A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Aku terduduk di pinggir sebuah meja tertutup debu di antara raut batik lama yang tampak lebih lusuh daripada debu-debu di permukaannya. Sementara di kejauhan orang-orang sedang asyik menyantap kegurihan senja yang terhidang dengan menukar beberapa lembar keringat mereka, dan mungkin inilah sebentuk kepantasan di masa kini.

Seperti biasa, angin bertiup sesenja rintik yang belum hendak berhenti menyapa bumi, walau mentari telah beranjak rendah di cakrawala. Dan aku menyukai pelbagai aroma yang datang dari seberang di mana meja-meja tak tampak berdebu.

Aku tak cukup berpendidikan untuk memahami kenikmatan. Saat di sekitar banyak tangan-tangan berpasangan saling mengulur pengertian dan perhatian, aku terlarut memandangi satu dua ekor layang-layang yang hendak mencari teduh. Yah, aku menyukainya, dengan setipis uap tampak di bawah cahaya yang meredup.

Ah, ya ya…, aku hanya sebuah sepi yang sedang menikmati santap malamku. Hujan tak kunjung mereda, dan biarlah mereka menemani sebelum surut lentera ini menerangi malam yang hanya sekejap.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar