A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Entah mengapa saya suka melihat percik air, mungkin karena gerak air di antara relung gravitasi memiliki iramanya tersendiri. Dalam dunia fotografi sekali pun, abstraksi air yang tepercik memberikan banyak inspirasi, setidaknya begitulah yang disampaikan Dani Iswara pada saya beberapa waktu yang lalu.

Jadi saya mencoba mengambil gambar berikut tadi petang, hanya berbekal hujan dan air cucuran atap, saya mencoba menangkap wujud dari abstraksi tersebut. Kali ini speed shutter saya sesuaikan menjadi 1:500, sehingga harapan saya jika ada butir air-pun akan tetap tertangkap dalam kesekejapannya. Dan karena kondisi gelap, saya juga memerlukan bantuan lampu flash bawaan.

Percikan Air Hujan

Ah, sayang karena sudutnya kurang begitu bagus, jadinya tidak tertangkap dengan baik. Tapi inilah keisengan saya jika tidak sedang memiliki kegiatan, hanya menyembari diri menemani hujan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

10 tanggapan

  1. Handayaningrum Avatar
    Handayaningrum

    Photo aire keren 🙂
    Dalam volume yang tidak terlalu besar, suara air cukup bisa menenangkan, sebaliknya jika ia dalam volume yang besar hingga gemuruh, saya justru agak ngeri. Pernah dikeheningan, menempelkan telinga di atas pasir parangtritis, suaranya justru tak membuat damai.
    Cahy, pernah baca ini "keajaiban Air" yang diteliti oleh Dr. Masaru Emoto?.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Saya tidak membaca sampai selesai Mbak, tapi itu buku yang menarik, filosofi yang sama ada di nusantara ini sejak lama, atau mungkin sudah ada di kebudayaan Timur sejak dulu. Kalau gemuruh air terjun saya masih suka mendengarnya, asal saya tidak sedang berada di atas sampan yang sedang menuju pinggirannya :).

      Saya seumur-umur tidak pernah ke parangtritis, kalau ke pantai saya lebih senang mendengarkan suara angin Mbak.

      Suka

  2. yustha tt Avatar
    yustha tt

    berarti bisa foto hujan ya|?
    pengeeen banget bisa foto hujan…

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Bisa saja asal kameranya ndak ikut kehujanan :). Kok tumben senang dengan foto hujan?

      Suka

  3. rismaka Avatar
    rismaka

    Bagus banget mas, angle-nya pas menurut saya, walau ga pas-pas banget 😀

    Sayangnya saya hanya bermodalkan ponsel lawas untuk menyalurkan hobi fotografi, jadi tidak bisa maksimal saat mengambil gambar.

    Ada kiat khusus ga bagi pengguna kamera ponsel agar gambar yang dihasilkan bagus?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Saya rasa sebenarnya dengan kamera ponsel-pun bisa jika memang hobi, hanya saja karena saya bukan ahlinya saya tidak yakin dapat memberikan saran. Soalnya saya juga otodidak, jadinya tidak tahu apakah hasilnya bagus atau tidak.

      Suka

  4. Ning Avatar

    Love it… >.<

    Suka

  5. lukisanlangit Avatar
    lukisanlangit

    fotonya bagus. Air membawa kesegaran

    Suka

  6. ladeva Avatar
    ladeva

    Keren banget fotonya! Caranya gimana, Cahya?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Hmm…, gimana ya, cuma menyesuaikan speed shutter dan menyesuaikan fokus, tinggal jepret, begitu deh hasilnya. Kalau diminta menjelaskan saya juga tidak begitu paham, karena bukan fotografer :D.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Ning Batalkan balasan