A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Entah mengapa saya suka melihat percik air, mungkin karena gerak air di antara relung gravitasi memiliki iramanya tersendiri. Dalam dunia fotografi sekali pun, abstraksi air yang tepercik memberikan banyak inspirasi, setidaknya begitulah yang disampaikan Dani Iswara pada saya beberapa waktu yang lalu.

Jadi saya mencoba mengambil gambar berikut tadi petang, hanya berbekal hujan dan air cucuran atap, saya mencoba menangkap wujud dari abstraksi tersebut. Kali ini speed shutter saya sesuaikan menjadi 1:500, sehingga harapan saya jika ada butir air-pun akan tetap tertangkap dalam kesekejapannya. Dan karena kondisi gelap, saya juga memerlukan bantuan lampu flash bawaan.

Percikan Air Hujan

Ah, sayang karena sudutnya kurang begitu bagus, jadinya tidak tertangkap dengan baik. Tapi inilah keisengan saya jika tidak sedang memiliki kegiatan, hanya menyembari diri menemani hujan.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

10 tanggapan

  1. Avatar Handayaningrum
    Handayaningrum

    Photo aire keren 🙂
    Dalam volume yang tidak terlalu besar, suara air cukup bisa menenangkan, sebaliknya jika ia dalam volume yang besar hingga gemuruh, saya justru agak ngeri. Pernah dikeheningan, menempelkan telinga di atas pasir parangtritis, suaranya justru tak membuat damai.
    Cahy, pernah baca ini "keajaiban Air" yang diteliti oleh Dr. Masaru Emoto?.

    1. Avatar Cahya

      Saya tidak membaca sampai selesai Mbak, tapi itu buku yang menarik, filosofi yang sama ada di nusantara ini sejak lama, atau mungkin sudah ada di kebudayaan Timur sejak dulu. Kalau gemuruh air terjun saya masih suka mendengarnya, asal saya tidak sedang berada di atas sampan yang sedang menuju pinggirannya :).

      Saya seumur-umur tidak pernah ke parangtritis, kalau ke pantai saya lebih senang mendengarkan suara angin Mbak.

  2. Avatar yustha tt
    yustha tt

    berarti bisa foto hujan ya|?
    pengeeen banget bisa foto hujan…

    1. Avatar Cahya

      Bisa saja asal kameranya ndak ikut kehujanan :). Kok tumben senang dengan foto hujan?

  3. Avatar rismaka
    rismaka

    Bagus banget mas, angle-nya pas menurut saya, walau ga pas-pas banget 😀

    Sayangnya saya hanya bermodalkan ponsel lawas untuk menyalurkan hobi fotografi, jadi tidak bisa maksimal saat mengambil gambar.

    Ada kiat khusus ga bagi pengguna kamera ponsel agar gambar yang dihasilkan bagus?

    1. Avatar Cahya

      Saya rasa sebenarnya dengan kamera ponsel-pun bisa jika memang hobi, hanya saja karena saya bukan ahlinya saya tidak yakin dapat memberikan saran. Soalnya saya juga otodidak, jadinya tidak tahu apakah hasilnya bagus atau tidak.

  4. Avatar Ning

    Love it… >.<

  5. Avatar lukisanlangit
    lukisanlangit

    fotonya bagus. Air membawa kesegaran

  6. Avatar ladeva

    Keren banget fotonya! Caranya gimana, Cahya?

    1. Avatar Cahya

      Hmm…, gimana ya, cuma menyesuaikan speed shutter dan menyesuaikan fokus, tinggal jepret, begitu deh hasilnya. Kalau diminta menjelaskan saya juga tidak begitu paham, karena bukan fotografer :D.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca