A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Terkisahlah empat orang sahabat karib yang memulai usahanya untuk berdagang kapas. Usaha mereka maju, kini mereka memiliki gudang sendiri untuk menyimpan kapas-kapas mereka dalam jumlah besar sebelum disalurkan ke pembeli atau pedagang lainnya. Usaha mereka cukup lancar hingga suatu ketika, tampaknya kapas-kapas yang mereka simpan di gudang mengundang si hewan pengerat tikus untuk datang, dan datang dalam jumlah yang bertambah. Kini gudang mereka penuh akan tikus-tikus.

Para sahabat ini paham, bahwa hanya kucing yang bisa menjadi musuh alami tikus-tikus tersebut. Dan mereka pun memutuskan untuk memelihara seekor kucing guna menjaga gudang kapas mereka dari hama tikus.

Kucing tersebut melakukan fungsinya dengan baik, keempat sahabat itu begitu menyayangi si kucing, sehingga bahkan diberikannya giring-giring yang terbuat dari emas – setidaknya sebuah hadiah yang layak bagi kucing yang sudah mengamankan sumber kesejahteraan mereka.

Pada suatu hari, si kucing melompat dengan kurang baik dari salah satu puncak tumpukkan karung-karung kapas di gudang itu, sedemikian hingga ia membuat salah satu kakinya terkilir. Para sahabat yang mengetahui hal ini segera merawat kucing itu, memberikan balsem pada kaki yang terkilir, membalutnya dengan perban yang cukup panjang sehingga gulungannya bisa tebal dan menghangatkan menurut mereka. Si kucing pun dimanjakan, hari itu ia boleh tidak menjaga gudang, ia diberikan segelas susu hangat yang dituang di mangkuk, dan karpet empuk untuknya berbaring di dekat perapian.

Kucing itu bisa berjalan bebas di dalam rumah, dan ketika sudah larut ia hendak tidur, namun tidak menyadari bahwa pembalutnya menjadi agak longgar sehingga ada bagian kain pembalut yang menjuntai ke luar. Tapi dengan tenang ia berjalan menuju karpetnya yang empuk, dan mulai tertidur. Hingga beberapa saat kemudian, ia menyadari dengan panik, bahwa ujung pembalut yang terjuntai telah menyala-nyala oleh api, tampaknya tidak sengaja terbakar oleh api dari perapian. Kucing itu pun panik dan berlarian, ia berlari ke luar dan masuk ke dalam gudang. Api yang menyala-nyala menyambar setiap tumpukan kapas yang berada di dasar gudang dan mulai menyalakan api di mana-mana. Gudang kapas-pun terbakar dalam nyala yang hebat, dan kucing malang itu tak terselamatkan di sana.

Para sahabat dengan sedih melihat apa yang tersisa dari amukan api semalam. Keempat sahabat ini mengadakan pembagian bahwa masing-masing mendapat bagian satu kaki dari kucing tersebut, dan kaki yang sakit menjadi salah satu milik dari mereka. Dan ketiga temannya yang memiliki kaki kucing yang sehat menuntut pemilik kaki yang sakit atas semua kerugian yang terjadi.

Karena tidak terjadi kesepakatan, persoalan ini dibawa ke pengadilan, dan perdebatan panjang pun dimulai. Pada akhirnya sang hakim berkata, “Kaki yang sakit tidak bertangung jawab, karena kaki yang menyeret api hingga sampai ke gudang adalah ketiga kaki yang sehat. Oleh karena itu kerugiannya harus dibayar oleh pemilik kaki yang sehat kepada kaki yang sakit”.

Apa yang benar pada pandangan satu, belum tentu demikian dalam pandangan lainnya. Saya tidak sedang mencoba membenarkan pandangan manapun. Bahkan ketika manusia mencari titik pandangan Tuhan pun, kita sendiri yang harus menemukannya. Jadilah bijaksana secara alaminya.

Adaptasi dari Chinna Katha I.25

Artikel Baru Terbit

  • What the Elder Leaves Unsaid
    What does a wise elder truly leave the young? Not rules, but roots. Drawing from Wulangreh, Kalatidha, Confucius, Laozi, Rumi, the Dhammapada, and Marcus Aurelius, this essay follows a bronze-caster and his apprentice toward one quiet truth: the deepest teaching asks to be forgotten, so the student can call it their own.
  • The Empu’s Three Counsels
    A Javanese keris-smith teaches his apprentice that mind, heart, and instinct are not rivals for a single throne but three voices folded into one blade through practice. Drawing on Stoicism, Sufism, Taoism, the Gita, and Javanese rasa, this essay argues the true answer is formation, not choice — a self patient enough to let all three disagree until they forge something stronger together.
  • SADARI: Periksa Payudara Sendiri, Apa Kata Bukti Ilmiah Terbaru?
    SADARI membantu perempuan mengenali kondisi normal payudaranya sendiri, meski uji klinis besar menunjukkan metode ini tak terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker payudara. Di Indonesia, dengan akses mamografi yang masih terbatas, SADARI tetap bernilai sebagai langkah kewaspadaan awal—asalkan selalu diikuti pemeriksaan klinis profesional saat ditemukan kelainan, bukan sebagai pengganti skrining medis sesungguhnya.
  • The TAME Trial: Bisakah Obat Diabetes Lawas Memperpanjang Usia Manusia?
    Metformin, obat diabetes murah berusia puluhan tahun, tengah diuji lewat TAME trial untuk mengetahui apakah ia bisa memperlambat penuaan biologis dan menunda penyakit terkait usia. Bukti dari hewan menjanjikan, tetapi bukti manusia masih observasional. Pakar sepakat: terlalu dini merekomendasikan metformin untuk anti-penuaan pada orang sehat; gaya hidup sehat tetap strategi utama.
  • Benarkah Generasi Sebelum Baby Boomer Lebih Sehat dan Aktif di Usia Tua? Membedah Klaim yang Sering Beredar
    Klaim bahwa generasi sebelum baby boomer lebih sehat dan aktif hingga lansia sebagian besar adalah mitos akibat survivorship bias — kita hanya mengenang yang bertahan. Namun, riset gerontologi terbaru dan data SKI 2023 menunjukkan kekhawatiran nyata: usia harapan hidup Indonesia meningkat, tetapi beban penyakit tidak menular turut melebar, sehingga tahun hidup tambahan tidak selalu berarti tahun yang sehat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Avatar imadewira

    melihat dari sudut pandang berbeda tentu ada kemungkinan tampak berbeda..

  2. Avatar aldy

    Pertanyaanya harus kebenaran dan sudut pandang itu di cari ?
    Bukankah jika kita melaksanakan kebenaran maka karma yang akan kita terima sebanding dengan yang dilakukan ?

    1. Avatar Cahya

      Pak Aldy,

      Sebenarnya sama sekali tidak perlu, namun kita perlu merenung apa bila kita terlalu sering bertindak atas nama kebenaran atau atas nama Tuhan. Pandangan adalah sebentuk ide yang melandasi tindakan, kadang kita merasa perlu melihat lagi ketika hati kita bertanya, “mengapa saya sampai seperti ini?”
      Namun sengaja mencari-cari sekadar untuk menambah pengetahuan atau pembenaran atas pola pikir dan tindakan kita, saya rasa bukanlah hal yang bijaksana.

  3. Avatar Along
    Along

    Salam hormat. Satu sudut pandang yang amat bermakna sekali.sebagai pengajaran kepada yang lalai. Semoga kita mendapat manfaatnya. Terima kasih.

  4. Avatar alief

    kebenaran yang dibawa manusia itu selalu subjektif, dia akan selal memihak pada sebagian kelompok.kebenaran yang objektidf hantya berasal dari tuhan, dan itu bisa didapat dari mempelajari agama dengan benar dan hati yang terbuka

  5. Avatar artha

    eriteranya mengingatkan saya ceritera kakek waktu masih kecil

  6. Avatar TuSuda
    TuSuda

    Dengan sikap tunduk hati dalam pengabdian tulus kepada-NYA, kita akan menemukan bahwa Titik pandang TUHAN selalu mutlak, absolut, tiada duanya. Sedangkan sudut pandang ciptaan-NYA, masih relatif, penuh nuansa keterbatasan dan ketidaksempurnaan. Sebuah analogi cerita yang sangat menggugah hati untuk selalu mengahayati dan berserah diri kepada Kebesaran dan Kuasa-NYA.

  7. Avatar Epenkah
    Epenkah

    Mencari sudut pandang Tuhan? Kembali aja kepada ajaran-Nya, Insya Allah di sana ada jawabannya..

  8. Avatar Decy
    Decy

    aku memiliki pandangan berbeda dari apa yg dikatakan oleh hakim tersebut

    di satu sisi , itu tidak adil
    di satu sisi , mengapa harus dengan pembagian kaki kucing? seperti undian saja

    seharusnya mereka bertanggung jawab bersama sama

    * maaf ini hanya dari sudut pandangku saja 🙂

    1. Avatar Cahya

      Mbak Decy,

      Setiap orang memiliki pandangannya 🙂

  9. Avatar delia
    delia

    itulah yang disebut perbedaan sudut pandang.. 🙂
    karena dimana2 pasti ada 3 hal “menurutku benar, menurutmu benar dan kebenaran itu sendiri 🙂

    seiring sejalannya waktu, berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan berbagi pendapat.. membuat kita menjadi bijaksana… 🙂

  10. Avatar Fi
    Fi

    ceritanya menarik sekali, penuh hikmah.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca