A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Really, it was just before noon a couple days ago I got a call to visit Sanur Beach together with my old friend from high school and her family. I said yes, and she picked me up about 09.15 a.m. We travelled from Gianyar through Sukawati to reach Eastern Denpasar before Sanur.

The traffic was crowded as how it used to be. It took more than a hour to reach Sanur by 10.20. I must let her down since I denied to join on swimming together – well, I am never been a good swimmer since the whole moment I can remember.

I thought the beach wasn’t so crowded, but the parking lot nearly full. The parking man charge us IDR 5.000,- for single car. And the a couple rest place with a huge umbrella cost IDR 20.000,-. Well, tourism sure an expensive thing even for locals – like us.

They was seem enjoying the calm water of Sanur beach just under the tropical sunshine. Lot of families seems enjoying the beach just before the noon, with  canoes for children – there was a lot of fun in a beach with small waves.

Watching from distance, my friend looked like enjoying herself swimming on the shallow waters. And for me, in a moment, I could find a huge question mark hanging above my head. “How could I be dragged here?”

But since she is my nemesis, I thought I have no right questioning for anything further more. Beside, I just love being sitting around the beach since I was kid, so I felt I would let myself enjoying the beach in my way.

Stared both of my palm, and my mind whispered softly. I has been more than a couple months I’ve let go the ring which used be there. Past has already left far behind, but I don’t know, maybe the essential feeling weren’t vanished at all, but merely sealed within – somewhere deep within me, in the place even my consciousness can’t tell it.

People said that sea can sweep away all our heart’s burdens. But seeing sea, wasn’t make me feel any lighter. No, nothing wrong with the sea nor with the beach. It was and it is me which already been so corrupted inside, it is me that so full of myself which turn tears into invisible winds flew low above the sea and never reach any shore. But, it was me who chose the path of darkness, it was me who chose to walk without a single light.

Yes, I am full of myself, and this path is the very nature of my own act. Just like watching the beach with everything on it.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Kebahagiaan Menjadi Ibu Terasa Berat: Memahami Kesehatan Mental Reproduksi
    Kehamilan dan persalinan bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga rentan menguji kesehatan jiwa. Artikel ini membedah data SKI 2023 tentang depresi pascapersalinan di Indonesia, faktor risikonya, dampak psikologis infertilitas, hingga protokol skrining EPDS Kemenkes—agar gejala yang sering tersembunyi di balik peran “ibu yang kuat” bisa dikenali dan ditangani lebih awal.
  • Jendela 72 Jam: Kombinasi Tiga Terapi Berhasil “Membersihkan” HIV pada Bayi Primata
    Penelitian dari Oregon Health & Science University menunjukkan bahwa kombinasi terapi antiretroviral, antibodi penetral luas, dan leronlimab dapat “membersihkan” HIV pada bayi kera jika diberikan dalam 72 jam pasca-paparan. Temuan ini membuka harapan untuk uji klinis pada manusia meski Indonesia masih memerlukan perbaikan pada skrining HIV untuk ibu hamil.
  • Ketika Gubernur Bertanda Tangan: Titik Balik Politik dalam Perang Melawan Kusta di Indonesia
    Sebelas gubernur dan tiga wakil gubernur menandatangani Deklarasi Komitmen Percepatan Eliminasi Kusta di Konferensi Nasional Kusta 2026. Dengan lebih dari 16.000 kasus baru pada 2025, WHO mendorong penemuan kasus aktif dan pengurangan stigma. Langkah selanjutnya adalah menerjemahkan komitmen politik menjadi rencana aksi daerah yang terdanai.
  • Lima Hari yang Menentukan: Di Balik Modul Pelatihan WHO untuk Teknisi Oksigen, dan PR Besar Indonesia dalam Mencetak Mereka
    WHO SEARO menerbitkan modul pelatihan lima hari untuk teknisi dan insinyur biomedis yang mengelola peralatan oksigen. Kurikulum terstandardisasi ini penting dalam meningkatkan kompetensi. Namun, kekurangan peminat dalam pendidikan D3/D4 Teknik Elektromedik di Indonesia menjadi tantangan. Adaptasi modul harus disertai penguatan rekrutmen tenaga untuk efektivitas maksimal.
  • Oksigen Bukan Sekadar Tabung: Mengenal Ekosistem yang Menjaga Napas Pasien Tetap Hidup
    Oksigen medis adalah ekosistem penting yang melibatkan produksi, distribusi, dan regulasi. Krisis oksigen 2021 di Indonesia menunjukkan kelemahan dalam rantai ini. Manual WHO SEARO 2026 merekomendasikan penguatan bengkel biomedis dan kalibrasi alat kesehatan. Fasilitas kesehatan perlu membangun ketahanan oksigen sebagai bagian dari kesiapsiagaan, bukan hanya sebagai respons darurat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

17 tanggapan

  1. Avatar Cahya

    Suci,

    Ya sudah, mengaso dulu.

  2. Avatar Suci gusri
    Suci gusri

    Menyerah kalah pada waktu, biar waktu yg pertemukan lagi..

    There's smthing happen with my brain..OMG

  3. Avatar Cahya

    Suci,

    Gya ha ha…, masa semangat cuma segitu, gimana mau berburu pink piggy, bisa-bisa kabur tuh piggy-nya.

  4. Avatar Suci gusri
    Suci gusri

    What?? Roda 2 ke gng.kidul?? Ga deh… Sampe gapura wonosari aq pasti LBP… Kaki kram.. Muka tebel sm debu… Utk amannya, ptualangan qta cukup smp jl. solo aja spertinya..

  5. Avatar GIM
    GIM

    Manca Negara lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia… makanya Bali=Indonesia ato sebaliknya.

  6. Avatar Cahya

    Nandini,

    Nah, nanti pas bulan madu deh boleh ke sana 🙂 & ditunggu undangannya :D.

  7. Avatar nandini

    pertama dan terakhir kali ke Sanur tahun 2002.. kapan yaaa bisa ke sana lagi & menikmati sunrise..

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca