A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Kami sama-sama sibuk, sama-sama berangkat pagi dan pulang dalam kelelahan. Kami sama-sama hobi bertengkar dan saling mengejek, hanya saja padanya saya tidak pernah & mungkin tidak akan pernah menang berargumentasi.

Malam kemarin saya menyempatkan waktu di sela-sela mengerjakan laporan yang mesti dilaporkan esok hari, agak jenuh juga karena lengan kiri saya masih tidak bisa digunakan walau sudah ditembak dengan pain killer dosis tinggi.

Dan bisa saya tebak, dia akan tertawa terbahak-bahak setelah mendengar karena kecerobahan saya sendiri sekarang tangan kiri saya mungkin tidak akan bisa digunakan dalam beberapa hari ke depan. Tapi saya rasa itu yang saya perlukan, karena suara itu lebih manjur dibandingkan obat pereda sakit yang manapun. Tapi sama sekali tidak mengenakkan di telinga.

Rasanya jarak yang jauh itu, entah terpisah beberapa daratan & perairan, saya rasa tidak akan begitu terasa dengan bantuan kecanggihan teknologi saat ini.

Tidak banyak yang memang bisa dibicarakan, paling seputar topik tentang pekerjaannya di kantor dan tugas saya di rumah sakit, tentang rencananya ke luar daerah pertengahan bulan nanti untuk urusan kantor atau tentang kejadian & perkembangan di lingkungan kami masing-masing. Hingga bagaimana konsep fotografi untuk pre wedding nantinya, ah, rasanya satu atau dua tahun lagi tidak akan terlalu lama jika mesti sesibuk ini setiap harinya.

Saya ingat salah satu senior bertanya kemarin siang, apakah Desember nanti saya tidak akan kembali. Saya belum yakin, karena satu lagi jadwal besar belum bisa saya tetapkan tanpa konsultasi ke bagian yang bersangkutan. Jika bulan depan semua jadwal bisa diisi, maka akhir tahun saya rasa ada waktu luang mengunjungi pemilik Moonarch yang baru.

Ah, saya tidak bisa memberikan kepastian padanya saat ini. Kami masih memiliki masing-masing hal yang harus difokuskan, dan setiap perjalanan panjang selalu dimulai dari sebuah langkah, kami rasa tidak baik jika tidak memperhatikan satu langkah kecil ini karena terlalu memandang jauh ke depan.

Dan bagi saya saat ini adalah bagaimana menyelesaikan tugas dengan baik, sementara lengan kiri ini juga tidak boleh dibiarkan menghambat terlalu lama – atau saya akan kembali ditertawakan lagi.

Artikel Baru Terbit

  • Delapan Mitos Hipertensi yang Masih Dipercaya Banyak Orang Indonesia
    Hipertensi menyerang tanpa gejala, tetapi bukan berarti tak berbahaya. Artikel ini meluruskan delapan mitos umum—dari anggapan “tidak ada keluhan berarti aman” hingga “sudah normal, boleh berhenti obat”—dengan data SKI 2023, pedoman PERHI dan ESC 2024, serta konteks kebijakan JKN dan label pangan Indonesia yang relevan bagi pembaca awam maupun tenaga kesehatan.
  • Mitos Kesehatan Seksual: Antara Pil KB, Metode Tarik, dan Kloset Umum
    Mitos seputar kesehatan seksual — dari pil KB yang dianggap mencegah IMS hingga anggapan dudukan kloset bisa menularkan penyakit — masih beredar luas. Artikel ini meluruskan sembilan mitos utama dengan data terkini kasus IMS dan HIV di Indonesia, serta menjelaskan akses layanan skrining dan pengobatan gratis melalui JKN.
  • Indah di Mata, Perlu Ditimbang di Ruang Rawat: Bunga, Tanaman, dan Hiasan Dinding dalam Kacamata Pencegahan Infeksi
    Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
  • Virus untuk Melawan Kanker: Menimbang Kisah Virolog yang Menjadi Pasien Sekaligus Peneliti
    Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
  • Ketika Kelamin Bayi Tak Sesuai “Buku Panduan”: Mengenal Differences in Sex Development
    DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Avatar TuSuda
    TuSuda

    Iya, sukses ya dengan segala tugasnya, dan semoga lekas sembuh juga…

    MAAF , baru sempat berkunjung balik.
    SALAM hangat dari Kendari… 🙂

  2. Avatar acacicu
    acacicu

    Cara menceritakan tentang ‘dia’ renyah banget mas. Pasti spesial; Dinikmati aja suara tawanya mas, biar lekas sembuh, hehe,,salam hangat;

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca