A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

OpenSUSE yang saya gunakan memberikan banyak sekali kemudahan dan fitur yang tidak mungkin bisa dengan mudah didapatkan pada Windows. Namun kadang kemudahan itu bagaikan pisau bermata dua, berbahaya sekali. Beberapa hari ini, sebagaimana saya menulis sebelumnya bahwa jaringan Smartfren saya agak melambat setengahnya ketika di Jogja.

Saya mengira, jangan-jangan ada yang meretas ke dalam jaringan WiFi saya. Karena jika di rumah, jaringan biasanya saya buka begitu saja. Namun di sini akhirnya saya tambahkan kunci keamanan, meski pun dengan teman-teman kost saya bagi. Toh saya tidak begitu memerlukannya jika tidak sedang mengunduh atau memperbarui sistem.

Memang melambat jika digunakan beberapa orang sekaligus, namun ternyata ketika saya mengecek ke status router yang saya gunakan. Tidak ada pengguna lain lagi, tapi mengapa juga melambat? Diretaskah? Mungkin sih, tapi kemungkinan itu kecil.

Lalu saya membaca di forum IGOS Nusantara tentang melakukan cracking ke dalam sistem keamanan WiFi berbasis WEP atau WPA/WPA2. Saya jarang mendengar hal ini, karena biasanya pilihan untuk meretas akan menggunakan distro Linux yang memang lebih didesain untuk ini, misalnya BackTrack yang sudah cukup dikenal.

Saya berpikir, jika bisa diterapkan di distro standar turunan Fedora tersebut, mungkin di Ubuntu atau openSUSE akan bisa digunakan. Saya rasa memiliki sedikit waktu untuk mencobanya, mungkin tidak sampai selesai, karena biasanya memerlukan waktu puluhan menit hingga jam-an untuk meretas ke dalam sistem keamanan router WiFi.

Untuk openSUSE, saya menemukan dua pilihan aplikasi yang cukup populer, yaitu AirCrack-Ng dan Reaver. Kebetulan keduanya tersedia untuk edisi Tumbleweed yang saya gunakan.

Saya biasanya tidak suka aktivitas semacam ini, namun ada sesuatu yang membuat saya penasaran (karena alasan di muka tadi). Saya pun mengutak-atik beberapa perintah melalui jendela terminal, anggap saja saya memilih Reaver (namun rasanya keduanya tidak berbeda).

Melacak kode BSSID melalui Reaver
Melacak kode BSSID melalui Reaver | openSUSE Tumbleweed.

Hasilnya, saya hanya memerlukan beberapa menit untuk meretas masuk ke dalam sistem keamanan WiFi, dan saya pun bisa menyambungkan diri dengan jaringan WiFi yang tadinya (anggap) saya tidak ketahui kunci masuknya. Saya pun berpikir, berarti jika memang ada pelakunya, jaringan WiFi saya yang terkunci ini bisa diretas siapa pun dengan cepat.

Ah, ternyata kadang satu lapisan keamanan saja tidak cukup.

Namun sebelum melangkah lebih jauh, saya tidak bermaksud memberikan tutorial tentang bagaimana meretas (hack/crack-ing) sistem keamanan WEP/WPA/WPA2 jaringan WiFi. Saya tidak memiliki kompetensi di bidang yang satu ini. Jika Anda ingin belajar tentang ini, silakan temukan sumber lain.

Apa yang saya dapatkan di sini adalah, ada metode yang memang dapat menembus jaringan keamanan yang saya terapkan – dan ternyata dengan menggunakan Linux itu tidak mudah. Bahkan yang tidak pernah menyentuh hal-hal semacam ini seperti saya pun bisa melakukannya. Namun yang lebih penting adalah, ada cara-cara untuk meningkatkan keamanan lebih baik lagi.

Saya dulu tidak pernah mempertimbangkan menambahkan sawar alamat MAC pada sistem keamanan, karena rasanya begitu repot. Namun sekarang mungkin saya perlu mempertimbangkan ulang pendapat saya ini, karena terbukti bisa menjadi batu sandungan.

Apa ada di antara kalian yang pernah mencoba menembus sawar alamat MAC? Kecuali jangan bilang alamat MAC-nya sudah didaftarkan lebih awal, he he…, kalau itu sih beda lagi. Semoga kali ini bisa lebih aman. Jika ada yang pernah punya pengalaman diretas sistem keamanannya, bisa berbagi pengalaman melalui borang komentar di bawah.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

6 tanggapan

  1. Avatar gadgetboi

    susah banget menginstall reaver di linux mint/ubuntu karena tidak disertakan secara default di lumbung mereka. pas mau install dengan cara source code eh katanya ketinggalan satu depedency. padahal saya sudah menyertakan semua kok. aneh memang

    1. Avatar Cahya

      Ubuntu tidak dibangun untuk meretas jaringan mungkin, he he…, ndak apa-apa Mas, biar ndak kegatelan tangannya.
      Saya saja sekarang sudah melupakan ilmu ini. Ndak ingin membawanya lagi :).

  2. Avatar gadgetboi
    gadgetboi

    satu-satunya wifi yang laptop saya dapat itu juga dari hasil teethering hape wekekek … *sedih*

    1. Avatar Cahya

      Ha ha…, sudah bagus bisa bikin hotspot sendiri Mas. Ketahuan tuh pingin numpang hotspot milik tetangga.

      Kemarin saya duduk makan di Jalan Kaliurang di Jogja, dan luar biasa, ada belasan hotspot berseliweran, tapi buat apa toh kalau ndak bisa digunakan :D.

  3. Avatar agung
    agung

    Pengalaman saya dulu adalah TMAC address di windows utk kloning IP, ya utk mendpatkan alamat MAC ada tools dengan mudah. Mengenai AirCrack-NGg pernah coba dgn Ubuntu tapi ndak berhasil menembus jaringan WiFi di kantor dulu (masih ‘cupu’) :).

    1. Avatar Cahya

      Ah ya, saya pernah dengar kalau kita bisa membuat router membaca alamat MAC kita sebagai alamat yang diizinkan.

      Kalau di Windows dulu ada Nettools, cuma ndak pernah nyoba sih. He he…, takut keasyikan nanti.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca