Hampir setiap orang pernah mengalaminya: tenggorokan mulai terasa gatal di pagi hari, kemudian hidung mulai meler, diikuti bersin-bersin yang tak kunjung berhenti, dan tubuh terasa berat meski tidak benar-benar demam tinggi. Kita menyebutnya masuk angin, pilek, atau sekadar flu ringan. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai common cold — penyakit infeksi saluran pernapasan atas yang paling sering dialami manusia sepanjang hidupnya.
Meski terkesan sepele, common cold menyimpan biologi yang jauh lebih kompleks dari yang tampak di permukaan, sekaligus menjadi salah satu sumber penggunaan antibiotik yang keliru di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Memahaminya dengan benar bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal pengambilan keputusan klinis yang lebih bijak.
Bukan Satu Virus, tetapi Ratusan
Kesalahpahaman pertama yang perlu diluruskan: common cold bukan disebabkan oleh satu jenis virus. Sekitar 50% kasus common cold disebabkan oleh salah satu dari lebih dari 100 serotipe rhinovirus. Sisanya dapat disebabkan oleh coronavirus, virus influenza, virus parainfluenza, enterovirus, adenovirus, respiratory syncytial virus, dan metapneumovirus.
Rhinovirus sendiri termasuk genus Enterovirus dari famili Picornaviridae — virus RNA beruntai tunggal yang sangat kecil namun luar biasa adaptif. Ia menginfeksi sel epitel saluran napas atas dengan menempel pada reseptor ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1), protein yang banyak diekspresikan di mukosa nasofaring. Setelah berhasil masuk, virus ini memicu kaskade respons imun yang justru menjadi biang keladi sebagian besar gejala yang kita rasakan — bukan kerusakan langsung oleh virusnya.
Sejauh ini tidak ada vaksin maupun terapi antivirus spesifik yang tersedia untuk infeksi rhinovirus.
Seberapa Sering Kita Jatuh Sakit?
Orang dewasa rata-rata mengalami common cold dua hingga tiga kali per tahun, sementara anak-anak dapat mengalaminya enam hingga delapan kali per tahun. Di Indonesia, beban penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) — yang di dalamnya mencakup common cold — tetap tinggi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA yang didiagnosis dokter pada balita Indonesia mencapai 4,8%. Jawa Timur mencatat angka 8,8%, lebih tinggi dari rata-rata nasional, dan menempatkannya di urutan ketiga tertinggi secara nasional.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Setiap episode common cold berarti hari kerja yang hilang, produktivitas yang menurun, anak yang absen dari sekolah, dan kunjungan ke fasilitas kesehatan yang menguras sumber daya — belum termasuk biaya langsung untuk obat-obatan yang sering kali tidak diperlukan.
Perjalanan Gejala: Dari Tenggorokan hingga Batuk yang Bertahan
Gejala common cold bervariasi dalam derajat keparahan dan durasinya. Secara umum, nyeri tenggorokan sering muncul pertama kali, diikuti satu hingga dua hari kemudian oleh rhinorrhea (pilek) dan bersin. Kongesti nasal, laringitis, dan batuk biasanya berkembang sesaat setelahnya. Malaise, demam ringan, mialgia, dan sakit kepala lazim terjadi di fase awal infeksi. Gejala biasanya berlangsung tujuh hingga sepuluh hari, meskipun batuk dapat menetap selama beberapa minggu.
Pola ini penting untuk dipahami karena sering disalahartikan. Lendir yang berubah warna menjadi kuning atau kehijauan di hari keempat hingga kelima, misalnya, bukan secara otomatis berarti infeksi bakteri — ini adalah bagian normal dari respons imun tubuh. Neutrofil yang “gugur” dalam pertempuran melawan virus memberikan warna purulen pada sekret nasal tersebut.
Komplikasi: Ketika Pilek Tidak Berhenti Menjadi Pilek
Common cold dapat memperburuk asma dan bronkitis kronis. Sinusitis purulen dan otitis media dapat terjadi akibat infeksi viral itu sendiri maupun infeksi bakteri sekunder.
Otitis media, sinusitis, bronkiolitis, pneumonia, dan eksaserbasi asma merupakan komplikasi yang diakui dari infeksi virus saluran pernapasan atas. Lebih dari 70% kasus otitis media akut terjadi sebagai komplikasi dari common cold.
Bagi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), rhinovirus merupakan pemicu eksaserbasi yang signifikan. Selain ISPA, rhinovirus dapat menginfeksi saluran pernapasan bawah dan telah dikaitkan dengan eksaserbasi asma dan PPOK. Inilah mengapa pada populasi berisiko tinggi, penatalaksanaan common cold perlu lebih cermat.
Terapi: Istirahat adalah Obat yang Sering Diremehkan
Penanganan common cold bersifat suportif. Antipiretik dan analgesik dapat meringankan demam dan nyeri tenggorokan. Dekongestan nasal dapat mengurangi sumbatan hidung.
Pilar utama tata laksana mencakup istirahat, hidrasi, antihistamin generasi pertama, dan dekongestan nasal. Pada orang dewasa, bukti ilmiah menunjukkan bahwa zinc dapat mempersingkat durasi gejala dan mengurangi keparahannya. Agen antibakteri tidak efektif kecuali terjadi superinfeksi bakteri.
Berbicara tentang zinc, bukti ilmiahnya cukup menarik meski tidak seragam. Dalam tujuh uji klinis acak, zinc acetate dan zinc gluconate dalam bentuk lozenges (tablet hisap) yang mengandung lebih dari 75 mg zinc elemental per hari berhasil mempersingkat durasi common cold rata-rata sebesar 33%. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada formulasi, dosis, dan waktu pemberian. Tinjauan Cochrane tahun 2024 menemukan sedikit bukti bahwa zinc mencegah common cold atau mengurangi keparahan gejala, meski zinc kemungkinan dapat sedikit mempersingkat durasi gejala. Zinc lozenges dikaitkan dengan pengurangan durasi pilek, tetapi kualitas buktinya rendah dan bervariasi antar studi.
Sebuah tinjauan terhadap 82 studi menemukan bahwa vitamin C, vitamin D, zinc, dan echinacea dapat membantu memperkuat penghalang sistem imun yang terlibat dalam melawan common cold, mencakup barier fisik, imunitas bawaan (innate immunity), dan imunitas adaptif. Meskipun demikian, sebagian besar manfaatnya bersifat modest (sederhana), dan tidak ada suplemen yang dapat menggantikan peran istirahat dan hidrasi yang cukup.
Antibiotik untuk Pilek: Sebuah Kekeliruan yang Berisiko Serius
Inilah bagian yang perlu mendapat perhatian khusus. Common cold disebabkan oleh virus — dan antibiotik tidak bekerja melawan virus. Namun kenyataan di lapangan berbeda jauh dari prinsip ini.
Indonesia termasuk di antara negara dengan kenaikan konsumsi antibiotik tertinggi di dunia berdasarkan data penjualan farmasi antara tahun 2000 dan 2015. Berbagai faktor kompleks, termasuk akses layanan kesehatan berkualitas yang tidak merata, beban penyakit infeksi yang masih tinggi, dan penegakan kebijakan antibiotik yang lemah, menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap resistansi antimikroba (AMR).
Konsekuensinya nyata dan mengkhawatirkan. Proyeksi menunjukkan bahwa kematian terkait AMR di Indonesia dapat mencapai hingga 182.000 jiwa pada tahun 2030 apabila tren saat ini terus berlanjut.
Setiap resep antibiotik yang tidak tepat untuk kasus common cold adalah satu kontribusi kecil menuju krisis besar ini. Dokter, tenaga kesehatan, dan pasien sama-sama memiliki tanggung jawab untuk memutus rantai kebiasaan ini.
Pencegahan: Sederhana, Murah, dan Terbukti
Di tengah tidak adanya vaksin untuk rhinovirus, pencegahan tetap bertumpu pada langkah-langkah higiene dasar yang terbukti efektif. Strategi pencegahan, seperti mencuci tangan secara teratur dan praktik kebersihan yang baik, sangat penting untuk mengurangi transmisi virus ini.
Virus ini menular melalui droplet pernapasan maupun kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi. Menghindari menyentuh wajah, terutama hidung dan mata, dengan tangan yang belum dicuci adalah langkah yang sederhana namun sering diabaikan.
Penutup: Kenali, Kelola, dan Jangan Berlebihan
Common cold adalah penyakit yang hampir universal — semua orang pernah mengalaminya, dan hampir semua orang akan pulih sendiri dalam waktu satu hingga dua minggu. Namun “sepele” bukan berarti boleh diabaikan sepenuhnya. Pada individu dengan komorbiditas seperti asma, PPOK, atau gangguan imun, kondisi ini dapat menjadi pemicu komplikasi yang serius.
Yang terpenting adalah respons yang proporsional: istirahat cukup, hidrasi baik, obat simtomatik sesuai keluhan, dan tidak terburu-buru meminta atau memberikan antibiotik. Pemahaman yang benar tentang common cold bukan hanya melindungi individu, tetapi juga menjaga efektivitas antibiotik untuk generasi mendatang.
Referensi
Faico-Filho, K. S., Perosa, A. H., & Bellei, N. (2026). P-649. Impact of rhinovirus in patients with different clinical presentation during 2023–2024 in Sao Paulo, Brazil. Open Forum Infectious Diseases, 13(Suppl 1). https://doi.org/10.1093/ofid/ofaf695.862
Hemilä, H., & Chalker, E. (2024). Shortcomings in the Cochrane review on zinc for the common cold. Frontiers in Medicine, 11, 1470004. https://doi.org/10.3389/fmed.2024.1470004
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia 2023. Kemenkes RI.
Merck Manual Professional Edition. (2024, May). Common cold. Merck & Co. https://www.merckmanuals.com/professional/infectious-diseases/respiratory-viruses/common-cold
Nault, D., Machingo, T. A., Shipper, A. G., Antiporta, D. A., Hamel, C., Nourouzpour, S., Konstantinidis, M., Phillips, E., Lipski, E. A., & Wieland, L. S. (2024). Zinc for prevention and treatment of the common cold. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2024(5), CD014914. https://doi.org/10.1002/14651858.CD014914.pub2
Pham, M. T., Rajić, A., Greig, J. D., Sargeant, J. M., Papadopoulos, A., & McEwen, S. A. (2022). Optimizing antibiotic use in Indonesia: A systematic review and synthesis of current evidence to inform opportunities for intervention. medRxiv. https://doi.org/10.1101/2022.02.20.22271261
Rondanelli, M., Miccono, A., Lamburghini, S., Avanzato, I., Riva, A., Allegrini, P., Faliva, M. A., Peroni, G., Nichetti, M., & Perna, S. (2018). Self-care for common colds: The pivotal role of vitamin D, vitamin C, zinc, and Echinacea in three main immune interactive clusters (physical barriers, innate and adaptive immunity) involved during an episode of common colds. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2018, 5813095. https://doi.org/10.1155/2018/5813095
Siahaan, S., et al. (2023). The effort to rationalize antibiotic use in Indonesian hospitals: Practice and its implication. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9985506/
Uchida, M. (2023). Respiratory consequences of rhinovirus infection. Respiratory Investigation, 61(2), 270–283. https://doi.org/10.1016/j.resinv.2022.12.003
Winther, B. (2025). Upper respiratory tract infections with focus on the common cold. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532961/
Wulandari, E. A., et al. (2024). Antimicrobial resistance among common bacterial pathogens in Indonesia: A systematic review. The Lancet Regional Health – Southeast Asia, 26, 100400. https://doi.org/10.1016/j.lansea.2024.100400

Tinggalkan komentar