
Pulang bukan sekadar kembali ke tanah kelahiran, tetapi belajar mendengar nyanyian yang selama ini ditinggalkan.
- Genre: slice of life, drama keluarga
- Latar: Ohoi Woma, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, pertengahan 1990-an
- Rencana: 5 bagian, 24 bab
- Terbit: setiap hari pukul 05.00 WIB, satu bab per pos
Sinopsis
Raka Notanubun pulang ke Ohoi Woma setelah sembilan tahun merantau dan menyelesaikan pendidikan tinggi di Ambon. Ia kembali bukan sebagai orang yang berhasil, melainkan sebagai lelaki yang lelah: lelah menjadi anak yang pergi, lelah menghindari rumah, dan lelah berpura-pura bahwa kampung halamannya tidak lagi memanggil.
Di ohoi kecil di Kepulauan Kei itu, Raka menjadi guru SMP. Ia membawa gagasan baru ke ruang kelas yang masih beratap rumbia, berpapan tulis kapur, dan berbangku kayu. Namun, perubahan tidak pernah sederhana. Pak Elias, kepala sekolah yang dulu gurunya sendiri, menganggap idealismenya sebagai ancaman. Murid-muridnya, seperti Yosef, lebih akrab dengan laut daripada dengan buku. Dan di rumah, Oma Hendrika, perempuan yang membesarkannya, kian hari kian lupa: lupa nama Raka, lupa hari, lupa bahwa cucunya sudah pulang. Kadang ia memanggil Raka dengan nama ayahnya, Marthen, yang meninggal di laut saat Raka masih kecil.
Di tengah semua itu, Sari Rahayaan—bidan desa, sahabat masa kecilnya, dan satu-satunya orang yang berani menantangnya—menyembunyikan sesuatu. Ia menolong orang lain dengan tubuh yang kian lemah, sementara Raka harus belajar bahwa menjaga seseorang tidak selalu berarti menyelamatkannya.
Ketika surat lama dan ingatan Oma mulai membuka rahasia tentang kematian ayahnya, Raka menyadari bahwa laut tidak pernah benar-benar menyimpan apa pun. Ombak selalu mengembalikan. Dan di kepulauan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di antara adat sasi, nyanyian gereja, dan suara tifa, Raka harus memilih: kembali ke kota yang menjanjikan masa depan, atau tinggal di kampung yang menyimpan luka dan cintanya.
Nyanyian Ombak untuk Ibu adalah novel tentang anak yang pulang, keluarga yang retak namun tetap bertahan, dan cinta yang tidak selalu terucap, hanya dinyanyikan.
Daftar Bab
Bab-bab di bawah ini tersusun dari yang pertama terbit. Daftar ini bertambah dengan sendirinya setiap kali bab baru diunggah, jadi halaman ini bisa kamu simpan sebagai pintu masuk.
Bab baru terbit setiap pagi pukul 05.00 WIB. Kamu juga bisa mengikuti seluruh bab lewat arsip kategori Nyanyian Ombak untuk Ibu.
Orang-Orang Ohoi Woma
Raka Notanubun (27). Guru Bahasa Indonesia dan IPS di SMP swasta ohoi. Pendiam, pengamat, keras kepala soal prinsip, tetapi lembut kepada murid. Ia pulang membawa ijazah, beberapa buku, dan rasa bersalah yang tidak pernah ia akui.
Oma Hendrika Notanubun (78). Perempuan Kei yang keras, religius, dan dulu dikenal sebagai pemimpin nyanyian di gereja dan acara adat. Ingatan barunya luruh satu per satu, tetapi lagu-lagu lama dan doa masih tinggal di lidahnya.
Sari Rahayaan (26). Bidan desa yang menjaga Polindes Ohoi Woma dan kampung tetangga. Sahabat masa kecil Raka, satu-satunya yang berani membantahnya, dan orang yang paling pandai mengalihkan pembicaraan.
Pak Elias Rahayaan. Kepala SMP swasta, guru senior yang pernah mengajar Raka di SD. Konservatif, sering menggerutu, dan menyimpan alasan sendiri mengapa ia berhenti bermimpi.
Yosef, Maria, dan Yulius. Murid-murid Raka. Yang satu lebih sering di laut daripada di kelas, yang satu pandai berhitung di lapak ikan ibunya, yang satu sudah berhenti sekolah untuk ikut ayahnya melaut.
Kata-Kata dari Kei
Beberapa istilah yang akan sering kamu temui di sepanjang cerita:
- Ohoi: kampung atau desa adat di Kepulauan Kei.
- Sasi (hawear): larangan adat untuk sementara waktu memanen hasil laut atau kebun tertentu, agar alam sempat pulih.
- Kewang: penjaga adat yang mengawasi berlakunya sasi.
- Larwul Ngabal: hukum adat Kei yang mengatur hubungan antarmanusia dan dengan alam.
- Yelim dan maren: tradisi saling membantu, dari mendirikan rumah hingga menggotong perahu ke pantai.
- Enbal: makanan pokok dari singkong beracun yang diolah, diperas, lalu dipanggang.
- Jonson dan hibo: perahu motor kayu dan kapal layar tradisional.
- Tifa: gendang khas Maluku.
- Polindes: Pondok Bersalin Desa, pos kesehatan tempat bidan desa bertugas.
Catatan penulis: Ohoi Woma adalah kampung rekaan yang terilhami kehidupan di Kei Kecil. Tokoh dan peristiwa di dalamnya fiktif; adat, alam, dan zamannya diusahakan setia pada kenyataan. Bila kamu orang Kei dan menemukan hal yang keliru, kolom komentar terbuka lebar.