A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagai pengguna Linux selama bertahun-tahun, dan pengguna Microsoft Windows juga, saya merasakan kebutuhan antivirus bukanlah keniscayaan pada pelbagai distribusi Linux dibandingkan pada Windows. Lalu orang bisa bertanya, apakah orang menggunakan Linux karena tidak ada virus dibandingkan Windows? Bagaimana kita menjawabnya?

Kata seorang pengguna Linux di salah satu jejaring sosial, menggunakan Linux itu kebebasan, dan sedikit virus itu bisa dibilang bonus. – Saya rasa pendapat tersebut memang benar adanya. Karena ada banyak alasan untuk menggunakan Linux, eksplorasi, edukasi, keamanan, stabilitas, performa, dan lain sebagainya.

Untuk urusan virus komputer dan peranti jahat, Linux memang tidak memiliki banyak varian sebagaimana Windows. Mungkin benar karena desktop Linux jumlahnya di pasar sedikit, tetapi komputer yang menggunakan Linux, jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan Windows. Sehingga varian virus mungkin akan lebih menyasar kepada server.

Namun komputer pribadi yang menggunakan Linux juga bisa disusupi oleh virus yang menyasar Windows, karena virus tersebut bisa jadi tidak melakukan kerusakan pada Linux, namun menumpang untuk kesempatan masuk ke sistem Windows.

AV-Comparatives baru saja merilis sejumlah perbandingan beberapa antivirus yang berjalan di Linux. Di antara yang berbayar, dan yang gratis, Anda bisa memilih salah satunya. Komunitas Linux seperti saya sendiri menggunakan ClamAV yang memang sejak dulu ramah pada Linux, tapi tentu saja ada pengguna Linux yang menginginkan hal lainnya.

Antivirus untuk Linux
Perbandingan antivirus untuk Linux. Sumber grafik: AV-comparatives.

Nah, yang mana yang akan Anda pilih? Berkas laporan publik dari AV-comparatives cukup memberikan gambaran keunggulan dan kekurangan masing-masing, serta bagaimana memasang mereka pada sistem (yang menggunakan Ubuntu).

https://www.youtube.com/watch?v=HRbUtRchwC8

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca