A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Mengenal Sang Musuh: Apa itu HPV?
  2. Bagaimana Vaksin HPV Bekerja?
  3. Evolusi Jenis Vaksin: Dari Bivalen hingga Nonavalen
  4. Siapa yang Harus Divaksinasi dan Kapan?
    1. 1. Anak Perempuan (Program BIAS)
    2. 2. Anak Laki-laki
    3. 3. Remaja dan Dewasa (Catch-up)
  5. Jadwal dan Dosis Terbaru
  6. Keamanan dan Mitos yang Salah Kaprah
  7. Vaksinasi Bukanlah Pengganti Skrining
  8. Penutup

Kanker serviks (leher rahim) hingga saat ini masih menjadi salah satu pembunuh utama wanita di dunia, termasuk di Indonesia. Data dari Global Cancer Observatory (Globocan) menunjukkan bahwa kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker yang paling banyak diderita wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Namun, berbeda dengan banyak jenis kanker lainnya yang penyebab pastinya sering kali misterius, kanker serviks memiliki “tersangka utama” yang sudah sangat jelas: Human Papillomavirus atau HPV.

Sumber: figo.org

Kabar baiknya, karena penyebabnya diketahui, pencegahannya pun menjadi sangat mungkin dilakukan. Jika pada satu dekade lalu vaksin HPV dianggap sebagai barang mewah yang mahal dan sulit dijangkau, kini narasinya telah berubah total. Vaksin ini telah menjadi bagian dari strategi kesehatan nasional Indonesia dan tersedia lebih luas dengan teknologi yang semakin canggih. Artikel ini akan mengupas tuntas segala hal tentang vaksin HPV, mulai dari cara kerjanya, jenis terbarunya, hingga jadwal pemberian yang direkomendasikan para ahli.

Mengenal Sang Musuh: Apa itu HPV?

Human Papillomavirus (HPV) adalah kelompok virus yang terdiri dari lebih dari 200 tipe. Virus ini sangat umum; saking umumnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan bahwa hampir setiap orang yang aktif secara seksual akan terinfeksi HPV setidaknya satu kali dalam hidup mereka jika tidak divaksinasi.

HPV menular melalui kontak kulit-ke-kulit (skin-to-skin contact) di area genital, bukan hanya melalui penetrasi seksual. Ini berarti, penggunaan kondom—meskipun sangat disarankan untuk mencegah penyakit menular seksual lainnya—tidak memberikan perlindungan 100% terhadap HPV karena virus ini bisa berada di area kulit yang tidak tertutup kondom1.

Dari ratusan tipe HPV, para ilmuwan membaginya menjadi dua kelompok besar:

  1. HPV Risiko Rendah (Low Risk): Tipe ini, seperti HPV tipe 6 dan 11, jarang menyebabkan kanker tetapi bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus kutil kelamin (genital warts) yang sangat mengganggu secara fisik dan psikologis.
  2. HPV Risiko Tinggi (High Risk): Tipe ini adalah onkogenik (penyebab kanker)2. HPV tipe 16 dan 18 adalah yang paling ganas, bertanggung jawab atas sekitar 70% kasus kanker serviks di seluruh dunia. Selain kanker serviks, tipe risiko tinggi ini juga dapat menyebabkan kanker vulva, vagina, penis, anus, serta kanker orofaring (tenggorokan bagian belakang, termasuk pangkal lidah dan amandel).

Bagaimana Vaksin HPV Bekerja?

Vaksin HPV adalah sebuah pencapaian bioteknologi yang luar biasa. Vaksin ini tidak mengandung virus hidup ataupun virus yang dimatikan, sehingga tidak mungkin menyebabkan infeksi HPV itu sendiri.

Teknologi yang digunakan disebut Virus-Like Particles (VLP)3. Para ilmuwan mengambil protein dari lapisan luar virus HPV dan membentuknya menyerupai virus asli. Ketika disuntikkan ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh kita akan “tertipu” mengira ada virus yang masuk, lalu memproduksi antibodi untuk melawannya. Pasukan antibodi ini kemudian akan bersiaga. Jika di masa depan tubuh terpapar virus HPV yang sesungguhnya, antibodi sudah siap untuk menetralisir virus tersebut sebelum sempat menginfeksi sel tubuh.

Sumber: frontiersin.org

Evolusi Jenis Vaksin: Dari Bivalen hingga Nonavalen

Dalam satu dekade terakhir, pilihan vaksin HPV telah berkembang. Di Indonesia, saat ini terdapat tiga jenis vaksin utama yang beredar, yang dikategorikan berdasarkan jumlah strain (tipe) virus yang dilawannya:

  1. Vaksin Bivalen (Cervarix): Melindungi dari 2 tipe virus (HPV 16 dan 18). Ini adalah vaksin generasi awal yang fokus utamanya adalah pencegahan kanker serviks.
  2. Vaksin Kuadrivalen (Gardasil 4): Melindungi dari 4 tipe virus (HPV 6, 11, 16, dan 18). Selain mencegah kanker serviks, vaksin ini juga melindungi dari kutil kelamin. Vaksin jenis ini juga telah mulai diproduksi di dalam negeri melalui kerja sama Bio Farma dengan nama dagang NusaGard, untuk mendukung kemandirian farmasi nasional ^3.
  3. Vaksin Nonavalen (Gardasil 9): Ini adalah standar emas terbaru yang tersedia secara global dan mulai masuk ke Indonesia. Vaksin ini melindungi dari 9 tipe virus (6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58). Penambahan 5 tipe baru (31, 33, 45, 52, 58) meningkatkan proteksi terhadap kanker serviks hingga hampir 90%, serta memberikan perlindungan lebih luas terhadap kanker vulva, vagina, dan anus.

Siapa yang Harus Divaksinasi dan Kapan?

Salah satu perubahan terbesar dibandingkan artikel tahun 2012 adalah kebijakan pemerintah Indonesia. Vaksin HPV kini bukan lagi pilihan opsional yang mahal bagi sebagian orang, tetapi telah menjadi program imunisasi wajib nasional.

1. Anak Perempuan (Program BIAS)

Kementerian Kesehatan RI telah memasukkan vaksin HPV ke dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)4.

  • Sasaran: Anak perempuan kelas 5 SD (dosis pertama) dan kelas 6 SD (dosis kedua).
  • Biaya: Gratis jika dilakukan melalui program sekolah atau Puskesmas.
  • Mengapa usia dini? Respon imun tubuh anak-anak usia 9-14 tahun jauh lebih baik dibandingkan dewasa. Pada usia ini, tubuh memproduksi antibodi dua kali lebih banyak. Selain itu, vaksinasi paling efektif diberikan sebelum anak terpapar virus (sebelum aktif secara seksual).

2. Anak Laki-laki

Apakah laki-laki perlu divaksin? Jawabannya adalah YA. Laki-laki juga bisa terinfeksi HPV dan menderita kutil kelamin, kanker penis, kanker anus, serta kanker tenggorokan. Selain itu, dengan memvaksinasi laki-laki, kita memutus rantai penularan ke perempuan (herd immunity)5.

  • Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2024 menyarankan pemberian vaksin HPV untuk anak laki-laki mulai usia 9 tahun.
  • Vaksin yang digunakan biasanya tipe Kuadrivalen atau Nonavalen (karena tipe Bivalen tidak mencakup perlindungan kutil kelamin yang sering menyerang pria).

3. Remaja dan Dewasa (Catch-up)

Bagi mereka yang sudah melewati usia SD atau orang dewasa yang belum pernah divaksin, vaksinasi masih sangat direkomendasikan:

  • Usia 15-26 tahun: Masih memberikan manfaat yang sangat besar.
  • Usia 27-45 tahun: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan FDA telah menyetujui penggunaan vaksin HPV hingga usia 45 tahun (khususnya vaksin Nonavalen). Meskipun efektivitasnya mungkin tidak setinggi jika diberikan saat anak-anak (karena kemungkinan sudah pernah terpapar beberapa tipe HPV), vaksin tetap dapat melindungi dari tipe HPV lain yang belum menginfeksi tubuh.

Jadwal dan Dosis Terbaru

Berdasarkan rekomendasi terbaru dari IDAI (2024) dan himpunan profesi penyakit dalam (PAPDI):

  • Usia 9 – 14 tahun: Cukup 2 dosis. Dosis kedua diberikan 6-12 bulan setelah dosis pertama. (Catatan: WHO bahkan mulai mempertimbangkan rekomendasi 1 dosis untuk situasi tertentu, namun pedoman nasional Indonesia saat ini masih mengutamakan 2 dosis untuk proteksi maksimal).
  • Usia $\geq$ 15 tahun (dan Dewasa): Memerlukan 3 dosis. Jadwal pemberiannya biasanya pada bulan ke-0, bulan ke-2 (atau 1), dan bulan ke-6.

Keamanan dan Mitos yang Salah Kaprah

Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2006, lebih dari ratusan juta dosis vaksin HPV telah diberikan di seluruh dunia. Data keamanan terus dipantau secara ketat.

  • Mitos Infertilitas: Tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan vaksin HPV dengan kemandulan (infertilitas) atau kegagalan ovarium prematur. Justru, vaksin ini melindungi wanita dari kanker serviks dan prosedur pengobatannya (seperti kemoterapi atau histerektomi) yang jelas-jelas dapat menyebabkan kemandulan permanen.
  • Efek Samping: Efek samping yang muncul umumnya ringan dan bersifat lokal, seperti nyeri atau bengkak di bekas suntikan, demam ringan, atau pusing. Reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi.
  • Mitos “Seks Bebas”: Studi menunjukkan bahwa menerima vaksin HPV tidak mendorong remaja untuk melakukan aktivitas seksual lebih dini. Vaksinasi adalah tindakan pencegahan kesehatan, sama seperti mengenakan sabuk pengaman di mobil.

Vaksinasi Bukanlah Pengganti Skrining

Penting untuk diingat bahwa meskipun vaksin HPV sangat efektif, ia tidak melindungi dari seluruh tipe HPV penyebab kanker (masih ada sekitar 10-30% kasus kanker serviks disebabkan oleh tipe HPV lain yang mungkin tidak tercover oleh vaksin, terutama vaksin generasi lama).

Oleh karena itu, wanita yang sudah divaksinasi tetap harus melakukan skrining rutin kanker serviks. Metode skrining yang tersedia meliputi:

  1. Pap Smear: Memeriksa perubahan sel pada leher rahim.
  2. Tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat): Metode sederhana dan murah yang tersedia di Puskesmas.
  3. Tes DNA HPV: Teknologi terbaru yang lebih sensitif mendeteksi keberadaan materi genetik virus HPV bahkan sebelum sel berubah menjadi kanker.

Penutup

Vaksin HPV adalah salah satu investasi kesehatan terbaik yang bisa kita berikan untuk diri sendiri dan anak-anak kita. Dengan adanya program pemerintah yang menggratiskan vaksin ini untuk anak sekolah dasar, serta tersedianya opsi vaksin canggih (Nonavalen) dan produksi dalam negeri (NusaGard), jalan menuju Indonesia bebas kanker serviks semakin terbuka lebar. Jangan ragu untuk melengkapi imunisasi ini demi masa depan yang lebih sehat.


Catatan Kaki & Glosarium:

  1. HPV (Human Papillomavirus): Virus yang menginfeksi kulit dan selaput lendir manusia; penyebab utama kutil kelamin dan kanker serviks. ↩︎
  2. Onkogenik: Sifat suatu agen (seperti virus) yang dapat menyebabkan pembentukan tumor atau kanker. ↩︎
  3. VLP (Virus-Like Particles): Partikel yang menyerupai struktur luar virus tetapi tidak mengandung materi genetik virus, sehingga aman dan tidak infeksius. ↩︎
  4. BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah): Program imunisasi rutin nasional dari Kementerian Kesehatan RI yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. ↩︎
  5. Herd Immunity (Kekebalan Kelompok): Kondisi ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular, sehingga memberikan perlindungan tidak langsung bagi mereka yang tidak kebal. ↩︎

Referensi:

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2024). Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI Tahun 2024.
  • Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). (2023). Jadwal Imunisasi Dewasa Rekomendasi Satgas Imunisasi PAPDI.
  • World Health Organization (WHO). (2024). Human Papillomavirus (HPV) and Cervical Cancer Fact Sheet.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). HPV Vaccination Recommendations.

Disclaimer: Tulisan ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Artikel ini tidak menggantikan saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Selalu konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan ahli untuk kebutuhan medis spesifik Anda.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. honeylizious Avatar

    wah harus minta suntik nihhhhhhhh *eh

    Suka

    1. Cahya Avatar

      He he…, kalau minta nanti ndak ada klinik yang mau memberikan :lol:.

      Suka

Tinggalkan komentar