Diperbarui 8 Oktober 2026. Versi pertama tulisan ini terbit pada 2015; isinya telah disusun ulang seluruhnya dengan rujukan terbaru.
Ringkasan: KB suntik adalah kontrasepsi hormonal yang sangat efektif jika jadwalnya tepat. Tulisan ini menjelaskan jenis suntikan 1 bulan dan 3 bulan, efek samping, siapa yang perlu berhati-hati, serta pembaruan 2025–2026: pedoman WHO edisi keenam, bukti risiko meningioma pada pemakaian DMPA jangka panjang, dan suntik mandiri.
Ibu Maria (36 tahun), guru sekolah dasar di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sudah empat tahun rutin “suntik tiga bulan” di bidan dekat rumahnya. Haidnya hilang sejak tahun kedua. Ia mulai bertanya-tanya: apakah itu wajar, apakah ia masih bisa hamil lagi kelak, dan apakah benar kabar di grup WhatsApp keluarga bahwa suntik KB “bisa menyebabkan tumor otak”? (Kisah ini ilustrasi; nama dan tempat dikarang.)
Pertanyaan Ibu Maria sangat umum. Di Indonesia, suntik adalah metode kontrasepsi yang paling banyak dipakai: pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017, sekitar 29 persen perempuan menikah usia 15–49 tahun memakainya (BKKBN dkk., 2018). Karena begitu populer, mari kita bahas apa yang kini diketahui, termasuk bukti terbaru yang muncul sejak tulisan ini pertama kali dibuat pada 2015.
Apa saja jenis KB suntik yang beredar?
Secara garis besar ada dua golongan: suntikan progestin saja dan suntikan kombinasi (progestin dan estrogen). Perbedaan ini penting karena menentukan siapa yang aman memakainya.
| Jenis | Kandungan | Interval | Catatan |
|---|---|---|---|
| Suntik 3 bulan (depot medroxyprogesterone acetate/DMPA, suntikan otot) | Medroksiprogesteron asetat 150 mg (progestin saja) | Sekitar 12–13 minggu | Paling sering dipakai di Indonesia; boleh untuk ibu menyusui |
| DMPA subkutan (DMPA-SC) | Medroksiprogesteron asetat 104 mg | 13 minggu | Disuntik di bawah kulit; dapat disuntik sendiri. Ketersediaannya di Indonesia belum seluas suntikan otot |
| Norethisterone enanthate (NET-EN) | Progestin saja | 8 minggu | Lebih jarang digunakan |
| Suntik 1 bulan (kombinasi) | Medroksiprogesteron asetat dan estradiol sipionat | Setiap bulan | Mengandung estrogen, sehingga pembatasannya mirip pil kombinasi; pola haid cenderung lebih teratur |
Bagaimana cara kerja dan seberapa efektif?
Hormon dilepaskan perlahan dari depot di otot atau jaringan bawah kulit. Kerja utamanya adalah menahan pelepasan sel telur (ovulasi). Hormon ini juga mengentalkan lendir leher rahim sehingga sperma sulit masuk, dan menipiskan lapisan rahim. Karena mekanisme utamanya mencegah pembuahan, KB suntik bukan metode yang menggugurkan kehamilan.
Bila suntikan diberikan tepat waktu, kegagalannya sangat rendah, kurang dari 1 dari 100 perempuan per tahun. Pada pemakaian sehari-hari angkanya lebih tinggi, terutama karena suntikan terlambat atau terlewat. Inilah alasan jadwal menjadi kunci (lihat bagian jadwal di bawah). Suntik tidak melindungi dari infeksi menular seksual; kondom tetap diperlukan bila ada risiko.
Apa untungnya, apa pertimbangannya?
- Praktis. Tidak perlu mengingat pil setiap hari; cukup datang sesuai jadwal.
- Tidak mengganggu hubungan seksual dan bersifat pribadi.
- Dapat dipakai saat menyusui untuk suntikan progestin saja, dengan waktu mulai mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
- Bermanfaat bagi sebagian keluhan haid, seperti nyeri haid dan perdarahan haid yang banyak. Ulasan terbaru juga mencatat penurunan risiko kanker endometrium dan ovarium sebagai efek sekunder (Micha dkk., 2026).
- Bergantung pada jadwal dan fasilitas kesehatan. Suntikan tidak bisa “dicabut” bila efek samping mengganggu; efeknya bertahan hingga hormon menurun.
- Pola haid berubah. Bercak dan perdarahan tidak teratur sering muncul pada bulan-bulan awal, dan makin lama dipakai, makin banyak pengguna suntik 3 bulan yang tidak lagi haid (amenore). Ini umumnya tidak berbahaya, tetapi perdarahan yang tidak lazim perlu diperiksa untuk menyingkirkan penyebab lain, misalnya infeksi.
- Efek samping ringan seperti perubahan berat badan, jerawat, atau payudara terasa tegang dapat muncul pada sebagian pengguna.
Tulang dan kesuburan
DMPA menekan kadar estrogen sehingga kepadatan tulang dapat menurun selama pemakaian. Sebagian besar penelitian menunjukkan kepadatan tulang pulih setelah suntikan dihentikan, dan bukti kaitannya dengan patah tulang masih terbatas. Namun belum pasti apakah pemakai jangka sangat panjang kembali ke tingkat awal sebelum menopause, atau apakah remaja dapat mencapai puncak massa tulang setelah berhenti (Centers for Disease Control and Prevention, 2024a). Karena itu, perempuan dengan banyak faktor risiko osteoporosis, misalnya gangguan makan, kebiasaan minum alkohol, atau riwayat keluarga dekat dengan osteoporosis, sebaiknya mendiskusikan alternatif.
Soal kesuburan, sebuah meta-analisis menemukan sekitar 83 persen perempuan hamil dalam 12 bulan setelah berhenti kontrasepsi, tanpa perbedaan bermakna antarmetode (Girum & Wasie, 2018). Meski begitu, pengalaman klinis dan pedoman tetap mengingatkan bahwa pemulihan kesuburan setelah DMPA pada sebagian perempuan bisa tertunda beberapa bulan. Jika Anda berencana hamil dalam waktu dekat, sampaikan hal ini sebelum memilih suntikan.
Kabar terbaru: bagaimana dengan meningioma?
Meningioma adalah tumor yang tumbuh dari selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang; sebagian besar jinak, tetapi dapat menimbulkan gejala karena menekan jaringan sekitarnya. Dalam dua tahun terakhir, beberapa penelitian mengaitkan DMPA dengan peningkatan risikonya. Pada 12 Desember 2025, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui penambahan peringatan meningioma pada label Depo-Provera, baik suntikan otot maupun subkutan (Food and Drug Administration, 2025).
| Studi | Desain | Temuan utama |
|---|---|---|
| Xiao dkk. (2025), JAMA Neurology | Kohort retrospektif berbasis data AS | Risiko relatif 2,43 (IK 95% 1,77–3,33) dibanding bukan pengguna; peningkatan terkonsentrasi pada pemakaian lebih dari 4 tahun atau mulai pada usia di atas 31 tahun |
| Braman dkk. (2026), Neuro-Oncology | Tinjauan | Paparan DMPA meningkatkan risiko sekitar 1,5 hingga 5,5 kali, dengan risiko absolut yang tetap kecil |
| Abou-Al-Shaar dkk. (2026), Neurosurgery | Tinjauan sistematik dan studi kasus-kontrol satu pusat | Tumor pada pemakai DMPA jangka panjang cenderung multipel, menginvasi tulang, dan positif reseptor progesteron |
| Huq dkk. (2026), Neuro-Oncology | Seri 10 perempuan | Semua tumor derajat 1 WHO; 4 mengecil dan 5 menetap setelah DMPA dihentikan |
Bagaimana membaca temuan ini? Pertama, risiko absolutnya kecil; studi AS di atas menghitung kira-kira satu kasus tambahan per sekitar seribu pengguna, dan angka itu berasal dari data AS yang belum tentu sama di Indonesia (Xiao dkk., 2025). Kedua, risiko tampak berkaitan dengan lamanya pemakaian. Ketiga, tumor yang berkaitan dengan DMPA sering mengecil atau menetap setelah suntikan dihentikan (Huq dkk., 2026). Para peneliti menyarankan agar DMPA dihindari bila ada riwayat meningioma dan tersedia alternatif, dan agar risiko ini dibahas saat konseling (Braman dkk., 2026). Di sisi lain, DMPA juga punya manfaat nyata bagi sebagian perempuan (Micha dkk., 2026).
Bagi pengguna seperti Ibu Maria, pesan praktisnya: jangan berhenti mendadak tanpa pengganti, karena risiko kehamilan tidak direncanakan itu nyata. Bicarakan dengan bidan atau dokter, terutama bila sudah memakai lebih dari beberapa tahun, dan pertimbangkan metode jangka panjang lain seperti implan atau alat kontrasepsi dalam rahim. Waspadai gejala seperti sakit kepala yang menetap, gangguan penglihatan, telinga berdenging atau pendengaran menurun, dan kejang, lalu segera periksa bila muncul.
Apakah KB suntik meningkatkan risiko HIV?
Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena studi observasional memberi hasil campuran. Uji acak ECHO pada lebih dari 7.800 perempuan di Afrika bagian timur dan selatan membandingkan DMPA suntikan otot, AKDR tembaga, dan implan levonorgestrel. Hasilnya, tidak ada perbedaan bermakna dalam risiko tertular HIV: rasio bahaya 1,04 untuk DMPA dibanding AKDR tembaga, dan 1,23 (rentang 0,95–1,59) dibanding implan (ECHO Trial Consortium, 2019). Ingat bahwa penelitian ini dilakukan di wilayah dengan insidensi HIV sangat tinggi, dan para penelitinya menekankan perlunya mengintegrasikan pencegahan HIV ke layanan kontrasepsi.
Siapa yang perlu berhati-hati?
Pada Oktober–November 2025, WHO menerbitkan edisi keenam Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use (World Health Organization, 2025). Pedoman ini menilai setiap metode pada setiap kondisi dalam kategori 1 sampai 4, dari “tanpa pembatasan” hingga “risiko tidak dapat diterima”. Tanpa bermaksud menggantikan tabel lengkapnya, kondisi yang lazim memerlukan pertimbangan khusus pada suntikan progestin antara lain:
- sedang hamil, atau perdarahan vagina yang belum jelas penyebabnya;
- kanker payudara saat ini atau riwayat kanker payudara yang belum lama;
- penyakit hati berat atau tumor hati;
- penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, atau banyak faktor risiko kardiovaskular;
- faktor risiko osteoporosis yang berat;
- riwayat meningioma (lihat bagian sebelumnya).
Untuk suntik bulanan yang mengandung estrogen, pembatasannya lebih luas dan mirip pil kombinasi: misalnya hipertensi, migrain dengan aura, riwayat penggumpalan darah, perokok usia 35 tahun ke atas, dan periode awal setelah melahirkan saat menyusui. Catatan lama pada versi 2015 tulisan ini menyebut hepatitis sebagai penghalang; informasi itu terlalu menyederhanakan, sehingga keputusan sebaiknya diambil bersama tenaga kesehatan berdasarkan jenis dan beratnya penyakit hati.
Kapan mulai, dan bagaimana jadwalnya?
Suntikan pertama dapat diberikan kapan saja bila yakin Anda tidak hamil. Jika diberikan dalam 7 hari pertama sejak haid mulai, perlindungan langsung berlaku; bila lebih dari itu, gunakan kondom atau hindari hubungan seksual selama 7 hari berikutnya (Centers for Disease Control and Prevention, 2024b). Setelah itu, jadwalkan suntikan berikutnya sekitar minggu ke-12 hingga ke-13. Panduan WHO yang diringkas oleh PATH (n.d.) mengizinkan suntikan DMPA terlambat hingga 4 minggu tanpa perlu perlindungan tambahan, tetapi ini bukan alasan untuk menunda: jadwal tepat waktu tetap yang terbaik.
Gambar: jadwal suntikan KB 3 bulan. Setiap produk dapat memiliki petunjuk tersendiri; ikuti anjuran bidan atau dokter Anda.
Bolehkah menyuntik sendiri?
DMPA-SC dirancang agar dapat disuntikkan sendiri setelah dilatih. Tinjauan sistematik menunjukkan suntik mandiri meningkatkan kelanjutan pemakaian dibanding suntikan oleh tenaga kesehatan (rasio risiko 1,35; IK 95% 1,10–1,66), tanpa peningkatan kehamilan yang berarti (Nabhan dkk., 2021; Kennedy dkk., 2019). Reaksi di lokasi suntikan lebih sering dilaporkan pada sebagian studi kohort. Di Indonesia, ketersediaannya bergantung pada kebijakan dan layanan setempat; tanyakan ke puskesmas atau klinik Anda.
Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?
- sakit kepala hebat atau menetap, gangguan penglihatan, telinga berdenging, atau kejang;
- perdarahan vagina yang banyak, berkepanjangan, atau tidak lazim;
- nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan;
- nyeri atau bengkak satu betis, nyeri dada, atau sesak napas mendadak, terutama pada suntikan kombinasi;
- terlambat haid disertai gejala kehamilan, atau nyeri perut bawah yang hebat.
Pesan penutup
KB suntik tetap menjadi pilihan yang efektif dan praktis bagi banyak perempuan Indonesia, dari Kupang hingga Medan. Bukti baru tentang meningioma tidak berarti metode ini harus ditinggalkan secara massal, melainkan bahwa konseling perlu lebih jujur dan pemakaian jangka panjang perlu dievaluasi berkala. Bacaan terkait: Pertimbangan Dalam Memilih Metode Kontrasepsi KB, KB Setelah Melahirkan, Hari Kontrasepsi Sedunia 2025, dan Mitos Kesehatan Seksual.
Tulisan ini bersifat edukasi dan bukan pengganti pemeriksaan. Keputusan memilih, melanjutkan, atau menghentikan kontrasepsi sebaiknya diambil bersama bidan atau dokter.
Catatan Transparansi
- Versi 2015 diadaptasi dari materi Patient.co.uk. Tulisan ini disusun ulang dari sumber primer dan pedoman terbaru, dan teks lama tidak lagi dipakai.
- Saya belum dapat membuka tabel lengkap WHO MEC edisi keenam maupun Selected Practice Recommendations edisi keempat (2025). Daftar kondisi di atas bersifat umum, dan batas keterlambatan 4 minggu diambil dari ringkasan PATH yang merujuk panduan WHO terdahulu; periksa edisi terbaru sebelum dipakai sebagai acuan layanan.
- Bukti meningioma sebagian besar observasional dan berasal dari negara berpenghasilan tinggi; beberapa artikel 2026 baru terbit daring. Informasi label FDA saya peroleh dari ringkasan surat persetujuannya. Saat penulisan, saya belum menemukan pernyataan resmi BPOM atau Kemenkes tentang hal ini.
- Uji ECHO dilakukan pada perempuan Afrika dengan insidensi HIV tinggi. Meta-analisis Girum dan Wasie telah memiliki koreksi (2023). Angka kegagalan di bawah 1 per 100 per tahun dengan jadwal tepat berasal dari rujukan standar yang tidak saya verifikasi ulang, sedangkan angka SDKI 2017 saya konfirmasi dari kutipan sekunder dan belum dari dokumen aslinya.
- Kisah Ibu Maria adalah ilustrasi fiktif. Gambar unggulan dibuat dengan bantuan AI.
Referensi
Abou-Al-Shaar, H., Wrigley, R., Passeri, T., Tang, A., Albalkhi, I., Adida, S., Patel, A., Mallela, A. N., Zenonos, G. A., & Gardner, P. A. (2026). Pattern of intracranial meningiomas associated with prolonged DMPA use: Systematic review of synthetic progestins and case series of DMPA-associated intracranial meningiomas. Neurosurgery. https://doi.org/10.1227/neu.0000000000004031
BKKBN, BPS, Kementerian Kesehatan, & ICF. (2018). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. BKKBN.
Braman, B. C., Cady, M. A., Merz-Herrala, A. A., Witztum, A., Arum, Z., Gomez, S. L., Morshed, R. A., Villanueva-Meyer, J. E., Bush, N. A. O., Chang, S. M., Kerns, J. L., & Raleigh, D. R. (2026). Epidemiological and clinical data link depot medroxyprogesterone acetate to meningioma. Neuro-Oncology, 28(10), 2338–2351. https://doi.org/10.1093/neuonc/noag115
Centers for Disease Control and Prevention. (2024a). U.S. medical eligibility criteria for contraceptive use: Appendix C, progestin-only contraceptives. https://www.cdc.gov/reproductivehealth/contraception/mmwr/mec/appendixc.html
Centers for Disease Control and Prevention. (2024b). U.S. selected practice recommendations for contraceptive use: Injectables. https://cdc.gov/contraception/hcp/usspr/injectables.html
ECHO Trial Consortium. (2019). HIV incidence among women using intramuscular depot medroxyprogesterone acetate, a copper intrauterine device, or a levonorgestrel implant for contraception: A randomised, multicentre, open-label trial. The Lancet, 394(10195), 303–313. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)31288-7
Food and Drug Administration. (2025, 12 Desember). Depo-Provera: NDA 020246/S-074 & NDA 021583/S-045 prior approval supplemental application approval letter. https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/appletter/2025/020246Orig1s074,021583Orig1s045ltr.pdf
Girum, T., & Wasie, A. (2018). Return of fertility after discontinuation of contraception: A systematic review and meta-analysis. Contraception and Reproductive Medicine, 3, Article 9. https://doi.org/10.1186/s40834-018-0064-y
Huq, S., Gatesman, T. A., Abou-Al-Shaar, H., Raleigh, D. R., Hadjipanayis, C. G., Bayley, J. C., Zenonos, G. A., Pearce, T. M., Marker, D. F., Agnihotri, S., & Gardner, P. A. (2026). Genomic hallmarks of depot medroxyprogesterone acetate-associated meningiomas. Neuro-Oncology, 28(9), 2182–2196. https://doi.org/10.1093/neuonc/noag136
Kennedy, C. E., Yeh, P. T., Gaffield, M. L., Brady, M., & Narasimhan, M. (2019). Self-administration of injectable contraception: A systematic review and meta-analysis. BMJ Global Health, 4(2), Article e001350. https://doi.org/10.1136/bmjgh-2018-001350
Micha, J. P., Bohart, R. D., Gorman, A. S., & Goldstein, B. H. (2026). Depot medroxyprogesterone acetate and the risk for developing an intracranial meningioma. International Journal of Gynecology & Obstetrics. https://doi.org/10.1002/ijgo.71361
Nabhan, A., Elshafeey, F., Mehrain, L. M., Kabra, R., & Elshabrawy, A. (2021). Self-administered subcutaneous medroxyprogesterone acetate for improving contraceptive outcomes: A systematic review and meta-analysis. BMC Women’s Health, 21, Article 359. https://doi.org/10.1186/s12905-021-01495-y
PATH. (n.d.). Reinjection timing recommendations for Sayana Press. https://media.path.org/documents/RH_sp_training_handouts_reinject.pdf
World Health Organization. (2025). Medical eligibility criteria for contraceptive use (6th ed.). https://www.who.int/publications/i/item/9789240115583
Xiao, T., Kumar, P., Lobbous, M., Yogi-Morren, D., Soni, P., Recinos, P. F., & Kshettry, V. R. (2025). Depot medroxyprogesterone acetate and risk of meningioma in the US. JAMA Neurology, 82(11), 1094–1102. https://doi.org/10.1001/jamaneurol.2025.3011




Tinggalkan Balasan