini, sekali di sana, bergerak dari ujung ruangan menuju tengah. Ia mendongak, dan tak seorang pun lain mendongak. Lalu Emi merapatkan syal di lehernya dan berbisik bahwa ruangan itu tiba-tiba sangat dingin, padahal tungku arang di pojok masih memerah. Daigo membuka mulutnya hendak bercanda, lalu menutupnya lagi. Uap napas mereka mulai tampak di depan lilin, tujuh gumpalan putih yang naik dan menipis, dan di antaranya, di tepi lingkaran, ada satu gumpalan kedelapan yang naik dari tempat tak seorang pun duduk.

Natsuki memeriksa kedua tangannya dan menemukan ujung-ujung jarinya sudah membiru. Ia menyembunyikannya di bawah paha. Ia merasa seperti seorang anak yang dipanggil guru, yang sudah tahu persis apa kesalahannya dan hanya menunggu namanya disebut.

Bibi Chizu bangkit hendak menutup shoji, dan dari tepi lingkaran terdengar bunyi lembut, basah, seperti kain dikibaskan. Chizu membeku di tengah gerakan. Pelan-pelan, tanpa sepatah kata, ia kembali duduk, dan ia menggeser zabuton-nya menjauh satu jengkal lagi dari bantal kedelapan, wajahnya berkerut seperti orang yang menelan sesuatu yang pahit.

Menjelang cerita keenam puluh, cerita-cerita hantu mulai habis. Ini bagian yang tidak pernah diceritakan orang tentang permainan ini: bahwa seseorang akan kehabisan hantu orang lain, dan harus mulai meminjam hantunya sendiri. Daigo, yang sudah tak punya apa-apa lagi, bercerita tentang malam ia melihat ayahnya di ruang tunggu rumah sakit dua hari setelah ayahnya meninggal. Suaranya jatuh di tengah kalimat dan tidak kembali. Chizu menceritakan tentang suami yang tidak pernah ia sebut-sebut lagi. Cerita-cerita itu pendek, lebih seperti pengakuan, dan lilin demi lilin padam di bawah jemari yang mulai gemetar.

Natsuki memejamkan mata sebentar, dan dalam gelap di balik kelopaknya ia kembali berumur sembilan tahun. Ia melihat batu rata itu, kaus bergaris itu, dan punggung kecil yang duduk dengan lutut dipeluk. Ia ingat bahwa adiknya sempat menoleh, hanya sekali, untuk memastikan kakaknya masih terlihat di seberang. Dan ia ingat bahwa ia melambai. Ia melambai dengan riang, seperti seorang kakak yang baik, lalu berbalik. Tangan yang melambai itu masih terasa milik orang lain, tangan seorang gadis kecil yang tidak tahu apa yang sedang ia tukar dengan permainan sore itu.

Di rumah ini tak seorang pun pernah menyebut namanya lagi. Itu cara keluarga Sakaguchi berduka: dengan menutup rapat, dengan merapikan, dengan membiarkan nama menjadi lubang yang semua orang hafal letaknya dan mengelilinginya dengan hati-hati.

Pada cerita yang kedelapan puluh dua, Natsuki melihat bahwa bantal kedelapan tidak lagi rata.

Bantal itu cekung di tengahnya, dengan cara yang hanya bisa dibuat oleh sesuatu yang kecil dan ringan yang sudah duduk lama sekali. Kain di sekitarnya gelap, lembap, dan di tatami di depannya tampak dua noda bulat yang basah, berdampingan, sebesar telapak kaki anak-anak.

Ia menunggu seseorang berseru. Tak ada. Mereka semua memandang ke arah yang lain, ke lilin, ke tangan sendiri, ke langit-langit, dengan kesepakatan senyap orang-orang yang telah belajar bahwa menyebut sesuatu sama dengan mengundangnya mendekat. Yang paling lama bertahan adalah Ren, dan bahkan ia, ketika mendapat giliran ke-delapan puluh lima, hanya mengatakan, “Lewat,” dan menjepit lilinnya cepat-cepat, wajahnya pucat dan lengket oleh keringat dingin.

“Bukan susuki,” bisiknya kepada tidak seorang pun.

Tetesan itu kini terdengar dari dekat. Bukan lagi dari lorong, tetapi dari tempat bantal kedelapan. Setiap kali sebuah lilin dipadamkan, tetesnya jatuh, dan dengan setiap tetes, noda di tatami melebar sedikit, seperti air mencari jalannya menuju orang yang paling dikenalnya di ruangan itu.

Natsuki tahu siapa orang itu. Ia sudah tahu sejak bau lumut pertama, dan ia telah menghabiskan delapan puluh dua cerita berpura-pura sedang tidak tahu. Itulah kepandaiannya yang paling tua: ia pernah berumur sembilan tahun pada suatu hari di bulan Juli, dan pada hari itu seorang adik laki-laki berumur enam tahun mengikutinya ke sungai, lalu ia menyuruhnya menunggu di batu rata sementara ia berlari ke tepi lain untuk bermain dengan anak-anak yang lebih besar. Kazuki. Adiknya selalu menurut. Itulah masalahnya. Adiknya selalu menurut, dan ia menunggu.

Ketika Natsuki kembali, batu rata itu kosong dan permukaan sungai begitu tenang, begitu licin, seperti sesuatu telah dirapikan.

Mereka menemukan Kazuki dua hari kemudian, tiga kilometer ke hilir. Orang-orang dewasa berkata bahwa tidak ada yang bersalah, bahwa sungai itu memang begitu, bahwa arusnya pernah mengambil orang lain. Nenek tidak berkata apa-apa. Nenek hanya, pada musim panas itu dan setiap musim panas sesudahnya, meletakkan semangkuk nasi kecil di ambang shoji lorong setiap senja, dan Natsuki tidak pernah menanyakan untuk siapa, karena ia tidak sanggup mendengar jawabannya dari mulut siapa pun yang masih hidup.

Kini Nenek sudah tidak ada untuk meletakkan mangkuk itu.

“Giliranmu, Natsuki,” kata Daigo. Cerita kesembilan puluh sembilan jatuh kepadanya, bukan karena urutan, tetapi karena ketika lingkaran itu berputar, semua orang entah bagaimana telah membiarkannya sampai ke tangan Natsuki. Hanya tersisa dua lilin. Cahayanya menjatuhkan bayang-bayang panjang ke dinding, dan di dinding itu Natsuki melihat delapan bayangan duduk melingkar. Delapan. Yang kedelapan paling pendek, pundaknya menunduk, rambutnya merapat basah ke kepala.

Ruangan tatami tua di malam hari; sekelompok siluet duduk melingkari baki lakuer berisi seratus lilin yang hampir semuanya padam, dan di tepi lingkaran duduk satu siluet kecil seukuran anak-anak.
Tinggal tiga nyala, dan satu tamu yang tak pernah diundang.

Ia membuka mulutnya dan yang keluar adalah sebuah cerita hantu kecil tentang kuil di pegunungan, cerita yang sudah ia simpan di sakunya selama bertahun-tahun supaya ada yang bisa diberikan bila saatnya tiba. Suaranya datar dan rapi. Selesai bercerita, ia menjepit lilin ke-sembilan-puluh-sembilan. Pssst. Jeda. Tetes.

Kali ini tetesnya terdengar tepat di sebelah lututnya.

Tinggal satu lilin. Seluruh ruangan sekarang hanya bercahaya sebesar kepalan tangan, dan lingkaran orang-orang di sekelilingnya telah menjadi kumpulan sosok gelap tanpa wajah. Dalam cahaya itu, Natsuki melihat Paman Shuji akhirnya menoleh kepadanya, matanya basah.

“Yang keseratus,” kata Shuji, perlahan, “bukan giliran siapa yang berikutnya. Yang keseratus adalah cerita yang dihutang seseorang di ruangan ini. Nenekmu tahu itu. Makanya dia menyimpan kotaknya. Dia menunggu sampai kau siap.”

“Aku tidak siap,” kata Natsuki.

“Tidak ada yang siap.” Shuji menunduk. “Tapi dia sudah menunggu empat puluh tahun lebih.”

Natsuki mengerti kata dia itu bukan merujuk pada Nenek. Ia menoleh perlahan, dengan leher yang terasa berkarat, ke arah bantal kedelapan.

Anak itu duduk dengan kaki terlipat rapi, persis seperti yang diajarkan kepadanya dulu. Ia mengenakan kaus bergaris yang sudah terlalu kecil, kaus yang dikubur bersamanya, dan seluruh tubuhnya meneteskan air yang tidak pernah berhenti menetes, sampai tatami di bawahnya menghitam. Wajahnya tidak mengerikan. Itulah yang paling tidak bisa ia tanggung. Wajahnya wajah anak enam tahun yang sedang menunggu, sabar, sedikit mengantuk, dengan bibir membiru dan mata yang tidak menuduh siapa pun.

Tak seorang pun di ruangan itu bergerak, tapi Natsuki tahu mereka juga melihatnya. Ren menutup mulut dengan telapak tangannya. Emi menangis tanpa suara. Mereka semua melihat, dan mereka tetap duduk, seperti orang-orang yang sudah memutuskan bahwa ini adalah milik Natsuki dan bukan milik mereka.

“Kazuki,” kata Natsuki, dan suaranya pecah di suku kata pertama.

Anak itu tidak menjawab. Kepalanya sedikit miring, seperti ia sedang menyimak.

Maka Natsuki menceritakan cerita keseratus. Ia tidak memulainya dengan “pada suatu waktu.” Ia mulai dengan mengatakan bahwa ada seorang kakak yang berumur sembilan tahun, yang sangat ingin diterima oleh anak-anak yang lebih besar, dan yang berbohong kepada dirinya sendiri bahwa adiknya akan baik-baik saja menunggu di batu. Ia menceritakan bagaimana ia mendengar sesuatu jatuh ke air dari seberang sungai, satu bunyi kecil seperti sendok jatuh ke dalam sup, dan bagaimana ia memutuskan bahwa itu adalah bunyi ikan. Ia menceritakan bahwa ia tahu, ia sudah tahu sejak saat itu, dan bahwa ia tetap bermain sampai matahari miring, karena kalau ia tetap bermain, bunyi itu masih bisa menjadi ikan. Ia menceritakan empat puluh tahun yang sesudahnya: kamar-kamar kos, pekerjaan-pekerjaan, laki-laki yang dicintainya dengan hati-hati karena takut kehilangan, dan tidak pernah satu kali pun ia kembali ke sungai.

Ia bercerita lama. Lilin terakhir menyala di depannya, kecil dan tabah, dan selama ia bercerita api itu tidak bergoyang sedikit pun, meski angin dingin dari shoji yang terbuka menusuk tengkuknya.

Ketika ia berhenti, ruangan itu begitu sunyi sampai ia mendengar jantungnya sendiri.

Anak itu mengangkat tangannya. Tangan kecil, putih keriput seperti tangan yang terlalu lama di dalam air, dengan ujung-ujung jari yang membiru. Ia tidak menunjuk, tidak meraih. Ia hanya menaruhnya di atas tatami, di antara dirinya dan Natsuki, telapak ke atas, dalam isyarat yang sudah sangat dikenal Natsuki, isyarat yang dulu ia buat sendiri setiap kali mereka menyeberang jalan: pegang tanganku.

Natsuki mengulurkan jarinya yang gemetar ke arah lilin terakhir, dan menjepitnya.

Gelap.

Bukan gelap yang tenang. Gelap yang bergerak, yang bernapas, yang memadat di seluruh sudut ruangan seperti air naik ke dalam sebuah sumur. Terdengar seseorang menjerit pendek, lalu terdiam. Terdengar kain bergesek. Dan di dalam gelap itu, sebuah tangan menyusup masuk ke dalam telapak tangan Natsuki.

Hangat.

Itulah yang tidak pernah ia bayangkan. Ia selalu mengira tangan Kazuki akan dingin, dingin seperti sungai di bulan Juli. Tetapi tangan itu hangat, hangat seperti tangan anak kecil yang baru bangun tidur dan menggenggam kakaknya di tengah malam karena takut gelap. Ia menggenggamnya. Ia menggenggamnya begitu erat sampai buku-buku jarinya sakit, dan ia menangis dengan suara yang bukan suaranya, suara yang sudah menunggu empat puluh tahun untuk keluar.

“Maaf,” katanya. “Maaf, maaf. Kakak di sini. Kakak di sini sekarang.”

Pagi hari, ketika Daigo menyalakan lampu dan cahaya kelabu masuk lewat shoji, mereka mendapati Natsuki tertidur di atas tatami dengan tangan kanan terkepal di dadanya, seperti menggenggam sesuatu. Baki lakuer di tengah ruangan hanya menyisakan seratus batang lilin hitam kecil, dan di dekat shoji ada dua noda basah di lantai yang sudah mengering menjadi bayangan bulat pucat.

Bantal kedelapan sudah kosong. Tapi tak seorang pun mau mengangkatnya.

Mereka pulang satu per satu sebelum tengah hari. Ren yang pertama, tanpa banyak bicara, menolak menatap siapa pun, dan di sepanjang jalan ke stasiun ia terus mengulang pepatah tentang susuki itu seperti doa yang sudah kehilangan maknanya. Natsuki tetap tinggal. Ia mengatakan kepada yang lain bahwa ia ingin membereskan rumah Nenek, dan itu setengah benar.

Sore itu, ia mengambil semangkuk nasi dari dapur dan meletakkannya di ambang shoji lorong, persis di tempat Nenek meletakkannya selama empat puluh tahun.

Malam itu, dan malam-malam sesudahnya, ia tidur di ruang tatami terpanjang, sebab ia tidak sanggup tidur di ruang lain. Setiap pukul dua, ia terbangun oleh bunyi yang sudah ia kenal: satu tetes, lalu satu tetes lagi, mendekat melintasi lantai papan dengan langkah-langkah kecil yang basah. Futon di sisi kirinya bergeser sedikit. Sesuatu yang kecil berbaring di sana, menggigil, dan ia mengulurkan lengan melingkarinya tanpa membuka mata, dan merasakan hawa dingin yang perlahan-lahan menjadi hangat.

Ada hal lain yang berubah, dan ia hanya menyadarinya pada malam kesembilan. Di tengah ruangan, di atas baki lakuer yang ia lupa singkirkan, ada satu lilin yang menyala. Ia yakin telah memadamkan semuanya. Ia sudah menghitung. Ia memadamkannya, dan keesokan malamnya lilin itu menyala lagi, kecil dan tabah, tanpa ada seorang pun yang menyalakannya.

Seratus kisah sudah selesai diceritakan. Itu yang tertulis di kotak Nenek, itu yang dipercaya semua orang. Tapi Natsuki mulai mengerti, sambil mendengarkan napas kecil yang tak berirama di sampingnya, bahwa ada sebuah kisah yang keseratus satu. Belum ada yang menceritakannya. Dan di ujung ruangan, dalam cahaya satu lilin yang menolak padam, seseorang sedang duduk menunggu gilirannya dengan sabar.


Catatan dari Penjaga Tengah Malam

Cerita ini terinspirasi dari Hyakumonogatari Kaidankai, permainan “seratus kisah seram” dari Jepang. Peserta berkumpul pada malam hari, menyalakan seratus lilin, dan bergiliran menuturkan kisah hantu; setiap selesai satu kisah, satu lilin dipadamkan. Konon, ketika lilin terakhir mati, ruangan menjadi terbuka bagi sesuatu dari seberang. Permainan ini dikaitkan dengan para samurai yang menguji nyali, dan sebagian peneliti menelusuri akarnya hingga tradisi pembacaan seratus kisah Buddhis di zaman pertengahan. Pepatah yang dikutip tokoh Ren, “Yūrei no shōtai mitari, kareobana” (setelah dilihat, wujud hantu itu hanya rumpun susuki yang layu), adalah ungkapan Jepang yang lazim dikenal. Seluruh tokoh, rumah keluarga Sakaguchi, dan peristiwa dalam cerita adalah rekaan penulis.

Perkiraan waktu baca: sekitar 14 menit. Peringatan konten: kematian seorang anak (tenggelam), duka, dan rasa bersalah yang tak selesai.

Pekan ini kita menutup pintu geser dengan sedikit celah. Kalau malam ini ada yang menghitung bantal duduk di rumahmu, hitunglah dengan hati-hati.

Jejak Sumber

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca