Anda mungkin melihat bahwa saya menyematkan ‘kopi’ pada bagian atas setiap halaman blog ini. Entah kenapa, mungkin sebenarnya adalah sebuah ‘kebetulan’ yang benar. Mengapa demikian?
Karena dalam sebulan ini, beberapa hal berubah dalam ‘pola’ aktivitas harian saya. Berangkat pukul tujuh pagi dan kembali di rumah pukul sembilan malam. Saya tidak menyebut ini berat, karena masih banyak orang lain di luar sana yang menjalani keseharian mereka ‘lebih berat’ dibandingkan apa yang saya jalani.
Setiap pagi kini saya minum setengah gelas kopi. Ah, ya setengah gelas untuk saya, dan setengah lagi untuk istri. Saya rasa setengah gelas cukup untuk meneguk kenikmatan setara dengan secangkir kopi dengan aromanya yang khas.
Gairah saya untuk berolahraga sedang tidak baik, seakan-akan serasa menjadi seekor beruang gemuk yang memandangi kalendernya melihat bulan-bulan hibernasi sudah di depan mata, dan tidak ada yang lebih agung dibandingkan nikmat meringkuk di balik selembar selimut tebal nan hangat.
Saya memerlukan pencetus sukma, pelarian dari ide-ide akan kreativitas kemalasan. Dan secangkir kopi adalah saviour yang tidak terelakkan karena kedekatannya pada kehidupan kita sebagai sebuah budaya masyarakat nusantara (dan dunia) tentunya.
Maka kini akan merindu pada aroma nikmat ini di saat matahari mulai menyingsingkan senyum-senyum awalnya, dan berkata ‘selamat pagi’ pada semesta kita.
Pneumonia aspirasi terjadi saat isi mulut atau lambung salah jalan ke saluran napas. Kenali kelompok berisiko, cara membedakannya dari pneumonitis, prinsip pengobatan terkini, dan langkah pencegahan sederhana di rumah.
Artikel ini membahas pentingnya Infection Control Risk Assessment (ICRA) dalam pengelolaan risiko infeksi di rumah sakit, melampaui hanya penilaian risiko sebelum renovasi. ICRA mencakup penilaian risiko infeksi dalam pelayanan klinis rutin, dan mengingatkan perlunya sinergi antara Komite PPI dan Komite Mutu untuk memastikan keselamatan pasien melalui integrasi data risiko yang efektif.
Di Athenaeum, selepas tengah malam, sebuah risalah yang disalin diam-diam menjelaskan mengapa Synod pernah membakar tiga puluh tiga rumah. Di halaman paling belakang sebuah buku saku, sebaris catatan tepi membuat Kaelen mengenali tulisan yang sudah lama ia hindari.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan