Bayangkan seorang pria berusia 45 tahun di Kupang, sebut saja Pak Yosef. Dua tahun lalu ia hanya minum bersama teman sepulang kerja. Kini ia minum setiap hari, sudah dua kali terlambat masuk kerja karena pagi harinya tangan gemetar, dan ia berkali-kali berjanji pada istrinya untuk berhenti, tetapi selalu kembali. Ketika ia mencoba berhenti mendadak selama dua hari, ia berkeringat, jantungnya berdebar, dan tidur tidak mungkin. Pak Yosef bukan “lemah iman” atau “kurang niat”. Ia sedang menghadapi kondisi medis yang punya nama: gangguan penggunaan alkohol (alcohol use disorder, AUD).
Seberapa besar masalahnya?
Menurut laporan WHO tahun 2024, alkohol menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian pada 2019 atau 4,7% dari seluruh kematian di dunia, dan sekitar 2 juta di antaranya terjadi pada laki-laki. Diperkirakan 400 juta orang hidup dengan gangguan akibat penggunaan alkohol, dan 209 juta di antaranya mengalami ketergantungan. Di sisi lain, jumlah orang yang tersentuh layanan pengobatan sangat kecil: di negara-negara yang melaporkan data, cakupannya berkisar dari kurang dari 1% hingga paling banyak 35% (WHO, 2024).
Artinya, sebagian besar orang yang membutuhkan bantuan tidak pernah mendapatkannya. Di Indonesia, stigma sering membuat keluarga menyembunyikan masalah ini sampai muncul komplikasi serius seperti sirosis, kecelakaan, atau kejang putus alkohol. Padahal gangguan ini dapat diobati.
Apa itu gangguan penggunaan alkohol?
Gangguan penggunaan alkohol adalah pola minum bermasalah yang menimbulkan hendaya atau penderitaan bermakna. Istilah ini menggantikan sebutan lama “penyalahgunaan alkohol” dan “ketergantungan alkohol” yang kini digabung dalam satu spektrum menurut kriteria DSM-5. Diagnosis ditegakkan bila dalam 12 bulan terakhir terdapat sedikitnya dua dari sebelas ciri berikut:
| Kelompok | Ciri yang dinilai |
|---|---|
| Kendali terganggu | Minum lebih banyak atau lebih lama dari rencana; ingin atau gagal berhenti; banyak waktu habis untuk mendapatkan, memakai, atau pulih dari alkohol; keinginan kuat (craving) |
| Dampak sosial | Gagal memenuhi tugas di kerja, sekolah, atau rumah; tetap minum meski memicu konflik; aktivitas penting ditinggalkan |
| Penggunaan berisiko | Minum dalam situasi berbahaya (misalnya berkendara); tetap minum meski tahu memperburuk masalah fisik atau jiwa |
| Efek farmakologis | Toleransi (perlu dosis lebih banyak); gejala putus alkohol |
Penting dicatat, orang dengan gangguan ringan pun tetap layak mendapat intervensi, dan kategori berat tidak selalu tampak “berantakan” dari luar. Banyak penderita tetap bekerja, berkeluarga, dan terlihat fungsional.
Mengapa seseorang bisa “terjerat”?
Alkohol bekerja pada sistem saraf pusat dengan memperkuat efek zat penenang alami otak dan menekan zat perangsang. Pada penggunaan berulang, otak menyesuaikan diri: sistem “penenang” menumpul dan sistem “perangsang” menguat. Akibatnya, tanpa alkohol otak berada dalam keadaan terlalu terangsang, sehingga muncul gelisah, tremor, berdebar, dan sulit tidur. Sirkuit penghargaan otak juga berubah sehingga craving dan isyarat lingkungan, seperti tempat atau teman minum, dapat memicu keinginan yang sulit ditahan. Genetik, trauma masa kecil, gangguan jiwa penyerta seperti depresi dan kecemasan, serta lingkungan yang menormalkan minum berlebihan ikut memengaruhi risiko.
Dampak jangka panjangnya meluas: perlemakan hati, hepatitis alkoholik, sirosis, pankreatitis, gastritis, kardiomiopati, hipertensi, beberapa jenis kanker, kerusakan saraf tepi, gangguan memori, serta peningkatan risiko bunuh diri dan kecelakaan.
Mengenali tanda dan melakukan skrining
Di layanan primer, skrining singkat seperti AUDIT atau AUDIT-C lebih berguna daripada menunggu pasien mengaku. Pertanyaan terbuka tanpa menghakimi, misalnya “Dalam seminggu terakhir, berapa kali Bapak minum, dan berapa gelas biasanya?”, sering sudah cukup membuka percakapan. Tanda yang patut dicurigai meliputi keluhan lambung berulang, tekanan darah sulit terkontrol, kecelakaan berulang, kecemasan atau insomnia yang tak jelas penyebabnya, peningkatan enzim hati (terutama rasio AST lebih tinggi dari ALT), dan peningkatan volume sel darah merah (MCV).
Putus alkohol: fase yang bisa mengancam nyawa
Gejala putus alkohol dapat dimulai 6 sampai 24 jam setelah minum terakhir: tremor, berkeringat, mual, cemas, dan tekanan darah naik. Pada sebagian orang berkembang menjadi kejang (biasanya dalam 12 sampai 48 jam) atau delirium tremens beberapa hari kemudian, yaitu kebingungan, halusinasi, demam, dan ketidakstabilan hemodinamik yang dapat berakibat fatal. Karena itu, peminum berat sebaiknya tidak berhenti mendadak sendirian di rumah. Penilaian dengan skala seperti CIWA-Ar, pemberian benzodiazepin yang diawasi, hidrasi, dan pemberian tiamin (vitamin B1) sebelum atau bersamaan dengan glukosa untuk mencegah ensefalopati Wernicke merupakan bagian dari penanganan di fasilitas kesehatan.

Pengobatan: ada obatnya, dan ada terapinya
Pengobatan yang efektif menggabungkan obat dan terapi perilaku. Pedoman American Psychiatric Association (APA) menyarankan agar penderita gangguan sedang sampai berat yang ingin mengurangi atau berhenti minum ditawari naltrexone atau akamprosat bila tidak ada kontraindikasi. Disulfiram, topiramat, atau gabapentin dapat menjadi alternatif pada kondisi tertentu, sedangkan benzodiazepin hanya untuk putus alkohol akut, dan antidepresan hanya bila ada indikasi lain (ringkasan pedoman APA). Pedoman yang sama menekankan tujuan terapi yang ditetapkan bersama pasien, penilaian penggunaan zat lain termasuk rokok, dan rencana yang berpusat pada pasien dengan terapi nonfarmakologis seperti wawancara motivasional dan terapi perilaku kognitif.
| Obat | Cara kerja singkat | Catatan penting |
|---|---|---|
| Naltrexone | Menghambat reseptor opioid sehingga mengurangi “rasa nikmat” dan dorongan minum | Tidak boleh pada pengguna opioid; periksa fungsi hati |
| Akamprosat | Menstabilkan sistem saraf yang terganggu setelah berhenti minum | Dosis disesuaikan pada gangguan ginjal; dipakai setelah pasien berhenti minum |
| Disulfiram | Menimbulkan reaksi tidak nyaman bila minum alkohol | Hanya untuk pasien yang termotivasi abstinen dan paham risiko |
| Topiramat / gabapentin | Memodulasi eksitasi saraf | Alternatif bila obat lini pertama tidak cocok atau tidak berhasil |
Seberapa besar manfaatnya? Tinjauan American Family Physician yang merangkum meta-analisis 22 uji acak (N = 22.803) menemukan bahwa akamprosat memiliki number needed to treat (NNT) sekitar 12 untuk mencegah kembali minum dalam bentuk apa pun, sedangkan naltrexone memiliki NNT sekitar 12 untuk mencegah kembali minum berat (AAFP, 2020). Angka ini mungkin tampak sedang, tetapi setara dengan banyak obat penyakit kronis lain, dan jauh lebih baik daripada tanpa obat.
Kelompok dukungan sejawat seperti Alcoholics Anonymous dapat membantu menjaga pemulihan jangka panjang, tetapi tidak menggantikan penanganan medis. Pada ibu hamil atau menyusui, obat umumnya tidak dianjurkan kecuali untuk putus alkohol atau gangguan penyerta yang memerlukannya, sehingga rujukan ke dokter spesialis sangat dianjurkan.
Dukungan keluarga: apa yang membantu dan apa yang tidak
Keluarga seperti istri Pak Yosef sering terjebak antara marah dan iba. Sikap yang membantu adalah menyampaikan kekhawatiran dengan tenang di saat pasien tidak sedang mabuk, menawarkan untuk menemani ke Puskesmas atau rumah sakit, dan merayakan kemajuan sekecil apa pun. Ancaman, rasa malu, dan menutup-nutupi masalah cenderung memperpanjang penyangkalan. Kambuh bukan tanda kegagalan total: seperti penyakit kronis lain, kekambuhan sering terjadi dan menjadi alasan untuk menyesuaikan rencana terapi, bukan menyerah.
Kapan harus segera mencari pertolongan?
Segera ke IGD bila muncul kejang, kebingungan atau halusinasi, muntah darah atau tinja hitam, kulit dan mata menguning disertai perut membesar, atau pikiran untuk menyakiti diri. Di luar keadaan darurat, temui dokter bila Anda atau orang terdekat sudah gagal berhenti atau mengurangi minum berulang kali, atau minum sudah mengganggu pekerjaan, hubungan, dan kesehatan.
Pesan utama
Gangguan penggunaan alkohol adalah penyakit otak dan perilaku yang dapat diobati, bukan cacat karakter. Semakin dini dikenali, semakin besar peluang pulih dan semakin kecil risiko komplikasi pada hati, jantung, otak, serta kehidupan sosial. Dokter layanan primer berperan besar lewat skrining sederhana, penanganan putus alkohol yang aman, dan rujukan yang tepat.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter. Jangan menghentikan alkohol mendadak tanpa pengawasan bila Anda sudah minum berat dan teratur.
Referensi
- World Health Organization. Over 3 million annual deaths due to alcohol and drug use, majority among men. 25 Juni 2024.
- American Psychiatric Association. Ringkasan pedoman farmakoterapi gangguan penggunaan alkohol. HCPLive, 2018.
- American Family Physician. FPIN’s Clinical Inquiries: pharmacotherapy for alcohol use disorder. 2020.





Tinggalkan Balasan