A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pernahkah Anda ketika seseorang menawarkan, “Anda bisa bekerja di sini, silakan sebutkan harga Anda (bayaran yang dikehendaki)“. Ya, penawaran seperti tampak menggiurkan. Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan penawaran seperti itu. Sayangnya, saya hanya bisa tersenyum saja – itu bukan tawaran yang bisa saya terima.

Saya mesti katakan, kehidupan itu sepertinya agak aneh. Ada banyak orang yang sekolah tinggi, mati-matian mencari kerja, akhirnya hidup tidak layak. Ada yang bahkan tidak berkesempatan untuk menempuh pendidikan secara layak; pun mungkin saya tidak akan menaruh simpati berlebihan pada mereka yang menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, atau memperkaya diri mereka dengan pengetahuan, keterampilan, keahlian serta kebijaksanaan.

Saya kira dunia kerja memiliki sesuatu yang bisa menarik setiap orang ke dalamnya, gengsi untuk pekerjaan yang dinilai berkelas, pendapatan yang tinggi, kemampuan menunjukkan jati diri, dan banyak hal lainnya. Jika ini yang dikejar, maka konsep “name your price” akan menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan mengingat padatnya kompetisi/persaingan dunia kerja yang mencari ahli-ahli di bidangnya.

Jika Anda memiliki cukup keahlian, maka saya rasa wajar Anda layak bahkan mungkin harus mengajukan nilai kerja Anda. Di mana kompetisi menjadi aroma sehari-hari, Anda harus bisa menunjukkan bahwa Anda memiliki kompetensi yang mewakili nilai yang Anda tawarkan pada dunia kerja.

“The only place where success comes before work is in the dictionary.”

Hanya saja bagi saya, kadang semua yang menggiurkan itu tidak lebih menarik daripada kehidupan yang tenang tanpa harus terlibat dalam hiruk pikuknya persaingan bisnis. Lagi pula profesi yang saya jalani bukanlah sesuatu yang business-minded, sehingga pada satu sisi saya sangat berharap sebuah profesionalitas yang totalitas, tanpa campur tangan unsur bisnis. Untuk yang satu ini, saya tidak ingin terlibat dengan sesuatu yang berkata, “sebutkan berapa yang Anda inginkan.”

Hanya saja, dunia kesehatan itu adalah bisnis yang menarik. Bahkan saking menariknya, banyak orang memanfaatkannya untuk meraup keuntungan yang tidak sedikit. Ini adalah hal yang sudah menjadi pemandangan umum di dunia modern.

Karena mungkin tanpa kapitasi yang besar, maka layanan kesehatan prima tidak akan bisa terwujud. Kesuksesan penciptaan kesehatan yang merata saat ini sebagian besar tergantung pada sumber daya yang memang tidak bisa dijangkau tanpa fasilitas yang memadai. Dan tampaknya yang sanggup membangun fasilitas yang lebih baik saat ini adalah sektor swasta yang meraup kapitasinya dari masyarakat lokal, sementara sektor pemerintah tertatih-tatih untuk tampak lebih baik dengan segala daya sementara kapitasinya sendiri tidak pernah menjadi suatu totalitas dari kebijakan pemerintah.

Ini terkadang menjadi dilema bagi saya. Di satu sisi, jika saya bekerja bersama pemerintah, maka saya tidak bisa melakukan totalitas, pengabdian itu hanya ala kadarnya dalam keterbatasan yang di beberapa sisinya begitu menyedihkan dan memprihatinkan. Jika saya bekerja bersama swasta, maka pengumpulan kapitasi dan profit yang memberatkan masyarakat akan menjadi tantangan moral tersendiri.

Untuk saat ini, saya masih punya harapan pada negeri ini. Namun jika orang-orang pengatur kebijakan masih buta pada rakyat dan hanya mengeruk keuntungan pribadi sehingga kesehatan di negeri ini menjadi amburadul, maka suatu saat mungkin saya akan memilih metode “name your price“.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

10 tanggapan

  1. Avatar Applausr
    Applausr

    Ternyata jadi dokter saja masih punya masalah mengenai idealisme juga ya… harus kembali ke suara hati.

    1. Avatar Cahya

      Iya Mas, mumpung hati belum karatan, maka mesti rajin-rajin digunakan untuk bercermin. Semoga dengan rajin merefleksikan diri sendiri, bisa menjadi lebih mawas dalam menghadapi situasi seperti ini.

  2. Avatar jpmrblood

    Saya sendiri percaya idealisme itu dari diri sendiri dan Tuhan akan menuntun kita kepada suatu jalan supaya kita bisa menerapkannya. Atau kalau dijelaskan secara agnostik, dibutuhkan proses untuk sebuah idealisme bisa dihargai di dalam lingkungan kerja. Hal ini karena idealisme itu membutuhkan lingkungan pengaruh kita agar bisa mempengaruhi rekan kerja atas visi kita.

    Jadi, menurut saya di pemerintahan atau pun di swasta akan sama saja selama visi kita kuat. Semangat!

    1. Avatar Cahya

      Perang visi adalah sesuatu yang memang layak dilakukan, karena pertaruhan tidak hanya sekadar memengaruhi apa yang ada di sekitar kita, namun juga masyarakat luas.
      Apalagi selalu ada orang-orang yang berbicara visi yang bagus dengan adanya “udang di balik kode”, ujung-ujungnya para pelaksana di lapangan yang menjadi kelimpungan ketika penjabaran visi justru mengarah terbalik dari yang diharapkan untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik.

      1. Avatar jpmrblood

        Hmm… sebagai sesama idealis, biasanya orang bisa mengenali satu sama lain. Masalah udang di balik batu itu saya pikir dapat tercermin dari integritas hidup seseorang. Kadang juga melihat track record dia.

        Biasanya, orang-orang oportunis mendapatkan pencerahan langsung dan maunya cepat.

      2. Avatar Cahya

        Dan pada akhirnya kembali pada integritas kita :).

  3. Avatar indobrad (kopimana.com)
    indobrad (kopimana.com)

    gapapa kok mau pasang harga. asalkan tetap berempati dengan yg tidak mampu. banyak kok dokter yg begitu, dan saya salut tuh 🙂

    1. Avatar Cahya

      Sepertinya dalam banyak hal memang itu solusi tercepat, sehingga “balance” keterjangkauan pengobatan bisa dicapai. Hanya saja selama masih bisa dicapai solusi yang lebih baik, mungkin sebaiknya metode “robin hood” dihindari.

  4. Avatar gadgetboi

    entah kenapa tulisan ini mengingatkan saya dengan calon dokter di UI yang ketemu di Cipto, Dengan sedikit kesal kedua calon dokter tersebut berucap “mau gimana lagi … kita memang di didik untuk tidak peduli ..” … Belum apa-apa calon dokter tersebut sudah frustrasi dengan keadaan dilapangan. bekerja dengan pemerintah memang serba kekurangan (sebenarnya kalau tidak dikorupsi sih tidak akan separah ini “(-_-) ) dan seringkali dipaksa untuk mengikis kepedulian dan dedikasi dalam diri …

    yang mederita lagi-lagi rakyat kecil yang (hanya) menginginkan akses kesehatan yang layak dan terjangkau. kalau fasilitas pemerintah itu “ya .. gitu deh” tapi kalau di swasta yang (biasanya) memang prima pelayanannya namun harganya juga “prima” 😀 .

    Sama dengan bli, saya masih memiliki harapan akan ada perubahan untuk pelayanan kesehatan … semoga perubahannya tidak lama lagi

    1. Avatar Cahya

      Saya rasa ada banyak generasi muda yang bersedia membenahi negeri ini dalam pelbagai bidang keahlian mereka. Hanya saja juga tidak sedikit yang sekadar ingin untung dan hidup enak dengan menyusahkan rakyat banyak. Mau bagaimana lagi.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca