Panduan Lengkap Pengendalian Resistensi Antimikroba untuk Semua Tenaga Kesehatan, Manajemen RS, Pasien, dan Keluarga
Tim Penulis
dr. I Putu Cahya Legawa
Dokter Umum | Praktisi PPRA
Edisi 1 — 2026
legawa.com
PERNYATAAN DAN KETENTUAN PENGGUNAAN
Buku ini disediakan sebagaimana adanya (“as is”) sebagai alat bantu edukasi dan referensi klinis. Informasi disusun berdasarkan WHO AWaRe Antibiotic Book 2023, Permenkes 8/2015, Permenkes 28/2021, KMK HK.01.07/MENKES/1596/2024 (STARKES 2024), Kepdirjen 3609 dan 3610/2025, Juknis SIRS Rev.7/2024, serta pedoman internasional (IDSA/SHEA, SSC 2026) yang berlaku pada saat penyusunan.
Seluruh isi buku ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan penilaian klinis individual, konsultasi dengan tenaga kesehatan, atau kebijakan institusi setempat. Pengguna dianjurkan memverifikasi informasi ke sumber primer yang tercantum dalam Daftar Pustaka.
Hak Cipta © 2026 dr. I Putu Cahya Legawa. Bebas disalin untuk keperluan pendidikan non-komersial dengan menyebut sumber.
DUKUNG PENULIS
saweria.co/haridiva | legawa.com
DAFTAR ISI
BAGIAN 1: LANDASAN DAN REGULASI PPRA
Bab 1: Memahami Resistensi Antimikroba (AMR) — 7
1.1 Apa itu AMR dan Mengapa Ini Penting?
1.2 Seberapa Serius Masalah Ini?
1.3 Dampak AMR pada Kesehatan Masyarakat
Bab 2: Kerangka Regulasi PPRA di Indonesia — 12
2.1 Hierarki Regulasi (UU, PP, Permenkes, KMK, Kepdirjen)
2.2 Permenkes 8/2015 tentang PPRA di RS
2.3 Permenkes 28/2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik
2.4 KMK 1596/2024 (STARKES 2024) — Prognas 6 dan 6.1
2.5 Kepdirjen 3609/2025 (Pengiriman Isolat MDRO) dan 3610/2025 (Antibiogram)
2.6 Stranas AMR 2025-2029 dan Target Nasional
Bab 3: Prinsip Penatagunaan Antimikroba (PGA) — 18
3.1 Lima Prinsip 5T (Tepat Indikasi, Obat, Dosis, Rute, Durasi)
3.2 Klasifikasi AWaRe WHO
3.3 Antibiotic Timeout dan De-eskalasi
3.4 Peran Kultur Sebelum Terapi
BAGIAN 2: PANDUAN PER PROFESI
Bab 4: Panduan untuk Dokter — 24
4.1 Tanggung Jawab Dokter dalam PGA
4.2 Kerangka Keputusan Klinis
4.3 Kondisi yang Tidak Memerlukan Antibiotik
4.4 Pemilihan Antibiotik Berbasis AWaRe
4.5 Dosis Optimal: Prinsip PK/PD
4.6 De-eskalasi dalam 48-72 Jam
4.7 Konversi IV ke Oral (IVOST)
4.8 Durasi Terapi: “Shorter is Better”
4.9 Pertimbangan Khusus (Geriatri, Alergi Penisilin, Interaksi Obat)
4.10 Dokumentasi Rekam Medis untuk PGA
Bab 5: Panduan untuk Perawat — 36
5.1 Peran Nyata Perawat dalam Pengendalian AMR
5.2 Lima Momen Kebersihan Tangan WHO
5.3 Pengambilan Spesimen Sebelum Antibiotik Pertama
5.4 Pemberian Antibiotik yang Aman dan Tepat Waktu
5.5 Bundle Pencegahan Infeksi Terkait Alat (CLABSI, CA-UTI, VAP)
5.6 Kewaspadaan dan Isolasi Pasien MDRO
5.7 Mengenali Tanda Sepsis Lebih Awal
5.8 Edukasi Pasien dan Keluarga tentang Antibiotik
5.9 Dokumentasi dan Komunikasi dalam Tim
Bab 6: Panduan untuk Apoteker Klinis — 46
6.1 Peran Sentral Apoteker dalam ASP
6.2 Prospektif Reviu dan Feedback (PRAF)
6.3 Sistem Pre-Authorization WATCH dan RESERVE
6.4 Identifikasi dan Rekomendasi IVOST
6.5 Monitoring De-eskalasi Berbasis Kultur
6.6 Optimasi PK/PD oleh Apoteker
6.7 Therapeutic Drug Monitoring (TDM)
6.8 Rekonsiliasi Obat dan Verifikasi Alergi
6.9 Konseling Pasien dan Keluarga
6.10 Data Kefarmasian untuk Surveilans PPRA
Bab 7: Panduan untuk Laboratorium Mikrobiologi — 56
7.1 Peran Sentral Laboratorium dalam PPRA
7.2 Standar Pra-analitik: Spesimen Berkualitas
7.3 Alur Pemeriksaan Kultur dan Identifikasi
7.4 Uji Kepekaan Antimikroba (AST): Metode dan Interpretasi
7.5 Pelaporan Hasil: Waktu, Format, dan Nilai Kritis
7.6 Penyusunan Antibiogram Lokal
7.7 Surveilans MDRO dan Definisi Operasional
7.8 Pengiriman Isolat MDRO ke Laboratorium Rujukan Nasional
7.9 Kolaborasi dengan Tim PRA, PPI, dan DPJP
BAGIAN 3: PANDUAN KLINIS PRAKTIS
Bab 8: Terapi Empirik Infeksi Umum di Indonesia — 66
8.1 Infeksi Saluran Napas (Bronkitis, Faringitis, OMA, Sinusitis, CAP, HAP/VAP)
8.2 Infeksi Saluran Kemih (ISK Bawah, Pielonefritis, CA-UTI)
8.3 Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak (Impetigo, Selulitis, Abses, ILO, NF)
8.4 Infeksi Intra-abdominal (Apendisitis, Kolesistitis, Peritonitis)
8.5 Pendekatan Awal Sepsis (SSC 2026)
8.6 De-eskalasi dan Durasi Terapi Minimum
8.7 Tabel Referensi Antibiotik dan AWaRe
Bab 9: Profilaksis Antibiotik Bedah — 76
9.1 Dasar Ilmiah dan Prinsip PAB
9.2 Klasifikasi Luka Operasi dan Indikasi PAB
9.3 Empat Pilar PAB: Indikasi, Pilihan, Waktu, Durasi
9.4 Dosis dan Re-dosing Intraoperatif
9.5 Rekomendasi PAB per Prosedur Bedah
9.6 Kondisi Khusus (Alergi, Obesitas, Hamil, MRSA)
9.7 Automatic Stop Order (ASO) untuk PAB
9.8 Audit Kepatuhan PAB (K1-K4)
9.9 Peran Tim dalam Kepatuhan PAB
Bab 10: Manajemen Sepsis dan PGA — 86
10.1 Definisi Sepsis-3 dan Syok Septik
10.2 Mengenali Sepsis: qSOFA dan SOFA
10.3 Hour-1 Bundle SSC 2026
10.4 Antibiotik dalam Sepsis: Waktu dan Pilihan Empirik
10.5 Source Control: Pilar yang Sering Diabaikan
10.6 De-eskalasi dalam Sepsis
10.7 Biomarker untuk Panduan Antibiotik (PCT, Laktat)
10.8 Durasi Terapi pada Sepsis
10.9 Populasi Khusus (Geriatri, Imunokompromais, Neonatus)
10.10 Integrasi PGA dalam Manajemen Sepsis
Bab 11: Automatic Stop Order (ASO) — 96
11.1 Definisi dan Dasar Ilmiah ASO
11.2 Jenis ASO (Profilaksis Bedah, Terapi Empirik, WATCH/RESERVE)
11.3 Desain Penerapan ASO yang Efektif
11.4 Tantangan Implementasi dan Strategi Mitigasi
11.5 Evaluasi dan Indikator Kepatuhan ASO
11.6 Pendekatan Perbaikan Proses Berkesinambungan (PDCA)
Bab 12: Pilot Project PAF di ICU — 104
12.1 Mengapa ICU Strategis untuk PAF
12.2 Dasar Organisasi dan Komitmen Manajemen
12.3 Persiapan Teknis dan Regulasi Lokal
12.4 Alur Pelaksanaan PAF: Handshake Stewardship
12.5 Antibiotic Timeout Hari ke-3
12.6 ASO di ICU
12.7 Dukungan Sistem Informasi dan Diagnostik
12.8 Evaluasi dan Indikator Keberhasilan
BAGIAN 4: MANAJEMEN DAN SURVEILANS
Bab 13: Manajerial PPRA — 112
13.1 Membangun Argumen Bisnis PPRA
13.2 Perencanaan Program Kerja yang Efektif
13.3 Kepemimpinan dan Koordinasi Tim PRA
13.4 Manajemen Data dan Dashboard KPI
13.5 Siklus PDCA dalam Manajemen Program
13.6 Komunikasi dan Manajemen Perubahan Budaya
13.7 Pengembangan Kompetensi Tim PRA
13.8 Sustainabilitas dan Benchmarking
Bab 14: Pengukuran Konsumsi Antibiotik (DDD dan AWaRe) — 120
14.1 Mengapa Mengukur Konsumsi Antibiotik?
14.2 Konsep DDD dan ATC WHO
14.3 Menghitung Jumlah DDD dan DDD/100 Patient-Days
14.4 Menghitung Proporsi AWaRe
14.5 Pengumpulan Data dari IFRS
14.6 Pelaporan SIRS Online (RL 3.19.3 dan RL 3.19.4)
14.7 Interpretasi dan Analisis Tren Konsumsi
14.8 Workbook Excel untuk Otomatisasi
Bab 15: PPRA untuk RS Tipe C dan D — 128
15.1 Karakteristik dan Keterbatasan RS Tipe C/D
15.2 Tata Kelola Tim PRA
15.3 Elemen Penilaian Prognas 6 dan 6.1
15.4 Surveilans Penggunaan Antimikroba (DDD dan Gyssens)
15.5 Surveilans Resistensi dan Antibiogram Lokal
15.6 FORKKIT: Forum Kajian Kasus Infeksi Terintegrasi
15.7 Pelaporan SIRS Online
15.8 Indikator Kinerja dan Tips Mengatasi Keterbatasan
15.9 Checklist Kesiapan Survei Akreditasi
BAGIAN 5: EDUKASI PASIEN DAN KELUARGA
Bab 16: Panduan untuk Pasien dan Keluarga — 140
16.1 Apa itu AMR dan Mengapa Anda Perlu Tahu
16.2 Antibiotik Bukan Obat Semua Penyakit (Virus vs Bakteri)
16.3 Flu dan Batuk Pilek: Tidak Perlu Antibiotik
16.4 Cara Minum Antibiotik yang Benar (Lima Aturan Emas)
16.5 Bahaya Membeli Antibiotik Tanpa Resep
16.6 Jika Dokter Tidak Memberi Antibiotik
16.7 Panduan Antibiotik untuk Anak
16.8 Mencegah Infeksi Lebih Baik dari Mengobati
16.9 Kapan Harus Segera ke Dokter
16.10 AMR dan Masa Depan Anak Cucu Kita
LAMPIRAN — 154
Lampiran A: Tabel DDD WHO untuk Antibiotik Umum
Lampiran B: Format Antibiogram
Lampiran C: Checklist Kesiapan Survei KARS
Lampiran D: Contoh Formulir ASO dan PAF
Lampiran E: Daftar Istilah Penting
Lampiran F: Quick Reference Terapi Empirik
DAFTAR PUSTAKA — 166
BAGIAN 1
LANDASAN DAN REGULASI PPRA
BAB 1
MEMAHAMI RESISTENSI ANTIMIKROBA (AMR)
1.1 Apa itu AMR dan Mengapa Ini Penting?
Resistensi antimikroba (AMR) terjadi ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit berubah sedemikian rupa sehingga obat-obatan yang sebelumnya efektif untuk membunuh atau menghambat pertumbuhannya tidak lagi bekerja. Bakteri menjadi “kebal” terhadap antibiotik yang seharusnya membunuhnya.
Analogi sederhana:
Bayangkan antibiotik seperti kunci dan bakteri seperti gembok. Awalnya, satu kunci bisa membuka banyak gembok. Seiring waktu, dengan penggunaan yang berlebihan, gembok berubah — kunci lama tidak bisa membuka lagi. Dokter harus mencari kunci baru. Tapi kunci baru (antibiotik baru) semakin sedikit.
AMR terjadi lebih cepat ketika antibiotik digunakan secara berlebihan atau tidak tepat. Proses ini dipercepat oleh:
- Penggunaan antibiotik untuk infeksi virus (flu, batuk pilek)
- Pembelian antibiotik tanpa resep
- Durasi terapi yang terlalu lama
- Dosis yang tidak tepat
- Tidak menghabiskan antibiotik sesuai resep
1.2 Seberapa Serius Masalah Ini?
Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Lancet tahun 2022, resistensi antimikroba secara langsung menyebabkan lebih dari 1,27 juta kematian per tahun di seluruh dunia — lebih banyak dari kematian akibat HIV/AIDS. Di Indonesia, pola resistensi bakteri terus meningkat setiap tahunnya.
Fakta penting untuk Indonesia:
- Sekitar 80% antibiotik di Indonesia dikonsumsi di luar rumah sakit — oleh masyarakat umum.
- Banyak orang membeli antibiotik tanpa resep dokter di apotek.
- Resistensi E. coli terhadap ampisilin mencapai >50% di beberapa daerah.
- Pola resistensi lokal sudah mempengaruhi efektivitas antibiotik ACCESS di komunitas.
1.3 Dampak AMR pada Kesehatan Masyarakat
Dunia tanpa antibiotik yang efektif:
- Operasi sederhana seperti usus buntu atau penggantian sendi lutut menjadi sangat berisiko karena infeksi pasca-operasi tidak bisa diobati.
- Kemoterapi menjadi jauh lebih berbahaya karena sistem imun yang lemah tidak bisa dilindungi dari infeksi bakteri.
- Bayi yang lahir prematur menghadapi risiko kematian yang jauh lebih tinggi.
- Infeksi saluran kemih sederhana bisa berkembang menjadi sepsis yang mematikan.
Para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 2050, AMR bisa membunuh 10 juta orang per tahun — melampaui kanker sebagai penyebab kematian terbesar.
Peran Anda dalam Melawan AMR:
Setiap keputusan tentang antibiotik yang Anda buat berkontribusi pada gambaran besar. Tindakan kecil seperti:
- Tidak meminta antibiotik untuk flu
- Menghabiskan antibiotik yang diresepkan dokter
- Tidak membeli antibiotik tanpa resep
- Mencuci tangan dengan benar
- Mengedukasi keluarga tentang antibiotik
Semua ini adalah kontribusi nyata dalam mengatasi krisis AMR.
BAB 2
KERANGKA REGULASI PPRA DI INDONESIA
2.1 Hierarki Regulasi
Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di Indonesia memiliki landasan hukum yang kuat dan bertingkat:
| Tingkat | Regulasi | Nomor/Tahun | Relevansi untuk PPRA |
|---|---|---|---|
| UU | UU Kesehatan | UU No. 17/2023 | Amanat peningkatan mutu pelayanan melalui tata kelola RS |
| PP | PP Kesehatan | PP No. 28/2024 | Pasal 885 ayat (4): PPRA sebagai bagian tata kelola RS |
| Permenkes | PPRA | Permenkes No. 8/2015 | Regulasi teknis PPRA di RS: pembentukan tim, program, surveilans |
| Permenkes | Antibiotik | Permenkes No. 28/2021 | Pedoman penggunaan antibiotik: prinsip, kategori, PGA |
| Permenkes | Akreditasi RS | Permenkes No. 12/2020 | Kewajiban akreditasi RS dan kaitan dengan mutu pelayanan |
| KMK | STARKES 2024 | KMK HK.01.07/MENKES/1596/2024 | Prognas 6 dan 6.1: 10 EP yang harus dipenuhi RS |
| Kepdirjen | Pengiriman Isolat MDRO | HK.02.02/D/3609/2025 | Tata cara pengiriman isolat MDRO ke LRN |
| Kepdirjen | Pedoman Antibiogram | HK.02.02/D/3610/2025 | Panduan penyusunan antibiogram lokal di RS |
| Juknis | SIRS Online Rev.7/2024 | Format pelaporan PPRA ke Kemenkes (RL 3.19.3 dan 3.19.4) | |
| Stranas | AMR 2025-2029 | Target nasional: proporsi ACCESS >60% DDD |
2.2 Permenkes 8/2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di RS
Permenkes ini merupakan regulasi teknis utama PPRA. Ketentuan pokoknya:
- Pembentukan Tim PRA — Setiap RS wajib memiliki Komite/Tim PRA yang ditetapkan melalui SK Direktur.
- Komponen Program PPRA (5 komponen wajib):
- Edukasi dan pelatihan
- Penatagunaan antimikroba (PGA/AMS)
- Surveilans kuantitatif penggunaan antimikroba (DDD)
- Surveilans resistensi antimikroba (MDRO, antibiogram)
- Forum Kajian Kasus Infeksi Terintegrasi (FORKKIT)
- Surveilans — RS wajib melakukan surveilans penggunaan dan resistensi antimikroba secara berkala.
- Pelaporan — RS wajib melaporkan data PPRA ke Kemenkes melalui SIRS Online.
2.3 Permenkes 28/2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik
Permenkes ini mengatur penggunaan antibiotik secara rasional:
- Prinsip 5T — Tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat rute, tepat durasi.
- Klasifikasi AWaRe — ACCESS, WATCH, RESERVE sebagai panduan pemilihan.
- Pelarangan — Antibiotik hanya boleh diserahkan berdasarkan resep dokter (bukan OTC).
- PGA di RS — RS wajib menerapkan program penatagunaan antimikroba.
2.4 KMK 1596/2024 (STARKES 2024) — Prognas 6 dan 6.1
STARKES 2024 menetapkan PPRA sebagai salah satu Program Nasional (Prognas) dengan bobot penilaian 100 poin (Prognas 6 dan 6.1).
Prognas 6 (50 poin): RS menyelenggarakan PPRA sesuai peraturan perundang-undangan.
- EP 6.1a: SK Direktur PPRA (R) — 10 poin
- EP 6.1b: SK Tim PRA + program kerja (R) — 10 poin
- EP 6.1c: Pelaksanaan program kerja (D) — 10 poin
- EP 6.1d: Pemantauan dan evaluasi (D) — 10 poin
- EP 6.1e: Laporan ke Direktur dan SIRS Online (D) — 10 poin
Prognas 6.1 (50 poin): RS mengembangkan dan menerapkan penggunaan antimikroba secara bijak.
- EP 6.1.1a: Kebijakan PGA/PPAB (R) — 10 poin
- EP 6.1.1b: Penerapan PGA melibatkan multidisiplin (D) — 10 poin
- EP 6.1.1c: Audit Gyssens (D) — 10 poin
- EP 6.1.1d: Surveilans DDD/100 PD (D) — 10 poin
- EP 6.1.1e: Antibiogram lokal (D) — 10 poin
Kunci: Nilai <75 poin berpotensi menjadi Rekomendasi Mayor. EP 6.1.1c dan 6.1.1d adalah yang paling sering bermasalah.
2.5 Kepdirjen 3609/2025 dan 3610/2025
Kepdirjen 3609/2025 — Petunjuk Teknis Pengiriman Isolat MDRO:
- Menetapkan kriteria isolat yang wajib dikirim ke Laboratorium Rujukan Nasional (LRN).
- Mengatur alur pengiriman, pengemasan, dan dokumentasi.
- Mendukung surveilans nasional melalui GLASS Indonesia.
Kepdirjen 3610/2025 — Pedoman Penyusunan Antibiogram:
- Menetapkan format dan metodologi antibiogram.
- Mensyaratkan minimal 30 isolat per spesies yang dilaporkan.
- Menganjurkan stratifikasi per unit (ICU vs non-ICU).
- Menjadi dasar PPAB dan terapi empirik berbasis data lokal.
2.6 Stranas AMR 2025-2029 dan Target Nasional
Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba menetapkan target:
| Indikator | Target Nasional |
|---|---|
| Proporsi Gyssens Kategori 0 | ≥60% |
| Proporsi konsumsi ACCESS | ≥60% total DDD |
| Kepatuhan ASO profilaksis bedah (K4) | ≥75% |
| Ketepatan pemilihan AB profilaksis (K1) | ≥80% |
| Ketepatan waktu pemberian AB (K2) | ≥80% |
| Pelaporan SIRS Online tepat waktu | 100% setiap triwulan |
BAB 3
PRINSIP PENATAGUNAAN ANTIMIKROBA (PGA)
3.1 Lima Prinsip 5T
Tepat Indikasi
- Antibiotik hanya untuk infeksi yang dicurigai atau terbukti bakterial.
- Infeksi virus (flu, batuk pilek, COVID-19) tidak memerlukan antibiotik.
- Gunakan alat bantu klinis: Centor score untuk faringitis, CURB-65 untuk pneumonia, qSOFA untuk sepsis.
Tepat Obat
- Pilih berdasarkan dugaan etiologi dan pola kepekaan lokal (antibiogram).
- Utamakan antibiotik ACCESS (spektrum sempit) sebelum WATCH/RESERVE.
- Sesuaikan dengan riwayat alergi, fungsi organ, dan interaksi obat.
Tepat Dosis
- Dosis disesuaikan dengan berat badan, fungsi ginjal/hati, dan prinsip PK/PD.
- Beta-laktam: time-dependent → berikan lebih sering atau extended infusion.
- Aminoglikosida: concentration-dependent → dosis besar sekali sehari.
- Vankomisin: AUC/MIC target 400-600 → TDM wajib.
Tepat Rute
- Preferensi oral jika absorpsi adekuat dan kondisi klinis stabil.
- IV hanya jika: kondisi kritis, gangguan absorpsi GI, atau tidak ada formulasi oral.
- IVOST (IV-to-Oral Switch) harus dilakukan sesegera mungkin jika kriteria terpenuhi.
Tepat Durasi
- Jangan melebihi durasi yang direkomendasikan.
- “Shorter is better” — banyak infeksi cukup 3-7 hari.
- Evaluasi dan de-eskalasi wajib dalam 48-72 jam.
3.2 Klasifikasi AWaRe WHO
| Kategori | Deskripsi | Contoh | Target |
|---|---|---|---|
| ACCESS | Lini pertama; spektrum sempit; tersedia luas; murah | Amoksisilin, ko-trimoksazol, cefazolin, metronidazol, klindamisin, doksisiklin | ≥60% total DDD |
| WATCH | Efektivitas tinggi; risiko resistensi lebih besar; indikasi spesifik | Ceftriaxon, ciprofloksasin, azitromisin, cefoperazon-sulbaktam, amikacin | <40% total DDD |
| RESERVE | Pilihan terakhir untuk MDR; pembatasan ketat | Meropenem, vankomisin, kolistin, linezolid | Seminimal mungkin |
3.3 Antibiotic Timeout dan De-eskalasi
Antibiotic Timeout adalah evaluasi formal pada hari ke-3 (48-72 jam) terapi antibiotik dengan tiga pertanyaan:
- Apakah infeksi bakteri terbukti?
- Apakah antibiotik saat ini masih pilihan terbaik?
- Sampai kapan terapi dilanjutkan?
De-eskalasi adalah perubahan dari spektrum luas ke spektrum sempit berdasarkan hasil kultur dan kepekaan, atau penghentian jika tidak terbukti infeksi bakteri.
Tiga keputusan dalam antibiotic timeout:
- De-eskalasi — ganti ke antibiotik paling sempit yang sensitif
- Penyesuaian dosis — berdasarkan fungsi ginjal/hati dan PK/PD
- Penghentian — jika tidak ada bukti infeksi bakteri
3.4 Peran Kultur Sebelum Terapi
Ambil spesimen kultur SEBELUM pemberian antibiotik pertama, kecuali kondisi gawat darurat (syok septik) yang tidak boleh menunda terapi >45 menit.
| Sumber Infeksi | Spesimen yang Direkomendasikan |
|---|---|
| Sepsis / infeksi berat | 2 set kultur darah (aerob + anaerob) dari vena berbeda |
| ISK | Urine midstream clean-catch; urine kateter baru jika CA-UTI |
| Pneumonia | Sputum ekspektorasi dalam; kultur darah; BAL jika terintubasi |
| Infeksi kulit/luka | Swab luka dalam (bukan permukaan); pus aspirasi |
| Intra-abdominal | Kultur cairan peritoneal/abses; kultur darah |
BAGIAN 2
PANDUAN PER PROFESI
BAB 4
PANDUAN UNTUK DOKTER
4.1 Tanggung Jawab Dokter dalam PGA
Dokter adalah pemain paling krusial dalam PGA karena memegang otoritas preskripsi. Tim PRA dan apoteker klinis adalah mitra dan fasilitator.
| Peran | Siapa yang Bertanggung Jawab |
|---|---|
| Keputusan mulai/tidak mulai antibiotik | Dokter (DPJP) |
| Pemilihan jenis, dosis, rute, durasi | Dokter (DPJP) |
| Evaluasi respons terapi 48-72 jam | Dokter (DPJP) |
| De-eskalasi dan penghentian | Dokter (DPJP) + rekomendasi apoteker |
| Penulisan dokumentasi klinis | Dokter (DPJP) |
| Pengambilan spesimen kultur | Dokter + perawat |
| Audit kualitas preskripsi (Gyssens) | Tim PRA + apoteker |
Kunci: Dokter yang memahami PGA adalah agen perubahan aktif yang membuat keputusan preskripsi terbaik untuk pasien dan kesehatan masyarakat secara luas.
4.2 Kerangka Keputusan Klinis
Lima pertanyaan sebelum meresepkan:
- Apakah ini infeksi bakteri? — Cari bukti: demam, leukositosis, CRP tinggi, tanda lokal. Pastikan bukan viral, inflamasi non-infeksi, atau reaksi obat.
- Apakah kultur sudah diambil? — Ambil spesimen relevan SEBELUM antibiotik pertama, kecuali kondisi gawat darurat.
- Antibiotik apa yang tepat? — Pilih berdasarkan dugaan patogen, AWaRe (utamakan ACCESS), antibiogram lokal, kondisi pasien.
- Berapa dosis dan rute? — Sesuaikan dengan PK/PD, berat badan, fungsi ginjal. Prioritaskan oral jika memungkinkan.
- Kapan dievaluasi dan dihentikan? — Tetapkan tanggal evaluasi 48-72 jam. Rencanakan de-eskalasi. Dokumentasikan.
4.3 Kondisi yang TIDAK Memerlukan Antibiotik
| Kondisi | Mengapa Tidak Perlu | Terapi yang Tepat |
|---|---|---|
| Faringitis virus | Centor <3, RADT negatif | Parasetamol/ibuprofen, hidrasi |
| Bronkitis akut | Hampir selalu viral | Simtomatik; jangan “berjaga-jaga” |
| Common cold / ISPA atas viral | Tidak ada manfaat AB | Istirahat, banyak minum, parasetamol |
| Gastroenteritis akut | Viral atau self-limiting | Rehidrasi oral; probiotik |
| Luka bersih tanpa infeksi | Profilaksis tidak dianjurkan | Perawatan luka, vaksin tetanus |
| Bakteriuria asimtomatik | Tidak menguntungkan (kecuali hamil) | Observasi |
4.4 Pemilihan Antibiotik Berbasis AWaRe
Prinsip “Start Smart, Then Focus”:
- “Start Smart” — terapi empirik dengan spektrum sesempit yang masih efektif.
- “Then Focus” — review dan de-eskalasi setelah hasil kultur (48-72 jam).
Faktor pasien yang mempengaruhi pemilihan:
- Riwayat alergi penisilin
- Gangguan fungsi ginjal (CrCl)
- Gangguan fungsi hati
- Kehamilan
- Obesitas
4.5 Dosis Optimal: Prinsip PK/PD
Dua tipe utama antibiotik:
| Tipe PK/PD | Parameter Kritis | Implikasi Dosis | Contoh |
|---|---|---|---|
| Time-Dependent | %T > MIC | Berikan lebih sering atau extended infusion | Beta-laktam |
| Concentration-Dependent | Cmax/MIC atau AUC/MIC | Dosis besar sekali sehari | Aminoglikosida, Fluorokuinolon |
Penyesuaian dosis pada gangguan fungsi ginjal:
| Antibiotik | Dosis Normal | CrCl 30-60 | CrCl <30 | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Amoksisilin | 500 mg 3x/hr PO | Tidak perlu | 500 mg 2x/hr | — |
| Ko-trimoksazol | 960 mg 2x/hr | Tidak perlu | Hindari atau 1/2 dosis | Risiko hiperkalemia |
| Ceftriaxon | 1-2 g/hr IV | Tidak perlu | Tidak perlu | Eliminasi ginjal+bilier |
| Ciprofloxacin | 400 mg 2x/hr IV | 400 mg 2x/hr | 400 mg 1x/hr | Monitor tendon |
| Metronidazol | 500 mg 3x/hr IV/PO | Tidak perlu | Tidak perlu | Eliminasi hati |
| Amikacin | 15-20 mg/kg/hr | Perpanjang interval | Hindari atau TDM ketat | Nefrotoksik |
4.6 De-eskalasi dalam 48-72 Jam
Langkah de-eskalasi sistematis:
- Review hasil kultur — Hari ke-2 sampai ke-3. Hubungi lab jika belum ada.
- Nilai respons klinis — Demam menurun? Leukosit membaik? CRP/PCT turun?
- Identifikasi antibiotik optimal — Pilih yang paling sempit dengan status “S”.
- Hentikan yang tidak perlu — Jika empirik mencakup 2-3 antibiotik, hentikan yang tidak aktif.
- Dokumentasikan dalam RM — Tulis justifikasi de-eskalasi.
- Tindaklanjuti rekomendasi apoteker — Respons secara tertulis (setuju/tidak setuju dengan alasan).
Hambatan umum dan solusi:
| Hambatan | Solusi |
|---|---|
| Takut kegagalan terapi | Data menunjukkan de-eskalasi tidak meningkatkan mortalitas pada pasien respons baik |
| Tidak ada waktu review | “Antibiotic timeout” harian cukup 2 menit saat visit pagi |
| Laporan “intermediate” | Kategori I bisa efektif dengan dosis tinggi; diskusi apoteker |
| Kultur tidak tersedia | De-eskalasi berdasarkan antibiogram lokal + perbaikan klinis |
4.7 Konversi IV ke Oral (IVOST)
Kriteria IVOST (semua harus terpenuhi):
- Tidak demam ≥24 jam (suhu <37,8°C tanpa antipiretik)
- Tanda vital stabil (TD >90 mmHg, nadi <100/mnt, napas <20/mnt, SpO2 >95%)
- GI tract berfungsi (dapat menelan, tidak ileus/mual/muntah persisten)
- Penanda infeksi membaik (leukosit turun, CRP/PCT turun)
- Tersedia formulasi oral dengan bioavailabilitas ≥80%
Antibiotik dengan bioavailabilitas oral tinggi (≥80%):
| Antibiotik | Bioavailabilitas | Dosis Oral Setara | AWaRe |
|---|---|---|---|
| Siprofloksasin | 70-80% | IV 400mg 2x = PO 500mg 2x | WATCH |
| Levofloxacin | 99% | IV 500mg 1x = PO 500mg 1x | WATCH |
| Metronidazol | >95% | IV 500mg 3x = PO 500mg 3x | ACCESS |
| Klindamisin | 87-90% | IV 600mg 3x = PO 300-450mg 4x | ACCESS |
| Doksisiklin | 93% | IV 200mg/hr = PO 100mg 2x | ACCESS |
| Amoksisilin-Klav | 75-90% | IV 1,2g 3x ≈ PO 875+125mg 2x | ACCESS |
| Ko-trimoksazol | >90% | IV 960mg 2x = PO 960mg 2x | ACCESS |
Infeksi yang TIDAK dianjurkan IVOST dini:
- Endokarditis infektif
- Osteomielitis akut
- Abses otak / meningitis bakterial berat
- Febris neutropenia
4.8 Durasi Terapi: “Shorter is Better”
| Diagnosis | Durasi yang Direkomendasikan |
|---|---|
| ISK bawah tanpa komplikasi (wanita) | 3 hari (ko-trim/fosfo); 5-7 hari (lainnya) |
| ISK bawah tanpa komplikasi (pria) | 7 hari |
| Pielonefritis | 10-14 hari (7 hari dengan fluorokuinolon jika sensitif) |
| Faringitis GAS | 10 hari |
| CAP ringan (rawat jalan) | 5 hari |
| CAP sedang-berat (rawat inap) | 7 hari |
| HAP/VAP tanpa komplikasi | 7 hari |
| Sinusitis bakterial akut | 7-10 hari |
| Selulitis tanpa komplikasi | 5-7 hari |
| Intra-abdominal post source control | 4 hari jika klinis membaik |
| Sepsis komunitas | Minimal 7 hari; evaluasi dengan PCT |
Procalcitonin (PCT) sebagai panduan penghentian:
- PCT <0,25 ng/mL: pertimbangkan hentikan antibiotik
- Penurunan PCT ≥80% dari puncak: pertimbangkan hentikan
- Jika PCT tidak tersedia: afebris + perbaikan klinis + CRP menurun
4.9 Pertimbangan Khusus
Pasien Geriatri (≥65 tahun):
- Hitung CrCl setiap kali (GFR menurun fisiologis)
- Risiko interaksi obat tinggi
- Risiko C. difficile lebih tinggi
- Presentasi atipikal: sepsis tanpa demam, confusion sebagai satu-satunya tanda
Alergi Penisilin: Navigasi Klinisi:
- >90% label alergi penisilin sebenarnya bukan alergi sejati
- Anafilaksis: hindari beta-laktam; gunakan azitromisin/klindamisin/ko-trimoksazol
- Ruam makulo-papular: sefalosporin AMAN diberikan (<0,5% risiko silang)
- Tidak ingat: pertimbangkan drug challenge atau konsul alergi
Interaksi Obat-Obat yang Sering:
| Antibiotik | Obat Berinteraksi | Konsekuensi | Tindakan |
|---|---|---|---|
| Metronidazol | Warfarin | Meningkatkan efek antikoagulan | Monitor INR lebih ketat |
| Fluorokuinolon | Antasida, Fe, Zn | Absorpsi turun drastis | Beri 2 jam sebelum atau 4-6 jam sesudah |
| Fluorokuinolon, Azitromisin | Antiaritmia, Antipsikotik | Pemanjangan QTc | Cek QTc sebelum memulai |
| Rifampisin | Hampir semua obat CYP | Menurunkan kadar berbagai obat | Review semua obat pasien |
| Aminoglikosida, Vankomisin | NSAID, Diuretik loop | Nefrotoksisitas sinergis | Monitor kreatinin harian |
4.10 Dokumentasi Rekam Medis untuk PGA
Elemen wajib dalam rekam medis:
- Indikasi antibiotik — diagnosis dan alasan pemilihan
- Rencana evaluasi — kapan de-eskalasi direncanakan
- Respons terhadap rekomendasi — setuju/tidak setuju dengan alasan
- Alasan tidak de-eskalasi — jika ada
- Alasan perpanjangan durasi — jika melebihi standar
Contoh penulisan yang baik:
“Pneumonia komunitas derajat sedang (CURB-65: 2), kemungkinan etiologi S. pneumoniae/atipik. Dimulai ceftriaxon 2g + azitromisin 500mg. Evaluasi ulang 48-72 jam setelah hasil kultur darah dan sputum tersedia. De-eskalasi direncanakan jika ada pertumbuhan bakteri dan klinis membaik.”
BAB 5
PANDUAN UNTUK PERAWAT
5.1 Peran Nyata Perawat dalam Pengendalian AMR
Perawat adalah tenaga kesehatan yang paling sering dan paling lama berinteraksi langsung dengan pasien. Tindakan perawat sehari-hari secara langsung mempengaruhi seberapa cepat infeksi tertangani, seberapa baik spesimen kultur terkumpul, seberapa tepat antibiotik diberikan, dan seberapa efektif penyebaran bakteri resisten dapat dicegah.
| Tindakan Perawat | Dampak Langsung terhadap AMR |
|---|---|
| Tidak cuci tangan | Menyebarkan bakteri resisten dari satu pasien ke pasien lain |
| Kultur setelah antibiotik | Hasil negatif palsu → dokter tidak bisa de-eskalasi |
| Terlambat memberi antibiotik 2 jam | Pada sepsis: setiap jam keterlambatan ↑ mortalitas 7-8% |
| Tidak mencabut kateter | Setiap hari kateter terpasang ↑ risiko ISK 3-7% |
| Tidak menjalankan isolasi MDRO | Bakteri resisten menyebar; outbreak di bangsal |
| Tidak edukasi pasien | Pasien menghentikan antibiotik lebih awal |
5.2 Lima Momen Kebersihan Tangan WHO
| Momen | Kapan Dilakukan | Mengapa Penting |
|---|---|---|
| Momen 1 | SEBELUM menyentuh pasien | Melindungi pasien dari bakteri di tangan petugas |
| Momen 2 | SEBELUM prosedur aseptik/bersih | Melindungi pasien saat prosedur |
| Momen 3 | SETELAH risiko paparan cairan tubuh | Melindungi Anda dari terinfeksi |
| Momen 4 | SETELAH menyentuh pasien | Melindungi lingkungan dan pasien lain |
| Momen 5 | SETELAH menyentuh lingkungan pasien | Lingkungan pasien sering terkontaminasi |
Teknik yang benar:
- Handrub (alkohol 60-80%) — 20-30 detik; untuk sebagian besar momen; lebih efektif dan lebih cepat
- Handwash (sabun + air) — 40-60 detik; jika tangan tampak kotor; setelah ke toilet; setelah kontak C. difficile
Ingat: Cincin, jam tangan, dan gelang tidak boleh dipakai saat bertugas. Kuman bersembunyi di bawah perhiasan.
5.3 Pengambilan Spesimen Sebelum Antibiotik Pertama
URUTAN YANG BENAR:
- Dokter menulis order antibiotik
- Perawat memastikan KULTUR SUDAH DIAMBIL atau segera mengambilnya
- BARU berikan antibiotik
Kultur Darah (paling kritis):
- Cuci tangan; siapkan 1-2 set botol kultur (aerob + anaerob)
- Disinfeksi kulit 2 tahap: alkohol 70% → klorheksidin 2%
- Ambil dari 2 lokasi vena berbeda; volume 8-10 mL per botol (dewasa)
- Disinfeksi tutup botol; masukkan darah ke botol aerob dulu, lalu anaerob
- Label: nama, RM, tanggal, waktu, lokasi vena, nama perawat
- Kirim segera ke lab — JANGAN simpan di kulkas
Spesimen lain:
- Urine: Midstream clean-catch; untuk CA-UTI ambil dari port sampling kateter BARU
- Sputum: Minta pasien batuk dalam; pastikan SPUTUM (bukan air liur)
- Pus/Cairan luka: JANGAN swab permukaan saja; usapkan dalam ke dasar luka
5.4 Pemberian Antibiotik yang Aman dan Tepat Waktu
Lima Tepat dalam Pemberian Antibiotik:
- Tepat Obat — Nama di label sama persis dengan order dokter
- Tepat Dosis — Perhatikan berat badan; periksa pengenceran
- Tepat Waktu — Berikan tepat sesuai jadwal; terutama untuk sepsis dan profilaksis bedah
- Tepat Rute — Jangan ganti rute tanpa konfirmasi dokter
- Tepat Pasien — Verifikasi identitas: nama + RM + gelang
Antibiotik Profilaksis Bedah — Waktu adalah Kunci:
- Target: antibiotik mulai 30-60 menit SEBELUM insisi
- Catat waktu pemberian di lembar anestesi
- Jika operasi melebihi 4 jam (Cefazolin): pertimbangkan re-dosing
- JANGAN teruskan profilaksis >24 jam tanpa order baru
5.5 Bundle Pencegahan Infeksi Terkait Alat
CLABSI Bundle (Kateter Vena Sentral):
- Higiene tangan sebelum/sesudah manipulasi CVC
- APD maksimal saat pemasangan (topi, masker, gaun steril, sarung tangan steril)
- Disinfeksi kulit klorheksidin 2%
- Pilih lokasi terbaik (subklavia < jugularis < femoralis)
- Review harian kebutuhan CVC
- Perawatan luka insersi setiap 7 hari
- Kebersihan port IV setiap sebelum penggunaan
CA-UTI Bundle (Kateter Urine):
- PASANG hanya jika indikasi jelas; CABUT sesegera mungkin
- Indikasi tepat: retensi urine, monitoring output ketat, luka buka perineum, operasi urologi
- BUKAN indikasi: inkontinensia umum, kemudahan perawat
- Jaga sistem drainase tertutup; urine bag selalu di bawah kandung kemih
- JANGAN ambil sampel dari urine bag; gunakan port sampling steril
VAP Bundle (Pasien Terintubasi):
- Elevasi kepala tempat tidur 30-45°
- Oral care klorheksidin 0,12-0,2% 2x/hari
- Sedation vacation harian
- Pertahankan cuff pressure 20-30 cmH2O
- Jaga sirkuit ventilator sesuai SPO
5.6 Kewaspadaan dan Isolasi Pasien MDRO
MDRO (Multi-Drug Resistant Organism): Bakteri yang sudah resisten terhadap banyak antibiotik.
| MDRO | Cara Penyebaran | Kewaspadaan Utama |
|---|---|---|
| MRSA | Kontak langsung dan permukaan | Kontak + kamar sendiri/kohort |
| ESBL | Kontak fecal-oral; tangan; lingkungan | Kontak; cuci tangan sabun |
| CRAB | Kontak; lingkungan (sangat tahan) | Kontak KETAT; disinfeksi lebih sering |
| C. difficile | Spora fecal-oral; tahan alkohol | Kontak; WAJIB sabun dan air (bukan handrub) |
Pelaksanaan Kewaspadaan Kontak:
- APD sebelum masuk ruangan: sarung tangan + gaun/apron
- APD saat keluar: LEPAS di dalam ruangan; cuci tangan segera
- Alat khusus untuk pasien ini (stetoskop, tensimeter, termometer)
- Tanda di pintu; edukasi keluarga/pengunjung
5.7 Mengenali Tanda Sepsis Lebih Awal
LAPORKAN SEGERA ke dokter jika menemukan DUA ATAU LEBIH:
- Suhu >38,3°C ATAU <36°C
- Nadi >90/menit
- Frekuensi napas >20/menit
- Perubahan status mental (bingung tiba-tiba, gelisah, tidak responsif)
- TD sistolik <100 mmHg
- SpO2 <94% tanpa sebab jelas
Tindakan Perawat saat Suspek Sepsis:
- Segera hubungi DPJP dengan SBAR
- Siapkan untuk kultur darah (SEBELUM antibiotik)
- Pasang akses IV yang baik
- Siapkan cairan kristaloid
- Monitor tanda vital lebih ketat (setiap 15-30 menit)
- Berikan antibiotik sesegera mungkin
- Monitor urine output
- Dokumentasikan semua dengan timestamp
5.8 Edukasi Pasien dan Keluarga tentang Antibiotik
Empat Pesan Kunci:
- Habiskan antibiotik — “Kalau berhenti sebelum habis karena sudah merasa lebih baik, bakterinya belum mati semua — yang tersisa justru yang paling kuat dan bandel.”
- Minum sesuai jadwal — “Antibiotik bekerja dengan menjaga kadar obat di tubuh tetap tinggi. Kalau sering lupa, bakteri punya kesempatan untuk melawan.”
- Jangan simpan atau bagikan — “Antibiotik diresepkan khusus untuk infeksi Anda. Orang lain mungkin punya infeksi yang berbeda.”
- Jangan minta antibiotik sendiri untuk flu — “Flu dan batuk pilek biasa disebabkan virus, bukan bakteri. Antibiotik tidak membantu dan malah bisa menimbulkan efek samping.”
5.9 Dokumentasi dan Komunikasi dalam Tim
Yang harus didokumentasikan:
- Waktu TEPAT pemberian antibiotik (jam dan menit)
- Waktu pengambilan kultur sebelum antibiotik
- Waktu penghentian antibiotik profilaksis bedah
- Reaksi pasien terhadap antibiotik
- Edukasi pasien yang sudah diberikan
- Komunikasi ke DPJP (waktu dan isi)
Komunikasi Efektif dengan DPJP: Teknik SBAR
S — SITUATION: “Dokter, saya melaporkan kondisi Tn. X di Bangsal Mawar, kamar 3. Kondisi pasien memburuk sejak 2 jam yang lalu.”
B — BACKGROUND: “Pasien dirawat sejak 5 hari dengan diagnosis pneumonia, mendapat Ceftriaxon 2g/hari. Kultur darah belum ada hasilnya.”
A — ASSESSMENT: “Suhu naik lagi ke 39,2°C. Nadi 110, napas 26. Pasien terlihat lebih gelisah. Saya khawatir pasien belum respons terhadap antibiotik saat ini.”
R — RECOMMENDATION: “Apakah dokter bisa datang untuk menilai atau ada instruksi lanjutan? Apakah saya perlu ambil kultur darah ulang?”
BAB 6
PANDUAN UNTUK APOTEKER KLINIS
6.1 Peran Sentral Apoteker dalam ASP
IDSA/SHEA Guidelines (2016) menetapkan program ASP yang efektif HARUS memiliki dokter pemimpin DAN apoteker klinis yang terlatih sebagai co-leader.
| Kompetensi Unik Apoteker | Kontribusi dalam ASP |
|---|---|
| Keahlian farmakologi dan PK/PD | Mengoptimalkan dosis, frekuensi, durasi |
| Akses ke data konsumsi obat (IFRS) | Sumber utama surveilans DDD |
| Posisi di seluruh rantai obat | Melihat seluruh siklus penggunaan |
| Keahlian interaksi dan efek samping | Identifikasi masalah keamanan obat |
| Independensi sebagai mitra dokter | Memberikan rekomendasi tanpa hierarkis |
Alokasi Waktu Ideal Apoteker ASP (RS Tipe C/D):
- Ward round + prospektif reviu: 3x/minggu, 45-60 menit
- Review permohonan WATCH/RESERVE: harian, 15-30 menit
- Identifikasi kandidat IVOST: harian
- Monitoring hasil kultur: 2-3x/minggu, 20-30 menit
- Rekap data DDD: bulanan, 1-2 jam
- Kontribusi data audit Gyssens: bulanan, 2-3 jam
- Konseling pasien: saat discharge, 10-15 menit
6.2 Prospektif Reviu dan Feedback (PRAF)
Langkah sistematis PRAF dalam ward round:
- Identifikasi pasien dengan antibiotik aktif — Dari lembar obat bangsal
- Review rekam medis — Diagnosis, indikasi, kapan dimulai
- Cek hasil kultur — Patogen, profil sensitivitas
- Evaluasi klinis — Respons pasien, demam, tanda vital
- Identifikasi peluang intervensi — De-eskalasi, IVOST, penyesuaian dosis
- Buat dan catat rekomendasi — Dalam catatan farmasi RM; sampaikan verbal ke DPJP
- Follow up — Apakah rekomendasi diikuti? Catat acceptance rate
Format Rekomendasi PRAF yang Efektif:
Tanggal: 12 Juni 2026 | Apoteker: [Nama], Apt.
TEMUAN: Tn. X, 55 th, terapi Ceftriaxon 2g IV 1x/hr sejak 5 hari (10/6/2026). Hasil kultur darah (9/6/2026): E. coli, sensitif amoksisilin (MIC <8). Kondisi klinis membaik: afebris 24 jam, leukosit 9.500/mm3, tanda vital stabil, tidak mual/muntah.
REKOMENDASI:
- De-eskalasi: ganti Ceftriaxon IV ke Amoksisilin 500mg PO 3x/hr.
- IVOST: kriteria terpenuhi — afebris, vital stabil, GI baik.
- Estimasi total durasi terapi: 7 hari (selesai 17/6/2026).
Telah disampaikan kepada dr. [Nama DPJP] pada pukul 10.30 WIB. Awaiting DPJP response.
6.3 Sistem Pre-Authorization WATCH dan RESERVE
Antibiotik WATCH: Justifikasi klinis + evaluasi apoteker dalam 24 jam + ASO hari ke-3/5/7
Antibiotik RESERVE: Formulir permohonan wajib + persetujuan Ketua Tim PRA atau Sp. PI
Komponen Formulir Permohonan WATCH/RESERVE:
- Identitas pasien dan RM
- Diagnosis utama dan diagnosis infeksi dicurigai
- Nama antibiotik, dosis, rute, durasi direncanakan
- Justifikasi klinis tertulis
- Hasil kultur dan kepekaan (jika tersedia)
- Hasil investigasi lain (CRP, PCT, foto toraks)
- Terapi antibiotik sebelumnya
- Tanggal dan tanda tangan DPJP
Alur Evaluasi Apoteker:
- Terima formulir — cek kelengkapan (<2 jam)
- Evaluasi farmakoterapi — indikasi, dosis, interaksi, alternatif ACCESS (dalam 24 jam)
- Konsultasi Ketua Tim PRA (jika ragu)
- Berikan keputusan + rekomendasi tertulis (maksimal 24 jam)
- Monitor dan evaluasi berkala — hari ke-3, 5, 7
- Dokumentasi setiap interaksi
Apoteker BERWENANG menolak dispensasi WATCH/RESERVE jika formulir tidak lengkap atau indikasi tidak terpenuhi.
6.4 Identifikasi dan Rekomendasi IVOST
Kriteria IVOST yang harus dipantau:
| Kriteria | Parameter Konkret |
|---|---|
| Tidak demam ≥24 jam | Suhu <37,8°C selama ≥24 jam tanpa antipiretik |
| Tanda vital stabil | TD, nadi, napas, SpO2 dalam batas normal |
| GI tract berfungsi | Bisa menelan; tidak ileus/mual/muntah persisten |
| Penanda infeksi membaik | Leukosit/CRP/PCT tren turun |
| Formulasi oral tersedia | Bioavailabilitas oral ≥80% di formularium |
Format Rekomendasi IVOST:
EVALUASI IVOST: Ny. Y, 42 th. Mendapat Ceftriaxon 2g IV sejak 5 hari.
✓ Afebris ≥24 jam (suhu terakhir 36,8°C, tanpa antipiretik)
✓ Tanda vital stabil (TD 120/80, nadi 78, RR 18, SpO2 98%)
✓ Toleransi oral baik (tidak mual, tidak muntah, makan cukup)
✓ Leukosit 8.200 (dari puncak 15.000 hari ke-1)
✓ Formulasi oral tersedia di formulariumREKOMENDASI: Switch ke Amoksisilin-Klavulanat 625mg PO 2x/hr. Alasan: E. coli sensitif amoksisilin dari kultur urine; BA oral adekuat. Estimasi sisa terapi: 5 hari (total 10 hari pielonefritis).
6.5 Monitoring De-eskalasi Berbasis Kultur
Alur Monitoring:
- Hari 1-2: Pastikan spesimen kultur sudah diambil
- Hari 2-3: Cek laporan lab; identifikasi antibiotik ACCESS yang sensitif
- Hari 3: Bandingkan empirik dengan profil sensitivitas; buat rekomendasi de-eskalasi
- Follow up 24 jam: Cek apakah rekomendasi diikuti
Membaca Laporan Sensitivitas:
| Skenario Laporan | Rekomendasi de-eskalasi |
|---|---|
| E. coli: Amoksisilin S, Ko-trimoksazol S, Ceftriaxon S, Ciprofloxacin S | De-eskalasi ke Amoksisilin PO 500mg 3x (paling sempit, ACCESS) |
| K. pneumoniae: Ceftriaxon R (ESBL+), Amikacin S, Ertapenem S | ESBL: rekomendasikan Amikacin atau Ertapenem; laporkan ke Tim PRA |
| Tidak ada pertumbuhan, klinis membaik | Evaluasi ulang indikasi; pertimbangkan stop antibiotik |
6.6 Optimasi PK/PD oleh Apoteker
| Tipe PK/PD | Antibiotik Utama | Strategi Dosis Optimal |
|---|---|---|
| Time-Dependent (%T > MIC) | Beta-laktam | Lebih sering atau extended infusion. Contoh: Meropenem 1g tiap 8 jam (infus 3 jam) |
| Concentration-Dependent (Cmax/MIC) | Aminoglikosida | Dosis besar sekali sehari. Amikacin 15-20 mg/kg IV 1x/hari |
| AUC-Dependent (AUC/MIC) | Vankomisin | Target AUC/MIC 400-600. TDM wajib; loading dose untuk target cepat |
6.7 Therapeutic Drug Monitoring (TDM)
TDM Vankomisin (target AUC/MIC 400-600):
- Kapan ambil: dua sampel (peak 1-2 jam pasca-infus + trough di akhir interval)
- Kapan mulai: dosis ke-3 atau setelah steady state
- Penyesuaian: AUC <400 → tingkatkan; AUC >600 → turunkan
- Monitoring toksisitas: kreatinin serum baseline, harian hari 3-7
TDM Aminoglikosida (Once-Daily):
- Dosis awal Amikacin: 15-20 mg/kgBB (maks 1.500-2.000 mg)
- Ambil sampel 6-14 jam setelah dosis pertama (random level)
- Tujuan: trough <1 mg/L untuk mencegah nefrotoksisitas
6.8 Rekonsiliasi Obat dan Verifikasi Alergi
Pertanyaan rekonsiliasi terkait antibiotik:
- Apakah pasien sedang minum antibiotik oral di rumah?
- Antibiotik apa yang pernah gagal atau digunakan baru-baru ini?
- Apakah ada riwayat infeksi MDR sebelumnya?
- Obat apa yang berinteraksi dengan antibiotik yang akan diberikan?
Verifikasi riwayat alergi penisilin:
- >90% pasien dengan label “alergi penisilin” sebenarnya tidak memiliki alergi sejati
- Tanyakan: antibiotik apa? reaksi apa? kapan terakhir? pernah mendapat obat segolongan setelah itu?
- Ruam makulo-papular → sefalosporin AMAN diberikan
- Anafilaksis → hindari beta-laktam
6.9 Konseling Pasien dan Keluarga
Enam Topik Wajib Konseling:
- Untuk apa antibiotik ini? — Jenis infeksi, mengapa dipilih
- Cara pakai yang benar — Dosis, frekuensi, dengan/tanpa makanan
- Durasi terapi — Berapa lama; apa yang terjadi jika berhenti sebelum selesai
- Efek samping yang perlu diwaspadai — mual/diare biasa OK; ruam/sesak → segera ke dokter
- Jangan berbagi — Antibiotik yang tidak selesai tidak boleh disimpan atau diberikan ke orang lain
- Mengapa antibiotik tidak selalu diperlukan — Infeksi virus tidak perlu antibiotik
6.10 Data Kefarmasian untuk Surveilans PPRA
Pengumpulan data DDD dari IFRS:
- Data: jumlah unit/gram antibiotik yang dikeluarkan ke bangsal rawat inap per bulan
- Format: nama generik (bukan merk) + kekuatan sediaan + jumlah unit + total gram
- Frekuensi: bulanan (tanggal 5)
- Sumber: sistem komputer IFRS atau buku ekspedisi
Perhitungan DDD praktis:
- DDD/100 PD = (Total DDD / Total Patient-Days) x 100
- Contoh: Ceftriaxon terpakai 450 gram; DDD WHO Ceftriaxon = 2g/hari; Total DDD = 225; Patient-days = 1.200; DDD/100 PD = (225/1.200) x 100 = 18,75
Kontribusi apoteker pada audit Gyssens:
- Identifikasi sampel RM dari database IFRS
- Verifikasi data obat dalam RM
- Penilaian komponen farmakologi (IIA, IIB, IIC)
- Identifikasi kategori IVB dan IVC (alternatif lebih murah/aman)
- Rekomendasi perbaikan pasca-audit
BAB 7
PANDUAN UNTUK LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
7.1 Peran Sentral Laboratorium dalam PPRA
| Fungsi | Kontribusi Konkret | Dampak pada PPRA |
|---|---|---|
| Diagnostik individual | Kultur, identifikasi patogen, AST | Memungkinkan de-eskalasi terapi empirik ke definitif |
| Antibiogram lokal | Kumpulkan data AST kumulatif; susun antibiogram RS | Dasar terapi empirik yang relevan secara lokal |
| Surveilans MDRO | Deteksi dan laporkan MDRO sebagai nilai kritis; kirim isolat ke LRN | Isolasi dini dan pencegahan penyebaran MDRO |
7.2 Standar Pra-analitik: Spesimen Berkualitas
Persyaratan umum:
- Waktu pengambilan: SEBELUM antibiotik pertama (kecuali gawat darurat)
- Teknik aseptik (ANTT) wajib
- Wadah steril, berpenutup rapat, berlabel
- Volume cukup (darah kultur: 8-10 mL per botol dewasa)
- Transportasi ≤2 jam (darah kultur: jangan simpan di kulkas)
- Informasi klinis lengkap di formulir
Kriteria spesimen layak:
| Jenis Spesimen | Kriteria LAYAK | Kriteria TIDAK LAYAK / Tolak |
|---|---|---|
| Darah Kultur | Volume 8-10 mL/botol; 2 set dari 2 lokasi berbeda | Volume ❤ mL; satu botol saja; >2 jam suhu ruangan tanpa inkubasi |
| Urine | Midstream clean-catch atau dari kateter baru; wadah steril | Dari urine bag; >2 jam suhu ruangan |
| Sputum | Sel epitel <10/lpk DAN neutrofil ≥25/lpk | Hanya saliva; >2 jam suhu ruangan |
| Luka/Pus | Aspirat atau swab dari lapisan dalam luka | Swab dari tepi luka saja; mengering |
| LCS | 3 tabung berurutan; dikirim DALAM 30 MENIT | Beku; >1 jam sejak pengambilan |
Laboratorium BERHAK dan WAJIB menolak spesimen yang tidak memenuhi kriteria.
7.3 Alur Pemeriksaan Kultur dan Identifikasi
| Tahap | Proses | Target Waktu |
|---|---|---|
| 1. Penerimaan | Cek formulir dan kualitas spesimen | Maks 30 menit |
| 2. Inokulasi media | Sebarkan ke media sesuai (Blood Agar, MacConkey, Chocolate Agar) | Dalam 1 jam |
| 3. Inkubasi | 37°C, 18-24 jam (bakteri aerob); 48 jam (jika tidak tumbuh) | 18-24 jam (awal) |
| 4. Pengamatan | Hitung koloni, morfologi, Gram stain | 24 jam (hari ke-2) |
| 5. Identifikasi | Manual (tes biokimia) atau otomatis | Hari ke-2 sampai ke-3 |
| 6. AST | Disk diffusion atau MIC; inkubasi 16-18 jam | Hari ke-2 sampai ke-3 |
| 7. Laporan | Laporan pendahuluan (Gram stain) + laporan final | TAT final ≤3 hari |
7.4 Uji Kepekaan Antimikroba (AST): Metode dan Interpretasi
Metode AST yang umum:
| Metode | Cara Kerja | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| Disk Diffusion (Kirby-Bauer) | Disk AB di atas agar; ukur zona hambat | Murah, sederhana, tidak butuh alat mahal | Tidak memberikan MIC; rentan variasi teknis |
| MIC (Broth Microdilution) | Seri konsentrasi AB; MIC = konsentrasi terendah yang menghambat | Nilai MIC kuantitatif; gold standard | Lebih mahal; lebih kompleks |
| E-test | Strip gradien di atas agar; MIC dari strip | Memberikan nilai MIC; lebih mudah | Mahal per tes; tidak untuk panel besar |
| Automated system (VITEK2, BD Phoenix) | Kartu mikrodilusi otomatis; hasil 4-12 jam | Cepat; hasil lengkap; mengurangi human error | Biaya tinggi; bergantung software |
Interpretasi hasil AST: S, I, R
| Kategori | Makna Klinis | Panduan Terapi |
|---|---|---|
| S — Sensitif | Terhambat pada konsentrasi yang dapat dicapai dosis standar | DAPAT digunakan dengan dosis standar |
| I — Intermediate (CLSI) | Zona ambang; hasil tidak dapat diprediksi | Pertimbangkan antibiotik lain; konsultasi klinis |
| I — Susceptible, Increased Exposure (EUCAST) | Efektif jika dosis tinggi atau lokasi konsentrasi tinggi | BISA efektif dengan dosis tinggi atau di lokasi penetrasi baik |
| R — Resisten | Tidak terhambat pada konsentrasi yang dapat dicapai | TIDAK boleh digunakan; kemungkinan gagal terapi tinggi |
7.5 Pelaporan Hasil: Waktu, Format, dan Nilai Kritis
Target Turn-Around Time (TAT):
| Jenis Laporan | Target TAT | Keterangan |
|---|---|---|
| Laporan pendahuluan Gram stain | Dalam 1-2 jam | Nilai kritis — komunikasikan segera ke DPJP via telepon |
| Laporan identifikasi (tanpa AST) | Hari ke-2 | Informasikan awal patogen |
| Laporan final (identifikasi + AST) | Hari ke-2 sampai ke-3 (≤72 jam) | Standar PDS PatKLIn |
| Laporan MDRO (nilai kritis) | HARI YANG SAMA | Telepon DPJP + Tim PPI; jangan hanya melalui sistem IT |
Pelaporan Selektif (Cascade Reporting):
- Isolat sensitif lini 1 → laporkan lini 1 saja
- Isolat resisten lini 1, sensitif lini 2 → laporkan lini 2
- Isolat MDR/XDR → laporkan semua antibiotik; tambahkan catatan “isolat MDR/XDR — laporkan ke Tim PPI dan Tim PRA”
Komunikasi Nilai Kritis MDRO:
- DPJP pasien (via telepon — catat waktu, nama penerima)
- Tim PPI/IPCN (untuk isolasi segera)
- Tim PRA (untuk surveilans)
JANGAN mengandalkan hanya sistem elektronik (LIS/HIS) untuk MDRO.
7.6 Penyusunan Antibiogram Lokal
Syarat data isolat (CLSI M39 + Kepdirjen 3610/2025):
- Minimal 30 isolat per spesies; jika <30: laporkan dengan catatan “data terbatas”
- First isolate per patient (hanya satu isolat pertama per spesies per pasien per periode)
- Sumber isolat: spesimen klinis rutin (bukan surveilans skrining)
- Periode analisis: minimal per tahun
Format laporan antibiogram:
- Header: nama RS, periode, tanggal laporan
- Ringkasan isolat: total isolat per spesies; persentase dari total
- Tabel utama: baris = spesies; kolom = antibiotik; isi = %S
- Stratifikasi: ICU vs non-ICU (jika memadai)
- Catatan MDRO: %MRSA, %ESBL, %CRAB, %CRE
- Rekomendasi: implikasi untuk terapi empirik; revisi PPAB
7.7 Surveilans MDRO dan Definisi Operasional
| Kategori | Definisi | Kriteria Umum |
|---|---|---|
| MDR | Resisten ≥1 agen dari ≥3 kelas AB | E. coli: resisten ≥3 kelas dari aminopenisilin, sefalosporin, fluorokuinolon, karbapenem, aminoglikosida, ko-trimoksazol |
| XDR | Resisten semua kecuali 1-2 kelas AB | Pilihan terapi sangat terbatas |
| PDR | Resisten SEMUA kelas AB | Tidak ada pilihan terapi efektif |
MDRO prioritas untuk surveilans:
| MDRO | Mekanisme Resistensi | Cara Deteksi | Nilai Kritis? |
|---|---|---|---|
| MRSA | PBP2a (gen mecA) | Disk sefoksitin; resisten sefoksitin = MRSA | YA |
| ESBL (E. coli, K. pneumoniae) | Enzim ESBL | Tes kombinasi (ceftazidim + klavulanat); zona ≥5 mm = ESBL | YA untuk CRE/CRAB |
| CRAB | Enzim OXA karbapenemase | Resisten imipenem DAN meropenem | YA |
| CRE | KPC, NDM, VIM, IMP, OXA-48 | Resisten meropenem/imipenem/ertapenem; konfirmasi mCIM | YA |
| VRE | Gen vanA/vanB | Resisten vankomisin | YA |
7.8 Pengiriman Isolat MDRO ke Laboratorium Rujukan Nasional
Kriteria isolat yang wajib dikirim ke LRN:
- Klebsiella pneumoniae: resisten karbapenem; atau resisten sefalosporin spektrum luas; atau XDR/PDR
- Escherichia coli: resisten karbapenem; atau ESBL dengan resistensi tambahan; atau kolistin-resistant
- Pseudomonas aeruginosa: resisten ≥3 kelas; atau XDR; atau kolistin-resistant
- Acinetobacter baumannii: semua CRAB; atau PDR
- Isolat outbreak: dicurigai terkait wabah
Alur pengiriman:
- Identifikasi dan verifikasi isolat — subkultur dari stok; pastikan kemurnian
- Penyimpanan — dalam media transport yang sesuai (agar miring, Cryovial, Microbank)
- Pengemasan 3 lapis — tabung → plastik biohazard → styrofoam + ice gel pack → kardus + label biohazard + UN3373
- Formulir dan dokumentasi — formulir permintaan verifikasi + hasil AST RS
- Pengiriman — via jasa berpendingin; estimasi <48 jam; catat nomor pelacak
- Konfirmasi penerimaan — hubungi LRN; minta nomor registrasi
7.9 Kolaborasi dengan Tim PRA, PPI, dan DPJP
| Data ke Tim PRA | Frekuensi | Tujuan |
|---|---|---|
| Jumlah kultur dan positivity rate bulanan | Bulanan (tanggal 10) | Menilai kualitas pengambilan spesimen |
| Data isolat MDR/MDRO bulanan | Bulanan (tanggal 10) | Surveilans MDRO; dasar isolasi |
| Antibiogram kumulatif | Minimal 1x/tahun | Dasar revisi PPAB; EP Prognas 6.1.1e |
| Data isolat untuk RL 3.19.4 | Triwulanan | Kewajiban pelaporan ke Kemenkes |
Peran laboratorium dalam FORKKIT:
- Presentasi kasus MDR — profil kepekaan, interpretasi AST
- Konsultasi hasil kultur yang sulit — kontaminasi vs infeksi nyata; nilai “I”
- Update pola resistensi lokal 3 patogen prioritas setiap triwulan
- Edukasi pengambilan spesimen
BAGIAN 3
PANDUAN KLINIS PRAKTIS
BAB 8
TERAPI EMPIRIK INFEKSI UMUM DI INDONESIA
8.1 Infeksi Saluran Napas
Bronkitis Akut
- Bronkitis akut hampir SELALU disebabkan virus. Antibiotik TIDAK diindikasikan.
- Tata laksana: simtomatik (parasetamol/ibuprofen, hidrasi, istirahat).
- Pertimbangkan antibiotik HANYA jika: demam >38°C + sputum purulen + CRP signifikan, dan pneumonia disingkirkan.
Faringitis dan Tonsilofaringitis Bakterial
| Kondisi | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Tonsilofaringitis GAS | Amoksisilin 500 mg PO 3x/hr | Eritromisin 500 mg PO 4x/hr ATAU Klindamisin 300 mg PO 3x/hr | ACCESS | 10 hari |
| Rekuren/gagal lini 1 | Amoksisilin-Klavulanat 625 mg PO 2x/hr | Klindamisin 300 mg PO 3x/hr | ACCESS | 10 hari |
Otitis Media Akut (OMA)
| Kondisi | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| OMA ringan, anak >2 tahun | Watchful waiting 48-72 jam | Amoksisilin jika tidak membaik | Tidak perlu AB | 48-72 jam observasi |
| OMA berat atau anak <2 tahun | Amoksisilin 40-50 mg/kg/hr PO 3x | Amoksisilin-Klavulanat | ACCESS | 7-10 hari (<2th); 5-7 hari (≥2th) |
| OMA rekuren/gagal oral | Ceftriaxon 50 mg/kg IM/IV 1x (3 hari) | Konsul Sp.THT | WATCH | 3 hari |
Sinusitis Bakterial Akut
| Derajat | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Ringan-sedang | Amoksisilin 500 mg PO 3x/hr | Amoksisilin-Klavulanat 625 mg PO 2x/hr | ACCESS | 7-10 hari |
| Berat/tidak respons lini 1 | Amoksisilin-Klavulanat 875+125 mg PO 2x/hr | Levofloxacin 500 mg PO 1x/hr | ACCESS/WATCH | 7-10 hari |
| Rawat inap/komplikasi | Ceftriaxon 2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x | Konsul Sp.THT + Sp.BS | WATCH | 10-14 hari |
Pneumonia Komunitas (CAP)
Stratifikasi dengan CURB-65: 1 poin untuk Confusion, Urea >7 mmol/L, RR ≥30, BP sistolik <90/diastolik ≤60, Age ≥65. Skor 0-1: rawat jalan; 2: rawat inap; ≥3: ICU.
| Derajat (CURB-65) | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Ringan (0-1) rawat jalan | Amoksisilin 500 mg PO 3x/hr +/− Azitromisin 500 mg 1x | Azitromisin 500 mg (alergi penisilin) | ACCESS | 5-7 hari |
| Sedang (2) rawat inap non-ICU | Ampisilin-Sulbaktam 1,5 g IV 4x + Azitromisin 500 mg IV/PO 1x | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x + Azitromisin | ACCESS+WATCH | 7 hari |
| Berat (≥3) ICU | Ceftriaxon 2 g IV 1x + Azitromisin 500 mg IV 1x | Cefotaksim 2 g IV 3x + Levofloxacin 500 mg IV 2x | WATCH | 7-10 hari |
Pneumonia Nosokomial (HAP/VAP)
| Risiko MDR | Lini Pertama | Eskalasi/Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Rendah | Amoksisilin-Klavulanat 1,2 g IV 3x ATAU Ceftriaxon 2 g IV 1x | Cefotaksim 2 g IV 3x | ACCESS/WATCH | 7 hari |
| Sedang-Tinggi | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x | + Amikacin 15-20 mg/kg IV 1x (MDR P. aeruginosa/CRAB) | WATCH | 7-14 hari |
| VAP (ICU) | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x + Amikacin 15-20 mg/kg IV 1x | Meropenem 1-2 g IV 3x (RESERVE, indikasi ketat) | WATCH/(RESERVE) | 7-14 hari |
8.2 Infeksi Saluran Kemih
ISK Bawah Tanpa Komplikasi (Sistitis Akut)
| Populasi | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Wanita dewasa | Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x ATAU Fosfomisin 3 g PO dosis tunggal | Nitrofurantoin 100 mg PO 2x ATAU Cefixim 200 mg PO 2x | ACCESS | 3 hari (Ko-trim/Fosfo); 5-7 hari (lainnya) |
| Wanita hamil | Sefaleksin 500 mg PO 4x ATAU Amoksisilin-Klav 625 mg PO 2x | Nitrofurantoin (hindari trimester III); Konsul Sp.OG | ACCESS | 7 hari |
| Pria dewasa | Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x ATAU Cefixim 200 mg PO 2x | Siprofloksasin 500 mg PO 2x (jika kultur sensitif) | ACCESS/WATCH | 7 hari |
Pielonefritis Akut
| Derajat | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Ringan-sedang (rawat jalan) | Siprofloksasin 500 mg PO 2x ATAU Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x | Amoksisilin-Klav 875+125 mg PO 2x ATAU Cefixim 200 mg PO 2x | WATCH/ACCESS | 10-14 hari |
| Berat (rawat inap, septik) | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x (switch oral setelah afebris 24-48 jam) | Siprofloksasin 400 mg IV 2x ATAU Ampisilin-Sulbaktam 1,5 g IV 4x | WATCH | 14 hari total |
| Komplikasi (abses ginjal, obstruksi) | Ceftriaxon 2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x; Konsul Sp. Urologi | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x | WATCH | 14-21 hari + drainase |
ISK Terkait Kateter (CA-UTI)
| Derajat | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Ringan-sedang | Cefixim 200 mg PO 2x ATAU Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x | Siprofloksasin 500 mg PO 2x (jika kultur sensitif) | ACCESS/WATCH | 7 hari |
| Berat (demam tinggi, bakteremia) | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x | Siprofloksasin 400 mg IV 2x | WATCH | 10-14 hari |
8.3 Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak
Impetigo
| Jenis | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Non-bulosa, lesi terbatas | Mupirocin 2% salep 3x ATAU Asam fusidat topikal | — | Topikal | 5-7 hari |
| Non-bulosa, lesi luas/tidak respons topikal | Sefaleksin 25-50 mg/kg PO 4x ATAU Amoksisilin-Klav 25 mg/kg PO 3x | Klindamisin 10-20 mg/kg PO 3x | ACCESS | 7 hari |
| Bulosa (S. aureus) | Sefaleksin 500 mg PO 4x ATAU Kloksasilin 500 mg PO 4x | Klindamisin 300 mg PO 3x | ACCESS | 7 hari |
Selulitis dan Erisipelas
| Derajat | Lini Pertama | Alternatif | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| Ringan (rawat jalan, tanpa sistemik) | Amoksisilin 500 mg PO 3x ATAU Sefaleksin 500 mg PO 4x | Klindamisin 300 mg PO 3x (suspek MRSA-CA) | ACCESS | 5-7 hari |
| Sedang-Berat (rawat inap, toksik) | Ampisilin-Sulbaktam 1,5-3 g IV 4x ATAU Cefazolin 1-2 g IV 3x | Klindamisin 600 mg IV 3x | ACCESS | 7-14 hari |
| Suspek MRSA | Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x (MRSA-CA) | Vankomisin IV (RESERVE) jika rawat inap | ACCESS/(RESERVE) | Kultur wajib; sesuaikan |
Abses Kulit
- Terapi utama: Insisi dan Drainase (I&D). Antibiotik rutin TIDAK direkomendasikan.
- Abses + selulitis meluas >2 cm: I&D + Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x ATAU Sefaleksin 500 mg PO 4x
Necrotizing Fasciitis — KEGAWATAN BEDAH
- Tanda: nyeri tidak proporsional, edema melampaui batas eritema, bula, krepitasi, toksisitas sistemik.
- LRINEC score ≥6 mendukung diagnosis.
- Tata laksana: Konsul/rujuk SEGERA ke Sp. Bedah; stabilisasi hemodinamik; antibiotik empirik: Meropenem 1-2 g IV 3x + Klindamisin 600 mg IV 3x.
8.4 Infeksi Intra-abdominal
Apendisitis Akut
| Klasifikasi | Antibiotik | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|
| Tidak terkomplikasi | Cefazolin 1-2 g IV + Metronidazol 500 mg IV single dose pre-op | ACCESS | ≤24 jam (profilaksis) |
| Terkomplikasi (perforasi, abses) | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x | WATCH+ACCESS | 4-7 hari pascaoperasi |
| Non-operatif | Amoksisilin-Klav 1,2 g IV 3x; switch ke 625 mg PO 2x jika membaik | ACCESS | 7-10 hari |
Kolesistitis Akut
| Derajat | Antibiotik | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|
| Grade I — Ringan | Amoksisilin-Klav 625 mg PO 2x ATAU Sefaleksin 500 mg PO 4x | ACCESS | 5-7 hari |
| Grade II — Sedang | Ampisilin-Sulbaktam 1,5-3 g IV 4x ATAU Ceftriaxon 1-2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x | ACCESS/WATCH | 7 hari |
| Grade III — Berat | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x; Konsul Sp. Bedah + Sp. Penyakit Dalam | WATCH | 7-14 hari |
Peritonitis
| Jenis | Antibiotik | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|
| Primer (SBP) | Ceftriaxon 2 g IV 1x ATAU Cefotaksim 2 g IV 3x + Albumin 1,5 g/kg IV hari 1 dan 3 | WATCH | 5-7 hari |
| Sekunder (perforasi viskus) | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x ATAU Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x | WATCH | 4 hari pasca source control |
| Nosokomial/MDR risk | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x + Amikacin 15-20 mg/kg IV 1x | WATCH | 7-14 hari |
8.5 Pendekatan Awal Sepsis (SSC 2026)
Definisi Sepsis-3:
- Sepsis: Disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respons tubuh terhadap infeksi. Kriteria: perubahan total skor SOFA ≥2 poin yang disebabkan oleh infeksi.
- Syok Septik: Sepsis + kebutuhan vasopressor untuk MAP ≥65 mmHg, DAN laktat serum >2 mmol/L meskipun resusitasi cairan adekuat.
Hour-1 Bundle SSC 2026 — Lima tindakan kritis:
- Ukur laktat serum — Jika >2 mmol/L: ukur ulang dalam 2-4 jam
- Ambil kultur darah — 2 set SEBELUM antibiotik pertama; jangan tunda >45 menit
- Berikan antibiotik — Syok septik/definite sepsis: ≤1 jam; Possible sepsis tanpa syok: ≤3 jam
- Resusitasi cairan — 30 mL/kgBB kristaloid seimbang dalam 3 jam
- Vasopresor — Norepinefrin lini pertama; MAP target ≥65 mmHg (60-65 mmHg untuk ≥65 tahun)
Terapi Empirik Sepsis Komunitas:
| Sumber Infeksi | Terapi Empirik Lini 1 | AWaRe |
|---|---|---|
| Pneumonia komunitas | Ampisilin-Sulbaktam 1,5-3 g IV 4x + Azitromisin 500 mg IV/PO 1x | ACCESS+WATCH |
| Infeksi saluran kemih | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x | WATCH |
| Infeksi intra-abdominal | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x | WATCH+ACCESS |
| Infeksi kulit & jaringan lunak | Ampisilin-Sulbaktam 1,5-3 g IV 4x | ACCESS |
| Sumber tidak teridentifikasi | Ceftriaxon 2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x | WATCH+ACCESS |
Terapi Empirik Sepsis Nosokomial:
| Sumber Infeksi | Terapi Empirik | AWaRe |
|---|---|---|
| HAP/VAP | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x +/− Amikacin 15-20 mg/kg IV 1x | WATCH |
| BSI/CLABSI | Ceftazidim 2 g IV 3x + Pertimbangkan Vankomisin jika MRSA | WATCH/RESERVE |
| ISK nosokomial | Ceftazidim 2 g IV 3x ATAU Ceftriaxon 2 g IV 1x | WATCH |
| Intra-abdominal nosokomial | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x + Metronidazol 500 mg IV 3x | WATCH |
| Sumber tidak teridentifikasi | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x + Amikacin 15-20 mg/kg IV 1x | WATCH |
8.6 De-eskalasi dan Durasi Terapi Minimum
De-eskalasi — langkah sistematis:
- Review hasil kultur (hari ke-2 sampai ke-3)
- Nilai respons klinis (demam, leukosit, CRP/PCT)
- Identifikasi antibiotik optimal (paling sempit dengan status “S”)
- Hentikan yang tidak perlu
- Dokumentasikan dalam RM
- Tindaklanjuti rekomendasi apoteker
Durasi Terapi Minimum:
| Diagnosis | Durasi yang Direkomendasikan |
|---|---|
| ISK bawah tanpa komplikasi (wanita) | 3 hari (ko-trim/fosfo); 5-7 hari (lainnya) |
| ISK bawah tanpa komplikasi (pria) | 7 hari |
| Pielonefritis | 10-14 hari (7 hari dengan fluorokuinolon jika sensitif) |
| Faringitis GAS | 10 hari |
| CAP ringan (rawat jalan) | 5 hari |
| CAP sedang-berat (rawat inap) | 7 hari |
| HAP/VAP tanpa komplikasi | 7 hari |
| Sinusitis bakterial akut | 7-10 hari |
| Selulitis tanpa komplikasi | 5-7 hari |
| Apendisitis tidak terkomplikasi (post-op) | Maksimal 24 jam (profilaksis) |
| Intra-abdominal post source control | 4 hari jika klinis membaik |
| Sepsis komunitas | Minimal 7 hari; evaluasi dengan PCT |
8.7 Tabel Referensi Antibiotik dan AWaRe
| Nama Antimikroba | Kelas | Kategori AWaRe |
|---|---|---|
| Amoksisilin | Aminopenisilin | ACCESS |
| Amoksisilin-Klavulanat | Penisilin + inhibitor BL | ACCESS |
| Ampisilin | Aminopenisilin | ACCESS |
| Ampisilin-Sulbaktam | Penisilin + inhibitor BL | ACCESS |
| Cefazolin | Sefalosporin gen 1 | ACCESS |
| Sefaleksin | Sefalosporin gen 1 | ACCESS |
| Ko-trimoksazol | Sulfonamid/Trimetoprim | ACCESS |
| Doksisiklin | Tetrasiklin | ACCESS |
| Klindamisin | Linkosamin | ACCESS |
| Metronidazol | Nitroimidazol | ACCESS |
| Nitrofurantoin | Nitrofuran | ACCESS |
| Azitromisin | Makrolida | WATCH |
| Ceftriaxon | Sefalosporin gen 3 | WATCH |
| Cefoperazon-Sulbaktam | Sefalosporin gen 3 + inhibitor BL | WATCH |
| Siprofloksasin | Fluorokuinolon | WATCH |
| Levofloxacin | Fluorokuinolon | WATCH |
| Amikacin | Aminoglikosida | WATCH |
| Piperasilin-Tazobaktam | Ureidopenisilin + inhibitor BL | WATCH |
| Meropenem | Carbapenem | RESERVE |
| Vankomisin | Glikopeptida | RESERVE |
| Kolistin | Polimiksin | RESERVE |
| Linezolid | Oksazolidinon | RESERVE |
BAB 9
PROFILAKSIS ANTIBIOTIK BEDAH
9.1 Dasar Ilmiah dan Prinsip PAB
PAB bertujuan menciptakan konsentrasi antibiotik yang adekuat di jaringan pada saat insisi pertama, sehingga membunuh atau menghambat mikroba sebelum mereka berkembang biak. PAB yang tepat mengurangi kejadian SSI sebesar 40-80% pada jenis operasi yang tepat.
KUNCI: Profilaksis ≠ Terapi.
- PAB mencegah kontaminasi bakteri SELAMA operasi menjadi infeksi klinis.
- PAB TIDAK perlu dilanjutkan setelah luka operasi tertutup dan drainase dilepas.
- Melanjutkan PAB >24 jam dengan alasan “berjaga-jaga” adalah penggunaan tidak tepat yang meningkatkan resistensi dan CDI tanpa manfaat.
9.2 Klasifikasi Luka Operasi dan Indikasi PAB
| Kelas | Karakteristik | Contoh Operasi | Indikasi PAB |
|---|---|---|---|
| I — Bersih | Tidak ada inflamasi; saluran napas/cerna/GU/bilier TIDAK dibuka | Herniorrafi, tiroid, payudara, artroplasti | Opsional; WAJIB jika implant prostetik/jantung/risiko tinggi |
| II — Bersih-Terkontaminasi | Saluran napas/cerna/GU/bilier DIBUKA terkontrol | Kolesistektomi, histerektomi, apendektomi tanpa perforasi | SELALU diindikasikan |
| III — Terkontaminasi | Kontaminasi bermakna; pelanggaran aseptik besar | Trauma usus baru, luka terbuka akut | SELALU diindikasikan (dosis tunggal + pertimbangkan 24 jam) |
| IV — Kotor/Terinfeksi | Infeksi sudah ada sebelum operasi | Apendisitis perforasi, peritonitis, abses | BUKAN profilaksis — ini TERAPI |
9.3 Empat Pilar PAB
Pilar 1 — Tepat Indikasi:
- Semua operasi kelas II dan III
- Operasi kelas I dengan implant prostetik atau faktor risiko tinggi
Pilar 2 — Tepat Pilihan Antibiotik:
- Cefazolin adalah pilihan untuk SEBAGIAN BESAR prosedur
- Hindari WATCH/RESERVE untuk profilaksis rutin
Pilar 3 — Tepat Waktu:
- 30-60 menit SEBELUM insisi (optimal)
- Vankomisin: 90-120 menit SEBELUM insisi (infus lambat)
- TIDAK BOLEH: >120 menit sebelum; atau setelah insisi
Pilar 4 — Tepat Durasi:
- STOP dalam 24 jam pascaoperasi
- Satu-satunya pengecualian: operasi kardiotoraks (maksimal 48 jam)
9.4 Dosis dan Re-dosing Intraoperatif
Dosis Cefazolin berdasarkan berat badan:
- <80 kg: 1 g IV
- 80-120 kg: 2 g IV
- >120 kg: 3 g IV
- Anak: 30-50 mg/kg IV (maks 2 g)
Re-dosing intraoperatif:
- Cefazolin: setiap 3-4 jam
- Klindamisin: setiap 6 jam
- Vankomisin: jarang perlu re-dose dalam 1 operasi
- Perdarahan >1.500 mL: berikan dosis ulang segera
9.5 Rekomendasi PAB per Prosedur Bedah
| Prosedur | Pilihan Pertama | Alternatif (Alergi Penisilin) | AWaRe | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Herniorrafi dengan mesh | Cefazolin 2 g IV | Klindamisin 900 mg IV | ACCESS | Mesh = implant → wajib |
| Kolesistektomi terbuka/komplikasi | Cefazolin 2 g IV | Klindamisin 900 mg IV | ACCESS | Dosis tunggal; stop 24 jam |
| Apendektomi (tanpa perforasi) | Cefazolin 2 g + Metronidazol 500 mg IV | Metronidazol 500 mg + Gentamisin 5 mg/kg IV | ACCESS | Cakup gram+ dan anaerob |
| Operasi kolorektal | Cefazolin 2 g + Metronidazol 500 mg IV + prep oral | Klindamisin 900 mg + Gentamisin 5 mg/kg IV | ACCESS | Oral bowel prep hari sebelumnya |
| Artroplasti total (hip/knee) | Cefazolin 2 g IV | Vankomisin 1-1,5 g IV (infus 90-120 menit) | ACCESS | Implant besar; beberapa panduan: dosis ke-2 8 jam post-op |
| ORIF fraktur terbuka (grade I-II) | Cefazolin 2 g IV (dalam 6 jam trauma) | Klindamisin 900 mg IV | ACCESS | Grade III: terapi, bukan profilaksis |
| Sectio Caesarea (SC) | Cefazolin 2 g IV (PRE-INCISION) | Klindamisin 900 mg + Gentamisin 5 mg/kg IV | ACCESS | Pre-incision lebih efektif; STOP 24 jam |
| Histerektomi | Cefazolin 2 g IV | Klindamisin 900 mg + Gentamisin 5 mg/kg IV | ACCESS | Dosis tunggal untuk prosedur <4 jam |
| TURP | Cefazolin 2 g IV ATAU Ko-trimoksazol 960 mg PO 2 jam sebelum | Gentamisin 5 mg/kg IV | ACCESS | Wajib kultur urine pra-op |
| CABG / Operasi katup | Cefazolin 2 g IV; re-dose 4 jam; STOP 48 jam | Vankomisin 1-1,5 g IV | ACCESS | Satu-satunya prosedur max 48 jam |
| Kraniotomi | Cefazolin 2 g IV | Klindamisin 900 mg IV | ACCESS | Dosis tunggal; re-dose setiap 4 jam jika operasi panjang |
| Kepala-leher insisi mukosa | Amoksisilin-Klav 2,2 g IV ATAU Cefazolin 2 g + Metronidazol 500 mg IV | Klindamisin 900 mg IV | ACCESS | Metronidazol penting untuk flora oral |
9.6 Kondisi Khusus
Alergi Penisilin:
- Anafilaksis → Klindamisin 900 mg IV + Gentamisin 5 mg/kg IV
- Ruam makulo-papular → Cefazolin UMUMNYA AMAN (risiko silang <0,5%)
- Tidak ingat → Cefazolin dapat diberikan dengan monitoring
Obesitas (BMI ≥35):
- Dosis Cefazolin: BB >120 kg → 3 g IV
- Re-dosing lebih sering dipertimbangkan (interval 3-4 jam)
Sectio Caesarea: Cefazolin pre-incision (bukan setelah clamping tali pusat)
- BB 80-120 kg: 2 g IV; BB >120 kg: 3 g IV
Kolonisasi MRSA:
- Dekolonisasi: Mupirocin salep nasal 2x/hari 5 hari + mandi klorheksidin 4% 5 hari
- Tambahkan Vankomisin 1-1,5 g IV pada PAB (infus 90-120 menit)
9.7 Automatic Stop Order (ASO) untuk PAB
ASO adalah mekanisme yang secara otomatis menghentikan antibiotik profilaksis dalam 24 jam pasca-operasi, kecuali ada order eksplisit untuk melanjutkan.
Komponen ASO yang efektif:
- Form ASO terintegrasi dalam lembar order pre-operasi
- Edukasi dokter dan perawat
- Peran apoteker klinis: monitor dan notifikasi
- Peran perawat bangsal: identifikasi dan konfirmasi
- Prosedur jika ada indikasi melanjutkan: WAJIB menulis “Lanjutkan sebagai terapi karena [indikasi]”
9.8 Audit Kepatuhan PAB (K1-K4)
| Kode | Indikator | Target | Cara Pengukuran |
|---|---|---|---|
| K1 | Ketepatan pemilihan AB sesuai PPAB | ≥80% | Bandingkan AB dengan PPAB |
| K2 | Ketepatan waktu (30-60 menit sebelum insisi) | ≥80% | Cek waktu order vs insisi |
| K3 | Ketepatan dosis sesuai PPAB | ≥80% | Cek dosis vs PPAB |
| K4 | Stop dalam 24 jam pasca-op (ASO compliance) | ≥75% | Cek AB dihentikan ≤24 jam |
K4 adalah indikator paling sering bermasalah — solusi: form ASO terintegrasi.
9.9 Peran Tim dalam Kepatuhan PAB
| Anggota Tim | Peran dalam PAB |
|---|---|
| Dokter Bedah | Menentukan jenis AB dan durasi; menulis order; mengisi form ASO |
| Dokter Anestesi | Memastikan AB diberikan tepat waktu (30-60 menit sebelum insisi); catat waktu di lembar anestesi |
| Perawat OK | Siapkan dan berikan AB tepat waktu; catat waktu pemberian; re-dose intraoperatif |
| Apoteker Klinis | Verifikasi order sesuai PPAB; monitoring durasi post-op; notifikasi jika AB >24 jam |
| Perawat Bangsal | Monitor durasi post-op; konfirmasi ASO; catat di lembar obat |
BAB 10
MANAJEMEN SEPSIS DAN PGA
10.1 Definisi Sepsis-3 dan Syok Septik
Sepsis = Disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat respons host yang tidak terregulasi terhadap infeksi. Kriteria: kecurigaan infeksi + peningkatan SOFA score ≥2 poin dari baseline.
Syok Septik = Subset sepsis dengan disfungsi sirkulator dan metabolisme seluler berat. Kriteria: kebutuhan vasopresor untuk MAP ≥65 mmHg, DAN laktat serum >2 mmol/L, meskipun volume adekuat.
PENTING: Demam BUKAN syarat sepsis — sepsis bisa presentasi dengan hipotermia.
10.2 Mengenali Sepsis: qSOFA dan SOFA
qSOFA (Skrining Awal) — 3 parameter, masing-masing 1 poin:
- Frekuensi napas ≥22 kali/menit
- Perubahan status mental (GCS <15)
- TD sistolik ≤100 mmHg
Skor ≥2: Pertimbangkan sepsis — evaluasi SOFA lengkap segera.
SOFA Score — Konfirmasi Diagnosis Sepsis:
| Organ | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
|---|---|---|---|---|---|
| Respirasi (PaO2/FiO2) | >400 | 301-400 | 201-300 | 101-200 + vent | ≤100 + vent |
| Koagulasi (trombosit 10³/μL) | ≥150 | 100-149 | 50-99 | 20-49 | <20 |
| Hati (bilirubin mg/dL) | <1,2 | 1,2-1,9 | 2,0-5,9 | 6,0-11,9 | ≥12 |
| Kardiovaskular | MAP ≥70 | MAP <70 | Dopamin ≤5 atau dobutamin | Dopamin >5 atau epi ≤0,1 | Dopamin >15 atau epi >0,1 |
| SSP (GCS) | 15 | 13-14 | 10-12 | 6-9 | <6 |
| Ginjal (kreatinin mg/dL) | <1,2 | 1,2-1,9 | 2,0-3,4 | 3,5-4,9 atau UO <500 mL/hr | ≥5 atau UO <200 mL/hr |
10.3 Hour-1 Bundle SSC 2026
Lima tindakan kritis yang harus dilakukan BERSAMAAN:
| No. | Tindakan | Target Waktu |
|---|---|---|
| 1 | Ukur laktat serum; jika >2 mmol/L: ukur ulang 2-4 jam | Segera |
| 2 | Ambil kultur darah (2 set) SEBELUM antibiotik | Sebelum antibiotik pertama; jangan tunda >45 menit |
| 3 | Berikan antibiotik empirik | Syok septik/definite sepsis: ≤1 jam; Possible sepsis tanpa syok: ≤3 jam |
| 4 | Resusitasi cairan 30 mL/kgBB kristaloid seimbang | Dalam 3 jam pertama |
| 5 | Vasopresor (jika hipotensi persisten) — Norepinefrin lini pertama | Segera jika MAP <65 mmHg meski cairan |
URUTAN YANG BENAR: Laktat serum → Kultur darah → Antibiotik → Cairan (jika perlu) → Vasopresor (jika perlu)
10.4 Antibiotik dalam Sepsis: Waktu dan Pilihan Empirik
Stratifikasi Waktu Pemberian (SSC 2026):
| Kondisi Klinis | Waktu Target | Kekuatan Rekomendasi |
|---|---|---|
| Syok septik (konfirmasi/probable) | ≤1 JAM sejak diagnosis | Rekomendasi Kuat |
| Sepsis tanpa syok (konfirmasi/probable) | ≤1 JAM sejak diagnosis | Rekomendasi Kuat |
| Possible sepsis tanpa syok | Investigasi; berikan ≤3 jam | Rekomendasi Kondisional |
Terapi Empirik Sepsis Komunitas:
| Sumber Infeksi | Terapi Lini Pertama | AWaRe |
|---|---|---|
| Pneumonia komunitas | Ampisilin-Sulbaktam 1,5 g IV/6 jam + Azitromisin IV/PO 500 mg/24 jam | ACCESS+WATCH |
| Urosepsis | Ceftriaxon 1-2 g IV/24 jam | WATCH |
| Infeksi intraabdominal | Ceftriaxon 1-2 g IV/24 jam + Metronidazol IV 500 mg/8 jam | WATCH+ACCESS |
| SSTI | Ampisilin-Sulbaktam 1,5-3 g IV/6 jam | ACCESS |
| Sumber tidak teridentifikasi | Ceftriaxon 2 g IV/24 jam + Metronidazol 500 mg IV/8 jam | WATCH+ACCESS |
Terapi Empirik Sepsis Nosokomial:
| Sumber Infeksi | Terapi Empirik | AWaRe |
|---|---|---|
| HAP/VAP | Cefoperazon-Sulbaktam 1-2 g IV/12 jam +/− Amikacin jika risiko MDR tinggi | WATCH |
| CLABSI | Ceftazidim 1-2 g IV/8 jam + Vankomisin (jika MRSA) | WATCH/RESERVE |
| CA-UTI | Ceftazidim 1-2 g IV/8 jam | WATCH |
| Infeksi luka operasi | Cefoperazon-Sulbaktam 1-2 g IV/12 jam | WATCH |
| Sumber tidak teridentifikasi | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV/12 jam + Amikacin 15 mg/kg/24 jam | WATCH |
10.5 Source Control: Pilar yang Sering Diabaikan
Antibiotik tidak bisa menggantikan source control. Jika ada fokus infeksi yang terlindungi — abses yang belum didrainase, kateter terinfeksi yang belum dicabut, jaringan nekrotik yang belum didebridement — antibiotik tidak akan mampu mencapai konsentrasi efektif di lokasi tersebut.
| Sumber Infeksi | Tindakan Source Control | Kapan |
|---|---|---|
| Abses | Drainase perkutan atau bedah terbuka | Segera setelah imaging konfirmasi |
| Nekrosis jaringan terinfeksi | Debridement bedah | Kedaruratan bedah |
| Kateter vena sentral terinfeksi | Cabut CVC; pasang baru di lokasi berbeda | Segera setelah konfirmasi |
| Kateter urine terinfeksi | Ganti atau cabut kateter | Segera |
| Peritonitis/perforasi | Laparotomi/laparoskopi eksplorasi | Kedaruratan bedah |
| Kolangitis obstruktif | ERCP atau drainase bilier perkutan | Kedaruratan |
10.6 De-eskalasi dalam Sepsis
| Kapan | Tindakan De-eskalasi yang Direkomendasikan |
|---|---|
| Hari ke-2 sampai ke-3 (48-72 jam): Hasil kultur tersedia | Jika ada patogen: ganti ke antibiotik sesempit mungkin. Contoh: Ceftriaxon empirik → E. coli sensitif amoksisilin → switch ke amoksisilin IV/oral. |
| Hari ke-2 sampai ke-3: Kultur negatif + membaik | Afebris ≥24 jam, leukosit normal/turun, vital stabil → pertimbangkan de-eskalasi ke Access tier atau hentikan |
| Setiap hari (Antibiotic Timeout Harian) | 3 pertanyaan: (1) Masih ada indikasi? (2) Sudah sesempit mungkin? (3) Kapan penghentian? |
De-eskalasi saat Tidak Ada Hasil Kultur:
| Kriteria Klinis | Parameter |
|---|---|
| Defervescence (afebris) | Suhu <37,8°C selama ≥24 jam tanpa antipiretik |
| Perbaikan hemodinamik | MAP ≥65 mmHg tanpa vasopresor |
| Perbaikan leukosit | Leukosit normal atau tren menurun dari puncak |
| Perbaikan fungsi organ | SOFA skor menurun; kreatinin stabil/membaik |
| Status mental pulih | GCS meningkat; delirium berkurang |
10.7 Biomarker untuk Panduan Antibiotik
Prokalsitonin (PCT):
| Nilai PCT | Interpretasi | Implikasi untuk Antibiotik |
|---|---|---|
| <0,1 ng/mL | Sangat tidak mungkin infeksi bakteri | Pertimbangkan hentikan |
| 0,1-0,25 ng/mL | Zona abu-abu | Evaluasi klinis; ulangi 24-48 jam |
| 0,26-0,5 ng/mL | Mungkin infeksi bakteri | Pertimbangkan terapi; evaluasi serial |
| >0,5 ng/mL | Mendukung infeksi bakteri sistemik | Antibiotik diindikasikan |
| >10 ng/mL | Sangat mendukung sepsis/syok | Antibiotik segera; risiko mortalitas tinggi |
Panduan PCT Serial:
- Ukur: baseline, hari ke-3, ke-5, ke-7
- Pertimbangkan PENGHENTIAN jika: PCT turun ≥80% dari puncak, ATAU PCT absolut <0,5 ng/mL, DAN kondisi klinis membaik
Laktat: Panduan Resusitasi dan Prognosis:
| Nilai Laktat | Interpretasi | Tindakan |
|---|---|---|
| ≤2 mmol/L | Normal | Monitor; tidak ada indikasi resusitasi agresif |
| 2,1-4,0 mmol/L | Hipoperfusi ringan-sedang | Resusitasi cairan; monitor ulang 2-4 jam |
| >4 mmol/L | Hipoperfusi berat | Resusitasi agresif; vasopresor segera; pantau laktat setiap 2 jam |
10.8 Durasi Terapi pada Sepsis
Target Durasi SSC 2026: Untuk sebagian besar pasien sepsis/syok septik yang menunjukkan perbaikan klinis adekuat, berikan antibiotik selama 7 HARI ATAU KURANG.
| Kondisi / Sumber Infeksi | Durasi yang Disarankan | Catatan |
|---|---|---|
| Bacteremia tanpa fokus terkontrol | 7 hari | 7 hari tidak lebih buruk dari 14 hari |
| CAP tanpa komplikasi | 5-7 hari | CURB-65 ≤2: 5 hari cukup |
| Urosepsis | 5-7 hari | 5 hari cukup jika source control cepat |
| Intra-abdominal (post source control) | 4-7 hari | 4 hari jika source control sempurna |
| Endokarditis | 4-6 MINGGU | Pengecualian — durasi pendek tidak berlaku |
| Osteomielitis | 4-6 MINGGU | Penetrasi ke tulang memerlukan durasi panjang |
Antibiotic Timeout Harian:
- Apakah antibiotik masih diindikasikan?
- Apakah pilihan sudah sesempit mungkin?
- Kapan rencana penghentian?
10.9 Populasi Khusus
Pasien Geriatri (≥65 tahun):
- Presentasi atipikal: sepsis sering tanpa demam — hipotermia, delirium akut, penurunan status fungsional
- Target MAP: 60-65 mmHg (SSC 2026) — risiko overcorrection lebih tinggi
- Penyesuaian dosis: hitung CrCl dengan Cockcroft-Gault
- Risiko CDI lebih tinggi
Pasien Immunocompromised:
- Neutropenia febrile: antibiotik empirik harus mencakup Pseudomonas (piperasilin-tazobaktam atau cefepim atau karbapenem)
- Antijamur empirik: pertimbangkan jika neutropenia >7 hari, terapi AB spektrum luas berkepanjangan, kolonisasi Candida multi-site
Sepsis Neonatus:
- Early-onset (<72 jam): Ampisilin IV + Gentamisin IV
- Late-onset (≥72 jam): Kloksasilin IV + Gentamisin IV (atau Cefotaksim jika Gram-negatif dominan)
- Volume cairan: 10-20 mL/kg (bukan 30 mL/kg)
- Tanda sepsis neonatus: temperature instability, takikardia, takipnea, hipoglikemia, tangis lemah, refleks menghisap buruk, petekie
10.10 Integrasi PGA dalam Manajemen Sepsis
Peran Masing-masing Profesi:
| Profesi | Peran Kritis |
|---|---|
| Dokter DPJP | Kenali sepsis; jalankan Hour-1 Bundle; pilih antibiotik empirik; tanda tangani formulir WATCH/RESERVE; antibiotic timeout harian |
| Apoteker Klinis | Verifikasi pilihan; prospektif reviu 24-48 jam; rekomendasi de-eskalasi; monitoring PCT; rekap data audit Gyssens |
| Perawat | Kenali tanda awal sepsis; ambil kultur darah; berikan antibiotik tepat waktu; monitor tanda vital ketat |
| Tim PRA | Audit kasus sepsis di FORKKIT; analisis kepatuhan Hour-1 Bundle; laporan DDD; evaluasi PPAB |
| Laboratorium | Proses kultur darah prioritas; laporan Gram stain dalam 2 jam; nilai kritis MDRO segera |
BAB 11
AUTOMATIC STOP ORDER (ASO)
11.1 Definisi dan Dasar Ilmiah ASO
Automatic Stop Order (ASO) adalah mekanisme sistemik yang menetapkan batas waktu otomatis bagi suatu terapi antibiotik, sehingga terapi tersebut akan dihentikan secara default pada waktu yang telah ditentukan, kecuali ada keputusan eksplisit dan terdokumentasi dari DPJP untuk memperpanjangnya.
KUNCI: ASO membalik logika default klinis: dari “antibiotik berlanjut sampai ada yang menghentikannya” menjadi “antibiotik berhenti sampai ada yang secara aktif memutuskan untuk melanjutkannya”.
Dasar Ilmiah:
- Edukasi semata terbukti memiliki efek terbatas dan tidak persisten
- Intervensi yang mengubah default sistem (seperti ASO) menghasilkan perubahan perilaku yang lebih besar dan lebih bertahan lama
- IDSA/SHEA Guidelines 2016 merekomendasikan ASO sebagai intervensi struktural inti
11.2 Jenis ASO
ASO Profilaksis Bedah (Hard-Stop):
- Durasi default: 24 jam pascaoperasi (kardiotoraks: maksimal 48 jam)
- Trigger: otomatis pada jam ke-24
- Perpanjangan: hanya jika ada bukti infeksi aktif terdokumentasi
ASO Terapi Empirik (Soft-Stop — Trigger Evaluasi):
| Hari Evaluasi | Fokus Evaluasi | Kemungkinan Keputusan |
|---|---|---|
| Hari ke-3 (48-72 jam) | Hasil kultur awal; respons klinis | Lanjutkan / de-eskalasi / ganti / hentikan |
| Hari ke-5 | Evaluasi ulang jika belum definitif | Lanjutkan dengan justifikasi / hentikan |
| Hari ke-7 | Durasi total sesuai PPK; IVOST | Hentikan / lanjutkan dengan justifikasi kuat |
ASO WATCH/RESERVE:
- Evaluasi wajib hari ke-3, ke-5, ke-7
- Farmasi menahan dispensasi lanjutan jika tidak ada dokumentasi evaluasi
11.3 Desain Penerapan ASO yang Efektif
Prinsip Desain: Integrasi, Bukan Tambahan
| Titik Integrasi | Cara Implementasi |
|---|---|
| Lembar order pra-operasi | Kolom “Tanggal/jam stop order” tercetak otomatis |
| Lembar order antibiotik empirik/WATCH/RESERVE | Kolom evaluasi hari ke-3/5/7 tercetak |
| Sistem informasi RS | Notifikasi otomatis; dashboard pasien dengan antibiotik aktif |
| Papan pasien fisik | Pengingat visual: “AB mulai [tanggal] — evaluasi wajib [tanggal]” |
Lima Komponen Wajib Desain ASO:
- Trigger yang jelas (kapan tepatnya evaluasi/penghentian terjadi)
- Penanggung jawab eksekusi
- Kriteria perpanjangan
- Mekanisme penegakan (hard vs soft stop)
- Jalur eskalasi jika tidak merespons
11.4 Tantangan Implementasi dan Strategi Mitigasi
| Tantangan | Manifestasi | Strategi Mitigasi |
|---|---|---|
| Tidak ada mekanisme pemicu | Antibiotik terus berjalan | Integrasi formulir; notifikasi sistem; penjadwalan eksplisit |
| Bias “lebih aman melanjutkan” | DPJP melanjutkan “berjaga-jaga” | Edukasi berbasis bukti; tunjukkan data risiko CDI; libatkan champion |
| Beban kerja tinggi | Perawat/farmasi tidak sempat memantau | Alokasi waktu terproteksi; integrasi handover; pembagian tanggung jawab |
| Pergantian shift | Informasi hilang | Tambahkan status ASO dalam formulir handover |
| Dokumentasi dianggap beban | Formulir tidak diisi | Integrasi ke alur kerja; minimalkan tambahan |
| Resistensi terhadap perubahan | DPJP senior enggan mengubah kebiasaan | Libatkan DPJP dalam perancangan; mulai dari kasus tidak ambigu; tunjukkan data; apresiasi kepatuhan |
11.5 Evaluasi dan Indikator Kepatuhan ASO
| Indikator | Definisi Operasional | Target |
|---|---|---|
| K3/K4 Profilaksis Bedah | % kasus AB dihentikan ≤24 jam pasca-op | ≥75% |
| Kepatuhan evaluasi hari ke-3 | % kasus dengan dokumentasi evaluasi eksplisit hari ke-3 | ≥80% |
| Kepatuhan evaluasi WATCH/RESERVE | % kasus dengan dokumentasi evaluasi per titik evaluasi | ≥80% |
| Perpanjangan tanpa justifikasi | % kasus diperpanjang tanpa dokumentasi justifikasi | Mendekati 0% |
Interpretasi Data:
- Antibiotik berlanjut tanpa dokumentasi → Kegagalan sistem ASO
- Antibiotik berlanjut DENGAN dokumentasi dan justifikasi → Keputusan klinis valid
- Antibiotik dihentikan tepat waktu → Kepatuhan ASO baik
11.6 Pendekatan Perbaikan Proses Berkesinambungan (PDCA)
Siklus PDCA untuk ASO:
| Fase | Penerapan dalam Konteks ASO |
|---|---|
| PLAN | Tetapkan target kepatuhan; identifikasi area dengan kepatuhan terendah |
| DO | Laksanakan strategi mitigasi sesuai akar masalah |
| CHECK | Ukur ulang indikator; bandingkan dengan baseline dan target |
| ACT | Jika target tercapai: standarisasi; jika tidak: analisis akar masalah dan revisi strategi |
Analisis 5 Mengapa (Contoh):
- Mengapa kepatuhan evaluasi hari ke-3 hanya 30%? → Apoteker tidak ward round
- Mengapa tidak ward round? → Beban kasus terlalu tinggi
- Mengapa beban terlalu tinggi? → Hanya satu apoteker untuk tiga bangsal
- Mengapa hanya satu apoteker? → Alokasi SDM belum direvisi
- Akar masalah: kapasitas SDM, bukan motivasi staf
- Solusi: realokasi SDM atau prioritisasi kasus
BAB 12
PILOT PROJECT PAF DI ICU
12.1 Mengapa ICU Strategis untuk PAF
ICU menampung pasien dengan kondisi paling kritis — sepsis, syok septik, gagal organ multipel. Paradoks ICU: urgensi klinis vs tekanan resistensi.
Karakteristik ICU:
- Tingkat keparahan tertinggi → AB spektrum luas menjadi default
- Prosedur invasif (CVC, ventilator, kateter) → risiko HAI tinggi
- Populasi immunocompromised → ambang pemberian AB lebih rendah
- Durasi rawat lebih panjang → eksposur AB kumulatif lebih besar
Mengapa “Pilot” — Bukan Implementasi Penuh:
- Skala terbatas memungkinkan perhatian intensif
- Iterasi cepat terhadap hambatan
- Bukti konkret (data before-after) untuk meyakinkan manajemen
12.2 Dasar Organisasi dan Komitmen Manajemen
Komitmen yang diperlukan dari Direktur:
- SK penetapan pilot project ICU
- Alokasi waktu terproteksi bagi apoteker klinis
- Akses ke fasilitas (komputer dengan akses EMR, ruang diskusi)
- Komitmen review hasil pilot
Tim Multidisiplin Minimal:
| Anggota Tim | Peran | Alokasi Waktu |
|---|---|---|
| Dokter Intensivis (Champion) | Co-leader klinis; validasi rekomendasi | Terintegrasi visite harian |
| Dokter Sp. Infeksi (atau konsultan) | Second opinion kasus kompleks | 1-2x/minggu atau on-call |
| Apoteker Klinis | Pelaksana harian PAF: ward round, review, rekomendasi | Harian |
| Dokter Sp.PK/Sp.MK | Data kultur dan kepekaan; antibiogram ICU | Mingguan + segera (nilai kritis) |
| Perawat ICU (Champion) | Pelaksana ASO; pemantauan timeout | Terintegrasi tugas harian |
12.3 Persiapan Teknis dan Regulasi Lokal
Penetapan Target Antimikroba Awal:
- Prioritas: kategori RESERVE (meropenem, linezolid, kolistin, vankomisin)
- Atau antibiotik dengan volume konsumsi tertinggi
- Atau antibiotik dengan riwayat penggunaan tidak tepat
PPK dan PPAB Khusus ICU:
- Sepsis dan syok septik
- VAP (Ventilator-Associated Pneumonia)
- CA-UTI (ISK terkait kateter)
- CLABSI (Infeksi aliran darah terkait kateter)
Antibiogram Spesifik ICU: Pola kuman di ICU berbeda dari bangsal umum. Gunakan antibiogram terpisah untuk ICU jika volume isolat memadai (≥30 isolat per spesies).
12.4 Alur Pelaksanaan PAF: Handshake Stewardship
Handshake Stewardship — komunikasi tatap muka langsung antara tim PGA dan DPJP saat visite/ronde multidisiplin.
Struktur Praktis:
- Jadwal terintegrasi — Apoteker bergabung dalam visite ICU (harian kerja, minimal 3x/minggu)
- Persiapan sebelum visite — Review data pasien (terapi aktif, hasil kultur, fungsi organ)
- Penyampaian temuan saat ronde — Singkat, langsung, berbasis data
- Diskusi dan klarifikasi — DPJP diberi kesempatan menjelaskan pertimbangan klinis
- Dokumentasi keputusan — Dalam catatan terintegrasi RM
- Follow-up — Pantau implementasi pada visite berikutnya
KUNCI: Gunakan bahasa kolaboratif, bukan instruktif. “Bagaimana menurut dr. [Nama] tentang kemungkinan beralih ke antibiotik yang lebih sempit berdasarkan hasil kultur ini?”
12.5 Antibiotic Timeout Hari ke-3
Tiga keputusan dalam antibiotic timeout:
| Keputusan | Kriteria Pendukung | Tindakan |
|---|---|---|
| De-eskalasi | Kultur tersedia; patogen teridentifikasi; klinis stabil/membaik | Ganti ke AB tersempit yang sensitif |
| Penyesuaian dosis | Perubahan fungsi ginjal/hati; hemodinamik berubah | Sesuaikan CrCl; extended infusion untuk beta-laktam |
| Penghentian | Tidak ada bukti infeksi bakteri; kultur negatif + klinis membaik | Hentikan AB; dokumentasikan alasan |
Peran Biomarker dalam Timeout:
- Penurunan PCT ≥80% dari puncak → mendukung de-eskalasi/hentikan
- PCT <0,5 ng/mL + klinis membaik → mendukung hentikan
- PCT tidak turun/meningkat → evaluasi source control
12.6 ASO di ICU
ASO untuk Antibiotik Empirik Awal:
| Skenario ASO | Durasi Default | Mekanisme Perpanjangan |
|---|---|---|
| Antibiotik profilaksis bedah | Stop otomatis 24 jam | DPJP harus tulis “lanjutkan sebagai terapi” |
| Antibiotik empirik sepsis | Evaluasi wajib jam ke-48-72 | Hasil antibiotic timeout jadi basis keputusan |
| WATCH/RESERVE | Evaluasi hari ke-3, 5, 7 | Justifikasi tertulis setiap perpanjangan |
12.7 Dukungan Sistem Informasi dan Diagnostik
Pemanfaatan EMR (jika tersedia):
- Notifikasi otomatis hari ke-3 ke apoteker dan DPJP
- Dashboard antibiotik aktif per unit
- Flag otomatis untuk WATCH/RESERVE
- Integrasi hasil lab real-time
Jika EMR belum tersedia: Papan pasien fisik dengan kolom “AB mulai” dan “evaluasi wajib”; spreadsheet bersama yang diperbarui setiap shift.
Diagnostic Stewardship:
- Turn-around time kultur ≤3 hari dari penerimaan spesimen
- Laporan pendahuluan (Gram stain) dalam 1-2 jam
- Komunikasi nilai kritis MDRO via telepon langsung
12.8 Evaluasi dan Indikator Keberhasilan
Kerangka Evaluasi Before-After:
| Dimensi | Indikator | Cara Pengukuran |
|---|---|---|
| Kuantitas konsumsi | DDD/100 PD; DOT/100 PD target AB | Rekap data IFRS khusus ICU |
| Kualitas penggunaan | % Kategori 0 Gyssens dari kasus ICU | Audit Gyssens khusus ICU |
| Kepatuhan proses | % antibiotic timeout tepat waktu; acceptance rate PAF | Logbook PAF harian |
| Hasil klinis | LOS ICU; mortalitas terkait infeksi | Data RM dan laboratorium |
| Efisiensi ekonomi | Biaya pembelian AB per pasien-hari | Data IFRS dan keuangan |
Target Indikator Periode Pilot (3-6 bulan):
- Acceptance rate rekomendasi PAF: ≥70%
- Antibiotic timeout dilaksanakan tepat waktu: ≥80%
- De-eskalasi berhasil dalam 72 jam: ≥50%
- Proporsi konsumsi ACCESS (ICU): Peningkatan minimal 15 poin persentase
- Gyssens Kategori 0 (ICU): Peningkatan minimal 15-20 poin persentase
Komunikasi Hasil Pilot ke Manajemen: Sertakan testimoni champion ICU. Ketika intensivis senior menyatakan program PAF membantu, bukan menghalangi, pekerjaan klinisnya — ini bukti sosial yang jauh lebih meyakinkan dari angka statistik semata.
BAGIAN 4
MANAJEMEN DAN SURVEILANS
BAB 13
MANAJERIAL PPRA
13.1 Membangun Argumen Bisnis PPRA
Dimensi Bisnis PPRA:
| Dimensi | Dampak PPRA yang Terukur |
|---|---|
| Efisiensi biaya obat | Stewardship mengurangi biaya antibiotik 22-36% tanpa memperburuk outcome (Davey et al., Cochrane 2017) |
| Lama rawat inap | SSI memperpanjang rawat 7-10 hari; PAB tepat mengurangi SSI 40-80% |
| Pendapatan mutu dan akreditasi | Prognas 6 & 6.1 berkontribusi 100 poin; nilai <75 = Rekomendasi Mayor |
| Risiko hukum dan reputasi | PPRA adalah manajemen risiko reputasional RS |
| Pelaporan wajib ke Kemenkes | SIRS Online triwulanan adalah kewajiban hukum |
Template Presentasi ke Direktur (5-10 menit):
- Situasi saat ini (2 menit): Data KPI terkini; gap dengan target
- Dampak bisnis (2 menit): Estimasi biaya SSI, hari rawat, biaya AB WATCH
- Solusi yang diminta (3 menit): Spesifik dan realistis
- Target dan timeline (2 menit): KPI SMART dalam 6-12 bulan
- Dukungan yang diminta: SK Direktur, alokasi waktu, akses data
13.2 Perencanaan Program Kerja yang Efektif
Lima Komponen Wajib Program Kerja PPRA:
| No. | Komponen | Kegiatan Minimal |
|---|---|---|
| 1 | Edukasi & Pelatihan | IHT PPRA (frekuensi, target, PIC); edukasi pasien; orientasi staf baru |
| 2 | PGA / Antimicrobial Stewardship | Audit Gyssens; audit profilaksis bedah K1-K4; prospektif reviu; IVOST |
| 3 | Surveilans kuantitatif | DDD/100 PD per triwulan; analisis AWaRe |
| 4 | Surveilans resistensi | Data isolat MDRO; antibiogram lokal; pelaporan ke SIRS |
| 5 | FORKKIT | Minimal 1x/bulan; notulen + daftar hadir |
KPI SMART:
| KPI | Contoh Baik (SMART) |
|---|---|
| Gyssens Kat.0 | Meningkat dari 36% (baseline Q4 2025) menjadi ≥50% pada Q2 2026 dan ≥65% pada Q4 2026 |
| ASO bedah | Kepatuhan stop order profilaksis 24 jam meningkat dari 0% ke ≥60% pada Q2 2026 dan ≥75% pada Q4 2026 |
| ACCESS DDD | Proporsi ACCESS meningkat dari baseline ke ≥60% pada Q4 2026 |
| SIRS Online | 100% pelaporan tepat waktu (sebelum tanggal 15) untuk 4 triwulan 2026 |
13.3 Kepemimpinan dan Koordinasi Tim PRA
Pola Koordinasi Lintas Komite:
| Mitra Koordinasi | Topik Kolaborasi | Frekuensi |
|---|---|---|
| Direktur RS | Laporan KPI triwulanan; pengajuan SK; eskalasi masalah struktural | Triwulanan |
| Komite Medik | Feedback agregat ke DPJP; review PPK; FORKKIT bersama | Bulanan + triwulanan |
| Tim PMKP | Integrasi KPI PPRA ke dashboard mutu; CAPA bersama | Triwulanan |
| KFT | Formularium; ketersediaan AB; pre-authorization WATCH/RESERVE | Bulanan |
| Tim PPI | Surveilans HAI; MDRO alert; bundle pencegahan | Bulanan + insidental |
| IFRS | Data konsumsi AB untuk DDD; prospektif reviu | Bulanan + mingguan |
| Laboratorium | Data isolat dan sensitivitas; alert MDRO | Bulanan + segera |
Mengelola Resistensi dari DPJP:
- Feedback individual konstruktif dan konfidensial
- Data agregat positif di forum
- Libatkan champion dokter
- Framing rekomendasi, bukan perintah
- Sertakan dalam penilaian kinerja DPJP
13.4 Manajemen Data dan Dashboard KPI
Alur Pengumpulan Data PPRA:
| Jenis Data | Sumber | PIC | Frekuensi |
|---|---|---|---|
| Konsumsi AB (DDD) | IFRS | Apoteker klinis | Bulanan (tanggal 5) |
| Patient-days | Rekam Medis | Petugas RM | Bulanan (tanggal 5) |
| Data Gyssens | RM sampling | Apoteker + Sekretaris | Bulanan |
| Data profilaksis bedah | Lembar anestesi | Perawat OK | Bulanan |
| Data kultur/isolat | Lab | Anggota lab | Bulanan (tanggal 10) |
| Notulen rapat + FORKKIT | Notulis | Sekretaris | Setiap rapat (24 jam) |
Dashboard KPI Traffic Light:
| KPI | Merah (Perlu Tindakan) | Kuning (Pantau) | Hijau (Sesuai Target) |
|---|---|---|---|
| Gyssens Kat.0 | <50% | 50-59% | ≥60% |
| DDD ACCESS% | <50% | 50-59% | ≥60% |
| ASO bedah K4 | <60% | 60-74% | ≥75% |
| Ketepatan pemilihan K1 | <70% | 70-79% | ≥80% |
| SIRS Online tepat waktu | Terlambat/tidak lapor | — | Lapor sebelum tgl 15 |
| FORKKIT | <7x/tahun | 7-9x/tahun | ≥10x/tahun |
13.5 Siklus PDCA dalam Manajemen Program
| Fase | Dalam Konteks PPRA | Waktu |
|---|---|---|
| PLAN | Susun/revisi Program Kerja dengan KPI SMART; baseline dan target per triwulan | Desember-Januari |
| DO | Implementasikan kegiatan sesuai jadwal: audit Gyssens, DDD, FORKKIT, IHT, SIRS | Sepanjang tahun |
| CHECK | Review KPI vs target dalam rapat Tim PRA; analisis gap dan tren; identifikasi root cause | Bulanan (ringan); triwulanan (komprehensif) |
| ACT | Tetapkan CAPA; implementasikan perbaikan; update Program Kerja | Segera setelah CHECK |
Analisis Akar Masalah (5 Mengaya — Contoh):
- Masalah: K4 ASO = 10% (target 75%)
- Mengapa K4 rendah? → AB tidak dihentikan 24 jam
- Mengapa tidak dihentikan? → Tidak ada perintah stop
- Mengapa tidak ada perintah? → Dokter tidak menulis stop order
- Mengapa dokter tidak menulis? → Tidak ada form ASO di order pra-op
- Mengapa tidak ada form? → Form ASO belum pernah dibuat
- Solusi: Buat form ASO terintegrasi dalam lembar order pra-op
13.6 Komunikasi dan Manajemen Perubahan Budaya
Komunikasi ke Berbagai Pemangku Kepentingan:
| Audiens | Pesan Kunci | Media & Frekuensi |
|---|---|---|
| Direktur RS | KPI dan tren; hambatan; kebutuhan sumber daya | Laporan triwulan 1-2 halaman; presentasi 5-10 menit |
| Komite Medik | Data agregat kualitas preskripsi; tren perbaikan; FORKKIT | Presentasi triwulan |
| DPJP individual | Data kinerja preskripsi vs benchmark; apresiasi | Report card 1 halaman; triwulanan; konfidensial |
| Perawat dan Bidan | Peran stop order; pentingnya kultur; edukasi pasien | IHT 2x/tahun; briefing bangsal |
| Apoteker | Peran prospektif reviu; IVOST; WATCH/RESERVE | Koordinasi mingguan; pelatihan teknis |
| Pasien & Keluarga | Mengapa dokter tidak selalu memberi AB; cara penggunaan yang benar | Leaflet; konseling; video |
Strategi Membangun Budaya Sadar AMR:
- Tahap 1 (Tidak sadar): Data audit individual; framing positif
- Tahap 2 (Sadar tapi tidak berubah): Tunjukkan dampak konkret
- Tahap 3 (Berubah): Dukung dan apresiasi; beri kemudahan akses
- Tahap 4 (Mempertahankan): Libatkan sebagai champion
13.7 Pengembangan Kompetensi Tim PRA
Strategi Pengembangan dengan Biaya Minimal:
| Metode | Deskripsi | Biaya | Kelebihan |
|---|---|---|---|
| IHT internal | Pelatihan tatap muka di RS; difasilitasi anggota Tim PRA | Nyaris nol | Kontekstual; dapat disesuaikan |
| Case-Based Learning | Diskusi kasus infeksi nyata; dipimpin apoteker/dokter | Nol | Pembelajaran kontekstual |
| E-learning Moodle | Modul online asinkron; tersedia 24/7; quiz formatif | Nol (Moodle open-source) | Fleksibel; dokumentasi otomatis |
| Webinar eksternal | Seminar online Kemenkes, PERDALIN, SHEA, WHO | Biasanya gratis | Perspektif nasional/global |
| Self-study + sharing | Anggota tim mempelajari referensi lalu presentasikan | Nol | Meningkatkan literasi ilmiah |
13.8 Sustainabilitas dan Benchmarking
Ancaman Sustainabilitas dan Mitigasi:
| Ancaman | Tanda Peringatan Dini | Strategi Mitigasi |
|---|---|---|
| Pergantian Ketua/anggota kunci | Tidak ada succession plan | Dokumentasikan semua prosedur; rotasi peran |
| Penurunan dukungan Direktur | Tidak diundang rapat manajemen; anggaran dipotong | Pertahankan laporan berkala; kaitkan dengan insentif RS |
| Kelelahan tim (burnout) | Absensi meningkat; kualitas menurun | Evaluasi beban kerja; rotasi tugas; apresiasi formal |
| Perubahan regulasi | Panduan baru tidak terinternalisasi | Newsletter Kemenkes; review dokumen tahunan |
| Kehilangan momentum setelah akreditasi | KPI tidak dipantau; FORKKIT berhenti | Integrasi ke PMKP; jadikan bagian evaluasi rutin RS |
Integrasi PPRA dengan PMKP:
- Masukkan minimal 2 KPI PPRA ke dashboard mutu RS
- Laporan PPRA dalam rapat Komite Mutu bulanan/triwulanan
- CAPA PPRA masuk ke sistem CAPA RS
- Sertakan PPRA dalam akreditasi rutin
Benchmarking:
- Data SIRS Online Kemenkes → DDD/100 PD; proporsi AWaRe
- Stranas AMR 2025-2029 → Target nasional
- Forum PERDALIN/KARS → Praktik terbaik RS lain
- WHO AMC Data → Benchmark global
BAB 14
PENGUKURAN KONSUMSI ANTIBIOTIK (DDD DAN AWaRe)
14.1 Mengapa Mengukur Konsumsi Antibiotik?
Sebelum bisa memperbaiki penggunaan antibiotik, kita perlu MENGUKUR: seberapa banyak? Jenis apa yang dominan? Apakah proporsi ACCESS sudah mencukupi? Apakah ada tren penggunaan karbapenem yang mengkhawatirkan?
Yang Tidak Bisa Dilakukan Tanpa Data DDD:
- Analisis tren konsumsi setiap triwulan
- Stratifikasi per unit (ICU vs bangsal umum)
- Hitung % ACCESS dan bandingkan dengan target nasional ≥60%
- Lapor ke SIRS Online (kewajiban hukum)
- Benchmark dengan RS lain
Target Nasional dan Regulasi:
| Target/Kewajiban | Sumber Regulasi |
|---|---|
| Proporsi ACCESS ≥60% total DDD | Stranas AMR 2025-2029; WHO AWaRe |
| Pelaporan DDD ke SIRS Online (RL 3.19.3) setiap triwulan | Juknis SIRS Rev.7/2024; Permenkes 8/2015 |
| Surveilans kuantitatif DDD sebagai komponen wajib PPRA | KMK 1596/2024 (STARKES 2024) Prognas 6.1 EP3 |
| Pelaporan pola resistensi (RL 3.19.4) pasangan RL 3.19.3 | Juknis SIRS Rev.7/2024 |
14.2 Konsep DDD dan ATC WHO
DDD (Defined Daily Dose) = dosis pemeliharaan rata-rata per hari untuk INDIKASI UTAMA pada ORANG DEWASA dengan BB 70 kg, ditetapkan oleh WHO.
KUNCI: DDD adalah UNIT PENGUKURAN, bukan dosis terapi yang harus diberikan.
Contoh: DDD amoksisilin oral = 1 gram/hari. Pasien mendapat amoksisilin 500mg 3x sehari selama 5 hari → (0,5g x 3 x 5) / 1g = 7,5 DDD.
Klasifikasi ATC WHO:
| Tingkat ATC | Contoh | Keterangan |
|---|---|---|
| Tingkat 1 (1 huruf) | J | Anatomi: Anti-infeksi sistemik |
| Tingkat 2 (3 karakter) | J01 | Terapi: Antibakteri sistemik |
| Tingkat 3 (4 karakter) | J01C | Farmakologi: Beta-laktam, penisilin |
| Tingkat 4 (5 karakter) | J01CA | Kimiawi: Penisilin spektrum luas |
| Tingkat 5 (7 karakter) | J01CA04 | Substansi: Amoksisilin |
Referensi ATC/DDD: whocc.no/atc_ddd_index/
14.3 Menghitung Jumlah DDD dan DDD/100 Patient-Days
Rumus Dasar:
Jumlah DDD = Total gram antibiotik / Nilai DDD WHO (gram)
Dari Data IFRS (Kemasan):
Jumlah DDD = (Jumlah kemasan x Unit/kemasan x Gram/unit) / Nilai DDD WHO
Contoh:
- Amoksisilin 500mg kapsul, 240 strip @10 kapsul → Total gram = 240x10x0,5 = 1.200g
- DDD WHO Amoksisilin oral = 1g → Jumlah DDD = 1.200/1 = 1.200 DDD
DDD/100 Patient-Days (Rawat Inap):
DDD/100 PD = (Total DDD / Total Patient-Days) x 100
Contoh Lengkap:
| Antibiotik | Total Gram | DDD WHO | Total DDD | DDD/100 PD | AWaRe |
|---|---|---|---|---|---|
| Amoksisilin | 3.600g | 1g | 3.600 | 42,35 | ACCESS |
| Ceftriaxon | 2.700g | 2g | 1.350 | 15,88 | WATCH |
| Metronidazol | 1.800g | 1,5g | 1.200 | 14,12 | ACCESS |
| Ko-trimoksazol | 2.880g | 1,92g | 1.500 | 17,65 | ACCESS |
| Ciprofloxacin | 420g | 0,5g | 840 | 9,88 | WATCH |
| Amoksisilin-Klav | 2.500g | 1g | 2.500 | 29,41 | ACCESS |
| Azitromisin | 270g | 0,3g | 900 | 10,59 | WATCH |
| Amikacin | 350g | 1g | 350 | 4,12 | WATCH |
| Meropenem | 400g | 2g | 200 | 2,35 | RESERVE |
| TOTAL | 12.440 | 146,35 |
Menghitung Proporsi AWaRe (Patient-days = 8.500):
- ACCESS: 8.800 / 12.440 = 70,7% (Target ≥60% — TERCAPAI)
- WATCH: 3.440 / 12.440 = 27,7% (Target <40% — TERCAPAI)
- RESERVE: 200 / 12.440 = 1,6% (Minimal mungkin — BAIK)
14.4 Pengumpulan Data dari IFRS
| Jenis Data | Format yang Diperlukan | Sumber |
|---|---|---|
| Nama antibiotik | Nama generik (bukan merk) | Database IFRS |
| Kekuatan sediaan | mg/g per unit | Label; faktur |
| Jumlah unit dikeluarkan | vial/kapsul/tablet/botol | Buku ekspedisi IFRS |
| Rute pemberian | Pisahkan oral vs parenteral | Label; catatan pemberian |
| Unit/bangsal tujuan | Nama bangsal | Buku ekspedisi; HIS/SIMRS |
| Patient-days | Total hari rawat | Rekam medis; sensus harian |
14.5 Pelaporan SIRS Online (RL 3.19.3 dan RL 3.19.4)
Deadline:
- Triwulan I (Jan-Mar): 15 April
- Triwulan II (Apr-Jun): 15 Juli
- Triwulan III (Jul-Sep): 15 Oktober
- Triwulan IV (Okt-Des): 15 Januari
Variabel RL 3.19.3 (Konsumsi AB):
- Periode pengambilan data
- Jenis perawatan (rawat jalan/rawat inap)
- Area (KSM/Instalasi/Ruangan)
- Kode ATC (7 karakter)
- Nama antibiotik + rute
- Jumlah DDD antibiotik
- Jumlah patient-days rawat inap
- Total DDD/100 hari rawat
RL 3.19.4 (Pola Resistensi):
- Jenis kuman
- Nama antibiotik yang diuji
- Jumlah isolat sensitif/intermediet/resisten
Setiap antibiotik yang berbeda rute (oral vs parenteral) harus dalam BARIS TERPISAH.
14.6 Interpretasi dan Analisis Tren Konsumsi
Cara Membaca DDD/100 PD:
- Ceftriaxon 15,88 DDD/100 PD → setiap 100 hari rawat, ada 15,88 dosis standar ceftriaxon yang digunakan → sekitar 1 dari 6-7 pasien mendapat ceftriaxon.
| Nilai DDD/100 PD | Interpretasi |
|---|---|
| Sangat tinggi untuk RESERVE (Meropenem >15 DDD/100 PD) | Over-use; audit Gyssens |
| ACCESS menurun dari triwulan ke triwulan | Pergeseran ke WATCH/RESERVE; perlu intervensi |
| WATCH proportion >50% | Melebihi ambang; identifikasi penyebab |
| Total DDD/100 PD meningkat tajam | Investigasi: outbreak, case-mix, perubahan pencatatan |
14.7 Workbook Excel untuk Otomatisasi
Struktur Sheet yang Direkomendasikan:
| Sheet | Isi | Keterangan |
|---|---|---|
| REF_DDD | Tabel referensi DDD WHO + kode ATC + AWaRe | Update dari whocc.no |
| DATA_[Bulan] | Input mentah dari IFRS | Per bulan/triwulan |
| HITUNG_DDD | Kalkulasi total gram → total DDD | Formula otomatis |
| PATIENT_DAYS | Data hari rawat total per bulan | Dari sensus harian |
| DASHBOARD | Ringkasan DDD/100 PD; proporsi AWaRe; traffic light | Otomatis |
| SIRS_EXPORT | Data siap copy-paste ke SIRS Online | Format RL 3.19.3 |
Formula Excel Kunci:
- Cari DDD:
=VLOOKUP(A2&B2, REF_DDD!$A:$C, 3, FALSE) - Total gram:
=C2*D2*E2 - Jumlah DDD:
=F2/G2 - DDD/100 PD:
=SUMIF(tabel[Kategori],"ACCESS",tabel[DDD]) / patient_days * 100 - Proporsi AWaRe:
=H2/TOTAL_DDD*100
BAB 15
PPRA UNTUK RS TIPE C DAN D
15.1 Karakteristik dan Keterbatasan RS Tipe C/D
| Aspek | RS Tipe C | RS Tipe D |
|---|---|---|
| Kapasitas TT | 100-199 TT | <100 TT |
| Spesialis wajib | 4 spesialis dasar | 2 spesialis dasar |
| Lab mikrobiologi | Belum diwajibkan in-house; dapat kerjasama eksternal | Umumnya tidak ada; kerjasama eksternal wajib |
| Apoteker klinis | Tersedia, belum tentu purnawaktu PPRA | Terbatas; merangkap |
| Volume kultur/tahun | 50-500 isolat | <50 isolat |
Keterbatasan dan Solusi:
| Keterbatasan | Solusi Strategis |
|---|---|
| Tidak ada lab mikrobiologi in-house | MoU dengan lab rujukan; minta data isolat berkala untuk antibiogram |
| Tidak ada Sp. Penyakit Infeksi | Pelatihan rutin Tim PRA; konsultasi telemedis; gunakan PPAB berbasis bukti |
| Apoteker tidak khusus PPRA | Jadwalkan waktu khusus (4 jam/minggu); buat workbook Excel otomatis |
| Anggaran terbatas | Prioritaskan kegiatan berdampak tinggi (profilaksis bedah, audit, IHT) |
| Resistensi budaya staf | Feedback individual rahasia; data agregat di rapat Komite Medik |
Prinsip “High-Impact, Low-Cost” untuk RS Tipe C/D:
STARKES 2024 mengakui keterbatasan RS: “Pelaksanaan PPRA dapat dimulai dengan menjalankan proyek percontohan di salah satu ruang rawat inap pada periode waktu tertentu dan dilakukan monitoring evaluasi sesuai kemampuan rumah sakit.”
15.2 Tata Kelola Tim PRA
Komposisi Ideal Tim PRA untuk RS Tipe C/D:
| Jabatan | Kualifikasi yang Dianjurkan | Tugas Utama |
|---|---|---|
| Ketua Tim PRA | Sp. Infeksi/Sp. Mikrobiologi/Sp. Klinis terlatih, atau Dokter Umum terlatih PPRA | Memimpin program; tanda tangan laporan; representasi ke Direktur |
| Wakil Ketua I (Bidang Klinis) | Dokter umum/DPJP aktif; terlatih PPRA | Audit klinis; feedback ke DPJP; FORKKIT |
| Wakil Ketua II / Sekretaris | Apoteker (diutamakan klinis) | Audit DDD; audit Gyssens; IVOST |
| Anggota: Perawat | Perawat senior/IPCN terlatih | Pengumpulan data stop order; edukasi pasien |
| Anggota: Laboratorium | Analis kesehatan | Koordinasi pengiriman isolat; penerimaan hasil kultur |
| Anggota: Rekam Medis | Staf rekam medis | Akses data rawat inap; pengambilan sampel audit |
Untuk RS tipe C/D tanpa Sp. PI, Ketua Tim PRA boleh dijabat oleh dokter umum atau spesialis klinis lain yang telah mendapat pelatihan PPRA resmi dari Kemenkes/PERDALIN.
15.3 Elemen Penilaian Prognas 6 dan 6.1
Prognas 6 (50 poin):
| EP | Pernyataan | Kelengkapan Bukti | Skor |
|---|---|---|---|
| 6.1a | RS telah menetapkan regulasi PPRA | SK Direktur PPRA (R) | 0/10 |
| 6.1b | RS telah menetapkan Tim PRA | SK Tim PRA + program kerja (R) | 0/10 |
| 6.1c | RS telah melaksanakan program kerja | Bukti laporan pelaksanaan (D) | 0/5/10 |
| 6.1d | RS telah melaksanakan pemantauan dan evaluasi | Bukti laporan pemantauan (D) | 0/5/10 |
| 6.1e | Tim PRA telah membuat laporan berkala | Laporan ke Direktur + SIRS Online (D) | 0/5/10 |
Prognas 6.1 (50 poin):
| EP | Pernyataan | Kelengkapan Bukti | Skor |
|---|---|---|---|
| 6.1.1a | RS telah mengembangkan kebijakan PGA | PPAB ditetapkan Direktur (R) | 0/10 |
| 6.1.1b | RS telah menerapkan PGA multidisiplin | Audit Gyssens; prospektif reviu; FORKKIT (D) | 0/5/10 |
| 6.1.1c | Evaluasi kualitatif penggunaan AB | Laporan audit Gyssens (D) | 0/5/10 |
| 6.1.1d | Evaluasi kuantitatif penggunaan AB | Laporan DDD/100 PD (D) | 0/5/10 |
| 6.1.1e | Surveilans resistensi dan antibiogram | Antibiogram lokal (D) | 0/5/10 |
Total 100 poin; nilai <75 = Rekomendasi Mayor.
15.4 Surveilans Penggunaan Antimikroba
Surveilans Kuantitatif (DDD/100 PD):
- Langkah: kumpulkan data IFRS → cari DDD WHO → hitung total DDD → hitung patient-days → hitung DDD/100 PD → analisis AWaRe
Surveilans Kualitatif: Audit Gyssens:
| Kategori | Makna | Tindak Lanjut |
|---|---|---|
| 0 | Tepat | Tidak perlu intervensi |
| I | Data tidak lengkap | Lengkapi RM; edukasi DPJP |
| IIA | Tidak tepat dosis | Rekomendasi penyesuaian dosis |
| IIB | Tidak tepat interval | Rekomendasi penyesuaian jadwal |
| IIC | Tidak tepat rute | Rekomendasi IVOST |
| IIIA | Tidak tepat durasi (terlalu lama) | Rekomendasi stop/shortening |
| IVD | Ada alternatif lebih sempit | Rekomendasi de-eskalasi (kunci PGA) |
| V | Tidak ada indikasi | Rekomendasi penghentian |
15.5 Surveilans Resistensi dan Antibiogram Lokal
MDRO Prioritas: MRSA, ESBL (E. coli, K. pneumoniae), CRAB, CRKP, MDR-TB
Antibiogram Lokal:
- Minimal 30 isolat per spesies; jika <30: laporkan “data terbatas”
- First isolate per patient
- Sumber: spesimen klinis rutin
- Format: nama RS, periode, ringkasan isolat, tabel %S per antibiotik
- Frekuensi: minimal 1x/tahun
RS tipe C/D tanpa lab in-house:
- MoU dengan lab rujukan + minta data isolat RS
- Akumulasi data 6-12 bulan
- Adanya MoU + laporan data isolat sudah cukup untuk EP Prognas 6.1.1e
15.6 FORKKIT: Forum Kajian Kasus Infeksi Terintegrasi
Format Pelaksanaan:
- Frekuensi: minimal 1x/bulan
- Durasi: 45-90 menit
- Peserta: Tim PRA, DPJP kasus, apoteker, perawat
- Kasus: 2-3 per sesi (prioritas: Gyssens non-0, MDR, stop order bermasalah)
Agenda Standar:
- Laporan singkat KPI bulan (10 menit)
- Kajian kasus infeksi (30-45 menit)
- Diskusi multidisiplin (15-20 menit)
- Rekomendasi dan tindak lanjut (5-10 menit)
Dokumentasi yang Diminta Surveyor:
- SPO FORKKIT
- Notulen minimal 3 bulan terakhir (tanggal, peserta, kasus, rekomendasi, tindak lanjut)
- Daftar hadir ditandatangani
- Bukti follow-up rekomendasi
15.7 Pelaporan SIRS Online
Deadline: 15 April, 15 Juli, 15 Oktober, 15 Januari
RL 3.19.3 (Konsumsi AB): Nama AB, kode ATC, jumlah DDD, patient-days
RL 3.19.4 (Pola Resistensi): Jenis kuman, nama AB, jumlah isolat S/I/R
Langkah:
- Siapkan data (DDD dari IFRS; isolat dari lab)
- Login SIRS Online
- Input RL 3.19.3 dan RL 3.19.4
- Simpan screenshot konfirmasi submission sebagai bukti
15.8 Indikator Kinerja dan Tips Mengatasi Keterbatasan
KPI PPRA:
| Indikator | Target Nasional | Pengukuran |
|---|---|---|
| Proporsi Gyssens Kat.0 | ≥60% | Kat.0 / total audit x 100 |
| Proporsi ACCESS | ≥60% total DDD | DDD ACCESS / total DDD x 100 |
| Kepatuhan ASO bedah (K4) | ≥75% | Stop ≤24 jam / total profilaksis x 100 |
| Ketepatan pemilihan AB (K1) | ≥80% | Sesuai PPAB / total x 100 |
| SIRS Online tepat waktu | 100% | Cek tanggal submission |
| FORKKIT | ≥10x/tahun | Hitung notulen terverifikasi |
Tips Mengatasi Keterbatasan SDM:
- Tetapkan jadwal kerja PPRA dalam job description (4 jam/minggu)
- Gunakan sampling (20-30 RM per triwulan dari 1 bangsal pilot)
- Buat workbook Excel semi-otomatis
- Buat MoU formal dengan lab rujukan
- Gunakan feedback individual bersifat konstruktif dan rahasia
- Kuantifikasikan cost-savings untuk proposal anggaran
15.9 Checklist Kesiapan Survei Akreditasi
Dokumen Regulasi (R):
- [ ] SK Direktur Penyelenggaraan PPRA
- [ ] SK Direktur Pembentukan Tim PRA (uraian tugas, tanggung jawab)
- [ ] Program Kerja PPRA (5 komponen, KPI, jadwal)
- [ ] Panduan Penggunaan Antimikroba (PPAB)
- [ ] SPO Audit Gyssens
- [ ] SPO Surveilans DDD
- [ ] SPO Profilaksis Bedah + ASO
- [ ] SPO FORKKIT
- [ ] SPO De-eskalasi dan IVOST
Dokumen Bukti Pelaksanaan (D):
- [ ] Laporan Triwulanan PPRA (minimal 2 terakhir)
- [ ] Notulen FORKKIT minimal 3 bulan terakhir
- [ ] Daftar Hadir FORKKIT minimal 3 bulan terakhir
- [ ] Notulen Rapat Tim PRA minimal 3 bulan terakhir
- [ ] Daftar Hadir + Materi IHT PPRA minimal 1 kali
- [ ] Formulir Edukasi Pasien / Leaflet AMR
- [ ] Data/Laporan Audit Gyssens minimal 1 triwulan
- [ ] Data/Laporan DDD/100 PD minimal 1 triwulan
- [ ] Data/Laporan Kepatuhan Profilaksis Bedah (K1-K4)
- [ ] Antibiogram Lokal atau MoU dengan lab rujukan
- [ ] Bukti Pelaporan SIRS Online (screenshot per triwulan)
- [ ] Bukti feedback ke DPJP
- [ ] Bukti tindak lanjut rekomendasi FORKKIT
BAGIAN 5
EDUKASI PASIEN DAN KELUARGA
BAB 16
PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA
16.1 Apa itu AMR dan Mengapa Anda Perlu Tahu
Resistensi antimikroba (AMR) terjadi ketika bakteri menjadi “kebal” terhadap antibiotik yang seharusnya membunuhnya. Ini bukan skenario fiksi ilmiah — ini sudah terjadi di berbagai rumah sakit di Indonesia dan di seluruh dunia setiap harinya.
Fakta:
- Bakteri yang kebal antibiotik membunuh lebih dari 1,27 juta orang per tahun di seluruh dunia.
- Di Indonesia, sekitar 80% antibiotik dikonsumsi di luar rumah sakit — oleh masyarakat umum.
- Sifat penggunaan antibiotik kita hari ini menentukan apakah bakteri resisten makin banyak atau bisa dikendalikan untuk anak dan cucu kita.
Peran Anda:
- Tidak meminta antibiotik untuk flu
- Menghabiskan antibiotik yang diresepkan dokter
- Tidak membeli antibiotik tanpa resep
- Mencuci tangan dengan benar
- Mengedukasi keluarga tentang antibiotik
16.2 Antibiotik Bukan Obat Semua Penyakit (Virus vs Bakteri)
PENTING: Antibiotik HANYA bekerja untuk infeksi bakteri. Antibiotik sama sekali tidak bekerja untuk infeksi virus — dan sebagian besar infeksi sehari-hari disebabkan virus.
| Penyakit | Penyebab | Antibiotik Membantu? |
|---|---|---|
| Flu (influenza), batuk pilek (common cold) | Virus | TIDAK |
| COVID-19 | Virus | TIDAK |
| Cacar air, campak, gondongan | Virus | TIDAK |
| Radang tenggorokan akibat Strep A | Bakteri | YA |
| ISK (Infeksi Saluran Kemih) | Bakteri | YA |
| Pneumonia (radang paru) bakteri | Bakteri | YA |
| Diare akut biasa | Virus/food poisoning | TIDAK |
Mengapa Minum Antibiotik untuk Flu Berbahaya?
- Efek samping nyata — Antibiotik bisa menyebabkan diare, mual, ruam kulit, hingga reaksi alergi serius.
- Membunuh bakteri baik — Saluran cerna Anda dipenuhi bakteri baik yang membantu pencernaan dan kekebalan tubuh.
- Membantu bakteri di tubuh Anda menjadi resisten — Antibiotik memapar bakteri lain di tubuh Anda, memberi mereka kesempatan untuk “berlatih” menjadi kebal.
16.3 Flu dan Batuk Pilek: Tidak Perlu Antibiotik
Flu biasa (batuk, pilek, bersin, tenggorokan gatal) disebabkan oleh ratusan jenis virus. Sistem imun tubuh Anda dirancang untuk melawan virus ini — dan dalam 7-10 hari, hampir semua orang dengan flu biasa akan sembuh sendiri, dengan atau tanpa obat.
| Yang Membantu | Yang Tidak Membantu |
|---|---|
| Istirahat cukup | Antibiotik |
| Minum banyak cairan hangat | Antibiotik “untuk jaga-jaga” |
| Parasetamol untuk demam/nyeri | Minum antibiotik sisa di lemari |
| Madu untuk batuk (anak >1 tahun) | Meminta antibiotik saat tidak diresepkan |
| Istirahat di rumah untuk mencegah penularan | Minum antibiotik lebih lama dari diresepkan |
Jika flu Anda tidak membaik dalam 7-10 hari, atau jika muncul:
- Demam tinggi (>39°C) yang tidak turun
- Sesak napas atau nyeri dada
- Dahak kuning-hijau pekat disertai demam tinggi
- Gejala memburuk tiba-tiba setelah sempat membaik
→ Saat itulah Anda perlu ke dokter. Mungkin ada infeksi bakteri sekunder yang butuh antibiotik. Tapi keputusan itu harus dibuat dokter, bukan Anda sendiri.
16.4 Cara Minum Antibiotik yang Benar
Lima Aturan Emas Antibiotik:
- Minum HANYA jika diresepkan dokter untuk kondisi yang tepat.
- Minum sesuai dosis dan frekuensi yang ditentukan dokter.
- HABISKAN — meskipun sudah merasa lebih baik sebelum obat habis.
- Jangan berikan ke orang lain atau simpan untuk digunakan sendiri lain kali.
- Kembali ke dokter jika tidak membaik dalam 48-72 jam atau kondisi memburuk.
Mengapa Harus Dihabiskan?
Bayangkan Anda memberantas hama tikus. Tikus yang lemah mati duluan — Anda merasa sudah berhasil. Tapi tikus yang lebih kuat masih hidup. Jika Anda berhenti sebelum semua mati, tikus yang selamat adalah yang paling tahan — dan mereka berkembang biak menghasilkan keturunan yang jauh lebih tahan.
Hal yang sama terjadi pada bakteri. Bakteri yang lemah mati duluan — itulah mengapa Anda merasa lebih baik setelah 2-3 hari. Tapi bakteri yang lebih kuat masih hidup. Jika Anda berhenti minum antibiotik terlalu awal, bakteri-bakteri yang tersisa itu adalah yang paling resisten — dan mereka bisa berkembang biak kembali dan menyebabkan infeksi yang lebih sulit diobati.
Aturan Waktu Minum:
- Boleh diminum sebelum/sesudah makan — tergantung antibiotiknya. Amoksisilin boleh; eritromisin sebaiknya sesudah makan.
- Jika lupa satu dosis — minum sesegera mungkin kecuali sudah mendekati dosis berikutnya. Jika sudah mendekati, lewati saja. JANGAN mengambil 2 dosis sekaligus.
- Boleh diminum bersama susu? — Beberapa antibiotik (tetrasiklin, ciprofloxacin) tidak boleh diminum bersamaan dengan susu. Tanyakan ke dokter/apoteker.
- Boleh minum alkohol? — Sebaiknya hindari. Metronidazol khususnya sangat berbahaya dikombinasikan dengan alkohol.
Efek Samping yang Perlu Diketahui:
| Efek Samping | Yang Harus Dilakukan |
|---|---|
| Mual, diare ringan | Biasanya ringan; lanjutkan antibiotik; coba minum setelah makan |
| Ruam kulit ringan | Hubungi dokter; jangan lanjutkan sebelum konfirmasi |
| Ruam kulit luas, bengkak wajah/bibir, sesak | HENTIKAN dan SEGERA ke UGD — ini tanda alergi serius |
| Diare berat dengan lendir/darah | Segera ke dokter — bisa jadi infeksi C. difficile |
16.5 Bahaya Membeli Antibiotik Tanpa Resep
Di Indonesia, antibiotik seharusnya hanya tersedia dengan resep dokter berdasarkan Permenkes No. 28 Tahun 2021. Namun kenyataannya, antibiotik masih sering dijual bebas di apotek.
Mengapa membeli antibiotik tanpa resep sangat berbahaya:
- Anda tidak tahu apakah infeksi Anda disebabkan bakteri atau virus.
- Anda tidak tahu antibiotik mana yang tepat untuk infeksi Anda.
- Anda tidak tahu dosis yang benar untuk berat badan dan kondisi Anda.
- Anda tidak tahu apakah ada kontraindikasi (kondisi medis yang membuat obat berbahaya untuk Anda).
- Anda mungkin minum antibiotik yang tidak diperlukan, mempercepat resistensi.
- Gejala yang tampak “biasa” kadang adalah tanda penyakit serius yang memerlukan evaluasi dokter.
Skenario Nyata Bahaya Swamedikasi:
| Skenario | Apa yang Sebenarnya Terjadi |
|---|---|
| Membeli amoksisilin untuk batuk karena dahak kuning | Dahak kuning tidak selalu berarti infeksi bakteri — bisa karena virus. Amoksisilin diminum tanpa manfaat, dan bakteri di tubuh Anda terpapar tidak perlu. |
| Menyimpan sisa ciprofloxacin untuk diare | Ciprofloxacin adalah antibiotik WATCH yang kuat. Diare akut jarang butuh antibiotik. Sisa obat yang tersimpan lama bisa kehilangan efektivitas. |
| Berbagi antibiotik dengan tetangga | Gejala yang terlihat sama bisa berasal dari penyakit yang berbeda. Dosis untuk orang lain bisa berbeda. Jenis antibiotik yang tepat berbeda tiap orang dan tiap infeksi. |
16.6 Jika Dokter Tidak Memberi Antibiotik
Dokter yang tidak meresepkan antibiotik untuk infeksi virus BUKAN karena kurang perhatian atau kurang serius. Justru sebaliknya — dokter itu sedang melindungi kesehatan Anda secara jangka panjang dan bertindak sesuai dengan standar medis terkini.
Dokter yang baik:
- Menilai apakah infeksi Anda benar-benar memerlukan antibiotik
- Menjelaskan mengapa antibiotik tidak diperlukan jika memang begitu
- Meresepkan antibiotik HANYA ketika memang ada indikasi klinis yang jelas
- Memilih antibiotik yang paling sempit spektrumnya yang masih efektif
Meminta antibiotik kepada dokter yang sudah menjelaskan bahwa obat itu tidak diperlukan sama dengan meminta dokter untuk melakukan sesuatu yang tidak baik untuk Anda.
16.7 Panduan Antibiotik untuk Anak
Yang Perlu Dipahami Orang Tua:
| Pertanyaan | Jawaban yang Tepat |
|---|---|
| “Anak saya batuk 3 hari, perlu antibiotik?” | Batuk biasa pada anak hampir selalu virus. Pastikan anak minum cukup, istirahat, berikan madu (anak >1 tahun). Bawa ke dokter jika demam tinggi, sesak, atau tidak membaik dalam 7 hari. |
| “Dahak anak kuning/hijau, perlu antibiotik?” | Tidak selalu. Dahak berwarna terjadi secara alami selama infeksi virus. Warna dahak bukan indikator yang dapat diandalkan. Biarkan dokter yang menilai. |
| “Anak saya selalu diresepkan dokter sebelumnya” | Praktik preskripsi bervariasi. Dokter sekarang mungkin mengikuti panduan terkini yang menekankan penggunaan antibiotik hanya jika benar-benar diperlukan. Ini adalah perkembangan baik. |
| “Bagaimana memberikan sirup antibiotik pada anak yang susah minum?” | Campur dengan sedikit jus atau makanan manis jika dokter/apoteker mengizinkan. Gunakan sendok takar yang diberikan — bukan sendok makan rumahan. Puji anak setelah berhasil. |
Tanda yang HARUS membuat Anda segera membawa anak ke dokter atau UGD:
- Sesak napas atau napas sangat cepat
- Tidak mau minum sama sekali (risiko dehidrasi)
- Tidak bisa dibangunkan atau sangat lemas
- Kejang
- Ruam bintik-bintik merah seperti perdarahan di bawah kulit (petekie)
- Kaku leher pada bayi atau anak
- Ubun-ubun menonjol pada bayi
16.8 Mencegah Infeksi Lebih Baik dari Mengobati
Cara Mencegah Infeksi:
| Cara | Penjelasan Praktis |
|---|---|
| Cuci tangan | Sebelum makan, setelah ke toilet, setelah menyentuh hidung/mulut, setelah dari tempat umum. Minimal 20 detik. |
| Vaksinasi lengkap | Vaksin mencegah penyakit yang kemudian bisa berujung pada infeksi bakteri sekunder. |
| Jangan berbagi peralatan makan/minum | Banyak infeksi menyebar melalui air liur. |
| Tutup mulut dan hidung saat batuk/bersin | Batuk ke lengan bagian dalam (siku) — bukan ke telapak tangan. |
| Jaga kebersihan lingkungan | Permukaan yang sering disentuh (gagang pintu, tombol lift) adalah tempat kuman berkumpul. |
| Istirahat saat sakit | Mencegah penularan ke orang lain — termasuk lansia atau bayi. |
| Makan bergizi dan tidur cukup | Sistem imun yang kuat adalah pertahanan terbaik. |
16.9 Kapan Harus Segera ke Dokter
| Kondisi | Yang Harus Dilakukan |
|---|---|
| Flu biasa, batuk pilek, tanpa tanda bahaya | Istirahat di rumah, parasetamol, banyak minum. Ke dokter jika tidak membaik dalam 7 hari. |
| Demam >38,5°C tidak turun setelah 2-3 dosis parasetamol | Ke dokter pukul ini juga atau hari ini. |
| Demam tinggi (>39°C) pada bayi ❤ bulan | SEGERA ke UGD. |
| Nyeri berkemih, sering berkemih, urine keruh/berbau | Ke dokter hari ini — kemungkinan ISK. |
| Nyeri pinggang + demam + mual/muntah | Segera ke dokter atau UGD — kemungkinan infeksi ginjal. |
| Gejala memburuk tiba-tiba setelah sempat membaik | Segera ke dokter — bisa jadi infeksi bakteri sekunder. |
| Sesak napas, nyeri dada, kebingungan mendadak | SEGERA ke UGD. |
| Ruam luas, bengkak wajah/bibir, sesak setelah minum obat | SEGERA ke UGD. |
16.10 AMR dan Masa Depan Anak Cucu Kita
Bayangkan Dunia Tanpa Antibiotik yang Efektif:
- Operasi sederhana seperti usus buntu menjadi sangat berisiko
- Kemoterapi menjadi jauh lebih berbahaya
- Bayi prematur menghadapi risiko kematian jauh lebih tinggi
- Infeksi saluran kemih sederhana bisa berkembang menjadi sepsis mematikan
Ini bukan skenario jauh di masa depan — ini sudah terjadi secara bertahap, sekarang.
Peran Anda dalam Melawan AMR:
| Tindakan Anda | Dampaknya |
|---|---|
| Tidak meminta antibiotik untuk flu | Mengurangi tekanan seleksi terhadap bakteri |
| Menghabiskan antibiotik yang diresepkan | Memastikan bakteri tereradikasi sempurna |
| Tidak membeli antibiotik tanpa resep | Mengurangi penggunaan tidak perlu di komunitas |
| Mengedukasi keluarga | Setiap orang yang memahami AMR adalah agen perubahan |
| Mendukung vaksinasi | Mencegah infeksi yang memerlukan antibiotik |
| Cuci tangan | Mencegah penyebaran bakteri resisten |
AMR bukan hanya masalah dokter dan rumah sakit. AMR adalah masalah kita semua — dan solusinya memerlukan partisipasi kita semua.
LAMPIRAN
LAMPIRAN A: TABEL DDD WHO UNTUK ANTIBIOTIK UMUM
| Nama Generik | Kode ATC | DDD Oral (g) | DDD Parenteral (g) | AWaRe |
|---|---|---|---|---|
| Amoksisilin | J01CA04 | 1,0 | 3,0 | ACCESS |
| Amoksisilin-Klav (amox) | J01CR02 | 1,0 | 3,0 | ACCESS |
| Ampisilin | J01CA01 | — | 2,0 | ACCESS |
| Ampisilin-Sulbak (amp) | J01CR01 | — | 2,0 | ACCESS |
| Cefazolin | J01DB04 | — | 4,0 | ACCESS |
| Sefaleksin | J01DB01 | 2,0 | — | ACCESS |
| Ko-trimoksazol | J01EE01 | 1,92 | 1,92 | ACCESS |
| Metronidazol | J01XD01 | 1,5 | 1,5 | ACCESS |
| Klindamisin | J01FF01 | 1,2 | 1,8 | ACCESS |
| Doksisiklin | J01AA02 | 0,1 | 0,1 | ACCESS |
| Nitrofurantoin | J01XE01 | 0,2 | — | ACCESS |
| Ceftriaxon | J01DD04 | — | 2,0 | WATCH |
| Ceftazidim | J01DD02 | — | 4,0 | WATCH |
| Cefoperazon-Sulbak (cef) | J01DD62 | — | 4,0 | WATCH |
| Siprofloksasin | J01MA02 | 1,0 | 0,5 | WATCH |
| Levofloxacin | J01MA12 | 0,5 | 0,5 | WATCH |
| Azitromisin | J01FA10 | 0,3 | 0,5 | WATCH |
| Amikacin | J01GB06 | — | 1,0 | WATCH |
| Piperasilin-Tazobak | J01CR05 | — | 14,0 | WATCH |
| Meropenem | J01DH02 | — | 2,0 | RESERVE |
| Vankomisin | J01XA01 | — | 2,0 | RESERVE |
| Kolistin (metansulfonat) | J01XB01 | — | 9 MIU | RESERVE |
| Linezolid | J01XX08 | 1,2 | 1,2 | RESERVE |
LAMPIRAN B: FORMAT ANTIBIOGRAM
| Antibiotik | E. coli (n=85) | K. pneumoniae (n=42) | P. aeruginosa (n=21) | S. aureus (n=38) |
|---|---|---|---|---|
| Ampisilin | 35% | R | R | Tidak diuji |
| Amoksisilin-Klav | 62% | 45% | R | 70% |
| Ceftriaxon/Cefotaksim | 52% | 55% | Tidak diuji | Tidak diuji |
| Ceftazidim | 55% | 58% | 67% | Tidak diuji |
| Ko-trimoksazol | 48% | 52% | Tidak diuji | 62% |
| Ciprofloxacin | 45% | 48% | 71% | 65% |
| Amikacin | 88% | 85% | 81% | Tidak diuji |
| Piperasilin-Tazobaktam | 75% | 70% | 76% | Tidak diuji |
| Meropenem | 97% | 95% | 76% | Tidak diuji |
| Oksasilin/Sefoksitin | Tidak diuji | Tidak diuji | Tidak diuji | 62% (38% MRSA) |
| Vankomisin | Tidak diuji | Tidak diuji | Tidak diuji | 100% |
| ESBL positif | 48% | 42% | N/A | N/A |
LAMPIRAN C: CHECKLIST KESIAPAN SURVEI KARS
Dokumen Regulasi (R):
- [ ] SK Direktur Penyelenggaraan PPRA
- [ ] SK Direktur Pembentukan Tim PRA (uraian tugas, tanggung jawab)
- [ ] Program Kerja PPRA (5 komponen, KPI, jadwal)
- [ ] Panduan Penggunaan Antimikroba (PPAB)
- [ ] SPO Audit Gyssens
- [ ] SPO Surveilans DDD
- [ ] SPO Profilaksis Bedah + ASO
- [ ] SPO FORKKIT
- [ ] SPO De-eskalasi dan IVOST
Dokumen Bukti Pelaksanaan (D):
- [ ] Laporan Triwulanan PPRA (minimal 2 terakhir)
- [ ] Notulen FORKKIT minimal 3 bulan terakhir
- [ ] Daftar Hadir FORKKIT minimal 3 bulan terakhir
- [ ] Notulen Rapat Tim PRA minimal 3 bulan terakhir
- [ ] Daftar Hadir + Materi IHT PPRA minimal 1 kali
- [ ] Formulir Edukasi Pasien / Leaflet AMR
- [ ] Data/Laporan Audit Gyssens minimal 1 triwulan
- [ ] Data/Laporan DDD/100 PD minimal 1 triwulan
- [ ] Data/Laporan Kepatuhan Profilaksis Bedah (K1-K4)
- [ ] Antibiogram Lokal atau MoU dengan lab rujukan
- [ ] Bukti Pelaporan SIRS Online (screenshot per triwulan)
- [ ] Bukti feedback ke DPJP
- [ ] Bukti tindak lanjut rekomendasi FORKKIT
LAMPIRAN D: CONTOH FORMULIR ASO DAN PAF
Kolom ASO Profilaksis Bedah:
Antibiotik profilaksis: [Nama, dosis]Waktu pemberian dosis pertama: [Tanggal/jam]Stop order otomatis berlaku: [Tanggal/jam + 24 jam]Status pada jam ke-24: ☐ Dihentikan ☐ Diperpanjang — alasan: _______Tanda tangan DPJP: _____________
Format Rekomendasi PAF:
Tanggal: ___ | Apoteker: [Nama]TEMUAN: Pasien [Nama], terapi [AB] sejak [tanggal].Hasil kultur: [Patogen, profil sensitivitas].Klinis: [Membaik/stabil/memburuk].REKOMENDASI: [De-eskalasi / IVOST / Penyesuaian dosis / Hentikan].Telah disampaikan ke dr. [Nama DPJP] pada [jam].Keputusan DPJP: ☐ Disetujui ☐ Dimodifikasi ☐ Ditolak (alasan: ______)
LAMPIRAN E: DAFTAR ISTILAH PENTING
| Istilah | Artinya dalam Bahasa Sederhana |
|---|---|
| Antibiotik | Obat yang membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. TIDAK bekerja untuk virus. |
| AMR | Kondisi ketika bakteri berubah sehingga antibiotik tidak lagi bisa membunuhnya — bakteri menjadi “kebal”. |
| Bakteri | Makhluk hidup bersel satu yang bisa menyebabkan infeksi. Beberapa bisa diobati dengan antibiotik. |
| Virus | Partikel kecil yang menyebabkan flu, batuk pilek, COVID, campak. Antibiotik TIDAK bekerja untuk virus. |
| Infeksi bakteri | Infeksi yang disebabkan bakteri — seperti radang tenggorokan bakteri, pneumonia bakteri, atau ISK. |
| Infeksi virus | Infeksi yang disebabkan virus — seperti flu biasa, batuk pilek, COVID-19, cacar air. Antibiotik tidak membantu. |
| Resep dokter | Surat dari dokter yang diperlukan untuk mendapatkan antibiotik di apotek. Antibiotik tidak boleh dibeli tanpa resep. |
| Superresisten | Bakteri yang kebal terhadap hampir semua atau semua antibiotik yang ada — infeksinya sangat sulit diobati. |
| DDD | Dosis harian yang ditetapkan WHO sebagai unit pengukuran konsumsi antibiotik. |
| AWaRe | Klasifikasi antibiotik WHO: ACCESS (akses), WATCH (waspadai), RESERVE (cadangkan). |
| De-eskalasi | Perubahan dari antibiotik spektrum luas ke spektrum sempit berdasarkan hasil kultur. |
| IVOST | Konversi dari pemberian antibiotik intravena ke oral. |
| ASO | Penghentian antibiotik secara otomatis pada batas waktu yang ditentukan. |
LAMPIRAN F: QUICK REFERENCE TERAPI EMPIRIK
| Kondisi | Lini Pertama | AWaRe | Durasi |
|---|---|---|---|
| ISK bawah (wanita) | Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x / Fosfomisin 3g dosis tunggal | ACCESS | 3 hari |
| Pielonefritis (rawat jalan) | Siprofloksasin 500 mg PO 2x / Ko-trimoksazol 960 mg PO 2x | WATCH/ACCESS | 10-14 hari |
| Pielonefritis (rawat inap) | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x (switch oral) | WATCH | 14 hari |
| CAP ringan | Amoksisilin 500 mg PO 3x +/− Azitromisin 500 mg 1x | ACCESS | 5-7 hari |
| CAP sedang | Ampisilin-Sulbaktam 1,5 g IV 4x + Azitromisin 500 mg IV/PO 1x | ACCESS+WATCH | 7 hari |
| CAP berat | Ceftriaxon 2 g IV 1x + Azitromisin 500 mg IV 1x | WATCH | 7-10 hari |
| HAP/VAP risiko rendah | Amoksisilin-Klav 1,2 g IV 3x / Ceftriaxon 2 g IV 1x | ACCESS/WATCH | 7 hari |
| HAP/VAP risiko tinggi | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x +/− Amikacin | WATCH | 7-14 hari |
| Selulitis ringan | Amoksisilin 500 mg PO 3x / Sefaleksin 500 mg PO 4x | ACCESS | 5-7 hari |
| Selulitis berat | Ampisilin-Sulbaktam 1,5-3 g IV 4x / Cefazolin 1-2 g IV 3x | ACCESS | 7-14 hari |
| Apendisitis (terkomplikasi) | Ceftriaxon 1-2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x | WATCH+ACCESS | 4-7 hari |
| Sepsis komunitas (sumber tidak jelas) | Ceftriaxon 2 g IV 1x + Metronidazol 500 mg IV 3x | WATCH+ACCESS | 7 hari |
| Sepsis nosokomial | Cefoperazon-Sulbaktam 2 g IV 2x + Amikacin 15 mg/kg IV 1x | WATCH | 7-14 hari |
DAFTAR PUSTAKA
Regulasi Nasional:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistansi Antimikroba di Rumah Sakit. Jakarta: Kemenkes RI; 2015.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES 2024). Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK.02.02/D/3609/2025 tentang Petunjuk Teknis Pengiriman Isolat Bakteri Resistan Antimikroba dari Laboratorium RS ke LRN. Jakarta: Kemenkes RI; 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK.02.02/D/3610/2025 tentang Pedoman Penyusunan Antibiogram di Rumah Sakit. Jakarta: Kemenkes RI; 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis SIRS Online Revisi 7 Tahun 2024 (Formulir RL 3.19.3 dan RL 3.19.4). Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba 2025-2029. Jakarta: Kemenkes RI; 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Penatagunaan Antimikroba (PGA) di Rumah Sakit, Edisi I. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.
Pedoman Internasional:
- World Health Organization. AWaRe (Access, Watch, Reserve) Antibiotic Book 2023. Geneva: WHO; 2023.
- World Health Organization. Global Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infection, 2nd edition. Geneva: WHO; 2018.
- World Health Organization. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. Geneva: WHO; 2009.
- World Health Organization. Global Action Plan on Antimicrobial Resistance. Geneva: WHO; 2015.
- World Health Organization Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology. ATC/DDD Index 2024. Available at: whocc.no.
- Prescott H, Antonelli M, Alhazzani W, et al. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2026. Crit Care Med. 2026. doi:10.1097/CCM.0000000000007075.
- Evans L, Rhodes A, Alhazzani W, et al. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Crit Care Med. 2021;49(11):e1063-e1143.
- Singer M, Deutschman CS, Seymour CW, et al. The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA. 2016;315(8):801-810.
- Barlam TF, Cosgrove SE, Abbo LM, et al. Implementing an Antibiotic Stewardship Program: Guidelines by the Infectious Diseases Society of America and the Society for Healthcare Epidemiology of America. Clin Infect Dis. 2016;62(10):e51-e77.
- Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Performance Standards for Antimicrobial Susceptibility Testing. 33rd ed. CLSI Supplement M100. Wayne, PA: CLSI; 2023.
- Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Analysis and Presentation of Cumulative Antimicrobial Susceptibility Test Data. 5th ed. CLSI guideline M39. Wayne, PA: CLSI; 2022.
- Bratzler DW, Dellinger EP, Olsen KM, et al. Clinical Practice Guidelines for Antimicrobial Prophylaxis in Surgery. Am J Health Syst Pharm. 2013;70(3):195-283.
- Rybak MJ, Le J, Lodise TP, et al. Therapeutic Monitoring of Vancomycin for Serious Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus Infections: A Revised Consensus Guideline. Am J Health Syst Pharm. 2020;77(11):835-864.
- Gupta K, Hooton TM, Naber KG, et al. International Clinical Practice Guidelines for the Treatment of Acute Uncomplicated Cystitis and Pyelonephritis in Women: A 2010 Update. Clin Infect Dis. 2011;52(5):e103-e120.
- Stevens DL, Bisno AL, Chambers HF, et al. Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Skin and Soft Tissue Infections: 2014 Update by IDSA. Clin Infect Dis. 2014;59(2):147-159.
- Solomkin JS, Mazuski JE, Bradley JS, et al. Diagnosis and Management of Complicated Intra-abdominal Infection in Adults and Children: Guidelines by IDSA and the Surgical Infection Society. Clin Infect Dis. 2010;50(2):133-164.
- Kalil AC, Metersky ML, Klompas M, et al. Management of Adults with Hospital-acquired and Ventilator-associated Pneumonia: 2016 Clinical Practice Guidelines by IDSA and ATS. Clin Infect Dis. 2016;63(5):e61-e111.
Literatur Ilmiah:
- Murray CJ, Ikuta KS, Sharara F, et al. Global burden of bacterial antimicrobial resistance in 2019: a systematic analysis. Lancet. 2022;399(10325):629-655.
- Davey P, Marwick CA, Scott CL, et al. Interventions to improve antibiotic prescribing practices for hospital inpatients. Cochrane Database Syst Rev. 2017;(2):CD003543.
- Schuetz P, Wirz Y, Sager R, et al. Effect of procalcitonin-guided antibiotic treatment on mortality in acute respiratory infections: a patient level meta-analysis. Lancet Infect Dis. 2018;18(1):95-107.
- Gyssens IC. Quality measures of antimicrobial drug use. Int J Antimicrob Agents. 2001;17(1):9-19.
- Llewelyn MJ, Fitzpatrick JM, Darwin E, et al. The antibiotic course has had its day. BMJ. 2017;358:j3418.
- Tamma PD, Miller MA, Cosgrove SE. Rethinking How Antibiotics Are Prescribed: Incorporating the 4 Moments of Antibiotic Decision Making Into Clinical Practice. JAMA. 2019;321(2):139-140.
- Kumar A, Roberts D, Wood KE, et al. Duration of hypotension before initiation of effective antimicrobial therapy is the critical determinant of survival in human septic shock. Crit Care Med. 2006;34(6):1589-1596.
- Magiorakos AP, Srinivasan A, Carey RB, et al. Multidrug-resistant, extensively drug-resistant and pandrug-resistant bacteria: an international expert proposal for interim standard definitions for acquired resistance. Clin Microbiol Infect. 2012;18(3):268-281.
- Baur D, Gladstone BP, Burkert F, et al. Effect of antibiotic stewardship on the incidence of infection and colonisation with antibiotic-resistant bacteria and Clostridium difficile infection. Lancet Infect Dis. 2017;17(9):990-1001.
- De Waele JJ, Schouten J, Beovic B, et al. Antimicrobial stewardship in the ICU: an update. Crit Care. 2021;25(1):395.
BUKU SAKU PPRA INDONESIA — BUKU TUNGGAL
Edisi 1 — 2026
Disusun oleh dr. I Putu Cahya Legawa
legawa.com
Dukung Penulis:
Hak Cipta © 2026 dr. I Putu Cahya Legawa
Bebas disalin untuk keperluan pendidikan non-komersial dengan menyebut sumber.

Tinggalkan komentar