A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sistem operasi yang saat ini lumayan banyak menunjang dunia kedokteran yang saya lihat adalah besutan Apple, he he…, soalnya saya lebih banyak lihat teman sejawat membawa iPhone atau iPad dengan banyak sekali aplikasi medis di dalamnya. Lalu bagaimana dengan Linux, saya sendiri tidak tahu banyak. Namun yang saya tahu adanya yang namanya “Open Source Healtcare Software” yang merupakan kumpulan dari pelbagai peranti lunak guna mendukung dunia kedokteran. Mulai dari pembuatan rekam medis digital, pengelolaan rumah sakit, hingga mungkin ke pengoperasian alat-alat canggih.

Rupanya setelah saya lihat-lihat, Green Gecko memiliki sebuah repositori khusus untuk hal ini. OpenSUSE Medical Repositories adalah sentranya. Ha ha…, ternyata pasca setahun lebih menggunakannya, saya malah baru tahu, memang benar-benar gaptek di bidang teknologi.

openSUSE:Medical team

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

22 tanggapan

  1. Avatar suci gusri
    suci gusri

    ya'…mo bntuin aq gak? Pengen install EMR bwt d kompunya praktekan..tp males donlot n instal sndiri….hehehehe…

    1. Avatar Cahya

      Suci,
      Boleh saja, tapi belum pernah nyoba sendiri sih :).

  2. Avatar ocha
    ocha

    wuih! info mantep nih.. ijin menyebarkan ya kak.. 😀

    1. Avatar Cahya

      Ocha,
      Silakan, tapi saya hanya kebetulan nemu saja, belum mengaplikasikannya secara penuh. Karena masih menggunakan Windows® untuk keperluan sehari-harinya.

  3. Avatar TuSuda
    TuSuda

    Apalagi sy masih amat gaptek dengan program komputer, sementara ini hanya bisa mengikuti perkembangan yang ada saja. Terimakasih infonya ya… 😀

    1. Avatar TuSuda
      TuSuda

      BTW, maaf..OOT…selamat tahun baru 2011, semoga semakin sukses selalu.

  4. Avatar alief

    kalo aku pernah denger,dokter dari makasar -kalo gak salah-menciptakan distro untuk kedokteran yg berbasis ubuntu

    1. Avatar Cahya

      Mas Alief,
      Saya rasa saya juga pernah mendengar – antara lupa & ingat.

  5. Avatar dani

    Cahya,

    Debian yang paling banyak proyek Linux kedokterannya.

    1. Avatar Cahya

      Bli Dani,

      Tapi rasanya belum begitu familiar, maksudnya yang Debian dengan logo seperti bajunya Naruto itu ya?

      Repo-nya paling besar, makanya belum kepikiran untuk menggunakannya.

      1. Avatar dani

        Cahya,

        Pokoknya aplikasi kedokteran itu banyak berbasis Debian, dalam hal ini memang bukan merujuk ke salah satu distro berbasis Debian.

      2. Avatar Cahya

        Bli Dani,
        Saya masih alergi sama akhiran <code>.deb</code> itu 🙂 – saya sebenarnya ingin yang cukup praktis, seperti misalnya dose calculator, ICD-X (kalau diizinkan), atau sejenisnya yang bisa membantu di kamar prakter kecil, bukan sesuatu yang diimplementasikan untuk mengatur sistem tertentu di rumah sakit. Bli ada saran?

      3. Avatar Aldy

        Kayaknya ubuntu 10.10 cocok mas 😀

      4. Avatar Cahya

        Pak Aldy,
        Oh…, jangan Maverick yang itu deh :D.

      5. Avatar dani

        Cahya,

        Kalkulator medis pakai sejenis MedCalc di PDA saja. Rekam medis elektronik sederhana bisa coba yang disarankan di daftar Wiki itu, misalnya pakai openMRS yang dikembangkan Bli Winardi dkk. Distro medis Linux bisa lihat di daniiswara dot net/2010/04/medical-linux-distributions/.

      6. Avatar Cahya

        Bli Dani,
        Wah, ndak enak dong di ruang praktek pakai PDA (ngeles ndak punya Palm OS), kalau pakai monitor kecil Linux dengan touch screen kan enak (mimpi Linux masa depan) – lebih legeartis gitu kesannya.

      7. Avatar dani

        Cahya,

        Yang sejenis MedCalc bisa untuk Windows Mobile & beberapa ponsel cerdas juga kok kayaknya. Masalahnya bukan di alat, tapi komunikasi dengan pasien.

      8. Avatar Cahya

        Bli Dani,
        MedCal dan lain sebagainya kebanyakan kan tidak open source, maksudnya ada tidak open source kedokteran serupa yang bisa diaplikasikan pada touch screen?
        Sepertinya kebanyakan aplikasi di Windows Mobile, PalmOS dan sejenisnya berbayar deh untuk yang kedokteran. CMIIW.

      9. Avatar dani

        Cahya,

        Menurut saya, untuk aplikasi sejenis yang sederhana, layar sentuh hanya masalah antarmuka saja. Kebanyakan memang versi gratis, bukan 'open source'. Jika ada pengembang yang berminat mengembangkan versi 'open source', hubungi saja para dokter pembuatnya. Proyek aplikasi sejenis lainnya mungkin ada di basisdata semacam Google Code & SourceForge.

      10. Avatar Cahya

        Saya baru mencoba FreeMedForms, duh ternyata ndak ada database dari dalam negeri ya Bli :(.

      11. Avatar dani

        Saya belum coba yang itu. Database apa ya? Coba cek beberapa database di situs depkes.

      12. Avatar Cahya

        Bli Dani, database yang berisi diagnosis (ICD-X) dan peresepan obat lokal di Indonesia, memangnya depkes memiliki database seperti itu?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca