Pernahkah Anda ketika seseorang menawarkan, “Anda bisa bekerja di sini, silakan sebutkan harga Anda (bayaran yang dikehendaki)“. Ya, penawaran seperti tampak menggiurkan. Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan penawaran seperti itu. Sayangnya, saya hanya bisa tersenyum saja – itu bukan tawaran yang bisa saya terima.
Saya mesti katakan, kehidupan itu sepertinya agak aneh. Ada banyak orang yang sekolah tinggi, mati-matian mencari kerja, akhirnya hidup tidak layak. Ada yang bahkan tidak berkesempatan untuk menempuh pendidikan secara layak; pun mungkin saya tidak akan menaruh simpati berlebihan pada mereka yang menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, atau memperkaya diri mereka dengan pengetahuan, keterampilan, keahlian serta kebijaksanaan.
Saya kira dunia kerja memiliki sesuatu yang bisa menarik setiap orang ke dalamnya, gengsi untuk pekerjaan yang dinilai berkelas, pendapatan yang tinggi, kemampuan menunjukkan jati diri, dan banyak hal lainnya. Jika ini yang dikejar, maka konsep “name your price” akan menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan mengingat padatnya kompetisi/persaingan dunia kerja yang mencari ahli-ahli di bidangnya.
Jika Anda memiliki cukup keahlian, maka saya rasa wajar Anda layak bahkan mungkin harus mengajukan nilai kerja Anda. Di mana kompetisi menjadi aroma sehari-hari, Anda harus bisa menunjukkan bahwa Anda memiliki kompetensi yang mewakili nilai yang Anda tawarkan pada dunia kerja.
Hanya saja bagi saya, kadang semua yang menggiurkan itu tidak lebih menarik daripada kehidupan yang tenang tanpa harus terlibat dalam hiruk pikuknya persaingan bisnis. Lagi pula profesi yang saya jalani bukanlah sesuatu yang business-minded, sehingga pada satu sisi saya sangat berharap sebuah profesionalitas yang totalitas, tanpa campur tangan unsur bisnis. Untuk yang satu ini, saya tidak ingin terlibat dengan sesuatu yang berkata, “sebutkan berapa yang Anda inginkan.”
Hanya saja, dunia kesehatan itu adalah bisnis yang menarik. Bahkan saking menariknya, banyak orang memanfaatkannya untuk meraup keuntungan yang tidak sedikit. Ini adalah hal yang sudah menjadi pemandangan umum di dunia modern.
Karena mungkin tanpa kapitasi yang besar, maka layanan kesehatan prima tidak akan bisa terwujud. Kesuksesan penciptaan kesehatan yang merata saat ini sebagian besar tergantung pada sumber daya yang memang tidak bisa dijangkau tanpa fasilitas yang memadai. Dan tampaknya yang sanggup membangun fasilitas yang lebih baik saat ini adalah sektor swasta yang meraup kapitasinya dari masyarakat lokal, sementara sektor pemerintah tertatih-tatih untuk tampak lebih baik dengan segala daya sementara kapitasinya sendiri tidak pernah menjadi suatu totalitas dari kebijakan pemerintah.
Ini terkadang menjadi dilema bagi saya. Di satu sisi, jika saya bekerja bersama pemerintah, maka saya tidak bisa melakukan totalitas, pengabdian itu hanya ala kadarnya dalam keterbatasan yang di beberapa sisinya begitu menyedihkan dan memprihatinkan. Jika saya bekerja bersama swasta, maka pengumpulan kapitasi dan profit yang memberatkan masyarakat akan menjadi tantangan moral tersendiri.
Untuk saat ini, saya masih punya harapan pada negeri ini. Namun jika orang-orang pengatur kebijakan masih buta pada rakyat dan hanya mengeruk keuntungan pribadi sehingga kesehatan di negeri ini menjadi amburadul, maka suatu saat mungkin saya akan memilih metode “name your price“.


Tinggalkan komentar