Film Piper – Kisah si Burung Kecil

Piper merupakan film animasi pendek dari Pixar yang menemani film panjang Moana. Berkisah tentang burung kecil yang pertama kali belajar mencari makan dengan mandiri. Menghadirkan kehidupan tepi pantai yang unik dan memikat. Mungkin dengan menonton film ini diharapkan banyak orang menjadi semakin senang dalam menjaga kelestarian alam dan wilayah pesisir.

Kutilang oh Kutilang

Beberapa bulan yang lalu, ada yang membawa dua ekor bayi kutilang malang yang masih berada di sarang mereka. Singkat kata, karena mendapatkan suplai makanan yang berkecukupan, mereka pun tumbuh sehat dan gemuk – terutama saya suka suaranya yang merdu. Namun tentu saja mereka masih tetap bagian dari kehidupan liar di luar sana. Saat sayap merekaLanjutkan membaca “Kutilang oh Kutilang”

Decu yang Berlibur

Mereka yang penggemar burung kicau atau burung petarung pasti mengenal Burung Decu, jika di tempat saya dinamakan Crucuk Tanah (jika tidak salah ingat). Tubuhnya mungil dengan warna dasar gelap, dan sedikit warna putih di bagian tubuh bawah termasuk di bawah saya terujung. Saya bukan penggemar burung, saya lebih suka hanya mendengarkan kicauan mereka sepanjang hariLanjutkan membaca “Decu yang Berlibur”

Rio – A Story of Blu

Have you watched Rio The Movie? I would say it as a fascinating 3D animated movie with a touch of musical comedy. The movie is started with the jungle somewhere – perhaps – in Rio de Janeiro, where wild birds have their happy time singing together. Including a little blue bird, which later becomes theLanjutkan membaca “Rio – A Story of Blu”

Di Pucuk Kesendirian

Ada kesunyian mencakup nan mendekap erat sayap-sayap kecilnya, angin pun enggan menunjuk cakrawala yang telah ia benamkan dalam mimpi-mimpi tak terungkapkan. Aku mendengar rayuan sunyi mengantarkan buluh-buluh kehidupan yang telah menua di antara ranting-rantingnya, sebuah gita yang tertawan oleh canda di balik kemesraan yang sirna. Kini, adakah kesendirian meruam sunyi di antara kelembutan sayap-sayap mungilnya?Lanjutkan membaca “Di Pucuk Kesendirian”