Mungkin ini adalah perjalanan panjang kedua kami pasca mengunjungi Pantai Ngobaran dua tahu yang lalu. Gua Maria “Lourdes” Sendangsono adalah lokasi ziarah yang telah ada sejak awal abad ke-20, dan yang menarik juga pada lampau digunakan sebagai tempat persinggahan para bhiku dari Borodur (Magelang) saat hendak ke Boro (Kulon Progo).
Saya belum pernah menjelajahi daerah Kalibawang, di mana Sendangsono terletak. Sehingga untuk mencapainya, saya menggunakan bantuan GPS dan pemetaan yang saya siapkan sebelum. Perlu sekitar sejam dengan sepeda motor untuk mencapai lokasinya di Desa Banjaroyo dari Yogyakarta melalui jalur Godean.
Saya sangat menyukai kompleks Sendangsono yang sangat tertata rapi dan terawat kebersihannya, tentu saja dengan taman-taman yang indah. Namun lebih dari itu semua, keheningan di Sendangsono begitu menenteramkan, seakan-akan seluruh udaranya adalah bulir kesunyian. Atau mungkin karena hanya kami yang menjadi pengunjung di sana hingga siang hari.
Di sini terdapat sebuah patung Bunda Maria yang dihadiahkan Ratu Spanyol di mana peziarah dapat berdoa.
Tidak jauh di bawah, terdapat tempat mengambil air dari mata air yang berada di bawah pohon angsana, yang menjadi asal nama Sendangsono. Di dekatnya juga terdapat Jalin Salib kecil yang ditata indah dan rapi.
Terdapat sungai kecil yang jernih dan dua jembatan lengkung penyeberangan yang menghubungkan kompleks dengan jalan menujui pintu masuk. Airnya sangat jernih, beberapa pemecah arus ditata dengan tepat sehingga memberikan nuansa ketenangan yang mendalam. Di sekitar kompleks Sendangsono juga terdapat beberapa kios cenderamata, termasuk juga menyediakan penampung air bagi mereka yang ingin mengambil air dari mata air.
Berikut adalah beberapa foto kecil yang kami ambil selama berada di Sendangsono, Anda bisa melihatnya langsung di Flickr untuk ukuran yang lebih besar.
I had a great time when visiting Sendangsono, a pure charming moments of stillness, and I came with someone who has a wonderful soul.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
21 tanggapan
Titut
ahahaha aku malu deh. Maaf ya Cahya. Tidak menepati janji. Maaf ya 🙂
Kalau aku pulang, ajak aku ke sana ya. Aku malah belum pernah. Bagus ya? Ada tempat retret/penginapannya nggak?
Ah, santai saja Mbak 😀 – he he…, kapan Mbak Titut mau pulang, nanti saya malah sudah keburu tidak di Jogja lagi. Tempatnya bagus dan nyaman, buat retret rombongan dan kelompok juga sesuai, ada tempat doa bersamanya, ada juga homestay dan penginapan yang ditata rapi. Coba lihat langsung di situsnya Mbak, sendangsono.info.
Ah ya betul sekali :).
Hanya saja yg namanya sejuk krn pergi tempat ibadah or yg religi tentu beda bila dibandingkan hati yg sejuk krn pergi ke taman. Menurut saya poinnya adalah saat kita bisa menyadari betapa besar ciptaan Yang Maha Kuasa atas bumi ini.
saya juga baru 3x ke sana mas.. rencananya minggu2 ini mau ke Lawangsih.. Itu yg dari perempatan setelah kali progo kalau ke sendang sono belok kanan, ni terus lurus sampe di atas gunung mas
Mas Tomi, saya malah tidak tahu yang mana perempatan setelah Kali Progo, yang saya tahu cuma mengikuti panduan suara di earphone yang bilang, “Setelah 1 Km lagi, belok kanan” dan seterusnya :).
Lawangsih itu yang dulu disebut gowa lawa ya Mas? Kalau ke Gunung lurus sana, saya malah pernahnya ke Goa Kiskendo, tapi rasanya itu sudah nyeberang ke Jawa Tengah deh.
jadi ceritanya ini bli cahya jalan jalan terus nih?? jadi teringat saat terakir jalan jalan ke jogja dulu.pada main main mencoba menembus beringin kembar yang ada di alkid, mungkin lain kali -kalau ada kesempatan- bisa berkunjung juga ke gua maria
Ah tidak juga Mas Alief, sebagian besar waktu saya habis di rumah, he he…, rasanya malah seperti anak gedongan. Ya, saya juga pernah lewat di antara beringin Alun-Alun Kidul tersebut, dan suasananya juga sangat ramai – terutama malam hari :).
Tinggalkan Balasan