Les pèlerins au-dessus des nuages

Pecahan di Sump · Bab 4

Kapsul itu lebih kecil daripada yang diingat tangannya. Pukul lima pagi, Hari 3, di bawah lensa pembesar, ia hanya sebutir tabung kaca sepanjang ruas kelingking dengan ujung tersegel lilin perak. Di dalamnya, melingkar seperti daun kering, ada selembar film kaca setipis kulit bawang.

Laboratorium pagi itu berbau cuka dan timah yang mendingin. Anglo semalam menyisakan arang yang berdetak pelan, dan di bangku dekat jendela Wren masih meringkuk dengan jaket menutupi kepala. Kaelen sudah menyingkirkan semua yang tidak perlu dari meja: tiga gelas ukur, sebotol asam asetat, kolom fraksinasi kecil yang ia rakit sendiri, dan buku catatan dengan halaman kosong.

Satu kapsul. Satu film. Satu kesempatan.

Film itu tidak bisa dibaca dengan mata. Ia sudah memeriksanya tadi malam di bawah spektroskop, dan yang tampak hanya lapisan-lapisan tipis yang bertumpuk seperti kulit bawang, dua puluh dua jumlahnya, masing-masing disuntik isotop langka dalam urutan tertentu. Karbon-13, nitrogen-15, oksigen-18. Untuk membacanya orang harus melarutkannya selapis demi selapis dalam asam bersangga, menangkap isotop yang terlepas pada kolom, dan mencatat urutan keluarnya. Setelah itu tak ada lagi yang bisa dibaca. Membaca berarti menghancurkan.

Karena itu, sebelum menyentuhkan satu tetes pun, ia menggambar.

Di kepala film ada lima lingkaran kecil berjajar, masing-masing dengan hiasan berbeda yang hanya terlihat pada pembesaran tertinggi: sebuah cincin bergerigi, sebuah belah ketupat, tiga garis bergelombang, sebuah segitiga terbalik, sebuah bintang bersudut tujuh. Di atas lingkaran-lingkaran itu ada satu tanda lagi, yang di Watch-house ia kira goresan cacat: lambang air raksa dengan sebuah guratan miring di bahu kanannya. Aksen kecil, hampir seperti bekas kuku.

Ia menggambar semuanya dengan pena paling tipis, memeriksa ulang dua kali, lalu mengangkat selembar kaca preparat bersih dan mulai.


Pekerjaan itu tidak punya drama. Pada jam kedua, lapisan pertama larut dengan desis halus dan kolom mulai meneteskan fraksi pertamanya ke dalam ampul bernomor. Pada jam keenam, Wren bangun, menyeduh sesuatu yang mungkin teh, dan meletakkan cangkir di tepi meja tanpa berkata apa-apa, karena ia sudah belajar bahwa Kaelen yang membungkuk di atas kolom adalah Kaelen yang tidak bisa diajak bicara. Pada jam kesembilan, anak itu kembali dengan sepotong roti dan keju dan menaruhnya di atas catatan Kaelen supaya ia tidak punya pilihan.

“Kau belum makan sejak kemarin pagi, Kael.”

“Aku makan di Menara Kalidus.”

“Kau menghirup kamfer di Menara Kalidus.”

Ia makan. Rotinya dingin dan keju itu terlalu asin, dan dua menit kemudian ia sudah kembali menghitung.

Urutan isotop itu bukan bahasa dalam arti yang dikenal orang. Ia lebih mirip tulisan tangan seseorang yang menolak huruf cetak: satu lonjakan karbon-13 dapat berarti sebuah angka, pasangan nitrogen dan oksigen dapat berarti simbol unsur, dan di antara keduanya terselip penanda yang menunjukkan aturan mana yang sedang berlaku. Seorang ahli kimia Guild yang jujur, diberi film ini dan sebuah gudang reagen, akan membutuhkan berminggu-minggu untuk menebak aturannya, dan mungkin tak akan pernah yakin.

Kaelen menebaknya dalam empat belas jam.

Bukan karena ia lebih pintar. Pada blok pertama yang selesai ia terjemahkan, dalam baris ketiga, muncul sebuah simbol yang membuat penanya berhenti: lambang air raksa dengan guratan miring di bahu kanannya. Aksen kecil yang sama. Lalu, dua baris di bawahnya, sebuah tanda lain, dua belati bersilang dengan ujung ke bawah, tanda untuk reaksi yang melepas panas.

Ia menaruh pena.

Standar Guild untuk air raksa adalah tiga garis lengkung. Standar Guild untuk reaksi eksotermik adalah panah tebal. Tak ada satu pun buku rujukan yang memuat guratan miring itu, dan tak ada satu pun tanda belati ganda. Kaelen tahu karena ia sendiri memakainya. Di setiap halaman catatan pribadinya, sejak umur tujuh tahun, tanpa pernah memikirkannya: air raksa dengan guratan, reaksi panas dengan belati. Ia pernah menjelaskan kepada seorang guru Akademi bahwa itu “kebiasaan menulis” dan guru itu mengangkat bahu.

Ia ingat sekarang dari mana asalnya. Sebuah kaleng biskuit berkarat di dapur Crucible Lane, dan seorang perempuan yang mengajarinya menggambar tanda-tanda itu di tutup kaleng dengan ujung sendok. Ini bahasa kita berdua, katanya. Supaya Papa tidak bisa membaca daftar belanja kita. Ia tertawa. Wangi melati malam di rambutnya.

Kaelen memandangi film kaca itu cukup lama sampai Wren bertanya apakah ia baik-baik saja.

“Ya,” katanya. Suaranya normal. Tangannya, yang berada di atas meja di antara kolom dan buku catatan, tidak bergetar sedikit pun, dan ia memerhatikannya dengan tenang, seolah tangan itu milik orang lain yang sedang bekerja dengan baik. “Teruskan tidurmu.”

“Aku sudah bangun.”

“Kalau begitu cari tahu siapa di Mid-Tiers yang menjual serbuk emas selain Guild Harken. Sebelum petang.”

Wren memandanginya lama, lalu mengambil jaketnya tanpa bertanya lagi.

Hanya dua kemungkinan yang bisa menjelaskan tulisan ini, dan Kaelen memaksa dirinya menimbangnya sebagaimana ia menimbang hasil titrasi yang tidak ia sukai. Pertama: ibunya sendiri yang menulisnya, dua puluh tahun lalu, dan film ini bertahan di tumit seorang rentenir sampai pembunuh membukanya. Kedua: seseorang yang duduk cukup dekat dan cukup lama di sisi ibunya, hingga mewarisi kebiasaannya sampai ke guratan pena. Kemungkinan pertama tidak menjelaskan lapisan terluar, yang bertanggal bulan lalu. Kemungkinan kedua menjelaskan terlalu banyak, dan ia belum berani menamainya.

Satu hal yang sudah pasti: film ini tidak diselipkan ke dalam tumit Rourke sembarangan. Kapsul itu ditanam dengan sayatan rapi dan jahitan halus, oleh tangan yang tidak tergesa. Ia ditinggalkan untuk ditemukan, dan ditulis dalam sebuah sandi yang hanya bisa dibuka cepat oleh satu orang di kota ini.

Undangan, pikirnya. Dari siapa dan untuk apa, tidak tertulis di mana pun.


Blok terluar adalah daftar belanja.

Ia menerjemahkannya menjelang petang, dengan mata pedih dan bahu yang mengencang di kedua sisi leher. Bertanggal bulan lalu, tulisan angka sempit dan teratur: debu Aetherium murni, perak nitrat, sari basal vulkanik, ragi yang tak ia kenali namanya. Dan di baris kelima, koloid silika bio-stabil.

Reagen itu miliknya sebagai ahli kimia untuk satu hal saja: perancah sel. Tidak seorang pun memakainya di luar teori Vitae-Sculpting yang paling jinak, itu pun dalam jumlah kecil, mililiter, paling banyak satu-dua liter untuk subjek yang seukuran orang dewasa. Daftar itu menyebut empat ribu liter.

Ia mengulang perhitungannya. Lalu mengulangnya lagi dengan pena di tangan kiri, sebuah kebiasaan lama untuk memaksa otak berhenti percaya pada jawaban yang pertama. Empat ribu. Bukan salah ketik, bukan salah satuan: lapisan di bawahnya menyebut pemasok, rute, dan hari pengiriman. Kuantitas sebesar itu cukup untuk membekukan seluruh kota dalam kaca, atau untuk sesuatu yang lain yang tak bisa ia bayangkan. Rourke dan Seraphina tidak membutuhkan sebanyak itu. Dua puluh Rourke tidak akan menyentuhnya.

Siapa pun yang menulis ini sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada pembunuhan.

Ia menandai baris itu dengan lingkaran dan menulis di tepinya satu kata: kenapa.

Blok kedua adalah diagram.

Itu bukan teks, melainkan gambar yang dirakit dari ratusan titik isotop: seorang manusia telanjang, kedua lengan dan kakinya direntangkan, berdiri di dalam lingkaran yang menyentuh jemari kaki dan ujung telapak tangannya, dan di dalam sebuah persegi yang menyentuh tumit dan ujung jemari. Di sepanjang tubuh itu mengalir garis-garis halus, menyerupai urat, bertemu di titik-titik ukur: dahi, tenggorokan, dada, perut, pangkal paha. Pada setiap titik ada angka. Tekanan, ia kira. Frekuensi. Semacam peta jalur yang direncanakan untuk dilalui sesuatu.

Ia pernah melihat gambar itu. Siapa yang tidak pernah? Tercetak di sampul buku anatomi Akademi, terukir di lantai marmer aula Gemological Guild, tergantung di dinding setiap apotek di kota ini sebagai lambang kebaikan tubuh. Manusia Vitruvian. Lukisan lama tentang keseimbangan.

Tetapi gambar-gambar lama itu tidak memiliki jalur.

Blok ketiga, yang terdalam, adalah piagam.

Ia mencapai lapisan itu sekitar pukul sepuluh malam, ketika laboratorium sudah dingin dan satu-satunya lampu menyala hanya di atas kolom. Fraksi terakhir menetes ke dalam ampul. Ia menunggu, mencatat, memasukkan ke tabel. Lalu ia menyalin hasilnya ke selembar vellum bersih dengan tulisan yang lebih besar daripada biasa, karena ia ingin membacanya tanpa mengerutkan mata.

PROYEK MANUSIA VITRUVIAN.

Disahkan oleh Synod Tinggi, tahun 82 P.S.

Peneliti Utama: Zemfira Antagoni Vance.

Status: TERMINASI. Seluruh catatan disegel berdasarkan Edict 77.

Di bawahnya, sebuah garis menunjukkan bahwa kelima segel di kepala film adalah segel otorisasi proyek itu. Disahkan oleh lima segel.

Kaelen membaca nama itu sekali. Ia tidak membacanya dua kali.

Ia berdiri, berjalan ke wastafel batu di sudut, dan membasuh spatula platina yang tidak kotor. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Air dari pipa itu dingin, berbau besi, dan ia menyaksikan air itu mengalir ke lubang pembuangan dengan perhatian yang tidak pantas diberikan kepada air.

Dua puluh tahun ia telah diberi tahu satu cerita. Bahwa seorang ahli kimia terhormat, entah sombong entah tergoda, mengejar sebuah seni terlarang di laboratorium tertutup, bahwa pada suatu hari seluruh pengejaran itu meledak, bahwa Synod terpaksa mengasingkannya demi melindungi kota. Sebuah kisah tentang seorang perempuan yang menolak berhenti. Ia membencinya dengan teliti selama dua puluh tahun, dan kebencian itu selalu punya satu sandaran yang kokoh: ibunya melakukannya sendirian.

Disahkan oleh Synod Tinggi.

Lima segel.

Ia kembali ke meja. Tangannya mantap saat memegang pena, dan ia menuliskan satu kalimat di margin dengan huruf yang rapi dan dingin seperti ukiran nisan: Ia tidak sendirian.

Kemarahannya tidak meledak. Ia turun, perlahan, seperti zat berat dalam larutan, dan mengendap di tempat yang tak bisa dijangkau tangan.


Valerius datang menjelang tengah malam, mengetuk dua kali dengan buku jari, lalu masuk tanpa menunggu. Ada lumpur Sump di sepatunya dan sesuatu yang lebih tua di bahunya.

“Kedua jenazah sudah di Obsidian Spire,” katanya. “Cindra yang membawanya sendiri. Harken kutahan di Watch-house, bukan di sel, di ruang juru tulis, bersama anak itu. Mereka berdua tampaknya merasa lebih aman bersama.” Ia menjatuhkan diri di kursi satu-satunya yang kosong. “Ketua Synod menanyakanmu lagi. Kubilang kau sedang bekerja.”

“Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa terus berbohong.” Ia memandang meja, kolom kaca, tumpukan vellum. “Kau mendapatkan sesuatu.”

Kaelen menimbang. Lalu ia menggeser lembar piagam itu ke tepi meja dan membiarkannya diam di sana.

“Sebuah proyek,” katanya. “Disahkan Synod pada tahun delapan puluh dua. Manusia Vitruvian. Seluruh catatan disegel berdasarkan Edict 77.”

Perubahan itu hanya sesaat, tetapi ia sedang menatap wajah Valerius ketika terjadi. Rahang lelaki itu mengeras. Satu garis di sudut mulutnya, yang sudah dalam, menjadi lebih dalam. Dan matanya yang cokelat bergeser ke arah lain, ke jendela, ke pintu, ke mana saja selain kertas di meja.

“Peneliti utamanya,” lanjut Kaelen pelan, “adalah ibu saya.”

Ada jeda yang bisa dihitung. Di luar, dari kejauhan, sebuah ascensor menggerutu naik.

“Kau yakin?”

“Notasinya milik dia.”

“Siapa lagi yang tahu ini?”

Pertanyaan itu terlalu cepat. Seorang lelaki yang jujur-terkejut akan bertanya bagaimana atau kapan. Valerius bertanya siapa lagi, dengan nada orang yang sudah menghitung ke mana sebuah kabar akan merembes.

“Tidak seorang pun.”

“Pertahankan begitu.” Valerius berdiri dengan lambat. “Aku tidak bisa menjelaskan sekarang, Vance, dan aku tidak bermaksud tidak sopan. Tapi aku akan lebih tenang kalau kertas itu tidak ada di tempat yang bisa dimasuki orang lain.”

“Saya mengerti.”

“Tidak. Kau tidak.” Ia berhenti di ambang pintu, bahunya masih menghadap tangga. “Tapi kau akan.”

Setelah pintu menutup, Kaelen duduk lama mendengarkan langkah sepatu berat itu menuruni tangga. Lalu ia menyalin piagam itu ke buku catatan dengan sandi pribadinya, merobek vellum aslinya menjadi empat bagian, dan membakarnya satu demi satu di atas anglo.


Ia tidur tiga jam di bangku, dengan pipi menempel pada lengan baju, dan terbangun oleh bau teh yang terlalu kuat. Matahari Hari 4 sudah menyelinap lewat celah tirai dan menggaris lantai.

Wren duduk bersila di seberang meja, menekuri tiga tabung berlabel yang ia susun berjajar. Di sampingnya, abu hitam di anglo memperlihatkan sisa vellum yang tidak sepenuhnya habis: ujung sebuah huruf, setengah belati. Kaelen menatap sisa itu sebentar, lalu menyapunya dengan pelat logam ke dalam pembuangan.

“Aku lihat kau membakar kertas,” kata Wren tanpa mengangkat muka.

“Sebagian.”

“Panel-panel di bengkel Harken sudah diam,” lanjut anak itu, seolah itu jawaban atas pertanyaan lain. “Sersan Halvard bilang tak ada satu pun yang berbunyi sejak kemarin pagi. Mereka ditaruh di gudang dan dikunci. Dan Liana datang pukul enam, membawa roti untuk Arrin, dan menangis lagi di tangga, tapi menangisnya yang lega.” Ia menyodorkan cangkir. “Penjual serbuk emas lain nggak ada, Kael. Di Mid-Tiers semua orang bilang itu cuma Guild yang boleh jual. Yang jual tanpa izin bakal ketahuan dalam sehari.”

“Berarti pembelinya tidak membeli dari penjual.”

“Berarti dia bikin sendiri, atau dia punya pintu belakang ke Guild.” Wren akhirnya mengangkat mata. Matanya terlalu tua untuk wajahnya, seperti anak-anak Sump yang pernah mengurus orang sakit. “Kael. Yang kemarin itu tentang ibumu?”

Pertanyaan itu ia ajukan dengan suara yang sama seperti ketika ia bertanya apakah kau sudah makan. Kaelen menyesap tehnya. Terlalu pahit, terlalu panas. Ia membiarkannya membakar lidah sebentar.

“Aku belum tahu apa itu,” katanya, dan ia tahu itu bukan jawaban, dan tahu Wren tahu.

“Kalau iya,” kata Wren, “kau boleh bilang nggak apa-apa. Aku nggak akan nanya lagi.”

“Terima kasih.”

“Tapi kau tetap harus makan.”

Kaelen mengambil mantel, tasnya, dan roti yang ia sembunyikan di saku. Di anak tangga kedua ia berhenti sebentar, memegang pagar, dan menghitung napasnya sampai tiga. Lalu ia turun.


Catacomb Markets terbentang di bawah Necropolis lama, di lorong-lorong tulang yang sudah dipoles abad demi abad hingga berwarna madu. Pasar itu tidak bersuara keras. Di sini orang menawar dengan bisik dan dengan jari, dan lampu-lampunya adalah kristal-memori yang menyala redup, menayangkan wajah-wajah orang mati kepada siapa saja yang cukup rindu untuk membayar.

Athenaeum of Lost Arts berada di ujung lorong paling dalam, di balik pintu kayu hitam yang tidak punya papan nama. Kaelen mengetuk sekali, menunggu, dan mengetuk lagi dua kali.

Pintu itu terbuka tanpa suara.

Lysandra tidak berubah sejak terakhir kali ia datang, empat tahun lalu, untuk sebuah naskah tentang kinetika pelarut. Tubuhnya kecil, usianya sulit ditebak, rambut kelabu dikepang rapat, dan dari buku jari hingga ujung kuku kedua tangannya berwarna biru langit, noda tetap dari bertahun-tahun menangani kristal-memori tanpa sarung. Ia memandang Kaelen dari kepala sampai ujung sepatu, lalu mundur setengah langkah.

“Anak Vance,” katanya. “Masuklah. Jangan menyentuh apa-apa.”

Ruangan itu lebih mirip gudang tulang rawan daripada perpustakaan. Di meja bundar, sebuah kristal-memori sebesar telur burung menayangkan, berulang-ulang dan tanpa suara, seorang anak perempuan yang tertawa sambil memegangi topinya melawan angin; Lysandra menutupnya dengan kain begitu mereka masuk, pelan, seperti menutup mata orang yang tidur. Rak-rak melengkung menuju langit-langit batu, dipenuhi kodeks yang digembok, gulungan yang disegel dengan lilin, dan kristal yang diberi label dengan tulisan tangan yang makin lama makin tak terbaca. Bau debu dan mur. Kaelen berdiri di dekat meja bundar, dengan tas di kaki, dan tidak duduk karena tidak ditawari.

“Kata Vitruvian,” ucapnya. “Saya perlu tahu dari mana asalnya, dan apa artinya bagi seorang ahli kimia.”

Lysandra tidak bertanya mengapa. Itu salah satu hal yang membuat Athenaeum ini berguna: perempuan yang menjaganya mengira alasan hanyalah beban bagi orang yang sudah bersusah-susah bertanya.

“Seorang arsitek,” katanya, sambil menarik sebuah rak kecil dan mengambil lembaran kulit yang lapuk, “sebelum Severance. Ia menulis bahwa sebuah kuil harus dibangun menurut ukuran manusia yang terbentuk sempurna. Lengan direntang, jari menyentuh sisi sebuah persegi. Kaki dibuka, tumit dan ujung jari menyentuh sebuah lingkaran. Pusat tubuh adalah pusat lingkaran.” Ia membentangkan lembaran itu, dan di atasnya ada gambar itu, gambar yang sama yang Kaelen terjemahkan semalam, hanya tanpa jalur. “Pada mulanya itu urusan bangunan. Lalu para filsuf mengambilnya.”

“Dan para ahli kimia.”

“Terakhir.” Jari biru itu bergerak di sepanjang garis lingkaran. “Gagasannya begini. Setiap tubuh punya bentuk sempurna yang tersembunyi di bawah penyakit, luka, dan umur. Ideal Vitruvian. Orang sakit bukan orang yang kekurangan sesuatu, melainkan orang yang tertutup oleh sesuatu, seperti patung di dalam batu. Tugas penyembuh adalah memahat sisanya.”

“Pepatah tukang batu,” kata Kaelen.

“Ya. Dan ada bagian pepatah itu yang selalu dilupakan.” Lysandra mengangkat mata, dan matanya sangat jernih. “Tidak seorang pun pernah bertanya kepada batunya.”

Kaelen tidak menjawab. Ia memikirkan kaca amber dengan lipatan gaun yang tertangkap sempurna, wajah yang termenung menoleh ke jendela, dan suhu tiga puluh derajat di ruangan yang jauh lebih dingin.

“Sesudah Severance,” lanjut Lysandra, “gagasan lama ini kembali, dalam bentuk yang lebih mendesak. Orang mulai jatuh sakit karena sesuatu yang tak punya nama. Kulit mengeras, paru menjadi seperti pasir, darah berhenti tahu ke mana harus mengalir. Nekrosis. Ketika tidak ada obat yang bekerja, selalu ada yang menawarkan jalan lain: kembalikan tubuh ke bentuk idealnya. Tidak mengobati. Menyempurnakan.”

“Dan Synod mengesahkan proyek untuk itu.”

Lysandra diam begitu lama sehingga debu tampak berhenti jatuh.

“Aku tidak pernah mengatakan itu.”

“Saya yang mengatakannya.”

“Kalau begitu aku tidak perlu mengatakan apa-apa.” Ia menggulung kembali lembaran kulit itu dengan hati-hati, seolah ia sedang menidurkan sesuatu. “Edict 77 bukan hukum, Nak. Ia perintah. Perintah untuk menyegel, bukan untuk menghukum. Seluruh arsip, risalah rapat, catatan laboratorium, dinyatakan tidak pernah ada. Yang menyimpan salinan dianggap melanggar sesuatu yang secara resmi tidak ada. Kau paham betapa praktisnya itu.”

“Saya paham.”

“Dan tadi pagi,” Lysandra menoleh ke pintu sekilas, “seorang penyelidik Synod datang ke sini, perempuan berjubah kelabu, sopan, menanyakan hal yang sama persis. Namanya Cindra. Kukatakan aku tidak menyimpan apa-apa tentang proyek apa pun yang bernama begitu.”

Kaelen menahan napasnya sebentar. “Anda berbohong.”

“Aku seorang penjaga. Aku tidak berbohong. Aku hanya tidak menjawab pertanyaan yang diajukan.” Ada sesuatu seperti senyum di pinggir mulutnya, tipis dan kering. “Namamu tercantum pada sampul beberapa buku di rak yang tidak boleh kuturunkan, Vance. Aku tidak membuka semuanya. Tapi aku mengenal sampulnya.”

“Apakah ada yang bisa Anda tunjukkan?”

“Bukan proyeknya. Proyek itu sudah dicabut sampai ke akar, dan aku tak akan berpura-pura sebaliknya.” Lysandra berjalan ke sebuah rak jauh di belakang ruangan, menyentuh punggung sebuah kodeks yang tidak berbeda dari ratusan lainnya, lalu menarik tangannya kembali, seolah menimbang sesuatu. “Tapi ada hal-hal yang terjadi sebelum proyek itu disahkan. Orang tidak membangun sesuatu seperti itu dari udara kosong. Ada percobaan lama, ada kegagalan lama, ada orang yang berjalan ke tepi dan kembali dengan catatan. Itu masih ada padaku. Di tempat yang tidak dihitung Synod.”

“Kapan?”

“Aku harus mengambilnya dari ruang yang tidak boleh kubuka pada siang hari.” Ia memandang Kaelen seakan menimbang berat sebuah beban. “Kembalilah nanti malam. Setelah lonceng bawah berbunyi dua belas. Dan Vance.”

“Ya?”

“Datanglah sendiri. Kalau inspektur itu ikut, aku tak akan membuka pintu.”


Ia naik dari Catacomb Markets lewat tangga tulang yang panjang, melewati orang-orang yang menawar kenangan dengan bisik, dan keluar ke Necropolis ketika matahari sudah mulai turun ke arah kaldera. Udara sore berbau rumput yang baru dipangkas dan batu yang menyimpan panas. Di antara nisan-nisan, para penjaga makam menyalakan lentera satu demi satu.

Di salah satu baris nisan jauh di utara, di tempat yang tak bisa ia lihat dari sini, ada sebuah batu kosong yang ia dirikan enam tahun lalu. Ia tidak menoleh ke arah itu.

Ia membuka buku catatan dan menatap sketsa yang ia gambar pagi itu. Lima lingkaran, dengan hiasannya masing-masing: cincin bergerigi, belah ketupat, tiga gelombang, segitiga terbalik, bintang bersudut tujuh.

Lima segel otorisasi. Ia tidak mengenali satu pun. Itu cukup mudah diperbaiki: ada register segel di Obsidian Spire, dan ada orang yang bisa membukanya dengan harga yang tepat.

Yang belum bisa ia abaikan adalah hal lain.

Lima segel. Dua orang sudah mati.

Ia menutup buku itu. Ia menolak berhitung, sebagaimana ia menolak menebak sebelum datanya cukup, sebagaimana ia mengajari dirinya selama dua puluh tahun untuk tidak memercayai pola yang muncul terlalu rapi. Tetapi angka itu duduk di dadanya sepanjang jalan pulang ke Crucible Lane, berat dan sabar, dan tidak mau pergi.


Catatan kecil. Edict 77: perintah Synod untuk menyegel seluruh arsip sebuah proyek dan menyatakannya tidak pernah ada; Ideal Vitruvian: gagasan bahwa setiap tubuh menyimpan bentuk sempurna di bawah penyakit dan luka; Athenaeum of Lost Arts: perpustakaan rahasia di Catacomb Markets tempat seni-seni yang hilang disimpan.


Kalau kisah Kaelen dan sandi para alkemis ini menemani malammu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] ← Bab 4: Catatan VitruvianDaftar Bab […]

Tinggalkan Balasan