Les pèlerins au-dessus des nuages

Bagian IV: Sasi dan Kehilangan · Bab 17

Raka tidak menjawab malam itu.

Ia memandang air hitam di bawah kakinya, lalu tangannya sendiri, yang masih basah oleh tangis dan embun. Ia mencoba membayangkan kamar kos di Kudamati: kipas angin yang berderit, jemuran tetangga, bunyi angkot di tanjakan. Gambarnya datang dengan mudah. Terlalu mudah, seperti jalan yang sudah dihafal kaki.

“Beta belum tahu,” katanya.

Sari mengangguk, seolah sudah menduga angka itu sebelum memasang manset. “Itu jawaban orang Ambon.”

“Beta orang mana, kalau begitu?”

“Itu yang beta tanya.” Ia berdiri dengan bertumpu pada tiang, pelan, menunggu napasnya sampai di atas. “Ose tidak usah jawab malam ini. Beta tanya supaya ose tahu ada orang yang tanya. Selama ini ose pergi dan pulang, dan tidak ada yang tanya. Oma tidak pernah tanya. Oma cuma tunggu.”

Ia meninggalkan selimut di bahu Raka dan berjalan pulang di atas papan dermaga. Langkahnya berhenti dua kali sebelum sampai di pasir.


Rabu pagi katinting Abdul berangkat ke utara dengan Sari dan Melki. Mama Rahel tidak ikut. Ia berdiri di kaki tangga dengan tikar yang sudah digulung di bawah ketiak dan memandang perahu itu sampai lepas dari tanjung, lalu memandang Raka.

“Beta pulang ke beta punya rumah,” katanya. “Su empat hari beta tidak sapu.”

“Mama terima kasih.”

“Jangan.” Ia memindahkan tikar ke ketiak yang lain. “Ose makan. Ose kurus. Kalau Sari tanya, beta mau bilang ose makan, dan beta tidak suka bohong.” Ia berjalan pergi lewat jalan depan, lewat lubang di tanah yang sudah kering dan mulai ditumbuhi rumput halus.

Perempuan-perempuan lain pulang satu per satu sepanjang pagi. Mama Lena melipat kain yang dipakai menutup cermin. Neles membawa pulang piring-piring yang dipinjam dari tiga rumah dan menghitungnya di beranda, menyebut nama pemiliknya dengan suara pelan. Mama Ince mengembalikan termos maitua Imam Hasan. Yang terakhir Mama Ani. Ia datang membawa rantang susun tiga seperti biasa, menaruhnya di meja dapur, lalu berdiri di depan dinding ruang depan, di depan jadwal yang ia tulis di kertas bungkus rokok suaminya.

Senin Mama Ani. Selasa Neles. Rabu Mama Ince, siang saja.

Ia memandang tulisannya sendiri lama. Tangannya terangkat ke sudut kertas yang ditempel dengan nasi, lalu turun lagi.

“Besok beta tidak datang,” katanya. “Ose su tidak perlu jadwal.” Ia menelan sesuatu. “Tapi rantang ini beta ambil hari Sabtu. Jadi hari Sabtu ose harus ada di rumah. Ose dengar?”

“Beta dengar, Mama.”

Ia tidak mencabut kertas itu. Raka juga tidak.


Sesudah Mama Ani pergi, rumah itu diam dengan cara yang belum pernah Raka dengar.

Ia sudah mengenal sunyi. Ia sembilan tahun hidup di kamar kos yang hanya berbunyi kalau ia sendiri yang bergerak. Tetapi sunyi di Kudamati adalah sunyi yang kosong dari awal. Sunyi di rumah ini punya bentuk. Ada bunyi yang seharusnya ada dan tidak ada: sandal biru dan hijau yang menyeret di lantai papan, gumam bahasa Kei kepada bawang, sendok yang beradu dengan gelas gompal, pertanyaan “Ose siapa?” yang dulu membuatnya ingin lari dan kini akan ia bayar mahal untuk mendengarnya sekali lagi.

Ia menyalakan tungku dengan sabut kelapa. Tangannya tahu jalannya sekarang. Ia merebus air, membuka kaleng biskuit bergambar mawar, menyendok gula, dan menuang kopi ke dalam dua gelas.

Ia baru sadar ketika gelas kedua sudah penuh.

Lama ia berdiri di depan tungku memandang dua gelas itu. Lalu ia duduk di bangku dapur dan meminum keduanya, yang satu, lalu yang lain, sampai habis. Kopi kedua terlalu manis. Ia tidak tahu untuk siapa gelas itu ia tuang. Untuk Marthen, barangkali, seperti Oma. Atau untuk Oma. Atau untuk dirinya yang tujuh tahun, yang dulu duduk di bangku ini dengan kaki tergantung dan menunggu seseorang pulang.

Siang itu ia membereskan obat. Captopril tinggal dua strip setengah, terbungkus plastik di atas lemari kecil. Ia memasukkannya ke kantong kemeja. Sisa amoksisilin tinggal tiga kapsul di dalam kertas lipat. Ia membawanya ke Polindes.

Pintu Polindes tertutup rapat. Seseorang sudah menyapu lantai semennya dan mengembalikan kursi kayu yang dibawa Melki ke pekuburan. Gorden biru di kawat masih terbuka separuh. Di meja, buku register bersampul batik terbaring di tempatnya. Raka membukanya, mencari halaman tempat ia menulis sepuluh parasetamol dengan tangannya sendiri pada malam Oma demam, lalu menulis di bawahnya, rapi, dengan huruf yang ia usahakan setegak huruf Pak Elias: Amoksisilin 500, dikembalikan 3 kapsul. Pasien: Hendrika Notanubun. Ia berhenti sebelum menulis kata berikutnya. Lalu ia menulisnya juga. Meninggal.

Ia menaruh kapsul itu kembali ke kotak karton di rak atas, di bawah plester bertulisan Sari: Ose tidak tahu berapa, jangan sentuh.

Ia tahu berapa sekarang. Itu tidak membuatnya merasa lebih baik.

Malam itu genset menyala pukul setengah tujuh, dan neon di ruang depan menerangi kursi rotan yang jebol satu sisinya. Raka duduk di lantai beranda, seperti Yosef. Ia tidak mau duduk di kursi itu.

Sesudah genset mati ia berbaring di tikar pandan di kamarnya, di sebelah dapur, dengan jendela menghadap laut. Tiga tangkai kembang sepatu di botol sudah lama layu dan tak seorang pun menggantinya. Ia mendengar ombak. Ia menunggu suara dari kamar Oma, lagu yang berhenti di tengah, napas yang naik turun di balik kelambu bertambal. Tidak ada.

Ia mencoba menyanyikannya sendiri. Pelan, hampir tanpa suara. Bait pertama keluar utuh. Bait kedua ia ingat sampai ujung, karena ia sendiri yang dulu menyelesaikannya untuk Oma. Lalu ia sampai di tempat bait ketiga seharusnya mulai, dan mulutnya terbuka dan tidak ada apa-apa di dalamnya.

Ia bangkit, menyalakan pelita, dan membuka buku rencana pelajaran di halaman kosong di belakang catatan demam Oma. Janur dari map desa masih terselip di sana, kini kering dan berwarna jerami seperti janur hawear di kolong rumah. Ia menulis satu kata. Perahu. Ia memandang kata itu. Ia menambahkan: yang pulang. Lalu ia mencoret keduanya dengan satu garis, karena kalimat itu bohong di tangannya, seperti dulu bohong di mulut Oma.

Ose su pulang, kata Oma. Jadi bait ketiga sekarang tidak bohong lagi.

Tetapi Oma tidak tahu, pikir Raka, bahwa yang pulang bisa pergi lagi.

Ia menarik tas dari bawah lemari kecil yang diikat tali rafia. Tas yang sama yang ia bawa turun dari kapal perintis. Map plastik biru berisi ijazah masih di dalamnya, terlipat di sudut. Ia mengeluarkan uang dari saku dalam dan menghitungnya di bawah pelita. Sisa uang jual sepeda, sesudah tiga strip Captopril di apotek dekat pasar Tual, sesudah sebungkus tembakau untuk Bapa Kedua. Honor bulan pertama dari sekolah belum dibayar, dan mungkin akan dibayar dengan ikan. Ia menghitung dua kali. Cukup untuk tiket kapal ke Ambon. Cukup untuk sebulan sewa kamar di Kudamati, kalau ibu kos masih mau menerimanya.

Ia tidak memasukkan uang itu kembali ke saku dalam. Ia memasukkannya ke dalam map biru, bersama ijazah, seperti orang menyiapkan sesuatu.


Kamis pagi sekolah masuk lagi.

Sebelum lonceng velg mobil dipukul, Raka mengetuk pintu rumah Pak Elias dengan rencana pelajaran di tangan, seperti yang diminta dan seperti yang Oma pesankan pada malam terakhirnya. Bawa rencana ke Guru Elias dulu. Dia orang baik. Dia cuma takut.

Pak Elias menerimanya di meja makan dekat jendela yang menghadap gereja. Istrinya menaruh dua gelas teh tanpa bunyi dan menghilang. Pak Elias memakai kacamata baca dari saku kemeja dan membaca halaman itu lama sekali, lebih lama daripada yang diperlukan untuk dua puluh baris tulisan.

Rencana itu bersih. Raka menulisnya Rabu malam sesudah mencoret bait yang tidak jadi. Tidak ada pertanyaan “menurut kalian”. Tidak ada karang, tidak ada peta gambar tangan, tidak ada lajur tentang barang yang datang dari luar. Hanya bab buku paket, ringkasan, pertanyaan salin-jawab, dan latihan soal Ebtanas.

Pak Elias meletakkan kertas itu dan melepas kacamata.

“Ini rencana yang beta tulis tahun tujuh puluh,” katanya.

“Bapa yang minta rencana lewat Bapa dulu.”

“Beta minta lihat. Beta tidak minta ose tulis beta punya.” Ia mengambil pulpen dari saku, menandatangani pojok kertas dengan huruf kecil yang tegak, dan mengembalikannya. “Ini boleh. Semua ini boleh.” Ia memandang Raka dari atas gelas tehnya. “Ose tidur?”

“Sedikit.”

“Ose makan?”

Raka tidak menjawab. Pak Elias mengangguk, seperti Mama Rahel, seperti semua orang tua di kampung ini yang tahu jawaban sebelum bertanya.

Di kelas dua, delapan belas murid berdiri ketika ia masuk. Theresia berseru “Beri salam!” dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. Bangku Yosef di dekat jendela laut terisi; air sedang jahat, ombak putih di karang. Maria duduk di bangku depan dengan kuku yang bersih hari ini, dan ia memandang Raka seperti orang memandang pintu yang baru dicat.

Raka mengajar sesuai kertas yang sudah ditandatangani. Ia menulis ringkasan di papan, dan mereka menyalinnya. Ia membacakan pertanyaan, dan mereka mencari jawabannya di buku. Hasan tidak menyikut Paulus. Tidak ada yang berdebat tentang kapal motor dan kapal layar. Kelas berjalan dengan tertib dan rapi, seperti perahu yang didayung orang yang sudah lupa ke mana tujuannya.

Di tengah jam kedua Maria mengangkat tangan.

“Pak.”

Raka memandangnya. Ia tahu, sebelum anak itu bicara, bahwa ia akan bertanya sesuatu yang tidak ada di kertas.

“Iya, Maria.”

Anak itu membuka mulut. Lalu ia melihat wajah Raka, dan menutupnya lagi. “Tidak jadi, Pak.”

Sepulang sekolah, ketika anak-anak berlari turun ke pantai, Raka memanggil Maria dan mengembalikan kertas dua lajurnya, yang sudah seminggu terselip di bukunya. Semen sumur. Luar. Berapa zak? Di pinggir kertas, dengan pensil, ada gambar kecil tanjung yang lebih panjang dan lebih tajam.

“Pak Elias su lihat,” kata Raka. “Ose kerja soal Ebtanas tiga tahun lalu, ya. Itu yang penting sekarang.”

Maria menerima kertas itu dengan dua tangan. Ia memandangnya, lalu memandang Raka.

“Pak Guru sakit?”

“Tidak.”

“Mama bilang orang yang baru kubur oma, dia sakit di dalam. Tidak kelihatan.” Ia melipat kertas itu menjadi empat. “Mama bilang jangan tanya-tanya Pak Guru dulu.”

Ia melambai sekali tanpa menoleh dan berlari turun.

Dari ruang guru, Pak Elias memperhatikan semuanya dengan tangan di belakang punggung. Ketika Raka lewat, ia berkata tanpa memandangnya, “Ose mengajar macam beta hari ini.”

“Itu yang Bapa mau.”

“Beta tidak bilang beta mau.” Kunci-kunci di rantainya berbunyi ketika ia berbalik masuk. “Beta bilang boleh. Itu lain.”


Jumat ia mengajar dengan cara yang sama, dan anak-anak menyalin dengan cara yang sama. Jumat malam ia mulai berkemas.

Ia tidak memutuskan untuk berkemas. Tangannya yang mulai, seperti tangannya yang membuka jendela pada subuh Oma pergi. Ia melipat dua kemeja dan celana kain. Ia mengambil kesepuluh bukunya dari lemari kecil, satu demi satu, dan menyusunnya di lantai: sajak Chairil, kamus besar, novel Pramoedya yang masih bersampul koran. Ia menyusun mereka di sebelah tas yang terbuka, belum di dalamnya. Seperti orang yang berdiri di dermaga dengan satu kaki di papan dan satu kaki di perahu.

Lalu ia membuka peti kayu besi di kolong ranjang Oma. Kain tenun yang tinggal satu, merah tua dan hitam, berbau kapur barus. Sisir tanduk yang patah satu giginya. Sepasang anting emas kecil. Buku catatan lagu bersampul kain belacu, yang Senin malam dipegang perempuan pengupas kelapa dan kini kembali ke tempatnya.

Ia memegang buku itu di pangkuan. Ia tidak tahu apakah boleh membawanya ke Ambon. Ia tidak tahu apakah boleh meninggalkannya di sini, di rumah yang sebentar lagi tidak dihuni siapa-siapa, tempat rayap akan masuk lewat tiang dan atap rumbia akan bocor di musim barat. Kelapa yang ditutup, orang boleh pandang, kata Bapa Kedua. Yang dilarang cuma bawa turun, bawa pergi.

Ia menaruh buku itu di atas tumpukan buku-bukunya, lalu memindahkannya lagi ke dalam peti, lalu mengeluarkannya lagi. Ketika genset mati, buku itu masih di tangannya.


Sabtu pagi ia mengajar. Sabtu siang, sepulang sekolah, ia tidak turun ke pantai. Ia duduk di lantai beranda dengan punggung bersandar pada dinding bambu, di antara tas yang setengah terisi dan kursi rotan yang kosong, dan memandang laut di bawah tanjung. Air surut. Para-para ikan berjajar di sepanjang pantai. Ia mencoba memikirkan kalimat untuk Sari. Beta antar ose ke Ambon. Beta tinggal di Ambon. Beta cari sekolah lain. Semua kalimat itu benar, dan semuanya terdengar seperti surat ke Tual.

Ia tidak mendengar mereka datang sampai mereka sudah di halaman.

Mereka datang dari arah pantai, beriringan di jalan setapak di bawah pohon jambu air, seperti anak-anak yang dikirim orang tua untuk menjemput seseorang. Yosef yang paling depan, tanpa sandal, membawa seekor kerapu berbintik yang masih bergerak di ujung tali yang dikaitkan ke insangnya. Di belakangnya Maria dengan tampah berisi enbal yang dibungkus daun pisang, terlalu besar untuk tangannya. Theresia membawa seikat kangkung. Hasan dan Paulus berdua menjinjing ember berisi kepiting yang mencakar-cakar dinding plastik. Dan di belakang sekali, tidak ikut masuk ke halaman, berdiri di bawah pohon jambu air seorang anak lelaki yang Raka belum pernah lihat di kelas mana pun.

Anak itu lebih tua dari Yosef, barangkali lima belas. Kulitnya lebih gelap, rambutnya kemerahan dimakan garam, dan tangannya penuh bekas luka tali. Ia memakai kaus yang dulunya seragam olahraga sebuah SD, dan ia berdiri seperti orang yang tidak yakin boleh berdiri di situ.

Yosef naik ke anak tangga pertama. Lalu ia berhenti, karena matanya menemukan tas yang terbuka dan buku-buku yang tersusun di lantai beranda.

Anak-anak di belakangnya ikut berhenti.

“Ini dari Bapa,” kata Yosef. Suaranya, yang sedang pecah, kini pecah di tempat yang salah. “Kerapu. Hidup. Bapa bilang jangan dijual, Pak Guru makan sendiri.” Ia mengangkat ikan itu sedikit, lalu menurunkannya lagi, karena tidak ada tangan yang menerimanya. “Enbal dari Mama Fransina. Kangkung dari Theresia punya mama. Kepiting dari…” Ia memandang Hasan.

“Beta tangkap sendiri,” kata Hasan. “Paulus cuma pegang ember.”

Paulus menyikutnya.

Raka berdiri. Ia tidak tahu harus menerima yang mana dulu. Ia tidak tahu harus berkata apa tentang tas di lantai, yang terlihat jelas dari halaman, dari jalan, barangkali dari laut.

Maria yang bicara lebih dulu. Ia menaruh tampah enbal di anak tangga kedua, dengan hati-hati, seperti menaruh barang di depan pintu orang yang sedang tidur.

“Hasan punya adik bilang Pak Guru mau pulang ke Ambon,” katanya. “Hasan punya adik dengar dari Mama Ince. Mama Ince dengar dari Mama Ani. Mama Ani bilang Pak Guru hitung uang di bawah pelita.”

Raka memandang pelita yang kini dingin di ambang jendela kamarnya. Jendela itu menghadap laut. Siapa saja yang lewat di pantai pada malam Rabu bisa melihat bayangan orang membungkuk menghitung uang.

“Beta belum tahu,” katanya, dan mendengar sendiri betapa kalimat itu terdengar seperti orang Ambon.

Yosef menaruh kerapu itu di atas anak tangga, di samping tampah, dan ikan itu menggelepar sekali lalu diam. Anak itu menegakkan badan. Ia tidak memandang Raka. Ia memandang ke barat daya, ke karang, ke laut tempat bapanya mengajarinya membaca arus dengan tangan, dan yang dulu diajarkan kepada bapanya oleh bapa Raka.

“Pak guru tidak boleh pergi,” katanya. “Kami belum selesai belajar.”

Tidak ada yang bergerak. Seekor kepiting berhasil memanjat dinding ember dan jatuh ke tanah, dan tidak ada yang memungutnya.

“Pak Guru su ajar katong pegang air,” kata Yosef. “Tapi Pak Guru sendiri belum bisa. Beta lihat. Di karang, Pak Guru rasa sesuatu, tapi Pak Guru tidak bilang. Orang yang belum bisa tidak boleh pergi dulu.” Suaranya pecah lagi dan kali ini ia membiarkannya. “Bapa bilang dulu Pak Marthen juga belum selesai ajar dia. Pak Marthen pergi, dan Bapa belajar sisanya sendiri dari laut. Bapa bilang itu susah. Bapa bilang laut itu guru yang pukul.”

Maria membuka buku tulisnya. Buku yang selama ini ia bawa ke mana-mana, sampulnya sudah berminyak oleh tangan bersisik ikan. Ia membalik ke halaman belakang dan menyodorkannya ke atas anak tangga.

Di halaman itu, dengan pensil, dengan huruf kecil yang rapat, ada daftar bernomor.

1. Mamanya juga salah, to?
2. Kenapa angin musim barat datang dari barat laut, bukan dari barat?
3. Bidan Sari meninggal?
4. Kampung dapat uang dari mana?
5. Berapa zak?

Nomor tiga dicoret dengan dua garis, dan di sebelahnya ada tulisan kecil: tidak.

Daftar itu panjang. Raka berhenti membaca di nomor sebelas, karena matanya tidak bisa lagi.

“Itu yang Pak Guru belum jawab,” kata Maria. “Pak Guru bilang tulis, jangan hapus. Jadi beta tulis.” Ia memandang tas di lantai. “Kalau Pak Guru pergi, beta tanya siapa?”

Raka berlutut di anak tangga paling atas, sehingga matanya setinggi mata anak-anak itu. Ia mengambil buku Maria dengan dua tangan, seperti Mama Lena menerima sandal biru dan hijau, dan ia membaca nomor satu lagi, pertanyaan pertama yang dibawa anak ini kepadanya pada sore hari pertama ia mengajar.

Lalu ia memandang anak lelaki di bawah pohon jambu air.

“Itu siapa?”

Anak-anak menoleh. Yosef yang menjawab. “Yulius, Pak. Dia dari ujung utara, dekat beta punya rumah. Dia berhenti kelas satu, waktu bapanya beli mesin.” Yosef menggaruk tengkuk. “Dia tidak berani ke sekolah. Dia pikir Pak Elias masih ingat dia punya nama di buku absen. Tapi dia dengar beta belajar pecahan di sini sore-sore. Dia mau ikut. Kalau Pak Guru masih di sini.”

Yulius tidak mendekat. Ia hanya mengangkat dagu sedikit, sangat sedikit, seperti Om Dominggus mengangkat dagu ke arah tanjung.

Raka memandang tas itu. Lalu, tanpa memutuskan, karena keputusan seperti ini barangkali memang tidak pernah diputuskan dan hanya dilakukan, ia mengambil buku teratas dari tumpukan di lantai. Sajak Chairil. Ia menyodorkannya kepada Theresia, yang paling dekat.

“Baca,” katanya. “Di beranda sini. Keras-keras. Yang lain dengar.”

Theresia memandang buku itu seperti memandang ikan yang belum pernah ia lihat. “Sekarang, Pak?”

“Sekarang. Maria, ose ambil kamus. Kalau ada kata yang Theresia tidak tahu, ose cari. Hasan, Paulus, pungut itu kepiting sebelum dia lari ke laut. Yosef.” Ia menerima kerapu itu akhirnya, dan ikan itu menggelepar di tangannya, berat dan dingin dan hidup. “Ose bersihkan ikan ini dengan beta di dapur. Beta tidak tahu cara potong kerapu supaya tidak sia-sia.”

“Pak Guru anak nelayan tidak tahu potong kerapu,” gumam Hasan.

“Makanya beta belum selesai belajar,” kata Raka.

Ia turun ke halaman, ke bawah pohon jambu air. Yulius mundur setengah langkah dan berhenti. Dari dekat, tangan anak itu lebih tua dari umurnya.

“Ose bisa hitung?”

“Bisa, Pak. Kilo ikan. Utang mesin.” Suaranya serak, suara anak yang lebih sering bicara dengan angin daripada dengan orang. “Baca yang tidak bisa. Su lupa.”

“Besok sore. Sesudah Yosef. Ose bawa diri saja. Pensil beta yang kasih.”

Yulius memandangnya lama, lalu memandang buku-buku di lantai beranda, lalu tas yang setengah terisi. Ia tidak berkata ya. Tetapi ia tidak pergi. Ia duduk di tanah di bawah pohon jambu air, di tempat Om Dominggus duduk menangis pada malam penghiburan, dan mendengarkan Theresia membaca sajak dengan suara tersendat, mengeja kata-kata yang terlalu besar untuk mulutnya.

Sore itu beranda rumah paling ujung tidak kosong. Theresia membaca. Maria mencari kata di kamus dan mengeja artinya dengan suara keras, salah sekali, membetulkannya sendiri. Hasan dan Paulus bertengkar tentang siapa yang memegang lampu senter untuk mencari kepiting yang lari ke kolong rumah, dan di kolong itu mereka menemukan tiang hawear bersandar di samping jeriken, dan keduanya diam, lalu mundur pelan, lalu tidak membicarakannya lagi. Di dapur Yosef menunjukkan cara membelah kerapu dari bawah insang, dan Raka mendengarkan, dan untuk pertama kali sejak Senin subuh ia menyalakan tungku tanpa menuang dua gelas kopi.

Ketika Mama Ani datang menjelang magrib untuk mengambil rantang, seperti yang ia janjikan, ia berdiri di kaki tangga memandang anak-anak di beranda dan tas yang kini tertutup dan didorong ke sudut, di bawah kursi rotan.

Ia tidak bertanya. Ia hanya berkata, “Nah,” dan naik lewat tangga depan.


Malam itu, sesudah anak-anak pulang dan genset menyala, Raka mengeluarkan uang dari map biru dan memasukkannya kembali ke saku dalam tas. Ijazah tetap di map. Ia tidak membongkar tas itu. Belum. Tetapi ia menyusun kembali kesepuluh bukunya di lemari kecil yang diikat tali rafia, dan meletakkan buku catatan lagu Oma di atasnya, di tempat orang bisa memandang dan menghitung, dan tidak membawanya ke mana-mana.

Ia sedang menulis rencana pelajaran untuk Senin, rencana yang kali ini tidak akan sama dengan tahun tujuh puluh, ketika ia mendengar bunyi mesin jonson merapat ke pantai dalam gelap.

Jonson itu datang dari utara. Dari Tual.

Om Dominggus naik lewat tangga depan dengan topi pandan di tangan. Ia tidak duduk. Ia tidak meludah. Ia mengeluarkan dari dalam topinya selembar kertas yang terlipat kecil, sobekan dari buku register rumah sakit, dan menyerahkannya kepada Raka di bawah cahaya neon.

Tulisan Sari. Miring, terburu-buru, lebih goyah daripada di nota amoksisilin.

Kapal perintis masuk Tual hari Senin. Lebih cepat sepuluh hari. Dokter bilang beta tidak boleh tunggu kapal berikut. Tadi siang beta batuk lagi, yang merah. Jangan bilang Mama dulu.

Beta su tidak tanya ose tinggal atau pergi. Beta tanya yang lain sekarang.

Ose antar beta, atau tidak?

Om Dominggus memandang ke barat daya, ke laut yang gelap tanpa cahaya, lalu kembali ke Raka.

“Beta berangkat subuh,” katanya. “Beta tunggu di dermaga. Kalau ose tidak turun waktu ayam kedua, beta pergi sendiri.”


Catatan kecil. Enbal: makanan pokok khas Kei dari singkong yang diperas airnya, dikeringkan, lalu dipanggang dalam cetakan; Ibadah penghiburan: ibadah di rumah duka untuk menguatkan keluarga yang ditinggalkan; Captopril: obat penurun tekanan darah yang diminum rutin.

Bab 18: Sari Dirawat terbit Selasa, 10 November 2026, pukul 05.00 WIB.

Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan