Les pèlerins au-dessus des nuages

Rina (nama samaran), 29 tahun, bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor di Makassar. Ia selalu menolak ajakan makan siang bersama dan lebih memilih makan di meja kerja. Beberapa kali ia menolak promosi karena jabatan baru menuntut banyak rapat. Di benaknya ada satu keyakinan yang terus berulang: “Kalau mereka mengenal saya lebih dekat, mereka pasti kecewa.” Anehnya, Rina sebenarnya sangat ingin punya teman dekat dan pasangan. Rasa takutnya saja yang selalu menang.

Pola semacam ini dikenal sebagai avoidant personality disorder (AvPD) atau gangguan kepribadian menghindar. Kondisi ini lebih dari sekadar pemalu atau introver. Introver memilih menyendiri karena nyaman dengan dirinya; orang dengan AvPD menyendiri karena takut, padahal ada kerinduan untuk dekat dengan orang lain.

Ilustrasi siluet seseorang duduk sendiri di dekat jendela memandang kelompok orang bercakap-cakap, melambangkan gangguan kepribadian menghindar (avoidant personality disorder)
Keinginan untuk dekat dengan orang lain yang tertahan oleh rasa takut dinilai.

Apa itu gangguan kepribadian menghindar?

Gangguan kepribadian adalah pola pikir, perasaan, dan perilaku yang kaku, menetap sejak remaja atau awal dewasa, dan menimbulkan hendaya di banyak bidang kehidupan. Pada AvPD, polanya berupa hambatan sosial yang meluas, perasaan tidak mampu, dan kepekaan berlebihan terhadap penilaian negatif. Menurut kriteria DSM-5-TR, diagnosis ditegakkan bila terdapat sedikitnya empat dari tujuh ciri berikut.

  1. Menghindari pekerjaan yang menuntut kontak antarmanusia karena takut dikritik atau ditolak.
  2. Enggan terlibat dengan orang lain kecuali yakin akan disukai.
  3. Menahan diri dalam hubungan dekat karena takut dipermalukan atau ditertawakan.
  4. Terus memikirkan kemungkinan dikritik atau ditolak dalam situasi sosial.
  5. Terhambat dalam situasi baru dengan orang lain karena merasa tidak memadai.
  6. Memandang diri tidak pandai bergaul, tidak menarik, atau lebih rendah dari orang lain.
  7. Sangat enggan mengambil risiko pribadi atau mencoba hal baru karena takut malu.

Perkiraan prevalensinya sekitar 1,5 sampai 2,5 persen penduduk, dan gejalanya biasanya sudah tampak sejak masa remaja. Kondisi ini sering baru dikenali ketika seseorang datang dengan keluhan lain, misalnya depresi, kecemasan, atau kesulitan kerja.

Bedanya dengan pemalu, fobia sosial, dan gangguan kepribadian lain

AvPD sangat mirip dengan gangguan kecemasan sosial (fobia sosial), dan keduanya sering muncul bersamaan. Perbedaannya terletak pada luasnya cakupan: AvPD menyentuh cara seseorang memandang dirinya secara menyeluruh, bukan hanya situasi tertentu seperti berbicara di depan umum.

KondisiInti masalahKeinginan untuk dekat
Pemalu / introverTemperamen; tidak menimbulkan hendaya berartiAda, tetapi tidak menyiksa
Kecemasan sosialTakut pada situasi sosial atau tampil tertentuAda
Gangguan kepribadian menghindarRasa tidak berharga yang menetap; menghindari kedekatan secara luasKuat, tetapi tertahan rasa malu
Gangguan kepribadian skizoidTidak berminat pada hubungan dekatHampir tidak ada

Gangguan ini juga berbeda dari gangguan kepribadian antisosial dan gangguan kepribadian ambang. Orang dengan AvPD umumnya tidak impulsif dan tidak agresif; mereka justru menarik diri dan menekan kebutuhannya sendiri.

Mengapa bisa terjadi?

Penyebabnya multifaktor. Temperamen yang sejak kecil sangat sensitif atau pemalu, pengalaman dikritik, dipermalukan, ditolak atau diabaikan secara emosional pada masa kanak-kanak, perundungan (bullying), serta pola asuh yang terlalu mengkritik dapat membentuk keyakinan inti bahwa diri ini cacat dan tidak layak dicintai. Keyakinan itu kemudian dijaga lewat penghindaran: karena tidak pernah mendekat, ia tidak pernah punya kesempatan membuktikan bahwa keyakinannya keliru.

Dampaknya tidak ringan

Sebuah studi biaya penyakit di Norwegia pada 410 pasien AvPD melaporkan beban sosial-ekonomi yang tinggi, setara dengan gangguan kepribadian ambang dan skizofrenia. Sekitar 69 persen biayanya berasal dari hilangnya produktivitas, misalnya sulit bekerja atau mempertahankan pekerjaan (Sveen dkk., 2025). Di luar angka itu, ada beban yang lebih sunyi: kesepian kronis, depresi, dan peluang hidup yang tidak diambil.

Bagaimana penanganannya?

Kabar baiknya, gangguan kepribadian tidak sepenuhnya “tak bisa berubah”. Tinjauan terbaru menyimpulkan bahwa psikoterapi terarah dapat membantu dan sebagian orang mengalami perbaikan bahkan remisi, sementara bukti bahwa obat saja bermanfaat untuk gangguan kepribadian masih lemah (Tyrer dkk., 2025). Obat umumnya dipakai untuk menangani kondisi penyerta seperti depresi atau kecemasan.

Pendekatan psikoterapi yang digunakan antara lain:

  • Terapi perilaku kognitif (CBT): menantang pikiran otomatis seperti “saya pasti dipermalukan” dan melatih paparan bertahap pada situasi sosial. Prinsip dasarnya dapat dibaca di artikel CBT: cara kerja dan buktinya.
  • Terapi skema: menggarap keyakinan inti yang terbentuk sejak kecil dan “mode” penghindaran yang melindungi seseorang dari rasa sakit (Kohli dkk., 2026).
  • Terapi berbasis mentalisasi dan metakognitif interpersonal: membantu memahami pikiran dan perasaan diri maupun orang lain; studi percontohan menunjukkan hasil menjanjikan (Simonsen dkk., 2022).

Pada uji acak terhadap 154 pasien dengan kecemasan sosial dan AvPD, terapi kelompok CBT dan terapi kelompok skema sama-sama memperbaiki gejala hingga 12 bulan setelah terapi, tanpa perbedaan bermakna di antara keduanya (Baljé dkk., 2025). Artinya, yang terpenting bukan merek terapinya, melainkan keberanian untuk memulai dan bertahan dalam proses.

Bila Anda atau orang terdekat mengenali pola ini

Beberapa langkah kecil dapat membantu: mulai dari satu orang yang aman, bukan kelompok besar; menuliskan prediksi (“mereka pasti menolak”) lalu mencocokkannya dengan kenyataan; dan menyadari bahwa rasa malu bukan bukti bahwa kita memang kurang. Bagi keluarga atau rekan kerja, sikap yang membantu adalah mengajak tanpa memaksa, tidak mencap “sombong” atau “anti-sosial”, dan memberi umpan balik dengan lembut. Bila hambatan ini sudah mengganggu pekerjaan, hubungan, atau mood, temui psikolog klinis atau psikiater. Layanan kesehatan jiwa kini tersedia di banyak puskesmas dan rumah sakit di berbagai daerah, termasuk lewat telekonsultasi. Bila muncul pikiran untuk menyakiti diri, segera cari bantuan profesional atau hubungi layanan darurat setempat.

Rujukan

  • Sveen CA, dkk. The societal costs of avoidant personality disorder. Personal Ment Health. 2025. doi:10.1002/pmh.1644
  • Tyrer P, King J, Mulder R. Multimodal approaches to the treatment of personality disorder. Expert Rev Neurother. 2025. doi:10.1080/14737175.2025.2515066
  • Baljé AE, dkk. Moderators and mediators of group CBT vs group schema therapy for social anxiety disorder and comorbid AvPD. Clin Psychol Psychother. 2025. doi:10.1002/cpp.70148
  • Kohli TK, dkk. Schema therapy for avoidant personality disorder: working with dysfunctional coping modes. Indian J Psychol Med. 2026. doi:10.1177/02537176261418993
  • Simonsen S, dkk. Combined individual metacognitive interpersonal therapy and group mentalization-based treatment for AvPD: a pilot study. J Nerv Ment Dis. 2022. doi:10.1097/NMD.0000000000001432
  • American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). 2022 (kriteria dan perkiraan prevalensi).

Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan jiwa profesional.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan