Beberapa waktu belakangan ini, saya benar-benar dipusingkan dengan masalah akreditas rumah sakit. Semua rumah sakit wajib akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan, jika tidak akan sulit mendapatkan izin, dan tentunya syarat akreditasi semakin lama semakin bertambah. Akreditasi memang ditujukan bagi penerapan pelbagai standar minimal yang ada di rumah sakit sehingga pelayanan rumah sakit memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pasien dan pengunjung.
Permasalahannya adalah akreditasi itu luar biasa mahal, bahkan menurut saya cukup mahal bagi rumah sakit yang selama ini belum memikirkan ke arah standar pelayanan. Biasanya rumah sakit berfokus pada asal mampu melayani pasien, kekurangan sumber daya manusia, kekurangan alat, ada begitu banyak kita lihat di rumah sakit-rumah sakit seluruh nusantara; terutama rumah sakit yang kecil. Rumah sakit di daerah pinggiran yang berfokus pada pelayanan dengan banyak keterbatasan akan sulit mendapatkan modal guna memenuhi banyak standar yang ada di dalam standar akreditasi dalam waktu segera.
Sehingga jika dituntut segera, maka ada kemungkinan rumah sakit akan menutup kegiatannya dan beralih menjadi sesuatu yang lain, seperti klinik misalnya, yang mana standar yang harus dipenuhi relatif lebih rendah.
Belum lagi sumber daya yang mengerjakan akreditasi rumah sakit tidak bisa sembarangan. Adopsi sistem akreditasi ternyata tidak sepenuhnya bisa dipamahi oleh banyak tenaga kesehatan di Indonesia, persepsi tentang bagaimana standar baku dalam akreditasi rumah sakit dapat bermacam-macam. Saya mengalami, kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi saat memperkenalkan akreditasi kepada pada tenaga kesehatan, dan membuat mereka dapat berpartisipasi dalam menyusun sebuah standar yang bisa diterapkan di rumah sakit tidaklah mudah.
Tapi saya percaya, walau pun dengan perlahan-lahan, selama kita tidak bergerak mundur, akreditasi rumah sakit dapat diwujudkan bersama-sama.
Artikel ini membahas simulasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) pada proses penandaan lokasi operasi dan time-out di ruang operasi. Ditemukan kelemahan dalam metodologi RPN, di mana dua skenario dengan skor berbeda dapat memberikan angka RPN yang sama. Penekanan perlu diberikan pada kegagalan dengan severitas tinggi meski RPNnya rendah.
Apa satu barang milik Anda yang sangat bernilai sentimental? There is a small, chipped ceramic turtle that has sat on my desk for as long as I can remember. Its shell is a faded, unnatural green, and one of its tiny legs broke off before I even knew how to speak. I have moved house… Read more: The Kite String of Memory
Yosef datang malam-malam membawa seekor kakap merah dan kabar bahwa ia berhenti sekolah. Raka belum mau menerima kabar itu, dan bapa Yosef menantangnya ikut melaut satu malam.
Sebuah film kaca setipis kulit bawang dibaca selapis demi selapis, dan tulisan di dalamnya ternyata memakai tanda yang Kaelen kenal sejak kecil. Di Catacomb Markets, seorang penjaga menjelaskan arti sebuah nama yang seharusnya sudah terkubur.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan