Sebelumnya kita sudah membahas tentang aplikasi Plurk Client di Linux OpenSuSE. Sekarang mari kita lihat saingannya, layanan microblogging Twitter. Siapa yang tidak kenal Twiter, dari pengguna personal hingga perusahaan bonafit memanfaatkan Twitter untuk berbagai kepentingan. Sehingga tidak salah jika aplikasi Twitter Client lebih banyak dibandingkan dengan saingannya yang lain. Dan Anda bisa jadi kebingungan memilih aplikasi yang tepat.
Beberapa aplikasi klien yang menarik pernah saya sebutkan di tulisan sebelumnya – Amazed with OpenSuSE 11.2. Jika ada yang paling saya minati, mungkin itu adalah choqoK – aplikasi klien Twitter berbasis dekstop KDE (meski saya menggunakan desktop Gnome). Lalu bagaimana kita bisa mendapatkan klien ini di OpenSuSE?
Beberapa klien sudah dibawa dengan sendirinya di OpenSuSE, jika ingin melihat yang lain coba tambahkan programnya melalui YaST: Pilih Komputer >> Install Software >> Ketik Kata Kunci: Tweet atau Twitter, nanti akan diperlihatkan berbagai aplikasi yang tersedia untuk kita. Jika kurang berminat dengan layanan yang sudah disediakan, jangan khawatir, masih banyak lagi aplikasi lain yang bisa kita install. Silakan merujuk kembali ke laman Aplikasi Klien Twitter untuk Linux yang merupakan Wiki Penggemar Twitter.
Beberapa aplikasi mungkin memerlukan Adobe AIR (lihat kembali cara menginstal Adobe AIR di OpenSuSE pada artikel mengenai Plurk Client di atas), kemudian cobalah beberapa aplikasi terkenal seperti TweetDeck, Seesmic, atau TweetPocket dan lihat bagaimana GUI menawan yang diberikan oleh aplikasi berbasis AIR ini.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
4 tanggapan
dani
Masi tetep pake yang murah meriah, echofon. Hampir ngga mungkin kalo lagi ngenet cuman make twitter aja. Twitter sampingan, browsing-nya yang utama. 🙂
.-= dani´s last blog ..Rolling Release Distro Linux =-.
Aih-aih, Bli lupa ya, sekarang kan ada komputer meja (Desktop), komputer jinjing laptop, dan komputer genggam (mobile phone, smartphone, iphone, ultra mini netbook).
Semisal jalan-jalan ke pantai, paling ambil iphone, terus ngetweet pakai salah satu yang berbasis AIR itu, dan bilang wah…, pantainya rame… 🙂
saya dulu suka pakai tweetdeck dan seesmic (twhirl) tapi lama2 kok aplikasi dari AIR ini berat jg, saya pake ubuntu, tp untuk aplikasi Adobe AIR tampaknya ga masalah OS apapun, toh sama saja. sekarang saya lebih suka langsung dari web, simpel, praktis, fiturnya sudah makin diperbaiki.
Memang aplikasi berbasis Adobe AIR lumayan berat dibandingkan dengan yang berbasis Linux asli (e.g GTK+ etc). Saya melihat seperti TweetDeck bisa menghabiskan 2-3% kinerja CPU.
Namun dibandingkan dengan menggunakan peramban, saya rasa resource-nya masih lebih kecil, Firefox misalnya di OpenSuSE bisa menghabiskan 3-5% kinerja CPU. Saya tidak tahu kalau di Ubuntu.
Jadi kalau sekadar sedang tidak lagi browsing mungkin sebenarnya aplikasi berbasis AIR lebih ringan bagi komputer, atau yang berbasis lain seperti choqoK atau Twitux lebih ringan lagi.
Sedangkan kalau lagi sedang browsing saya setuju jika di peramban memang lebih nyaman. Atau mungkin menggunakan pengaya seperti Yoono dan Echofon di Firefox jadi lebih mengasyikkan bagi mereka yang sering bermain di Twitter 🙂
He he, pada akhirnya kembali ke masing-masing pengguna layanan 😉
Tinggalkan Balasan