A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Acara saresehan semalam yang membahasa masalah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di salah satu stasiun televisi swasta tampaknya tidak memberikan jawaban apapun. Masing-masing pihak tetap pada pandangannya. Apalagi jika ditanyakan pada saya, yang dalam catatan bukanlah seorang pemikir, maka saya lebih tidak memiliki solusi apa-apa.

Karena bagi saya sederhana, fungsi negara adalah “melindungi segenap tumpah darah Indonesia“. Jika fungsi penggerak panji negara kita tidak memahami hal ini, maka sudah habislah negara ini. Negara ini akan menjadi sebuah kapal besar yang karam.

Minyak kelihatannya adalah hal yang sederhana, negara kita adalah penghasil minyak, namun selalu punya masalah akan kebutuhan minyak. Dan karena minyak bumi telah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat yang tak terpisahkan, sehingga jika timbul masalah – maka yang terancam adalah masyarakat sebelum negara pada akhirnya.

Saya tidak paham, tampaknya pemerintah melihat – meskipun harga BBM dinaikan, masyarakat kita masih mampu membelinya. Ya, mungkin itu memang benar, tapi seberapa mampu?

Para buruh baru saja berdemo di banyak tempat menuntut kesejahteraan yang lebih baik, karena yang mereka dapatkan sekarang masih kurang untuk kondisi ekonomi saat ini. Apalagi jika nanti ada kenaikan harga BBM – itu pun akan jadi di luar bayangan saya.

Apa masyarakat yang diam berarti setuju bahwa itu tidak memberatkan mereka? Saya rasa itu bisa jadi karena rakyat memang setuju, namun juga bisa jadi kerena mereka tahu bahwa jika pun mereka bersuara – rasanya yang dikatakan kebijakan oleh si pengambil kebijakan tidak akan berubah – dalam artian suara rakyat bukan lagi suara negara. Dan saya rasa dalam hal ini, yang pertama bukanlah kondisi riil bangsa ini.

Yang sanggup membeli BBM saat ini bukan berarti sudah makmur. Saya melihat, ada keluarga yang memiliki sepeda motor, meski mungkin membeli bekas, tapi itu memang sepeda motor. Mereka bisa membeli BBM, namun tidak jarang menunggak/berhutang saat membeli beras. Karena beras bisa dihutang, sementara BBM di SPBU tentu saja tidak bisa. Kendaraan diperlukan untuk mencari nafkah, sementara ya perut masih bisa dinegosiasikan asal dapur masih tetap bisa mengepul walau dengan asap yang tipis.

Saya rasa ada banyak kondisi seperti ini di luar sana, bahkan mungkin dengan gambaran yang lebih buruk. Dan tentu saja krisis selanjutnya yang mungkin datang, karena dampaknya tidak hanya dalam sebuah sektoral tunggal, namun dimensi yang jamak pada setiap sisi kehidupan.

Tidakkah nanti angka putus sekolah bertambah, tidakkah nanti beban akses kesehatan bertambah? Meski saya bukan ahli, pertanyaan dengan kata “tidakkah” itu akan selalu terngiang.

Rakyat memerlukan secercah cahaya yang menerangkan dan membangkitkan, guyuran hujan yang menyegarkan dan menghidupkan, sehingga kesempatan membangun bangsa majemuk nan sejahtera itu dapat terwujud. Rakyat bukan suatu objek yang menjadi beban bagi negara, dan seorang negarawan selayaknya berpandangan dan mencari solusi nyata bagaimana mengayomi rakyat menuju pintu kehidupan yang lebih baik.

Sebelum pikiran saya bertambah ruwet dengan semua itu, saya pun membiarkan diri saya mendengarkan lantunan “Give Me Some Sunshine” oleh Boman Irani – pemeran Viru Sahastrabudhhe (Virus) dalam film 3 Idiots.

Jika rakyat ingin menyanyi, saya rasa lagu-lagunya akan memiliki jiwa yang sama, mengharapkan sedikit kemerdekaan dari tekanan hidup yang ada saat ini.

Artikel Baru Terbit

  • Kaki Gajah yang Tak Sekadar Bengkak: Mengurai Filariasis Limfatik dari Cacing hingga Perawatan Diri
    Filariasis limfatik atau kaki gajah bukan sekadar bengkak biasa, melainkan hasil kerusakan sistem getah bening bertahun-tahun akibat cacing yang ditularkan nyamuk. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis, manajemen limfedema tujuh tahap, dan tantangan unik Indonesia sebagai satu-satunya negara dengan tiga spesies cacing filaria sekaligus.
  • Debu, Bor, dan Bangsal Pasien: Mengelola Risiko Infeksi Selama Konstruksi Rumah Sakit
    Setiap kali rumah sakit direnovasi, debu konstruksi membawa risiko infeksi jamur yang bisa mengancam nyawa pasien imunokompromais. Artikel ini mengulas metode ICRA—dari matriks klasik hingga pembaruan ASHE ICRA 2.0—bukti ilmiah di balik aspergilosis terkait konstruksi, kedudukannya dalam regulasi Indonesia, serta praktik terbaik yang seharusnya diterapkan setiap fasilitas kesehatan.
  • Kenapa Pindah ke Linux Terasa Sulit di Awal? (dan Siapa yang Justru Cepat Beradaptasi)
    Perpindahan ke Linux sering kali menimbulkan “kejutan budaya” bagi pengguna baru yang terbiasa dengan Windows atau macOS. Tantangan meliputi manajemen paket yang asing, ketersediaan software, masalah driver, penggunaan command line, dan pilihan distro. Adaptasi lebih mudah bagi developer, power user, dan gamer, sementara pengguna awam mungkin kesulitan. Kesiapan mental dan pemilihan distro yang tepat sangat penting untuk transisi yang baik.
  • Ketika Amarah Pasien Berubah Jadi Ruang Belajar: Menata Keluhan sebagai Bagian dari Mutu Layanan Kesehatan
    Keluhan pasien bukan ancaman, melainkan peluang mutu. Artikel ini mengulas asal-usul kerangka L.E.A.S.T dan L.A.T.T.E dari ilmu manajemen jasa, bukti bahwa pelatihan komunikasi saja tak cukup mengatasi hambatan sistemik dan burnout staf, serta bagaimana hak mengadu pasien dalam UU 17/2023 perlu diimbangi sistem pendukung di faskes Indonesia.
  • Apakah Rumah Sakit Wajib Melakukan Penetration Test? Menelusuri Dasar Hukumnya
    Tidak ada pasal tunggal yang mewajibkan pentest bagi rumah sakit di Indonesia — tetapi UU PDP, kategorisasi risiko sistem elektronik, status Infrastruktur Informasi Vital, dan ekspektasi akreditasi bersama-sama menciptakan kewajiban de facto yang sulit dihindari. Artikel ini memetakan empat jalur regulasi tersebut dan memberi rekomendasi realistis sesuai skala fasilitas.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

13 tanggapan

  1. Avatar die

    seharusnya BBM naik, ndak rasional mampu beli kendaraan tapi tidak mampu membiayainya termasuk beli bbm.  Cuma para pejabat dan orang kaya jangan ban***t, jika harus menggunakan pertamax ya gunakan pertamax, biarkan masyarakat luas menggunakan premium yang lebih murah.

    1. Avatar Cahya

      Pak Aldy, saya setuju tentu saja, tapi pajak kendaraan kita juga ndak masuk akal (murahnya), orang bisa beli motor dan mobil dengan pajak yang murah, sehingga semuanya berserakan di jalanan yang padat.

  2. Avatar Alif

    Saya sudah tidak begitu ambil pusing akan masalah minyak ini bli. Karena semakin dipikir, rasanya akan semakin aneh saja negeri ini. Negeri yang “katanya” kaya, tapi selalu kekurangan. Negeri yang katanya subur tapi tidak memakmurkan.

    jadi ya kalau minyak naik lagi, kalau ada uang dan barang yay dibeli, kalau gak ada ya jalan kaki.mungkin seperti itu bli, karena toh, sepertinya pengemban kekuasaan kita sudah buta dan tuli.

    1. Avatar Cahya

      Bukan Mas Alief saja kok yang berpikiran seperti itu.

  3. Avatar Nandini
    Nandini

    menentukan sebuah kebijakan untuk rakyat Indonesia memang tidak mudah, apalagi jarak kesejahteraan antara lapisan atas dan bawah sangat panjang.. di satu sisi ada orang yang harus setengah mati mencari seribu duaribu rupiah untuk nasi dan garam, di sisi lain ada yang pusing karena kebanyakan uang.. saya rasa memanglah ketidakadilan adalah akar dari segala permasalahan di negeri ini 🙁

    1. Avatar Cahya

      Nandini, kita sudah menjadi bagian dari roda raksasa yang menggilas nilai kemanusiaan di negeri ini, saat hendak membantu pun tidak ada banyak yang bisa kita kerjakan.

      1. Avatar Nandini
        Nandini

        pun ketika berusaha bersuara lewat apa yang ada. semua hanya membuat kita tapak seperti Barisan Sakit Hati 🙁

  4. Avatar ladeva
    ladeva

    Mempunyai telinga tapi tidak mau mendengar. Mempunyai mata tapi tidak mau melihat. Mempunyai hati tapi tak mau mengikuti suaranya. Mempunyai kuasa tapi tertahan oleh berbagai kepentingan. Sekuasa apa pun jika dikendalikan oleh kepentingan maka sama saja dengan tidak merdeka. 🙁

    1. Avatar Cahya

      He he… Deva, ayo dong, semalam itu sebenarnya pingin dengar kamu bersuara :).

      1. Avatar ladeva
        ladeva

        Bahkan semalam untuk nyanyi aja suaraku dilarang keluar sama teman-teman. Untung mereka gak bekam mulutku hehehe…

      2. Avatar Cahya

        Walah, paling kamu susah disuap pakai roti boy :p.

        Tapi iya, kok suara generasi muda malah ndak banyak ya, kecuali tepuk tangan saja.

      3. Avatar ladeva
        ladeva

        Pertanyaan bagus. Di akhir acara, para mahasiswa teriak kenceng banget (seriously) untuk minta dikasih waktu 1 menit untuk bicara. Yudi Kristiadi (kalo ndak salah politikus Golkar) dah bilang ke Kania (MC-nya) untuk kasih waktu ke mahasiswa ngomong tapi gak ditanggapin. Justru ditutup sama Direktur acara itu untuk nyanyi lagu kebangsaan. Nah, selesai nyanyi, beberapa mahasiswa tetap teriak minta waktu tapi akhirnya dikasih jawaban sama Kania yang bilang kalo mahasiswa akan dikasih waktu bicara di acara bulan depan tapi gak sekarang karena durasi dah abis. Nah, ketika semua udah pulang, ada beberapa mahasiswa (sepenglihatanku) yang bilang ke tim acara untuk lain kali dikasih waktu ngomong. Gitulah kurang lebih…
        Di bulan lalu, kalo ndak salah, ada kok mahasiswa yang ngomong. Tapi aku rasa karena memang durasi. Lah wong, tumben banget semalam iklannya cuma 2-3 kali. Pegel duduknya :p

      4. Avatar Cahya

        Yah, kalau masalah waktu memang tidak bisa diapakan lagi.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca