Duduk termenung di bawah atap ilalang tua, aku pun mulai melaju anganku menembus helaian udara yang sudah lama tak kasat mata itu. Seakan berpacu dengan sinar senja, sayangnya laju anganku bukan tandingannya.
Mengapa angin tak lagi menyentuh kelusuhan di atas dedaunan yang tua, dan bersembunyi di antara yang masih menunjukkan kemudaan dan keperkasaannya, untuk berdamping dengan sekuntum keindahan yang dititipkan masa lalu mereka semua.
Aku bisa merasakan napasku menyusup perlahan saat terhirup ke dalam relung kehampaan. Tercium aroma debu-debu dari tanah pengharapan yang mencoba berlomba untuk terbang menyaksikan kemegahan jingga langit senja. Ketika sinar membelah ruang di antaranya, mereka bergemerlap seakan menjadi cermin dari ego-ku yang sebenarnya tak pernah mengendap, ya…! persis, melayang seperti debu-debu itu.
Tanah tak lagi terkais oleh sinar sang mentari yang biasanya membakar hingga ke palung sukma. Namun aromanya semakin kental seakan hilangnya angin tak membuatnya luruh kembali ke pangkuan pertiwi. Apakah memburu kemegahan telah membuat rupa terlupa bahwa itu hanyalah sesuatu yang hampa.
Ya, aku termenung dan membiarkan anganku tergurat di titian senja, untuk kemudian lenyap bersama kidung malam dari setiap benih asa untuk hari esok.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Mas Darin,
Ha ha…, rasanya juga begitu, pas musim hari raya ada banyak camilan, setelah itu malah ndak bisa tidur siang karena kekenyangan 🙂 – yah duduk-duduk cari angin deh, makasih Mas :).
Tinggalkan Balasan