A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jika ini kebetulan mirip dengan tulisan “Redesain Weblog Satu Kolom”, mungkin karena banyak ide-nya berasal dari sana (aih…, belakangan ini tidak kreatif sekali jadi narablog). Saya sendiri merasa agak malas dengan bergantinya tema terus-menerus, maklum menghabiskan lebar pita tempat hosting.

Namun ingin mencari tema yang sesuai bukanlah hal yang mudah sebagaimana yang saya sampaikan dalam “Bingung dengan Desain Blog” atau pun pada “Antara Mystique dan Fusion”. Bukan kenapa-napa, saya suka dengan desain yang artistik, apalagi dengan dibekali PSD yang begitu memesona (kaya orang bisa makai saja).

Kadang berandai-andai bisa membuat desain web seperti salah satu desain yang terdapat di “40 most beautiful and inspirational website designs of 2008” atau seperti yang dipampang di “55 Really Creative and Unique Blog Desain Showcase”, mungkin rasanya akan puas memandangnya. Namun apa boleh dikata, saya bukanlah seorang desainer web. Jadi mesti puas dengan tema bebas yang dioprek seadanya.

Pun karena saking tidak ahlinya mengoprek tema, kadang desain menjadi berat, mengingatkan dengan blog aslinya di blogspot. Padahal tujuan utama saya dulu pindah blog adalah untuk meringankan beban kunjungan, sebagaimana yang saya ungkapkan pada “Mengapa Pindah Blog?”. Kini saatnya kembali menyederhanakan semuanya (ha ha…, mumpung lagi insyaf).

Kali ini saya menggunakan tema “manifest” – sebuah tema sederhana. Dengan berbalut warna putih seperti padang salju dan memiliki kolom tunggal. Saya berusaha mengonservasi semua yang penting yang selama ini diletakkan dalam bilah samping menuju bagian kepala atau pun kaki web. Walau dengan skill yang pas-pasan setidaknya saya sudah melakukan yang saya bisa. Semoga ini jadi lebih ringan.

Jika ada masukkan, kami tetap terbuka menerimanya, terutama jika ada kesulitan navigasi dalam layout yang baru ini.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

6 tanggapan

  1. Avatar dani
    dani

    Kita lihat saja tema ini bakal bertahan berapa lama. 🙂 Teks breadcrumb dan status twitter kayaknya terlalu kecil.

    1. Avatar Cahya

      Wah, jangan gitu Bli, padahal saya dah ada konsep untuk ganti pas St. Valentine bulan depan, he he :DBreadcrumbnya memang kecil, saya belum tahu apakah harus pakai eleman h? Mungkin nanti saya coba edit sedikit. Makasih Bli.

  2. Avatar Deddy

    Theme ini juga yang saya gunakan untuk website wedding saya 🙂 Sederhana… tapi elegan…

    1. Avatar Cahya

      Hmmm…, rupanya Dokter Deddy juga penggemar desain elegan 🙂

  3. Avatar dani
    dani

    Gemana dengan tidak adanya self-linking di post-title? Perlu ada ngga?

    1. Avatar Cahya

      Kalau untuk di blog ini saya rasa tidak perlu Bli Dani :)Maksudnya saya belum melihat fungsinya, kecuali ada tulisan di sini sedang jadi perdebatan hangat oleh banyak pengunjung, melihat ulang halaman yang sama berkali-kali – apakah ada reply</baru>? – kira-kira begitu.Sayangnya, kayanya di sini adem ayem semua deh, he he 😀

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca