Les pèlerins au-dessus des nuages

Pak Bagus (38 tahun) dan istrinya di Banjarmasin sudah empat tahun menanti kehamilan. Setelah istrinya dinyatakan sehat, giliran Pak Bagus menjalani analisis semen. Hasilnya membuatnya terdiam: tidak ada sperma sama sekali. Kata dokter, kondisi itu disebut azoospermia. Kabar ini terdengar seperti pintu yang tertutup, padahal pada banyak pasangan masih ada jalan yang bisa ditempuh.

Azoospermia adalah keadaan ketika tidak ditemukan satu pun sperma dalam ejakulat, bahkan setelah cairan semen diputar dengan alat sentrifus dan sedimennya diperiksa di bawah mikroskop. Kondisi ini ditemukan pada sekitar 1% pria secara umum dan pada kira-kira 10–15% pria yang mengalami masalah kesuburan (AUA/ASRM, 2024). Diagnosisnya tidak boleh ditegakkan dari satu kali pemeriksaan; umumnya dibutuhkan setidaknya dua analisis semen yang dilakukan pada waktu berbeda sesuai manual laboratorium WHO edisi keenam.

Ilustrasi edukatif sistem reproduksi pria, testis, epididimis, dan saluran sperma, dengan sampel semen di bawah mikroskop untuk menggambarkan azoospermia
Ilustrasi sistem reproduksi pria dan pemeriksaan semen pada azoospermia.

Mengapa sperma bisa “hilang” dari semen?

Sperma dibuat di dalam testis, lalu matang di epididimis dan berjalan melalui vas deferens untuk bergabung dengan cairan dari vesikula seminalis dan prostat. Gangguan bisa terjadi di dua tempat besar: pabriknya (testis tidak memproduksi sperma) atau jalurnya (sperma ada, tetapi tidak bisa keluar). Dari sinilah azoospermia dibagi menjadi dua jenis.

AspekAzoospermia obstruktifAzoospermia non-obstruktif
Masalah utamaSumbatan atau saluran tidak terbentukProduksi sperma di testis sangat rendah atau tidak ada
Porsi kasusSekitar 40%Sekitar 60%
Contoh penyebabVasektomi, infeksi epididimis, tidak adanya vas deferens sejak lahir, cedera bedahSindrom Klinefelter, delesi kromosom Y, testis tidak turun, kemoterapi, gondongan pada testis
Ukuran testis dan FSHBiasanya normalSering mengecil, FSH sering meningkat
Peluang mendapat spermaSangat tinggiSekitar separuh, bergantung penyebab

Pada jenis obstruktif, infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore yang tidak diobati dapat meninggalkan jaringan parut pada epididimis. Pada jenis non-obstruktif, kelainan genetik adalah penyebab yang cukup sering ditemukan, tetapi sebagian pasien tidak menemukan sebabnya sama sekali (idiopatik).

Gejala: sering tidak ada

Sebagian besar pria dengan azoospermia merasa sehat. Libido, ereksi, dan volume ejakulat umumnya terasa normal, sehingga kondisi ini baru diketahui ketika pasangan lama belum hamil. Petunjuk yang dapat muncul antara lain testis kecil, riwayat testis tidak turun saat bayi, riwayat gondongan setelah pubertas, operasi di lipat paha, atau paparan kemoterapi dan radioterapi. Pada kelainan hormonal berat, bisa ada penurunan gairah, tubuh yang kurang berotot, dan rambut tubuh yang jarang.

Pemeriksaan yang biasanya dilakukan

Dokter akan memulai dengan wawancara riwayat reproduksi dan penyakit, lalu pemeriksaan fisik: ukuran dan konsistensi testis, ada tidaknya vas deferens, serta pembesaran pembuluh vena skrotum (varikokel). Setelah itu, pemeriksaan penunjang yang lazim mencakup analisis semen ulang (termasuk volume dan pH), hormon FSH, LH, dan testosteron, serta ultrasonografi skrotum atau transrektal bila dicurigai sumbatan. Jika dugaan mengarah ke jenis non-obstruktif, pemeriksaan kariotipe dan mikrodelesi kromosom Y direkomendasikan karena hasilnya menentukan peluang pengambilan sperma dan risiko yang diwariskan kepada anak (Transl Androl Urol, 2024). Pada pria tanpa vas deferens sejak lahir, pemeriksaan gen CFTR perlu dilakukan untuk pasangan.

Pilihan terapi

Untuk azoospermia obstruktif, ahli urologi dapat menyambung kembali saluran yang tersumbat (misalnya vasovasostomi setelah vasektomi) atau mengambil sperma langsung dari epididimis atau testis. Sperma yang diperoleh kemudian disuntikkan ke sel telur melalui prosedur intracytoplasmic sperm injection (ICSI) dalam program bayi tabung.

Untuk jenis non-obstruktif, teknik yang paling dianjurkan adalah microdissection testicular sperm extraction (micro-TESE), yaitu pengambilan sperma dengan bantuan mikroskop operasi dari bagian testis yang masih menghasilkan sperma. Peluang menemukan sperma berkisar sekitar 40–60%, lebih rendah pada delesi kromosom Y tertentu (AZFa dan AZFb lengkap) dan lebih baik pada sindrom Klinefelter atau penyebab idiopatik (Global Andrology Forum, 2025). Dokter juga dapat mempertimbangkan terapi hormonal sebelum tindakan pada kasus tertentu, tetapi bukti dan praktiknya masih bervariasi antarpusat (Global survey, 2024).

Bila sperma tidak ditemukan, pasangan masih memiliki pilihan lain, seperti sperma donor atau adopsi. Keputusan ini sangat personal dan sebaiknya dibicarakan bersama konselor dan dokter, tanpa saling menyalahkan.

Yang bisa dilakukan sekarang

Jangan berhenti pada satu hasil. Ulangi analisis semen di laboratorium yang menerapkan standar WHO, dan konsultasikan ke dokter spesialis urologi atau andrologi. Hindari rokok, alkohol berlebihan, dan paparan panas berlebih pada testis, karena kebiasaan ini turut memengaruhi kesuburan. Ingat pula bahwa kesuburan adalah urusan berdua, seperti dibahas dalam artikel tentang faktor kesuburan pria. Azoospermia bukan vonis, melainkan penanda untuk mencari penyebab dan menyusun rencana yang tepat.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Kasus pembuka bersifat fiktif.

Rujukan

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan